← Back to list

Orangutan, Hutan, dan Iklim: Hubungan Sunyi yang Menentukan

Apa hubungannya primata dengan iklim? Pertanyaan ini jarang muncul dalam diskusi publik, padahal jawabannya sangat mendasar. Hilangnya…

Ridwan Rafly · 2026-01-28 10:08 · 2 claps · 3.6 min read
#primates #climate-change #orangutans #gibbons #forest
Open on Medium ↗
Wiki topics: ESG · ESG & Sustainability 🌱 · Environment & Climate

Orangutan, Hutan, dan Iklim: Hubungan Sunyi yang Menentukan

Apa hubungannya primata dengan iklim? Pertanyaan ini jarang muncul dalam diskusi publik, padahal jawabannya sangat mendasar. Hilangnya primata tidak hanya berarti berkurangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga melemahkan setidaknya tiga fungsi ekologis penting yang berperan langsung dalam menjaga stabilitas iklim: regenerasi hutan, penyerapan karbon, dan penyebaran biji dalam skala bentang alam. Tanpa primata, hutan kehilangan “arsitek alaminya”. Tanpa hutan yang sehat, karbon lebih banyak lepas ke atmosfer. Dan ketika karbon meningkat, manusia yang pertama kali merasakan dampaknya: suhu makin panas, banjir makin sering, gagal panen meningkat, hingga krisis air bersih.

Primata merupakan spesies kunci dalam regenerasi hutan hujan tropis. Sebagai pemakan buah-buahan (frugivora), mereka berperan sebagai penyebar biji (zoochory) alami dengan daerah jelajah yang luas. Biji yang tersebar kemudian tumbuh menjadi pohon-pohon baru yang berfungsi menyerap karbondioksida (CO₂) dan menghasilkan oksigen (O₂). Proses ini menjadikan hutan sebagai penyimpan karbon jangka panjang (sequestration) sekaligus penyangga iklim.

Penelitian menunjukkan bahwa potensi penyebaran biji oleh primata di Indonesia sangat besar. Owa kalaweit (Hylobates albibarbis), di Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan, Kalimantan Tengah, tercatat menyebarkan biji dari 58 jenis buah-buahan yang berasal dari 22 suku tumbuhan (Basalamah, 2006). Studi lain dari Barito Ulu mencatat Hylobates spp. menyebarkan 55 jenis buah-buahan dari 24 suku tumbuhan (McConkey, 1999), orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) menyebarkan 55 jenis buah-buahan dari 14 suku tumbuhan (Aprilinayati, 2006), sementara orangutan Sumatra (Pongo abelii), di Stasiun Penelitian Ketambe, Aceh, tercatat menyebarkan sedikitnya 10 jenis buah-buahan (Suhandi, 1988).

Menariknya, hasil persebaran biji ini tidak hanya bermanfaat bagi hutan saja, tetapi juga bagi manusia. Di Ketambe, beberapa tumbuhan hasil persebaran orangutan dimanfaatkan masyarakat sekitar hutan sebagai obat tradisional. Peradah (Garcinia parvifolia) digunakan sebagai obat panas dalam dan sariawan, setur padi (Aglaia korthalsii) dan bau langit (Cyathocalyx sumatranus) untuk diare, serta ipoh (Antiaris toxicaria) dan keranji (Siphonodon celastrineus) untuk berbagai keperluan pengobatan lainnya. Bahkan terdapat pengamatan lapangan ditemukan bahwa ketika seekor orangutan betina mengalami keguguran mengonsumsi buah-buahan tertentu yang berkaitan dengan kesembuhan infeksi dan pendarahan internal orangutan tersebut.

Perubahan iklim kini memperparah tekanan terhadap primata. Peningkatan suhu global dan kebakaran hutan semakin sering terjadi. Penelitian menunjukkan bahwa suhu ekstrem terutama pada tahun 2023 telah memengaruhi proses fotosintesis tumbuhan. Dampaknya paling dirasakan oleh spesies arboreal seperti primata, yang seluruh hidupnya bergantung pada kanopi hutan. Secara global, distribusi primata memang terkonsentrasi di wilayah lintang 0° atau wilayah hutan tropis, sehingga sangat rentan terhadap panas dan kebakaran (IUCN, 2017).

Asap Dari Kebakaran Hutan Di Sekitaran Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan, Kalimantan Tengah (2023)

Asap Dari Kebakaran Hutan Di Sekitaran Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan, Kalimantan Tengah (2023)

Studi yang dilakukan oleh Steward, B., et al. (2020) menunjukkan bahwa emisi CO₂ dan perubahan iklim akan berdampak signifikan pada banyak spesies primata. Meskipun saat ini perubahan iklim bukan penyebab utama penurunan populasi, keterbatasan kemampuan mereka untuk berpindah tempat dan beradaptasi dapat menjadikannya ancaman besar dalam waktu dekat. Kondisi ini semakin berbahaya bagi primata betina yang bersifat filopatri yang artinya cenderung tetap berada di wilayah kelahirannya sehingga sulit menghindari habitat yang rusak.

Dampak kebakaran juga terlihat jelas pada perilaku dan kesehatan orangutan. Penelitian Erb, W. M., et al. (2018) menunjukkan bahwa selama periode asap (smoke haze period), yaitu masa ketika kebakaran hutan dan lahan menghasilkan asap tebal yang menyelimuti kawasan hutan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, sehingga waktu istirahat orangutan jantan berpipi meningkat, jarak tempuh harian menurun, tingkat stres meningkat, dan kadar keton dalam urin naik pascakebakaran.

Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan fisiologis dan kemungkinan defisit energi akibat menurunnya ketersediaan pakan. Selain itu, penurunan produktivitas buah-buahan pasca haze event juga berdampak pada perilaku sosial orangutan betina, termasuk berkurangnya interaksi sosial dan berdampak pada menurunnya peluang reproduksinya.

Melindungi primata berarti menjaga fungsi hutan, kesehatan ekosistem, dan ketahanan iklim. Upaya ini tidak dapat dilepaskan dari perlindungan habitat, pencegahan kebakaran hutan, serta koeksistensi harmonis antara manusia dan satwa liar. Primata bukan hanya korban krisis iklim tetapi mereka juga adalah bagian dari solusi kita bersama.

PrimateForClimate

PrimataUntukIklim

HariPrimataIndonesia

HPI2026

Referensi:

  • Aprilinayati, F. (2006). Perilaku Mengkonsumsi Buah dan Potensi Tumbuhnya Biji Jenis-jenis Tumbuhan yang Dipencarkan Oleh Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) di Stasiun Penelitian Tuanan, Kalimantan Tengah. Universitas Nasional.
  • Basalamah, F. (2006). Peran Kelawat (Hylobates agilis albibarbis) sebagai Penyebar Biji di Stasiun Penelitian Tuanan, Kalimantan Tengah. Universitas Nasional.
  • Erb, W. M., Barrow, E. J., Hofner, A. N., Utami-Atmoko, S. S., & Vogel, E. R. (2018). Wildfire smoke impacts activity and energetics of wild Bornean orangutans. Scientific reports, 8(1), 7606.
  • IUCN. (2017). Global distribution and spatial patterns of primate species. International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List Database.
  • McConkey, K. R. (1999). Gibbons as seed dispersers in the rain-forests of central Borneo (Doctoral dissertation, University of Cambridge).
  • Stewart, B. M., Turner, S. E., & Matthews, H. D. (2020). Climate change impacts on potential future ranges of non-human primate species. Climatic Change, 162(4), 2301–2318.
  • Suhandi, A. S. (1988). Regenerasi jenis-jenis tumbuhan yang dipencarkan oleh orangutan sumatera (Pongo pygmaeus abelii) di hutan tropika Gunung Leuser. Universitas Nasional.

메타데이터
post_id
bedbbb32c89e
slug
primata-hutan-dan-iklim-hubungan-sunyi-yang-menentukan-bedbbb32c89e
url
https://medium.com/@ridwanrafly.15/primata-hutan-dan-iklim-hubungan-sunyi-yang-menentukan-bedbbb32c89e
canonical_url
https://medium.com/@ridwanrafly.15/primata-hutan-dan-iklim-hubungan-sunyi-yang-menentukan-bedbbb32c89e
author_url
https://medium.com/@ridwanrafly.15
status
ok
fetched_at
2026-07-26 12:24:21