← Back to list

Dunia dan Manusia di Dalamnya

Cerita pendek 37 dari 365 hari

Ventino · 2025-03-17 13:21 · 20 claps · 2.8 min read
#cerita-pendek #sastra #37 #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗

Dunia dan Manusia di Dalamnya

Cerita pendek 37 dari 365 hari

Photo by Valeria Dubych on Unsplash

Photo by Valeria Dubych on Unsplash

Memastikan bahwa dunia akan selalu berpihak padamu adalah kegiatan yang sia-sia. Bahkan bila engkau berharap kepada Tuhan, mungkin Ia hanya akan tersenyum padamu. Lagi pula dunia tidak punya mekanisme yang teratur. Jika di dalam bahasa sains, mahasiswa itu bakal mengucapkan, “Entropinya sangat-sangat tinggi, wak!” sambil menunjukkan kerut dahi yang banyak.

Berbicara tentang dunia, aku sudah menginjak 54 tahun. Hidup di antara ontran-ontran orde baru dan pembantaian massal atas HAM yang diinjak-injak. Yang mana, aku tak lagi hidup sebagai pemerasan jiwa idealisku, melainkan untuk hidup sebisaku, semampuku, menyaksikan apa yang belum pernah kutemui selama bernapas di dunia ini.

Jatinangor menjadi rumah akhirku. Aku memutuskan tinggal di kota penuh mahasiswa ini sebagai tempat perehatan paling akhir. Tidak lagi berjelajah setelah menyentuh 55 tahun. Bukan agar hidup ini santai-santai saja, melainkan aku ingin menyaksikan sampai habis kejadian demi kejadian yang akan terputar di persinggahan ini. Apalagi, aku hanya pria paruh baya tanpa istri maupun anak.

Memutuskan untuk hidup sendirian adalah pilihanku semenjak pantatku duduk di kursi mahasiswa. Pilihan ini tercipta karena juga salah seorang kawanku yang penuh api nasionalisme kala itu berkata seperti ini: “Hei kamu, kalau sudah besar hidup sendiri saja. Punya istri itu merepotkan. Apalagi ngurus anaknya, beh! Beli ini, beli itu. Lagian hidup kita juga tidak terjamin, kan? Memangnya, kamu yakin bisa kaya raya seperti pejabat bau pesing itu?”

Waktu itu aku marah. Aku tidak suka argumennya yang bilang kalau punya istri itu merepotkan. Bagiku (kala itu) istri adalah anugrah paling luar biasa yang Tuhan beri kepada kita kaum laki-laki. Oleh karena itu, pertengkaran sengit terjadi di kantin kampus. Orang-orang dengan berbagai jaket berwarna berusaha menghentikan kami. Namun sayang, mata kananku tertusuk garpu dan mau tidak mau hidup selama 35 tahun tanpa penglihatan yang sempurna.

Omong-omong, kawanku yang paling nasionalis itu sudah duduk di salah satu jabatan di kursi pemerintahan. Yang kudengar, ia dipilih oleh presiden ke-8 kita untuk mengurus permasalahan yang bagiku tidak penting-penting amat. Selain, dirinya yang selalu berbicara ngalur-ngidul membuat emosi rakyat menumpuk.

Kenapa tiba-tiba aku mendengarkan ucapannya? Memilih untuk hidup sendirian.

Bukan karena punya istri itu merepotkan, melainkan….

“Wak, baksomu dingin iku!” teriak seorang mahasiswa berjaket merah muda. “Melamun wae! Mikirin apa?”

“Enggak. Omong-omong logatmu loh itu kebawa terus, padahal udah hampir 1 tahun. Ngomong sunda belum bisa?”

“Bisa aku.”

“Yo, coba, pengin dengar aku.”

“Sunda.”

Aku menatap wajahnya. Kerut pipinya terbentuk, bibirnya menyungging. “Kusiram pakai kuah bakso, baru tau kamu.”

Mahasiswa itu terkekeh. “Ya aku belum bisa, wak. Males belajar gituan aku.”

“Ya, suka-sukamu, dah.” Aku mengambil sendok, lalu mulai menyendok satu buah bakso gemuk.

Pertama kali aku bertemu mahasiswa di sampingku ini disebabkan oleh kejadian aneh. Jujur, kalau diingat lagi, aku malas mengingatnya. Dan sebetulnya, aku tidak mau menghabisi separuh hidupku hanya untuk berteman dengan seorang mahasiswa semester 2. Entah apa yang bisa ia hasut padaku di umurnya yang masih seumur jagung.

Namun terlepas dari itu, menyenangkan rasanya bisa berbincang dengan mereka yang lebih muda. Seolah melihat diriku sendiri yang dulu masih suka koar-koar di jalanan.

“Fakultasmu apa?” tanyaku sambil menyeruput kuah bakso yang asam.

“Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.”

“Jurusan? Matematika?”

“Astronomi.” Ia mengangkat wajahnya dari mangkuk. “Liat bintang sama planet, wak.”

“Jurusan kayak begitu kerjaannya apaan?”

“Ya itu, wak, liat bintang!”

“Liat bintang, matamulah itu liat bintang.”

Yeu, bisa jadi astronot, wak. Terbang!” serunya. “Wak bisa terbang gak?”

“Terbang ke gedung DPR bisa aku. Kuludahin pejabat-pejabat yang tidor!”

“Aduh, bahaya kali ucapannya.”

Aku menyendok sisa bakso, lalu menelannya. “Yaudah. Belajar yang bener, kalau gak jadi astronot pun masih bisa kerja yang laen.”

“Contohnya, wak?”

“Jadi wapres.”

“Tapi bapakku bukan presiden, wak.”

Aku mematung. “Sakkarepmulah!”

Dunia memang tak selalu teratur. Tak selalu adil. Tak selalu menggaungkan kebenaran. Namun dunia selalu memberi kita pilihan untuk menentukan sebaik apa dirimu di masa depan nanti.

Dan pilihanku untuk hidup menyendiri, tidak menjadi sebuah bias yang tajam hanya karena ucapan kawanku. Melainkan menurutku, kebahagiaan tak selalu muncul di salah sebuah aspek. Dan bisa saja “kesendirian” itu menjadi aspek tersembunyi untukku. Terlepas apakah engkau percaya atau tidak.

17 Maret 2025


메타데이터
post_id
bf0ab2d1de9f
slug
dunia-dan-manusia-di-dalamnya-bf0ab2d1de9f
url
https://medium.com/@ventino96/dunia-dan-manusia-di-dalamnya-bf0ab2d1de9f
canonical_url
https://medium.com/@ventino96/dunia-dan-manusia-di-dalamnya-bf0ab2d1de9f
author_url
https://medium.com/@ventino96
status
ok
fetched_at
2026-06-26 06:47:43