Bagaimana Jika Satu Keluarga Hobi Menumpuk Sampah?
#2 — Satu Hari Satu Tulisan
Bagaimana Jika Satu Keluarga Hobi Menumpuk Sampah?
2 — Satu Hari Satu Tulisan
Baik, kita mulai dari yang pertama:
Pernah ga teman-teman bayangkan atau teman-teman sendiri mengalami, jika satu keluarga mempunyai hobi yang nyeleneh: Menumpuk sampah?
Photo by Rizkyta Putri on Unsplash
Beberapa hari lalu, saya mendapati konten yang menyatakan bahwa terdapat seseorang (kita sebut A) yang datang ke rumah temannya karena diusir istri dari rumahnya sendiri.
Awalnya, A membelikan tiket berlibur dan menyuruh istri dan anaknya untuk pergi berlibur ke Bali selama 5 hari. Hadiah tersebut ternyata tidak semata-mata tanpa alasan. A menyimpan rencana dibalik semua itu.
Dalam kurun 5 hari tersebut, rencana A ternyata untuk mencoba memilah, menyortir dan membuang sampah-sampah yang ada di rumahnya. Kemudian, apa yang didapat? 5 truk sampah didatangkan untuk membuang sampah-sampah yang telah disortirnya.
Tetangganya terheran-heran dan mengira bahwa A hendak pindah rumah, tapi tidak mengetahui bahwa isi dibalik karung-karung besar itu adalah sampah.
Singkatnya setelah 5 hari berlalu, istri dan anaknya kembali dari Bali dan mendapati lantai 2 nya telah bersih dan tidak melihat barang-barang berharganya.
Ia mendatangi si A dengan suara memekik:
“Di mana kamu simpan barang-barang kesayanganku?”
“Barang-barang kesayangan? Itu sampah!”
Dari percakapan singkat tersebut, A diusir dari rumahnya sendiri sebab ia telah membersihkan sampah-sampah kesayangan istrinya.
Dari penggalan cerita tersebut, apa yang bisa teman-teman tangkap?
Tepat sekali — Hoarding Disorder. Perilaku gemar menimbun barang karena menganggap barang itu akan berguna di kemudian hari dan merasa aman ketika dikelilingi benda-benda tersebut.
Itu hanya seorang, coba bayangkan bagaimana jika satu keluarga mengidap hoarding disorder?
Benar, saya mengalaminya.
Ibu, sering sekali menimbun beberapa bahkan banyak sekali barang-barang yang sebenarnya tidak berguna tetapi disimpan dan ditumpuk di beberapa tempat seperti dapur, kamar, bahkan ruang tamu?!?!
Bapak, sama saja perilakunya, hanya berbeda barang.
Kakak, baju yang hinggap di lemari-lemari tetapi sebenarnya tidak pernah dipakai. Bukannya menyortir atau memilah bajunya untuk dibuang barangkali disumbang ke orang yang lebih membutuhkan, tapi malah membeli lemari baru untuk menumpuk lagi pakaian yang tak pernah dipakai.
Bayangkan, betapa lelahnya melihat rumah yang diisi sampah-sampah yang pada penglihatan mereka adalah barang-barang berharga? Berulang kali membersihkan tetapi hal yang sama terulang kembali, bahkan tak jarang mendapati beberapa amukan dari mereka.
Untuk membersihkan rumah pun harus menunggu rumah kosong, sebab jika tidak demikian, pastilah mereka mengolok-olok saya dengan sarkas template:
“pinter e nek resik-resik (pintarnya kalau bersih-bersih)”
Terdapat satu ciri slogan yang saya dapati ketika mengamati para pengidap gangguan ini:
“Jangan dibuang, nanti dipakai”
“Barang penting itu, simpan saja di sana”
“Tumpuk saja, besok berguna pas hari-hari tertentu”
Begitulah yang mereka katakan acapkali mendapati aku sedang bebersih dapur, ruang tamu, gudang.
Cara berpikir mereka terhadap barang yang sebenarnya sudah tidak perlu yakni:
“Ini sayang dibuang”
“Ini ada kenangannya”
“Ini masih bisa dipakai”
Pengidap hoarding disorder ini seringkali tidak menyadari bahwa dirinya bermasalah. Mereka sering heran dan bertanya-tanya mengapa saya sering, kalau ga menetap di kamar yaa keluar rumah? Padahal, itu kalimat retoris.
Lalu, bagaimana cara mengobati atau setidaknya mengurangi perilaku hoarding disorder ini?
Beberapa yang saya baca dari website-website seperti Alodokter dan Halodoc menyarankan untuk pergi terapis dan mengonsumsi obat-obatan.
Di antaranya, pengidap hoarding disorder juga dapat melakukan beberapa hal, seperti:
- Belajar mengidentifikasi dan menantang pemikiran dan keyakinan yang terkait dengan memperoleh dan menyimpan barang.
- Belajarlah untuk menahan keinginan untuk menyimpan lebih banyak barang.
- Belajarlah untuk mengatur dan mengkategorikan harta benda untuk membantu memutuskan mana yang harus dibuang.
- Tingkatkan keterampilan pengambilan keputusan dan sistem koping.
- Rapikan rumah secara rutin.
- Belajarlah untuk mengurangi isolasi dan meningkatkan keterlibatan sosial dengan kegiatan yang lebih bermakna.
- Pelajari cara untuk meningkatkan motivasi untuk perubahan.
- Hadiri terapi keluarga atau kelompok.
- Lakukan kunjungan berkala atau perawatan berkelanjutan untuk membantu mempertahankan kebiasaan sehat.
Beberapa saran mengarah dan berfokus dari pengidap gangguan tersebut (secara internal). Lalu, bagaimana jika pengidapnya sekaligus orang-orang yang keras kepala?
Secara eksternal seperti membersihkan rumah secara rutin kerap kali saya terapkan, tetapi juga tak kunjung membuahkan hasil apapun. Langkah yang saya lakukan di tahap ini hanya bisa berdoa, bersabar dan berharap suatu hari mereka dapat sadar akan perilaku mereka sendiri.
Jika teman-teman mengalami pengalaman yang serupa dan dapat menanggulanginya, taruh saja di kolom komentar!
메타데이터
- post_id
- bea6d9b3318e
- slug
- bagaimana-jika-satu-keluarga-hobi-menumpuk-sampah-bea6d9b3318e
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/bagaimana-jika-satu-keluarga-hobi-menumpuk-sampah-bea6d9b3318e
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/bagaimana-jika-satu-keluarga-hobi-menumpuk-sampah-bea6d9b3318e
- author_url
- https://medium.com/@aldootok
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 13:13:48