benak nadin
— it’s easy to erase pain away when you meet someone true
benak nadin
— it’s easy to erase pain away when you meet someone true
“nadin, kalo lo gak bisa nyamper gue, gue aja yang nyamper lo.”
“gak perlu, hansen. aku gak mau ngerepotin.”
“gak repot kok. boleh kan gue mampir kosan lo?”
“aku tinggal di apart yurin.”
“gue boleh ke apart yurin?”
“aku mau tapi izin yurin dulu ya, atau kita mau ketemuan di luar aja?”
“boleh deh, di lantai bawah apart yurin ada cafe enak. kamu mau kesana?”
“boleh.”
“okey, see you, hansen.”
“okay, nadin.”
—
setelah dirasa chat di whatsappnya tidak perlu dilanjutkan, nadin menghempaskan tubuhnya ke kasur. setelah sejuk yang ia rasakan sejak saling bertegur sapa dengan hansen, kini kepala nadin disibukkan dengan beberapa pikiran.
apakah aku pantas?
sudah 3 bulan sejak kejadian itu, apakah aku sudah siap untuk mencintai seseorang lagi?
lalu, nadin beranjak dan berjalan ke arah kaca yang tingginya setara dengan nadin. ia melihat mukanya. ia tidak secantik. bekas luka tersemat di jidatnya, tidak kunjung hilang. ia menghembuskan nafasnya kasar. kemudian, ia merebahkan badan, siap untuk tidur. tak lama, notif ponsel nadin berbunyi, tanda ada notifikasi masuk. nadin hanya membaca pesan itu dari notifikasi pop-up saja.
“selamat tidur, nadin cantik.”
apa iya kamu bisa bilang aku cantik tanpa melihat aku?
—
warna dinding kafe tersebut senada dengan warna jaket yang hansen kenakan. rambutnya sengaja disembunyikan di balik beanienya. selama menunggu nadin, ia hanya bermain dengan ponselnya. dari twitter, ke instagram, ke twitter, ke instagram, lalu ia memanggil pelayan untuk memberinya password wi-fi agar bisa singgah ke youtube. setelah mendapat password wi-fi, hansen membuka youtube untuk melihat-lihat judul video yang sedang trending tanpa menontonnya. awalnya ia ingin menonton video tapi ia tidak membawa headset.
rasa bosan mulai menyelimuti hansen. ia bolak balik menyandarkan dan menegakkan punggungnya. sudah 20 menit lelaki itu menunggu belahan hatinya. hansen mengetukkan ujung sepatunya dengan gugup. ia tidak sabar untuk bertemu dengan nadin.
lalu, tak lama, ada derap langkah yang ia dengar mendekat. ia langsung menoleh dan ternyata itu bukan nadin, melainkan pelanggan kafe tersebut. ia duduk di belakangnya. hansen menghembuskan nafas kecewa.
rasa bosan menghampirinya lagi. akhirnya, ia membaca setiap plat mobil yang terparkir di depan cafe. hingga sampai mobil ke 20, tanpa ia sadari, sudah ada perempuan yang daritadi memanggilnya.
“hansen!” panggilnya sekali lagi.
hansen menoleh ke arah suara. akhirnya, yang ditunggu pun datang. di mata hansen, nadin masih dan akan selalu cantik walau ia bisa melihat bekas luka di jidatnya. entah apa yang terjadi kepada jidatnya, namun itu tidak bisa melunturkan kecantikkan nadin.
“kamu lagi liatin apa?” ucap nadin seraya duduk. ia hanye mamakai hoodie dengan logo nanas kecil di tengah dadanya.
hansen menyengir. “gue lagi liatin plat mobil sama ngitungin kapan stnk abis.”
“hah emang bisa?” nadin terkesima.
“bisa dong, nih coba ya, brio yang item itu tuh. platnya kan 4.25. jadi, nanti stnknya bakal abis april tahun 2025, dia beli mobil itu april 2021. tinggal dikurang 4 aja.”
“kamu bosen banget ya pasti ya sampe ngitungin kayak gitu? maafin aku ya, tadi ada sesuatu.”
“santai aja, nadin. kayak baru temenan sama gue kemaren sore,” jawab hansen santai.
“makasih ya,”
hansen hanya tersenyum, memamerkan deretan gigi depan. nadin balas juga dengan senyuman.
“ini bukunya,” ucap nadin seraya memberikan buku yang ia pinjam kemarin. “maaf, balikinnya telat.”
hansen mengambil buku itu dari tangan nadin. “sama-sama. santai aja, nadin. sekali lagi minta maaf jadi pacar gue.” ucapan hansen membuat nadin terperanjat. “hah?”
hansen menggeleng sambil terkekeh. “becanda. santai aja, nadin. buat nunggu orang, balikkin buku telat, itu hal sepele. terima kasih udah minta maaf tapi gue yakin ada alasan yang bikin lo melakukan hal tersebut. jadi, boleh tau kenapa lo telat?”
“kondisiku lagi gak baik.”
senyuman di bibir hansen memudar. “oh, okay. gue minta maaf karena lo harus melalui ini, nadin.”
“gak apa. walau kondisiku begini, aku belajar banyak hal.” nadin berusaha untuk tersenyum.
“gak usah senyum kalo itu terlalu nyakitin, nadin.”
memang semenjak kejadian di hari itu, ia hanya menangis saat di dalam kamar mandi. setelah itu, dia memang tidak pernah menangis lagi. ia berusaha berpikir bahwa memang ini salah nadin, nino tidak akan bertindak sejauh itu.
sesuatu bergejolak di hati nadin. ia bisa merasakan air matanya memenuhi netra coklat, dan ia keluar tanpa izin terlebih dahulu oleh nadin. di hadapan hansen, ia menangis. hansen tidak berkata apapun, ia hanya memandanginya. biasanya, nino akan memarahinya jika ia menangis, jadi selama ia berpacaran dengan nino, ia selalu berusaha memendamnya. ia bisa merasakan kebebasan bersama hansen.
“maaf ya, aku nangis,” ujar nadin seraya mengambil tisu. hansen hanya menatap gadis yang duduk di depannya dengan tatapan sayang.
“lo mau jadi pacar gue ya?” ucap hansen. nadin terheran-heran. “abis lo minta maaf mulu, kan tadi gue bilang kalo minta maaf jadi pacar gue.”
“eh? aku udah terbiasa minta maaf.”
“nangis bukan suatu hal yang harus dimaafin, lagipula gak ada salahnya buat ekspresiin perasaan lo. oh ya, din, ini bukan semata-mata cuma agenda balikkin buku ya. boleh gue anggep ini sebagai first date kita?”
“aku nangis, hansen. gimana bisa aku nangis di first date? mungkin next time? biar aku lebih decent tampilannya?”
“mau decent kayak gimana lagi? lo udah cantik,” puji hansen sambil tersenyum. “mungkin next time? berarti lo mau ketemu gue lagi kan?” sambungnya. ada secercah harap hansen bagi nadin untuk menjawab iya.
nadin mengangguk. namun, keduanya, terlebih nadin, siap untuk melangkah dan ia semakin berani untuk jalan menelusuri dunia bersama hansen.
메타데이터
- post_id
- bebf5f397e69
- slug
- benak-nadin-bebf5f397e69
- url
- https://medium.com/@thursdawn/benak-nadin-bebf5f397e69
- canonical_url
- https://medium.com/@thursdawn/benak-nadin-bebf5f397e69
- author_url
- https://medium.com/@thursdawn
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-27 20:22:46