Kasih Judulnya Apa Ya?
Hari itu, tepat pada hitungan ke-18 sejak pertama kali kamu melihat dunia, aku berada di sini. Di sini, di tempat yang dekat tapi mustahil…
Selamat Ulang Tahun, Si Adik
Photo by Eugenia Pan'kiv on Unsplash
Hari itu, tepat pada hitungan tahun ke-18 — sejak pertama kali kamu melihat dunia, aku berada di sini. Di sini, di tempat yang dekat tapi mustahil kamu jangkau. Kamu pun di sini, namun di seberang gerbang. Membuatku juga mustahil menjangkaumu.
Aku tahu kamu hanya diam. Namun sambil duduk membisu sendirian, membayangkan kita dan selayang surat dariku. Atau sambil berbisik pada harapan yang kamu simpan di balik kesunyian.
Atau mungkin tidak diam. Mungkin kamu menangis tanpa suara di hari yang seharusnya spesial itu. Yang kamu rasa seperti membuka pintu kamar senyap daripada memasuki ruangan pesta.
Ya. Anggap saja terkaanku kebetulan tepat, kalau bukan karena aku orang terdekatmu sejak kecil. Lalu, ketika hari itu lewat, pertanyaan memenuhi pikiranmu, “Apakah aku masih penting?”
Jawabannya… tak perlu kujawab. Kamu sendiri yang menjawabnya, “Iya. Aku masih penting. Tapi akan kuingatkan kalian kalau aku masih penting.” Ucapmu pada dirimu sendiri, lalu menggores pena. Mengirim surat padaku. Berpikir mungkin kami lupa keberadaanmu.
Dan aku? Aku tertawa. Tawa miris yang tak berasal dari air mata, tak juga berasal dari kelucuan dunia. Entahlah. Aku hanya tertawa hambar. Bingung.
Pertama. Jika kamu menyimbolkan kasih-sayang itu dengan kado, artinya aku hanya akan menyayangimu ketika ada kado. Maka kasih sayang itu akan menjadi setahun sekali. Musiman. Padahal kasih sayang tak begitu caranya bekerja.
Kalau pun memang aku hendak memberi semacam hadiah, itu akan kukirim saat waktu tepat. Dan waktu tepat dalam pandanganku itu bukan angka kalender, tapi kondisi-situasi. Di mana aku sendiri yang akan menyerahkan hadiah itu. Lalu melihat sendiri bagaimana kamu tersenyum setelahnya.
Kedua. Sudah kujelaskan, perayaan itu tak perlu ada. Seharusnya kamu tak senang umur bertambah, justru sedih karena stok usiamu makin menipis. Makin dekat dengan alam kubur. Setahun tambah tua. Setahun tambah bau tanah. Simbolis sedih kok malah dirayakan. Aneh.
Perayaan itu, kalau mau buat perayaan, ambillah momen yang manis. Momen yang memang menyenangkan, filosofis, dan sekaligus patut dirayakan. Bukan perayaan ulang tahun. Karena di mataku itu perayaan menyambut mati. Gak ada senang-senangnya.
Tapi, aku harus tetap minta maaf padamu. Biarpun ulang tahun adalah tradisi pesta nggak penting, namun kamu tetap merasa sedih tanpanya. Karena itulah aku bersalah. Namun perlu diingat, mungkin aku memang tak mementingkan ulang tahun, tapi kamu sudah penting tanpa ditempel sebuah tanggal.
메타데이터
- post_id
- bef4d9249ec5
- slug
- kasih-judulnya-apa-ya-bef4d9249ec5
- url
- https://medium.com/lentera-literasi/kasih-judulnya-apa-ya-bef4d9249ec5
- canonical_url
- https://medium.com/lentera-literasi/kasih-judulnya-apa-ya-bef4d9249ec5
- author_url
- https://medium.com/@achrory23
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01