Langkah yang Hilang
Langkah yang Hilang

Langkah yang Hilang
Seharusnya sekarang gue udah terlelap dan bermimpi indah di atas kasur empuk di kamar yang nyaman. Bukan malah mengendap-endap masuk ke pekarangan bekas sekolah di ujung kota seperti ini. Kalau bukan karena ajakan (atau lebih tepatnya paksaan) Minghao, nggak mungkin gue rela mengurangi jam tidur gue.
"Hao, lo yakin mau masuk?" tanya gue sambil menarik lengan sahabat gue yang berjalan di depan.
"Kenapa? Lo takut?"
"Cuma orang nggak waras yang bisa masuk seenaknya tanpa rasa takut ke tempat kaya gini di jam segini!" Kulirik jam tangan sekilas, "ini hampir tengah malam, Hao!"
Sial! Leher gue semakin merinding begitu mengetahui jam berapa sekarang.
"Badan lo gede tapi pengecut ya, Gyu." ucapnya sambil menyilangkan tangan di depan dada dan melihatku dengan tatapan merendahkan yang dibuat-buat.
"Lo yang gila! Ngapain juga rela buang-buang waktu buat ngebuktiin berita-berita aneh?!"
"Mingyu, lo kan tau, gue itu orang yang nggak boleh dibikin penasaran. Makin penasaran gue sama suatu berita, isu atau gosip, makin nekat gue buat ngebuktiin itu bener apa nggak."
Minghao, orang gila ini memang punya rasa keingintahuan yang besar sejak kecil. Berani mengambil resiko dan nggak pernah takut menghadapi apapun. Dari kecil sampai kami sudah SMA seperti sekarang, entah sudah berapa kali gue sama dia melakukan 'penyelidikan' yang selalu berujung pada omelan dari orang-orang di sekitar kami.
Berita atau isu yang akan kami 'selidiki' kali ini adalah tentang pohon beringin yang terletak di belakang gedung yang nyaris runtuh ini. Sekitar dua tahun lalu, di sekolah ini pernah terjadi kebakaran hebat yang membakar hampir seluruh bagian gedung sekolah. Beruntung, kejadian itu terjadi di malam hari ketika tak ada satu pun murid yang sedang belajar di sana.
Tapi sejak dulu ada kabar yang beredar, kalau sebenarnya ada satu korban tewas yang sengaja disembunyikan dari media dan masyarakat. Dia adalah seorang kakek penjaga sekolah. Katanya, mayatnya ditemukan sedang memeluk pohon beringin di belakang sekolah dalam kondisi terbakar di seluruh tubuhnya. Kedua matanya melotot nyaris keluar, mulutnya terbuka seolah berteriak meminta pertolongan, dan seluruh kulitnya mengelupas akibat luka bakar.
Lalu ada satu hal lagi yang benar-benar membuat masyarakat heran. Katanya, di pohon beringin yang kakek itu peluk, sama sekali tak terlihat bekas-bekas terbakar. Bahkan sampai sekarang pun pohon itu masih terus tumbuh subur. Padahal sekolah ini akhirnya harus ditutup karena yayasannya tidak punya modal untuk pembangunan ulang.
Yang membuat Minghao memaksa gue menemaninya sekarang bukan hanya karena berita lama itu. Melainkan berita yang baru-baru ini heboh di masyarakat sekitar sini. Masih berita tentang kakek dan pohon beringin tadi, tapi kali ini, beritanya makin membuat bulu kuduk berdiri.
Rumornya, arwah kakek yang tewas saat kebakaran itu kini menetap di pohon beringin yang ia peluk di saat-saat terakhirnya. Kabar yang beredar juga mengatakan kalau kakek itu masih mencari 'teman' untuk dibawanya ke alam sana. Setiap kali ia berhasil mendapatkan 'teman', akar gantung di pohon beringin itu akan terlihat semakin lebat dan panjang, lalu orang itu pun menghilang bagai di telan bumi.
Bahkan yang lebih seramnya lagi, tak akan ada yang mengingat kalau orang yang hilang itu pernah hidup. Mengerikan.
"Itu pohonnya!" Minghao tiba-tiba memekik tertahan sambil menunjuk pohon beringin besar yang jaraknya kurang lebih hanya 10 meter dari tempat kami berdiri.
Melihat pohon besar yang rindang dengan akar gantung yang bergoyang karena tiupan angin, tubuh gue semakin gemetar. Seolah akar gantung itu adalah rambut seseorang yang begitu ringan hingga bisa menari-nari karena hembusan angin malam ini.

Langkah gue terhenti. Badan gue benar-benar kaku.
Mungkin Minghao benar kalau gue memang laki-laki pengecut. Tapi sungguh, kaki ini nggak sanggup gue gerakan, mata gue pun nggak bisa berkedip. Lalu entah dari mana, tiba-tiba gue melihat ada sesosok bayangan di bawah pohon rindang itu. Seorang laki-laki tua dengan tubuh yang kurus dan sedikit bungkuk.
Karena malam ini bulan bersinar cukup terang, gue jadi bisa melihat hal yang tidak ingin gue lihat. Kulit laki-laki itu tampak tidak seperti kulit manusia normal. Terdapat banyak bekas luka bakar dan gosong di sekujur tubuhnya. Sebagian dari kulitnya pun seperti terkelupas dan menyisakan daging kemerahan dengan darah yang menghitam di sekitarnya.
Laki-laki tua itu tersenyum. Senyum yang lebih terlihat seperti seringai licik dari bibirnya yang sudah tidak utuh. Lalu matanya... Astaga! Kedua matanya melotot ke arah sini!
Gue hanya bisa menelan ludah. Mungkinkah itu adalah kakek yang tewas di sini dua tahun lalu?
Gue lihat laki-laki itu melambaikan tangannya dan seperti memanggil untuk mendekatinya. Gue menggeleng kaku sambil terus menatapnya. Pandangan gue nggak bisa gue tolehkan ke arah lain, mata gue nggak bisa dipejamkan meski gue udah takut banget melihat apa yang ada di hadapan gue. Tubuh gue semakin bergetar hebat, tapi mulut ini terkunci. Gue nggak bisa teriak, nggak mampu bergerak.
Lalu dalam keadaan kaku seperti itu, gue melirik Minghao di samping dan terkejut. Minghao seolah terhipnotis. Tatapannya kosong, memandang lurus ke arah sosok di bawah pohon itu.
"Hao.. Minghao.."
Gue mencoba memanggilnya dengan suara bergetar yang gue paksakan keluar. Ia tak menoleh.
"Hao.."
Gue coba memanggilnya lagi. Tetap sama, ia tetap diam. Kemudian tiba-tiba gue lihat Minghao melangkah. Gue mencoba menahannya dengan tangan yang masih gemetar. Merasa lengannya tertahan, Minghao hanya menatap gue kosong dan berusaha melepaskan genggaman. Gue nggak bisa membiarkannya begitu saja, gue eratkan genggaman pada tangannya dan menggeleng agar ia tidak pergi. Tapi entah kenapa malam ini ia jauh lebih kuat. Lengan kurusnya yang biasa kalah adu panco sama gue, mampu melepaskan genggaman gue dengan satu kali hentakan. Gue berusaha kembali meraih tangannya, namun karena takut, yang berhasil gue raih hanya gelang kesayangan Minghao yang selalu ia pakai.
Minghao melangkah pelan tapi pasti. Melangkah lurus ke arah sosok tadi. Melangkah menghampiri pohon beringin di hadapan kami.
"Hao, jangan.."
Minghao tetap tak mendengar. Ia terus berjalan, langkahnya pun semakin cepat. Tapi gue nggak bisa mengejarnya. Kaki gue masih kaku. Tubuh gue gemetar, tapi beku. Gue hanya bisa melihat Minghao yang melangkah dengan yakin mendekati sosok laki-laki tua itu dan...
"HAOO...!"
Gue baru saja terbangun dari tidur. Barusan itu apa? Mimpi?
"Menyeramkan," pikir gue.
Ini semua karena Minghao yang terus-terusan menceritakan berita tentang sekolah, pohon beringin dan kakek tua itu. Dia pasti ketawa kalau gue ceritakan tentang mimpi barusan.
"Ini apa?"
Tiba-tiba gue sadar kalau gue sedang menggenggam sesuatu. Mata gue terbelalak begitu gue lihat apa yang ada di genggaman. Gelang kesayangan Minghao ada sama gue. Berarti, tadi itu bukan mimpi!
Gue segera berlari keluar dari kamar dan bertanya pada ibu apa yang terjadi. Tapi ia menjawab seolah tak ada apa-apa. Ibu bilang kalau kemarin gue pulang sore seperti biasa dan langsung tidur di kamar sampai pagi ini. Anehnya, begitu gue tanyakan tentang Minghao, ibu malah menjawab, "Minghao? Siapa? Temen baru?"
Mana mungkin ibu nggak kenal sama Minghao yang udah bersahabat dengan gue sejak kecil. Ibu juga sangat dekat dengan orang tua Minghao.
"Minghao loh, Bu, Minghao. Anaknya Paman Xu, tetangga yang dulu tinggal di depan rumah kita. Masa lupa sih?!"
"Paman Xu? Kamu ngigo ya? Dia itu kan nggak punya anak laki-laki. Anaknya cuma satu, perempuan, dan udah ikut suaminya tinggal di luar negri."
Gue benar-benar terkejut dengan penjelasan ibu barusan. Minghao menghilang begitu saja dari ingatannya. Gue yakin semalam masih bersamanya. Gelang ini buktinya. Tapi semuanya mulai tampak samar di ingatan. Gue harus memastikan semuanya. Gue harus menemukan Minghao dan membuat semuanya jelas.
"Bu, aku pergi ya.."
"Mau ke mana? Mentang-mentang hari minggu, mau main tapi nggak mandi. Mandi dulu sa... Heiii!"
Gue segera berlari keluar rumah tanpa mendengar lagi apa yang ibu katakan. Dan tanpa pikir panjang gue langsung mengendarai motor matic kesayangan gue ke arah rumah Minghao yang sudah pindah sejak 4 tahun lalu.
Sesampainya di sana, hasilnya sama. Nggak ada satu pun keluarga Minghao yang mengingat tentangnya. Gue malah dikira lagi sakit karena bertanya yang aneh-aneh.
"Hao, di mana lo sekarang..?"
Gue masih berharap ini semua hanya mimpi. Atau mungkin mereka sedang mengerjai gue, lalu Minghao akan datang sambil tertawa dan berkata kalau ini hanyalah kejutan yang direncanakan.
Tapi sepertinya harapan gue nggak akan terwujud. Bahkan tadi sekilas gue lihat nggak ada sosok Minghao dalam foto keluarganya di ruang tamu rumahnya.
"Aaaargh! Bisa gila gue kalo begini!"
Gue mengacak rambut karena bingung dengan semua yang terjadi.
"Gue harus ke sekolah itu sekarang juga.."
Akhirnya gue memutuskan untuk pergi ke sekolah itu seorang diri. Gue harus mendapatkan penjelasan dari apa yang terjadi pada sahabat gue.
Selama perjalanan, gue sama sekali nggak bisa konsentrasi. Semua pikiran gue tertuju pada Minghao dan pohon beringin di sekolah itu, juga sosok laki-laki tua yang melambai ke arah kami.
Gue menghentikan motor tepat di depan gerbang sekolah yang sudah tidak bisa tertutup rapat itu. Sambil memandang gedung bekas sekolah di depan gue, otak gue mulai diserbu beribu tanda tanya.
Apa mungkin semua berita itu benar? Apa mungkin laki-laki tua semalam adalah kakek yang tewas saat kebakaran dua tahun lalu? Dan ia masih mencari 'teman' di pohon beringin itu? Apa mungkin Minghao telah menjadi korbannya? Kalau benar begitu...
"Gue lupa! Gue ada janji sama Wonwoo buat ngerjain tugas hari ini! Terus ngapain gue ke sini pagi-pagi? Ini... Ini gelang siapa?"

Terima kasih sudah membaca. 🖤
메타데이터
- post_id
- bf199b0eed53
- slug
- langkah-yang-hilang-bf199b0eed53
- url
- https://medium.com/@onleewoozi/langkah-yang-hilang-bf199b0eed53
- canonical_url
- https://medium.com/@onleewoozi/langkah-yang-hilang-bf199b0eed53
- author_url
- https://medium.com/@onleewoozi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 18:07:58