← Back to list

Seperti Rona Pinggala di Kuncup yang Mekar

cw: grief, divorce

An Odetou · 2025-08-24 08:08 · 119 claps · 8.2 min read
#lovely-runner #alternative-universe #byeon-woo-seok #kim-hye-yoon #woohye
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space 💑 · Relationships 🧠 · Mental Wellness

Seperti Rona Pinggala di Kuncup yang Mekar

cw: divorce, grief, miscarriage

Warna apa yang kira-kira akan muncul saat bibit ini berubah menjadi bunga?

Namaku Liora Maya. Kotak kuning berisi bibit bunga itu adalah hadiah pertama yang kuterima lagi setelah satu tahun mengasingkan diri di ruangan serba putih di salah satu rumah sakit jiwa di kota kecil ini, mencoba membelakangi dunia yang dahulu begitu memujaku.

Alih-alih untuk pulih, sebenarnya aku berada di sini untuk bersembunyi — untuk pergi.

Aktris Liora Maya putuskan bercerai setelah tujuh tahun menikah, ditengarai karena tak juga mendapat keturunan.

Headline berita itu masih jelas terpatri di kepalaku.

Aku begitu rapuh, sebab itulah aku tahu orang-orang akan meninggalkanku. Aku sudah tahu dunia yang dulu memujaku pun akan mengabaikanku. Kuduga, binar dari mata orang-orang yang mengagumiku akan pelan-pelan redup.

Bahkan, aku telah memperkirakan bahwa orang yang paling mencintaiku sekali pun kemungkinan besar akan mengabaikanku.

Karena itu, kuputuskan pergi terlebih dahulu.

Karena itu, kuputuskan untuk menjauh, membiarkan waktu menenggelamkan keberadaanku.

Satu tahun berlalu, hingga pada satu titik, aku mulai berhenti menghitung hari sejak terakhir kali namaku disebut di radio dan televisi. Batinku berhenti mempertanyakan mengapa semua yang didekatku berbalik badan — bahkan menghilang, meninggalkanku seorang diri.

Ah, orang-orang memang mudah melupakan, pikirku. Sampai datang hari ketika seseorang yang entah siapa ternyata masih mengingat sosokku.

Aku juga penasaran.

Seperti kalimat tanya pada catatan kecil yang ditulis di atas lembar kertas buku yang dirobek sembarangan itu:

Warna apa yang kira-kira akan muncul saat bibit ini berubah menjadi bunga?

Karena itu kuambil pot kecil dan media tanam yang juga datang bersama hadiah itu, lalu kuletakkan bibit-bibit itu ke dalamnya, kuberi air secukupnya, lalu kuletakkan di dekat jendela.

Diam-diam aku berdoa, kuharap aku memiliki kesempatan untuk melihat kuncupnya berkembang.

Diam-diam aku —

Tunggu dulu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku memiliki sebuah harapan?

Aku tertegun, lantas sepercik rasa penasaran mulai meliputiku. Siapa pengirim hadiah ini? Seorang penggemar kah? Siapa penggemar baik yang masih mengingat keberadaanku yang hanyalah cangkang yang kehilangan jiwa ini?

Kalau aku berhasil melihat kuncupnya tumbuh, ia akan kuberi tahu.

Diam-diam batinku berbisik, meski petunjuk tentang si pengirim pun aku belum tahu.

Aku… tersenyum sebentar, meski di detik berikutnya senyum itu tiba-tiba terasa hampa.

Ada sosok lain yang ingin kuberi tahu saat kuncupnya mekar. Ada sosok —

Ah, sudahlah.

Kemudian, sejak hari itu, di antara hari-hari aku merawat tanamanku, penggemar itu akan mendatangiku melalui hadiah-hadiah baru lengkap dengan catatan-catatan kecil yang semampu itu membuatku tersenyum.

Mulai dari permen dan jajanan yang dulu menjadi kesukaanku, gantungan kunci lucu-lucu, hingga sebuah lampu tidur.

Aku terus menerima hadiah-hadiah dari penggemarku satu-satunya itu. Setiap hari, aku akan merasa penasaran hadiah apa yang akan datang besok.

Setiap hari aku akan menunggu.

Kadang aku akan bertanya-tanya, apakah suatu saat ia yang akan datang sendiri membawakan hadiahnya kepadaku?

Diam-diam, rasa penasaran itu berkembang menjadi sebuah harapan, seiring dengan mekarnya kuncup bunga yang kurawat menjadi bunga yang indah.

Bunga itu berwarna kuning. Warnanya semburat jingga dominan kuning.

Sama seperti semua hadiah yang kuterima di hari-hari yang lalu. Semuanya berwarna kuning.

Sama seperti hadiah baru yang kembali diantar oleh seorang perawat sebagai perantara hanya sampai di ambang pintu.

Satu lagi barang berwarna kuning yang akan menghiasi kamar perawatanku.

Hari ini hadiahnya berupa buku catatan berwarna kuning, lengkap dengan sebuah pena yang siap digunakan untuk menulis.

Tidak ada robekan kertas berisi tulisan tangannya, namun di halaman pertama, aku melihat sebuah catatan, kali ini agak panjang.

Kutebak bunganya sekarang sudah mekar. Warnanya cantik, kan?

Kamu tahu, kuning berarti harapan. Aku harap, kamu akan mulai merawat harapanmu sebaik kamu merawat bunga-bunga itu.

Manis. Catatan itu begitu manus hingga membuatku tersenyum. Pada detik berikutnya, aku membalik halaman dan menemukan catatan lainnya.

Bunga-bunga itu hadiah yang sempurna, bukan? Kalau ada sosok yang kamu rindukan, temui dia dan hadiahkan bunganya, tunjukkan kamu berhasil merawat bunga-bunga itu.

Deg! Sosok… yang kurindukan?

Dengan mengingatnya saja, air mataku menetes ke pangkuan.

Tentu saja ada… sosok yang kurindukan.

Seperti sebuah mantra, kata-kata itu memantik keberanianku, mengobarkan kembali rasa rindu yang kupenjarakan dalam-dalam di dalam hatiku.

Kemudian, di pagi yang cerah itu, aku merangkai beberapa bunga iris yang telah kurawat hingga berkembang untuk membawanya kepada sosok yang kurindukan.

Pagi itu, kakiku bergerak dengan sendirinya, melangkah keluar dari persembunyian.

Rindu. Sungguh rindu, hingga rasa menangisku tak tertahankan. Gerimis jatuh pelan-pelan tatkala langkahku sampai pada hadapan sebuah gundukan tanah.

Namun, tetesan hujan itu rupanya tak sampai membuatku terlalu basah, sebab tiba-tiba saja ada seseorang yang menempatkan payungnya tepat di atas kepalaku, melindungiku dari hujan.

Ah, kalau begini air mataku bisa terlihat.

Air mataku yang tertahan di pelupuk mata, membuat pandanganku sedikit kabur, namun aku dapat melihat warna kuning pada payung yang berada di atas kepalaku.

Payungnya… warnanya… kuning?

Kalau berwarna kuning, mungkinkah —

Dengan perasaan asing yang entah apa, aku berbalik.

Ia yang berdiri di sana, membuat netraku membulat.

Dari semua orang yang pergi meninggalkanku, ada seseorang yang kutahu pergi paling jauh. Orang itu adalah yang kini berada di hadapanku. Seharusnya ia yang pergi paling jauh. Tapi mengapa? Mengapa saat tubuhku berbalik, ia justru hanya berada satu langkah di depanku?

Jantungku berderap kencang. Mendapati sosok itu berdiri melindungiku dengan payung kuningnya, kubiarkan air mataku menetes begitu saja.

Pasca bercerai, Psikolog Juan Angkasa putuskan jalani hidup baru di Amerika, munculkan spekulasi adanya pengganti Liora Maya.

Namaku Juan Angkasa.

Dan, ya, aku tak lebih dari seorang pengecut yang bersembunyi di balik kekuatan media.

“Sampe kapan lo mau sembunyi di balik pengumuman palsu itu?”

Entah sudah berapa banyak artikel dikeluarkan tentang kepindahanku ke Amerika, ditambah dengan bumbu-bumbu yang tak perlu ditambahkan, padahal itu adalah sebuah pernyataan palsu. Pernyataan palsu yang digunakan untuk bersembunyi oleh seorang laki-laki bodoh yang hanya bisa menyesal karena telah bersedia melepaskan cintanya.

Ya, lelaki bodoh itu adalah aku. Lelaki pengecut yang bodoh itu adalah aku.

“Sampe gue yakin lukanya bisa disembuhin.”

Jawabanku selalu sama. Aku punya rencana. Aku punya tekad yang kuat membuat senyuman Maya kembali merekah.

“Caranya lo bisa tau lukanya udah sembuh atau belum?”

“Dengan ada di sisinya.”

That’s why psikiater sukses dan terkenal ibukota kayak lo gini mau bela-belain pindah ke rumah sakit jiwa terpencil di kota kecil ini?”

Aku tersenyum, sambil terus fokus menuliskan catatan untuk hadiah kesekian yang akan diantarkan oleh perawat ke kamar perawatan Liora Maya.

Thank you, ya, Yar, udah mau nerima gue di rumah sakit lo.”

Aku tahu, Noviar, rekan sejawatku sudah bosan mendengar terima kasihku sejak awal aku memutuskan untuk pindah ke rumah sakitnya — tempat Maya memutuskan untuk dirawat. Tapi, rasa terima kasihku ini memang tulus, karena tanpa bantuannya, aku tak akan bisa berada di sisi Maya, mantan istriku yang sesungguhnya tak pernah ingin kuhapus dari hatiku yang terdalam.

Walau tak lagi tercatat di atas kertas, nama Maya akan tetap akan kupertahankan sebagai yang tersayang.

“FYI di ruang VIP yang ditempatin Maya ada TVnya.”

“Jadi?”

“Bukannya dia bisa lihat berita-berita yang muncul karena pernyataan palsu lo itu?”

Aku kembali tersenyum, kali ini lebih getir dibandingkan beberapa saat sebelumnya. Kutatap dengan nanar sebuah map berisi tumpukan dokumen yang sampai sekarang belum kupindahkan dari atas meja sejak pindah.

Selain surat cerai, ada dokumen catatan medis kondisi kehamilan pertama hingga keempat milik Maya.

Bukti perjuangan kami yang saling mencinta, walau pada akhirnya harus kandas.

Bukan — ini bukan akhirnya.

Selama satu tahun terakhir, aku terus mencoba meyakinkan diriku, bahwa ini bukan akhirnya.

“Bayangin sepengen apa dia menghilangkan gue dari hidupnya, sampe dia nggak mau nyampein kalo dia ternyata lagi hamil pas gugat cerai gue.”

Kenyataan yang pahit. Namun itu adalah kenyataan yang harus kuhadapi. Tujuh tahun bersama, aku dapat dengan mudah membaca Maya. Tiga kali kehamilan gagal, yang keempat ia merasa tak pantas berharap. Aku paham, ia juga tak ingin membuatku lagi-lagi kecewa. Aku tahu betul, Maya yang rapuh selalu memutuskan untuk menjauh.

Kala itu, Maya terlalu sakit dengan harapan-harapan kami bersama. Kala itu, Maya selalu terluka karena tak ingin mengecewakanku. Karenanya, biarlah ia berpikir aku telah berada begitu jauh. Dengan begitu, ia tak lagi perlu takut lagi-lagi mengecewakanku.

Aku akan membantunya dari jauh. Yang bisa kuusahakan adalah membantunya dari jauh mendapatkan kembali harapan-harapannya, dengan caraku.

“Pagi, Dok,” seorang perawat masuk ke ruanganku setelah kuminta.

“Gimana kondisi Maya hari ini?”

“Bu Maya lagi siap-siap pergi, Dok. Pas saya nganterin makanan, beliau lagi ngerangkai bunga dari bibit yang dikasih Dok Juan.”

Aku melirik Noviar yang sepertinya sedang menebak langkah yang akan kutempuh selanjutnya.

“Menurut lo, mantan istri lo mau pergi ke mana?”

Sesungguhnya, campur aduk rasanya. Aku tahu tempat yang mungkin akan ia datangi. Setelah berbicara tentang harapan dan rindu di buku catatan yang kuserahkan sehari sebelumnya, aku tahu tempat mana yang akan menjadi tujuannya.

“Kayaknya gue tahu…”

Maya memutuskan untuk menguburkan anak keempat kami di kota kecil ini sebab setelah semua rasa sakit itu, ia hanya ingin berlari pulang.

Pria yang berdiri di hadapanku adalah Juan Angkasa. Kami adalah pasangan bercerai yang —

“Apa kabar, May?”

— masih saling mencintai, mungkin?

Melihat Juan berada di hadapanku membuat jantungku berdebar kencang. Aku masih saja terpesona dengan sorot matanya yang hangat. Suara beratnya masih saja mampu membuat bulu kudukku meremang. Tadinya, aku yakin bahwa aku merasa lega telah membuatnya pergi sejauh-jauhnya, sehingga aku hanya perlu menelan pil kecewaku sendirian.

Tapi, mengapa? Mengapa sekarang aku merasa lebih lega ketika ia berdiri di depanku, melindungiku dari guyuran hujan?

Aku tak mengerti tentang bagaimana ia bisa ada di sini? Aku tak mengerti bagaimana ia tahu semua hal yang telah kusimpan rapat-rapat.

Lebih jauh, aku lebih tak mengerti, tentang perasaanku yang masih saja terasa sama terhadapnya.

“Jadi, Mas Juan tahu semuanya?”

Air mataku berderai deras. Aku tak dapat menahan diriku yang terisak demikian di depan Juan yang kuduga memang tahu segalanya. Netranya menatapku lekat, mengguratkan kerinduan yang teramat dalam.

Jadi selama ini, aku tak terluka sendirian?

Maya memutuskan untuk bercerai setelah tahu bahwa ia kembali harus menjalani kehamilan yang rentan. Sejak dinyatakan positif hamil untuk yang keempat kalinya, Maya tak pernah memberitahuku. Ia pergi memeriksakan kandungannya tanpa sepengetahuanku dan mendapati fakta menyakitkan yang kembali harus ia telan bulat-bulat.

Seorang Liora Maya tak ingin sampai mengecewakanku untuk yang keempat kalinya, karena itu ia menempuh jalan yang cukup ekstrim, kemudian menghilang.

Tapi, bukan Juan namanya kalau tak bisa menemukan Maya. Setelah bercerai, tak pernah sedetik pun kubiarkan kabar Maya hilang dari radarku.

Aku terus berada di sisinya.

Karena aku terus berada di sisinya, aku tahu kehamilan keempatnya berhasil masuk ke trimester akhir.

Sungguh, setiap hari diam-diam aku mendoakan janin di perut Maya bertahan. Aku menangis di setiap doaku, membumbungkan harapanku tinggi-tinggi, walau pada akhirnya harapan itu kembali harus kandas begitu saja.

Pada bulan ke tujuh, kami harus kembali kehilangan.

“Aku tahu semuanya,” jawabku singkat.

Aku pun tahu, saat itu Maya menangis hanya karena kehilangan. Ia tak lagi menangis karena merasa telah mengecewakan suaminya.

Aku tak lagi membuatnya dua kali lipat kesakitan. Tapi tetap saja, melihat Maya yang seperti itu membuatku begitu terluka. Andai aku bisa sekali lagi memeluknya.

“Selama ini kamu sakit sendirian… Maafin aku, Maya…”

Kemudian, hari itu juga, aku tersadar. Kalau saja aku berusaha lebih keras untuk meyakinkan Maya bahwa aku begitu mencintainya. Kalau saja aku berusaha lebih keras meyakinkan Maya bahwa aku akan terus bersamanya, terkabul atau tidaknya harapan-harapan yang kami rajut bersama. Kalau saja aku bisa berusaha lebih keras mengusahakan mimpi kami berdua.

Hari itu juga, kuputuskan untuk membawanya kembali pulang.

“Warnanya kuning. Bunga ini warnanya kuning,” ucap Maya diiringi dengan suara hujan yang mulai menjadi deras.

Aku melirik bunga yang ada di genggaman tangan Maya. Iris kuning itu tampak cantik seperti dirinya.

“Aku suka,” tuturnya lagi sambil tersenyum.

Tujuh tahun bersama, aku paham seorang Juan Angkasa akan mengutamakan kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian istrinya di atas segala-galanya. Hal terbodoh yang pernah kulakukan selama pernikahanku dengan Juan adalah memutuskan bercerai dengannya.

Dan aku baru sadar, Juan tak pernah berada jauh-jauh dari diriku berada, karena itu hatiku terasa lebih ringan.

Cincin kawin yang kembali dipakaikan Juan kepadaku bertuliskan namanya. Sebaliknya, namaku, Liora Maya terukir di cincin miliknya. Kami pasangan yang jauh dari sempurna. Harapan kami terang redup, namun kami berjanji untuk tak pernah lelah mengukir harapan itu bersama.

Walau hanya berdua, kami percaya harapan untuk bahagia itu ada seperti rona pinggala, jingga kekuningan di kuncup yang mekar.

Epilog:

Namaku Iris Pinggala. Kata ayahku, bunga iris bermakna harapan. Kata ibuku, pinggala bermakna jingga kekuningan, pun melambangkan harapan.

Awalnya aku adalah harapan yang diaminkan dengan doa-doa tulus yang mereka rajut bersama setelah sekian lama. Lalu aku menjadi sebuah bukti nyata yang lahir berkat kekuatan cinta mereka.

Keluarga kami tak sempurna, namun menyenangkan melihat orang tuaku menua bersama dengan senyuman yang menetap di wajah mereka, asal mereka bersama. Asal tak ada lagi yang memisahkan mereka.


메타데이터
post_id
bebdb382e503
slug
seperti-rona-pinggala-di-kuncup-yang-mekar-bebdb382e503
url
https://medium.com/@an_odetou/seperti-rona-pinggala-di-kuncup-yang-mekar-bebdb382e503
canonical_url
https://medium.com/@an_odetou/seperti-rona-pinggala-di-kuncup-yang-mekar-bebdb382e503
author_url
https://medium.com/@an_odetou
status
ok
fetched_at
2026-07-18 00:53:13