← Back to list

Tuhan ada, hanya aku yang lupa.

Aku punya Tuhan, tapi kadang aku lupa. Aku berlari, jauh, tak sempat menepi. Padahal yang aku cari tak pernah pergi, ia ada, hanya aku yang…

vianaksara · 2026-03-27 14:56 · 1 claps · 1.6 min read
#prosa #muhasabah-diri #puisi
Open on Medium ↗

Tuhan ada, hanya aku yang lupa.

Aku punya Tuhan, tapi kadang aku lupa. Aku berlari, jauh, tak sempat menepi. Padahal yang aku cari tak pernah pergi, ia ada, hanya aku yang terlalu jauh menempuh perjalanan. Tuhan? Aku masih tidak percaya dengan apa yang akan terjadi satu detik ke depan, aku kadang masih meragukan napas-Mu, aku bahkan lupa dengan kuasa-Mu, aku telah berdosa. Mungkin, esok atau bahkan nanti, bisakah kau memaafkanku, Tuhan?

Tuhan begitu romantis, dengan ayat-ayat-Nya. Semua arah Tuhan tunjukkan, bahkan saat aku jatuh dan lupa arah untuk kembali, Tuhan masih memanggilku dengan sebutan “hamba-Ku”. Mempunyai alasan untuk menjadi yang lebih baik bukanlah sebuah kebenaran, namun keharusan. Sebagaimana Abu Lubabah bin Abdil Mundzir yang pernah berkhianat secara tidak sengaja kepada Rasulullah SAW dengan mengisyaratkan kepada Bani Quraizhah bahwa mereka akan disembelih jika menyerah. Menyadari kesalahan fatalnya yang membocorkan rahasia negara, ia merasa sangat bersalah hingga mengikat dirinya di tiang Masjid Nabawi selama beberapa hari dan bersumpah tidak akan lepas hingga Allah mengampuninya. Allah kemudian menerima tobatnya melalui turunnya ayat Al-Qur’an. Aku harap, nasibku sama sepertinya, Tuhan ampuni.

Barangkali, kau hidup hanya untuk membeli balon di pinggir jalan, dan barangkali kau hidup hanya untuk membuat orang di sekitarmu tersenyum, hiduplah, berbahagialah. Aku memang bukan manusia sempurna. Namun, aku selalu mencari cara untuk menjadikan hidupku ada. Barangkali, hidupku hanya untuk mendengar musik-musik indah milik Panji Sakti atau membaca puisi-puisinya pak Sapardi. Bahkan aku masih mengira-ngira hidupku. Bukan karena aku tak siap, tapi memang selalu banyak celah untuk kutanyakan pada takdir-takdir yang tak beriringan denganku.

Aku pernah menyesal pada waktu, mengapa waktu itu aku tidak mengucapkan cinta padamu lebih lama, tampak indah di wajahku kau tersenyum. Namun aku tidak pernah mengira bahwa itu adalah senyum terakhir yang kau berikan untukku. Semua hal paling sedih dalam hidupku masih bisa aku kendalikan, namun kehilanganmu, sama saja aku membunuh hidup seorang diri. Aku katakan — takkan aku mengalihkan cintamu pada seorang yang lain, sampai mati aku akan tetap mencintaimu, aku berjanji. Tapi aku tidak ingin cinta tak tumbuh di hidupku, aku akan tetap mencintaimu dan semua cinta di sekitarku.

Padahal, mencintai-Nya saat itu adalah bagian terindah dalam hidupku. Aku memeluk segala bayang yang ada, tanpa luka, tanpa harap, tanpa segala rupa hal yang aku khawatirkan seperti hari-hari lalu. Kini, bahagia itu ada, sebab aku ikhlas. Cintaku tidak berubah, sama seperti dulu. Hanya kali ini, aku tidak lagi memaksakannya tampak nyata, biarlah hanya bayang, biarlah hanya rasa, biarlah.

Aku hidup karena Tuhan, terima kasih sudah sangat baik menciptakanku — kali ini, aku akan selalu ingat, dengan suara, ayat dan kebakan-kebaikan seharusnya.


메타데이터
post_id
bee8461cdadb
slug
tuhan-ada-hanya-aku-yang-lupa-bee8461cdadb
url
https://medium.com/@vianafitriani2/tuhan-ada-hanya-aku-yang-lupa-bee8461cdadb
canonical_url
https://medium.com/@vianafitriani2/tuhan-ada-hanya-aku-yang-lupa-bee8461cdadb
author_url
https://medium.com/@vianafitriani2
status
ok
fetched_at
2026-07-09 21:48:21