PHK di 30
Usia tiga puluh, ia datang tanpa permisi, ia duduk di meja kerja saya yang belum sempat dibereskan, menyodorkan surat tipis berjudul…
PHK di 30
Usia tiga puluh, ia datang tanpa permisi, ia duduk di meja kerja saya yang belum sempat dibereskan, menyodorkan surat tipis berjudul perpisahan, ditemani pengalaman tujuh tahun yang berdiri kikuk di samping kursi-kursi tamu.
Saya tidak keluar dengan tangan kosong, saya membawa tahun-tahun belajar, lembur, dan salah langkah, tapi rupanya semua itu belum cukup panjang untuk disebut senior dan tak cukup muda untuk disebut aset.
Di layar ponsel, lowongan kerja tersenyum sopan, berkata: usia maksimal dua puluh delapan, berpengalaman, adaptif, siap tumbuh bersama perusahaan, seolah pengalaman saya berhenti tumbuh di usia tertentu.
Saya menatap angka-angka di CV seperti menatap cermin, tujuh tahun bekerja terasa terlalu singkat untuk dihormati, namun terlalu lama untuk diberi kesempatan belajar lagi, saya bukan pemula, tapi juga bukan masa depan.
Perusahaan mencari darah segar dengan jam terbang instan, sementara saya datang membawa proses yang belum genap satu dekade, di usia tiga puluh, saya bukan kehilangan kemampuan, saya hanya kalah muda dari batas yang ditentukan algoritma.
Malam menutup lowongan satu per satu, saya menutup mata sambil merapikan pengalaman, besok saya akan bangun sebagai manusia utuh, meski dunia kerja masih mengira usia lebih penting dari perjalanan.
메타데이터
- post_id
- bea2a5ae65cd
- slug
- phk-di-30-bea2a5ae65cd
- url
- https://medium.com/@edin.je/phk-di-30-bea2a5ae65cd
- canonical_url
- https://medium.com/@edin.je/phk-di-30-bea2a5ae65cd
- author_url
- https://medium.com/@edin.je
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13