Koordinasi Disambung Kepedulian
Dalam KBBI, koordinasi didefinisikan sebagai perihal mengatur suatu organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yang akan…
Koordinasi Disambung Kepedulian
Dalam KBBI, koordinasi didefinisikan sebagai perihal mengatur suatu organisasi atau kegiatan sehingga peraturan dan tindakan yang akan dilaksanakan tidak saling bertentangan atau simpang siur. Koordinasi dalam organisasi seharusnya satu paket dengan efektivitas organisasi itu sendiri. Bila organisasi belum efektif (dalam hal apapun), ia tidak dapat menghasilkan keluaran yang kompetitif, sulit bertahan maupun bersaing dengan organisasi lain, serta tidak diakui oleh lingkungan sekitar.
Koordinasi tidak hanya terbatas dalam lingkup organisasi formal dengan segala garis relasi dan komandonya, tetapi juga termasuk cara menjiwai suatu angkatan dalam organisasi tersebut. Sadyakasa Adyawidya, Perencanaan Wilayah dan Kota ITB angkatan 2019, juga perlu memiliki koordinasi yang efektif.
Berangkat dari latar belakang yang berbeda, kami, Sadyakasa Adyawidya, berusaha menyatukan tujuan dan arah gerak sebagai satu angkatan. Tentu bukan hal yang mudah mengharmonisasikan 92 isi kepala manusia dalam satu kapal. Bukan menyamakan, ya. Mengharmonisasikan. Perbedaan bukan hal yang harus dihindari dari organisasi, menurutku. Akan tetapi, sikap kami yang menentukan. Bila bisa berkolaborasi, mengapa tidak? Tiap anak membawa warnanya masing-masing, tinggal “diatur” posisi dan intensitasnya untuk membentuk gradasi warna yang ciamik, yey!
Tidak mudah, memang. Akan tetapi, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin, kan? Di sinilah koordinasi yang efektif dibutuhkan. Namun, tidak sekadar itu. Sebagai suatu angkatan — yang diprakasai ikatan persaudaraan karena senasib sepenanggungan, kami perlu memberikan tempat untuk rasa peduli untuk ikut tumbuh.
Kombo yang menggiurkan, bukan? Koordinasi + Efektivitas + Kepedulian = relationship goal melebihi ala tumblr.
Kami — dalam MPAB, sekarang sedang ditempa oleh calon rumah kami, HMP PL, untuk memiliki hubungan yang bukan sekadar take and give, tetapi saling. Saling apa? Saling apapun hehehe. Kami berproses untuk bisa menjadi suatu angkatan yang ideal.
Namun, tidak semudah itu, kawan, untuk menciptakan angkatan yang memiliki jalur koordinasi ideal. Koordinasi. Ideal. Pusatnya di sini adalah koordinasi. Bagaimana cara menyuasanakan angkatan dalam suatu koordinasi yang efektif dan peduli? Bagiku, tidak ada jawaban pasti seperti 1+1 = 2. Manusia menghadapi manusia, sama-sama makhluk berakal yang dinamis. Pasti akan selalu ada variabel yang harus selalu diperbaiki.
Koordinasi bukan barang pabrik sekali jadi, tetapi proses menuju keidealan itu sendiri.
Kapan idealnya? Tidak ada yang tahu. Namun, yang ingin aku garisbawahi di sini adalah koordinasi yang dilandasi saling peduli merupakaan salah satu api yang harus senantiasa berkobar dalam diri Sadyakasa masing-masing.
Lalu, bagaimana cara kami mengusahakan koordinasi — yang uwu, goals, atau apapun, yang intinya ideal?
Ketika salah satu dari kami tidak muncul di grup atau tidak mengonfirmasi kehadiran, kami berusaha langsung menghubunginya. Bila tidak bisa? Hubungi nomor darurat kerabat terdekatnya. Ketika salah satu dari kami kesulitan dalam pengerjaan tugas, kami berusaha membantu sebisa kami. Pun bila tidak bisa, setidaknya terucap kalimat “semangat, ya, (insert nama)” Ketika salah satu dari kami merasa insecure dengan tugas PJ yang dia ambil, kami berusaha membesarkan hatinya dengan mengerjakan pembagian tugas sebaik mungkin, belum lagi ucapan atau banyolan yang menghibur. Lihat, tidak, kata yang kuberi aksen tebal? Usaha. Sering terdengar, bukan, kutipan “hasil tidak akan pernah menghianati usaha”? Hal ini benar adanya. Usaha-usaha kecil kami untuk mengapresiasi keberadaan tiap anggota Sadyakasa Adyawidya juga termasuk berusaha. Langkah kecil mengawali langkah besar, atau bahkan awal dari berlari?
Sekadar saling mengeluh akan tugas osjur atau tanggung jawab lain yang sering bertabrakan pun menurutku bisa menjadi salah satu cara kami untuk saling peduli. Setidaknya muncul pemikiran “Yah, yang keos ga cuma aku,” Ketika tiap kami yang saat pertama kali membuat grup angkatan lalu membatin “Ini siapa ya? Emang dia sapek?”, menjadi haha hihi di grup angkatan, menjadi saling nge-tag di Instagram stories, (lagi-lagi) menurutku itu adalah awal dari kesolidaritasan kami, salah satu bentuk kepedulian kami terhadap angkatan kami. Dari kami, oleh kami, untuk kami.
Terkesan formalitas, ya? Mungkin bagi pembaca, ada yang berujar, “Ah, kalian hanya peduli saat forum akan berlangsung,” atau “Kalau ga osjur juga gabakal saling peduli”
Nah, ini titik pentingnya, hyung. Bagiku, kami diberi wadah awal oleh HMP PL untuk saling peduli, ya di MPAM MPAB ini. Memang benar, kepedulian atau solidaritas angkatan kami berangkat dari formalitas kegiatan ospek jurusan. Akan tetapi, menurutku, ini adalah langkah progresif menuju kesolidaritasan itu sendiri. Aku super optimis, kok, dengan Sadyakasa Adyawidya akan dapat merangkul 91 anggota lainnya, baik itu yang akan berhimpun bersama dalam HMP Pangripta Loka maupun yang tidak.
Terlepas dari berbagai masalah yang mendera.. Lho, kalian ada masalah? Hmm, aku sulit untuk mendefinisikan kata “masalah” itu sendiri. Aku tidak tahu, apakah hal besar seperti ketidaksepahaman; perbedaan budaya dan dan menyikapi suatu hal; hingga beda gaya bahasa chat adalah masalah atau peluang untuk menjadi masalah atau bukan masalah. Mungkin sekarang, gesekan yang terjadi masih dalam lingkup yang kecil. Akan tetapi, kembali lagi, akan ada kemungkinan untuk menjadikan berbagai hal tersebut sebagai awal mula masalah yang akan terjadi.
Bila di EPSEM, tiap populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk menjadi sampel penelitian, di angkatan kami pun semua hal memiliki kemungkinan yang sama untuk menjadi masalah hehehe, izin sekalian me-review materi MAP 1 tadi pagi, Kak.
Lalu, bagaimana pemikiranku (yang mungkin bisa dipakai) untuk menyelesaikan masalah intraangkatan?
- Komunikasi adalah batu penjuru. Tanamkan pada diri sendiri bahwa manusia yang kita hadapi ini bukan cenayang, paranormal, dukun, ahli kebatinan atau siapapun yang bisa membaca pikiran kita. Mereka adalah manusia biasa yang harus diberi pengertian, penjelasan, dan segala macamnya. Sebagai contoh, saat kamu punya pacar tetapi tidak pernah bilang sayang. Walaupun kamu memperhatikan dia, apakah kamu yakin dia tahu kalau kamu peduli dan sayang dia? hohoho tidak semudah dan sesederhana itu, chingu. Suatu tindakan dapat dimaknai berbagai macam hal, bukan? Ini pentingnya komunikasi. Komunikasi yang jelas akan menjauhkan kita semua dari kesalahpahaman duniawi. Karena sekarang komunikasi kita terbatasi oleh jarak dan corona, ada baiknya kita belajar cara berkomunikasi verbal yang taktis dan menyenangkan demi tercapainya kepedulian yang masiv, terstruktur, dan uWu.
- Tentukan jalur koordinasi yang jelas dan tidak berbelit. Gagasan kedua ini bisa diusahakan lewat pembudayaan sikap. Sebagai contoh, ketika ada pengumuman day atau tugas, dari PJ bisa memberikan pengumuman (mungkin berbentuk point singkat dapat membantu), mulai dari deskripsi tugas, format tugas, tenggat waktu, hingga kontak penanggung jawab tertulis dalam bentuk singkat, padat, jelas, dan beresensi. Dari pihak penerima tugas pun bisa dibiasakan untuk membalas pertanyaan yang relevan agar informasi tidak tenggelam. Koordinasi yang jelas, jelas mempermudah ketersampaian informasi apapun. Kesalahpahaman, miskonsepsi, dan segala kawannya dapat dikurangi probabilitasnya bila jelas harus gimana, harus ngapain, harus seperti apa.
- Berbahagialah orang yang tidak melihat tetapi percaya. Kembali lagi, untuk mencapai suatu angkatan yang ideal, tiap dari kami perlu meyakini dan mengimani bahwa “I’m belong to Sadyakasa Adyawidya. No matter what they say, I am Sadyakasa Adyawidya.” Bukan bermaksud chuvinisme atau bucin, ya, tetapi kita perlu meyakini bahwa inilah rumah kita, jelek bagusnya rumah kan tergantung penghuninya mau merawat atau tidak, ya, kan? Ketika ada atap yang bocor atau lantai yang kotor, hanya penghuninya yang bisa memperbaiki dan membersihkannya. Ketika kita sayang kepada anggota rumah kita maupun sayang kepada rumah kita, kita akan bahu membahu merawat bangunan rumah itu sendiri maupun merawat rasa kekeluargaan kita dengan anggota keluarga. Sense of belonging perlu ditingkatkan. Sudah ada, kok! Yuk, mari ditingkatkan.
- Masalah ada untuk dihadapi. Sangat tidak mungkin bila hidup berjalan tanpa masalah. Ada masalah? Ya gapapa, wak. Diselesaikan. Kembali lagi, perlu koordinasi yang kuat di tiap anggota kami agar bisa menyelesaikan masalah satu per satu. Pejuang, bukan? Hadapi!
- Last but not least, Tidak ada kata terlambat untuk berbahagia memiliki keluarga bernama Sadyakasa Adyawidya. Sekarang belum menemukan asiknya di sini? Cari! Mungkin kalian menganggap aku hanya lamis alias omong kosong tentang ini. “Lah Mima mah aktif, makanya bisa ngomong gitu. Mima mah gapaham rasanya ga diwaro, ga di (insert perlakuan tidak menyenangkan)”
Aku yang sekarang ini pernah merasa tidak nyaman dalam suatu angkatan berlatar belakang organisasi di zaman dahulu kala, kok. Terlanjur malas, aku benar-benar menjadi anggota yang hanya muncul ketika ada proker > menjadi anggota (biasanya divisi acara) > selesai proker > hilang lagi. Terlepas orang-orangnya kurasa tidak satu frekuensi dengan aku, aku pun tidak berusaha untuk dekat ke angkatanku. Aku terlalu ingin dianggap tanpa berinisiatif dahulu. Menurutku, caraku bersikap tidak bisa dibenarkan. Bila memang tidak ada orang yang (kurasa) meng-approach aku terlebih dahulu, mengapa aku tidak mulai meng-approach duluan? Merasa tertohok sambil bingung, kan? Sama. Aku bingung sama aku sendiri waktu SMA ini, kenapa baru kepikiran sekarang.
Sebelum kita menuntut untuk dipedulikan, sudahkah kita mempedulikan antaranggota kita? Sudahkah kita memberikan kontribusi terbaik kita untuk rumah kita? Bila belum, sudahkan kita tidak menjadi pemberat bagi angkatan? Bila belum merasa belum “dibaikin”, sudahkah kita bersikap baik kepada anggota lain terlebih dahulu? Bila koordinasi sekarang dirasa belum optimal, sudahkah kita mengusahakan diri menjadi salah satu pelaku koordinasi yang baik? Sila tanyakan pada diri kita sendiri.
The world is full of kind people. If you can’t find one, be the one.
Mirmanti Cinahya Winursita 15419056
메타데이터
- post_id
- beeee2d4eec7
- slug
- koordinasi-disambung-kepedulian-beeee2d4eec7
- url
- https://medium.com/@cinahya/koordinasi-disambung-kepedulian-beeee2d4eec7
- canonical_url
- https://medium.com/@cinahya/koordinasi-disambung-kepedulian-beeee2d4eec7
- author_url
- https://medium.com/@cinahya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-28 21:22:41