← Back to list

Misogini Terinternalisasi Sama Dengan Agnosia Taktil

Saat saya sedang membaca sebuah buku, karena merasa bosan, saya mulai mengelus permukaan sampulnya secara perlahan, dan muncullah…

Kiya · 2026-05-05 04:23 · 96 claps · 1.5 min read
#misogyny #feminism #patriarchy
Open on Medium ↗
Wiki topics: SOC · Sociology & Politics ✊ · Equality & Identity

Misogini Terinternalisasi Sama Dengan Agnosia Taktil

Saat saya sedang membaca sebuah buku, karena merasa bosan, saya mulai mengelus permukaan sampulnya secara perlahan, dan muncullah pertanyaan sederhana ini: Apa yang melapisi kulit kita sehingga menjadi penghalang untuk pembacaan huruf timbul?

Secara biologis, ini bukan karena kulit kita ‘tidak mampu membaca’. Kulit kita tentunya bekerja. Di permukaannya ada reseptor mekanik yang sensitif terhadap tekanan dan tekstur, jadi setiap tonjolan huruf tetap ditangkap sebagai pola fisik, lalu dikirim sebagai impuls listrik melalui saraf ke sumsum tulang belakang, diteruskan ke thalamus, dan akhirnya sampai ke somatosensory cortex di otak.

Di sana, informasi itu dibuat. Otak kita tahu ada garis, ada lengkungan, ada perbedaan tinggi-rendah, semua yang dirasakan jika mencobanya langsung.

Karena agar sebuah pola menjadi ‘huruf’, otak perlu menghubungkannya dengan sistem bahasa, dengan memori, dengan pengalaman, dengan simbol yang pernah dipelajari. Jalur ini tidak otomatis ada. Ia hendaknya dibentuk dari latihan, dan kita semua pastilah pernah mengalami pelatihan itu.

Wah, tampaknya ini mulai menyerupai sesuatu yang lain. Bukankah begitu?

Dalam kehidupan sosial, kita juga dikelilingi oleh ‘pola-pola’ yang sebenarnya bisa dibaca, ketimpangan, ketidakadilan, dominasi yang halus. Semuanya ada. Terasa dan secara jelas terjadi di sekitar kita.

Namun sayang, tidak semua orang bisa membacanya. Bukan karena tidak ada bukti. Tapi karena tidak ada kerangka untuk memahaminya.

Sama seperti huruf timbul yang terasa asing di jari yang tidak terlatih, struktur patriarki sering terasa ‘normal’ bagi mereka yang sejak awal hidup di dalamnya. Ia tidak terbaca sebagai ketidakadilan, melainkan sebagai kebiasaan.

Dan yang lebih hebat (tentu tidak), tidak semua perempuan otomatis bisa membacanya.

Karena seperti otak yang belajar dari pengalaman, cara kita memahami dunia juga dibentuk oleh lingkungan, nilai yang ditanamkan dan dipercaya.

Jadi, ketika seorang perempuan tumbuh dengan narasi bahwa kepatuhan adalah kebaikan, bahwa memang sudah kodratnya seperti itu, bahwa ruangnya memang lebih sempit, dan suara keras adalah sesuatu yang tidak pantas baginya, maka otaknya membangun pemikiran seperti itu.

Padahal mereka bisa merasakan, tapi tidak dapat melihatnya debagai sesuatu yang harus diributkan, diperdebatkan dan dipertanyakan.

Ah, di sini saya tahu bahwa ‘kebutaan’ bukan lagi soal indera, melainkan soal konstruksi. Dan perempuan yang menolak haknya tanpa sadar, pemikirannya kerap disetir oleh struktur yang lebih dominan. Oleh para superior. Maka, ada baiknya kita mulai memikirkan bagaimana membuat bahasa yang lebih sederhana dari milik si budaya patriarki, agar perempuan dapat memahaminya dengan lebih mudah.


메타데이터
post_id
be89bf2a2e64
slug
misogini-terinternalisasi-sama-dengan-agnosia-taktil-be89bf2a2e64
url
https://medium.com/@adzkiyajs/misogini-terinternalisasi-sama-dengan-agnosia-taktil-be89bf2a2e64
canonical_url
https://medium.com/@adzkiyajs/misogini-terinternalisasi-sama-dengan-agnosia-taktil-be89bf2a2e64
author_url
https://medium.com/@adzkiyajs
status
ok
fetched_at
2026-07-14 14:14:34