← Back to list

Improvisasi atau Skrip? Jawabannya Adaptasi

04; Untuk Dia, Sang Pemandu Acara

݊Kayyana 𐙚 ˚ · 2025-11-07 14:27 · 0 claps · 3.9 min read
#kpop #alternative-universe #comedy-romance #fiction #fiction-world
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 🔭 · Astronomy & Space 💑 · Relationships ✍️ · Writing & Creative 😂 · Humor & Satire

Improvisasi atau Skrip? Jawabannya Adaptasi

A Kim Dohoon TWS Alternative Universe

Di syuting pertama setelah kedatangan Jenggala, Juni gugup setengah mati. Padahal, Juni sudah melakukan kegiatan ini selama setahun. Tentu kalian tahu apa penyebabnya.

Syuting dilakukan di pagi hari, karena narasumber akan mendatangi suatu acara di siang sampai sore. Demi sang narasumber, Juni bangun lebih pagi daripada biasanya.

Diantar pak supir, Juni pergi ke studio. Riasan sudah ada di wajah, piama tidur berganti menjadi baju rajutan berwarna hitam dengan kasus putih.

Di studio, sudah ada pak produser dan Jenggala, para staf belum muncul. Juni lumayan kaget dengan keberadaan Jenggala, namun merasa wajar. Di hari pertama kerja pasti ingin menjadi yang terbaik, kan?

“Selamat pagi, Juni. Nih, minum kopi dulu,” sapa pak produser sembari memberi Juni sebuah kopi susu. Tentu pak produser hapal dengan kelakuan Juni, yaitu membuat kopi. Juni hanya terkekeh dan menerima kopi, “Makasih, pak.”

Jenggala duduk di sebelah pak produser, kepalanya menunduk membaca skrip. Telinganya tertutup perangkat jemala berwarna putih. Jenggala memakai jaket berwarna hitam dan celana jins. Dari merek jaket, Juni tidak bisa menebak harganya, yang pasti itu mahal sekali.

Juni duduk di sebelah Jenggala, lalu mengeluarkan skrip dari tasnya. Mulutnya berbicara pelan membaca bagian skripnya. Tidak ada interaksi dengan Jenggala, Juni tidak peduli. Kalau disapa, memang akan dijawab? Jenggala sendiri menutup telinganya.

Yang dibicarakan menoleh ke arah Juni. Jenggala sudah sadar dengan keberadaan Juni sejak tadi, tapi dia sedang fokus dan tidak bisa diganggu. Perangkat jemala itu aslinya tidak ada suara.

“Katanya ramah, orang ganteng begini enggak disapa,” sindir Jenggala membuat mata Juni pergi ke sumber suara.

“Dih? Kamu saja pakai earphone? Bagaimana mau disapa?”

Jenggala melepas salah satu perangkat itu, lalu dipasang ke telinga Juni. Juni bingung, tidak ada suara?

“Apa yang kamu dengar?”

“Enggak ada.”

“Nah, itu dia. Aku sendiri sudah sadar kedatanganmu.”

Juni mendecak kesal, “Ya sudah. Fokus saja ke skripmu. Kalau enggak, aku kasih improvisasi.”

“Dih, begitu ancamannya?”

Untung ketika Juni hendak membalas protes Jenggala, narasumber datang. Pak produser memanggil mereka berdua untuk menyapa. Juni menghela napas, artinya dia tidak bisa latihan skrip lagi. Karena, pak produser pasti meminta untuk langsung syuting. Kenapa waktu latihan, Juni harus ribut dengan Jenggala? Menghabiskan waktu dengan sia-sia.

Jenggala hanya diam dan mematuhi perintah pak produser. Mereka berdua berjalan berdampingan, namun perasaannya sangat berlawanan. Juni yang masih merasa sia-sia, Jenggala diam saja seperti sudah siap.

Kak Deara adalah narasumber hari itu. Seorang penyanyi muda yang lagu barunya sedang populer sekali. Juni juga kerap mendengar lagu Kak Deara di mobil.

Selesai bersalaman dan basa-basi sambil menunggu persiapan kamera. Ketiganya duduk di tiga kursi dan mikrofon. Juni duduk di sebelah Jenggala, di seberang ada Kak Deara.

Pak produser mulai berteriak, “Juni, Jenggala, Deara, standby in 3, 2, 1!”

Ketika aba-aba itu selesai. Juni langsung bicara dengan kalimat pembuka nya yang khas.

“Halo, para pendengar setia! Kembali lagi di J’s Music Week bersama saya, Juni Sabintang. Dan saya tidak sendiri, saya akan ditemani oleh co-host baru kita, teman-teman. Jenggala Alastar Radengga. Di episode ini, kita akan berbincang-bincang asyik bersama seorang penyanyi yang namanya sedang naik daun akhir-akhir ini. Mari kita sambut, Deara Adeeva!”

Kak Deara membalas sapaan dengan riang. Dan syuting pun dimulai. Jenggala yang membuka topik dengan luwes yang membuat Juni cengo sebentar. Juni yang sering melontarkan gurauan membuat Kak Deara tertawa. Kak Deara yang menjelaskan tentang album barunya.

Syuting berjalan lancar, Kak Deara merasa nyaman dengan para host. Jenggala yang kadang membalas gurauan Juni, huh katanya tidak bisa. Obrolan yang asyik, namun tak melenceng dari topik utama. Ini yang Jenggala inginkan, namun Juni tidak. Juni merasa ini kurang menyenangkan dari syuting sebelumnya. Entahlah, Juni harus melihat komentar dari para penonton.

Kini, Jenggala yang berbicara di penutupan, “Sayang sekali, obrolan asyik kita akan berakhir sampai di sini saja, para pendengar. Untuk Kak Deara Adeeva, terima kasih sudah mengisi episode ini dengan menyenangkan, semoga Kak Deara sukses selalu dengan karya-karyanya.”

“Baik, kami akan menutup siniar hari ini. Saya, Jenggala Alastar Radengga-”

“Dan saya, Juni Sabintang.”

“J’s Music Week, beda episode, beda lagu, jelajahi dunia musik lebih luas! Sampai Jumpa!”

Kak Deara sudah pergi dari studio, jadwalnya benar-benar padat karena akan tampil di suatu festival. Menyisakan Juni, Jenggala, pak produser dan para staf lainnya yang bersiap untuk pulang.

Juni yang sedang memakai jaket berwarna hitam memasang wajah bingung pada Jenggala. Jenggala hanya diam saja karena sudah rapi, namun Jenggala sering kali melirik Juni.

“Kenapa, Je?”

“Hah? Enggak ada apa-apa.”

Juni hanya mengangguk, lalu berusaha membuat ruangan agar tidak hening.

“Kamu tadi bisa jawab improvisasi aku. Kemarin katanya enggak bisa.”

“Bisa mah iya, Ju. Tapi aku kaku saja, enggak pede.”

“Dih, mengakui dirinya ganteng saja gampang banget.”

“Kalau itu, fakta.”

Juni hanya mendecak kesal lagi. Tidak ada gunanya berdebat dengan laki-laki yang gayanya petantang-petenteng itu. Di mana sisi lembutnya kemarin, hah? Kenapa tidak muncul saat syuting tadi?

“Tapi, siniar jadi lebih datar. Enggak enak, rasanya.”

“Karena enggak improvisasi? Enggak semuanya harus ada improvisasi, Ju.”

“Tapi, ini siniar yang ceria, Je. Harus ada gurauan, Untung Kak Deara masih nyaman waktu syuting.”

“Emang, nyaman itu dari candaan doang? Enggak, kan?”

“Tapi, itu aku sudah susah payah agar suasana lebih baik. Skrip itu tidak terlalu berpengaruh, capek tahu rasanya.”

“Kalau capek karena improvisasi doang, mending enggak usah.”

“Kamu yang jangan terpaku sama skrip, Je! Dari satu tahun ini, semuanya baik-baik saja karena improvisasiku.”

“Emang, kalau enggak ada improvisasi, siniar ini bakal hancur, enggak, kan?”

“Kamu jangan ngomong kayak gitu, Ju. Kamu baru hari pertama kerja di sini. Jangan sok tau.”

“Ada yang namanya, adaptasi, Je. Enggak semuanya harus sesuai sama pendirian kamu. Kamu harus bisa menyesuaikan,” lanjut Juni dengan tajam.

Jenggala kesal, namun dia tahan karena di hadapannya ini adalah seorang perempuan. Dia tidak bisa kasar pada perempuan, “Iya, iya. Adaptasi. Oke, oke. Aku menyerah, tapi enggak semua orang memberi saran itu artinya sok tahu, bukan.”

Adaptasi, katanya? Aku hanya mencoba perfeksionis. Hidup harus sesuai petunjuk, kan? ucap Jenggala dalam hati.


메타데이터
post_id
bebf2cc1e1c3
slug
improvisasi-atau-skrip-jawabannya-adaptasi-bebf2cc1e1c3
url
https://medium.com/@kayananalmeira/improvisasi-atau-skrip-jawabannya-adaptasi-bebf2cc1e1c3
canonical_url
https://medium.com/@kayananalmeira/improvisasi-atau-skrip-jawabannya-adaptasi-bebf2cc1e1c3
author_url
https://medium.com/@kayananalmeira
status
ok
fetched_at
2026-07-24 17:38:50