← Back to list

Sex, Drinks, and Religious Cults

Perjumpaan dengan Tuhan di bibir botol alkohol

Daplong Karbohidrat · 2025-06-09 04:52 · 10 claps · 2.7 min read
#religi #agama #tuhan #filsafat-manusia #filsafat
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Sex, Drinks, and Religious Cults

Perjumpaan dengan Tuhan di bibir botol alkohol

Apa yang akan kita telaah bersama sebetulnya berangkat dari berita brengsek di tanah air tercinta kita. Para pengoar kalimat Tuhan (katanya) kembali mengobral janji palsu atas nama iman (yang padahal) untuk kepentingan perut dan kelamin. Mereka menawarkan jasa pembersihan diri yang lucunya dilakukan dengan proses penuh nuansa berahi. Ironi yang tak basi-basi. Dan masyarakat yang terbuai ini menerima saja, seakan logika telah ditumpulkan oleh fantasi surga di kepala kecil mereka. Lalu sebetulnya mereka ini berperan sebagai korban atau viktimal? Mengapa kedua belah pihak setuju akan praktik ini?

Photo by Aleksandr Popov on Unsplash

Photo by Aleksandr Popov on Unsplash

Berita-berita tentang “praktik keagamaan” yang unik ini ternyata bukan hal baru dan orisinil. Menengok peradaban Yunani 2750 tahun yang lalu, kita bisa melihat sesuatu yang serupa. Penggambaran Zeus, Poseidon, dan kawan-kawannya membawa kesan yang mirip. Tokoh-tokoh dari kisah Homerus ini — kisah Illiad dan Odyssey — sangat tidak religius. Mereka banyak sekali mabuk, bercinta, dan merampas apa yang mereka mau dari umatnya. Dari sisi moral, sangat mudah mendefinisikan mereka sebagai antitesis Tuhan dari kebudayaan abrahamik (Islam, Katolik, Yahudi). Tuhan-tuhan Homerus ini berciri seperti manusia dan manusiawi. Teramat manusiawi hingga ciri kefanaan mereka hampir menghilangkan fakta bahwa mereka adalah makhluk baka. Mengapa pula Tuhan butuh mabuk, bersifat egois, dan banyak bereproduksi? Sukar untuk bisa menemukan alasan mengapa orang mampu takzim dan menaruh hormat terhadap mereka atas alasan selain rasa takut dan tidak berdaya.

Photo by Sara Darcaj on Unsplash

Photo by Sara Darcaj on Unsplash

Tidak hanya di Yunani, di peradaban yang lain bisa kita temukan tapi dengan sifat yang lebih barbarik. Bangsa Thrace di Balkan sangat gemar berpesta. Bukan pesta biasa akibat pengaruh gengsi sosial, ini berdasar, berasas, ini adalah kultus agama. Bentuk pemujaan terhadap dewa mereka — Bachus, Dewa Anggur dan Kemabukan — adalah upacara penuh unsur kebebasan (sangat-sangat bebas) hingga tampak sangat amoril. Mereka membantai binatang liar, mengoyak-oyaknya, bermabuk hingga teler, dan membawa istri serta gadis-gadis dalam tarian penuh ekstase. Ini adalah bagaimana meraka menghormati Tuhan. Memujanya. Dengan cara yang indah dan sangat … brutal.

Kasus-kasus jauh di masa lalu mungkin jauh dapat dinalar karena aksinya yang memang jauh lebih frontal. Tuhan dipercaya bersifat primitif, serta bentuk pemujaan yang primitif juga. Semua yang mereka lakukan seakan mengekspresikan bentuk kerinduan tak terbendung akan kehidupan yang naluriah, jauh dari kekangan sanksi-sanksi moral. Masyarakat yang menklaim kebenaran kisah Homerus — menjadikannya agama — seakan membenarkan sifat “biadab” Tuhannya karena memang begitulah seharusnya menjadi hidup. Mereka tidak bisa membelinya, tapi Tuhan mereka bisa. Mereka hidup dalam keirian. Mengharap sedikit kemurahan Tuhannya untuk menjadikan hidup mereka seglamor dan sebebas itu.

Bangsa Thrace jauh lebih proaktif. Mereka tidak hanya berdoa dan meminta. Mereka melakukan aksi nyata dalam menciptakan utopia mereka. Bermabuk, membunuh, bercinta sesuka hati. Mereka mengacungkan jari tengah secara nyata pada praktik hidup penuh kekangan adab dan norma sosial. Sebuah bentuk protes yang otentik, penuh simbol kebebasan, dan mereka pun melakukannya sepenuh jiwa. Mereka berpikir bahwa kehidupan penuh tata krama dan sopan santun hanyalah pada perilaku, bukan hati dan perasaan. Bertuhan adalah proses mengenali dan mengekspresikan diri secara utuh. Tuhan manusia bersifat layaknya manusia. Tuhan kambing bersifat layaknya kambing. Penggambaran Tuhan mereka frontal menggambarkan jati diri mereka sendiri. Sebenar-benarnya mereka tanpa batasan produk perjanjian sosial yang penuh kekakuan.

Tentu saja ini ekstrem. Bahkan pemujaan seperti ini bak menginjak-injak keluhuran Tuhan dalam kamar agama itu sendiri. Perlu ada suatu proses meninjau dengan kehati-hatian penuh esensi dan prinsip agama kita. Apakah Tuhan bersifat universal bagi seluruh makhluk atau terbatas pada manusia saja — sehingga wajar jika ia bersifat manusiawi? Apakah akhlak dalam agama kita mengajarkan untuk bertabiat penuh kebebasan atau saling menertibkan? Apakah ibadah serat akan keintiman yang sepi dengan Tuhan atau keintiman yang lantang dengan sesama? Diperlukan logika dalam beragama, bukan dogma dan cinta semata.


메타데이터
post_id
bedbf2d99ace
slug
sex-drinks-and-religious-cults-bedbf2d99ace
url
https://medium.com/@daplongkarbohidrat/sex-drinks-and-religious-cults-bedbf2d99ace
canonical_url
https://medium.com/@daplongkarbohidrat/sex-drinks-and-religious-cults-bedbf2d99ace
author_url
https://medium.com/@daplongkarbohidrat
status
ok
fetched_at
2026-07-19 13:04:38