← Back to list

Racun Pragmatisme di Lingkungan Mata Air Perkaderan

“Bersyukur dan ikhlas Himpunan Mahasiswa Islam (HmI),” sepenggal hymne HmI.

Rahmatsetiawan · 2026-05-03 19:20 · 0 claps · 3.7 min read
#pragmatism #kaderisasi #hmi #komisariat
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval 🕊️ · Religion

Racun Pragmatisme di Lingkungan Mata Air Perkaderan

Sumber: https://eksepsionline.com

Sumber: https://eksepsionline.com

“Bersyukur dan ikhlas Himpunan Mahasiswa Islam (HmI),” sepenggal hymne HmI.

Secara etimologis, kata pragmatisme berasal dari bahasa Yunani “pragma”, ada juga yang menyebutnya dengan istilah “pragmatikos”, yang berarti tindakan atau aksi. Pragmatisme berarti filsafat atau pemikiran tentang tindakan (Keraf, 1987:15). Bahasa sederhana-nya seseorang yang memiliki sifat pragmatis cenderung berpikir praktis, sempit, atau instan.

Pada dunia perkaderan HmI tepatnya di Hymne HmI, seorang kader HmI diajarkan untuk bersyukur dan ikhlas selama ia berproses. Dalam dunia perkaderan di HmI, terkadang penulis menemui kader-kader yang mau bergerak ikut agenda organisasi jika ada imbalan materi. Sikap-sikap seperti inilah yang dikhawatirkan mengesampingkan nilai-nilai idealisme serta prinsip jangka panjang.

Semangat juang dan berproses di HmI lambat laun akan tergerus akibat cara berpikir pragmatis yang menjadi racun di lingkungan mata air perkaderan. Jika ditinjau secara etis, seorang kader HmI diharapkan bertindak atas dasar kebenaran, keyakinan, tanpa adanya dorongan materi. Secara organisatoris, mengemis imbalan materi untuk bisa ikut agenda organisasi lambat laun akan merusak mentalitas dan kesukarelaan seorang kader yang menjadi pondasi himpunan.

Kapasistas, Integritas, Loyalitas

Himpunan Mahasiswa Islam berdiri sebagai organisasi perkaderan, sebagai rumah tempat berproses mahasiswa yang sudah terdaftar namanya di perguruan tinggi Indonesia. Seorang calon kader HmI umumnya menempa kapasitasnya di rumah perkaderan HmI dimulai dari Masa Perkenalan Calon Anggota Baru (Maperca). Dalam hal ini orientasi awal sebagai gerbang pengenalan calon kader untuk bisa diberikan sebuah pandangan terhadap organisasi HmI. Selepas itu beranjak ke peningkatan kapasitas selanjutnya yakni ada Latihan Kader 1 (LK1), merupakan jenjang perkaderan pertama dalam tingkat kaderisasi di HmI. Di forum LK1 lah seorang cakader HmI diajarkan materi wajib. Pertama, Baca Tulis Qur’an (BTQ). Kedua, Sejarah Perjuangan HmI (SP HmI). Ketiga, Konstitusi HmI. Keempat, Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP). Kelima, Mission HmI. Keenam, Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi (KMO).

Setelah kader ikut LK1, penempaan kapasitas kader dalam jenjang kaderisasi selanjutnya yakni Latihan Kader 2 (LK2). Selanjutnya ada Senior Course (SC). Lalu ada Latihan Kader 3 (LK3). Namun di sini penulis ingin menekankan kapasitas di lingkungan mata air perkaderan (Komisariat). Yang mana seorang kader HMI yang sekarang sudah melenting namanya tempat dulu ia berproses yaitu di komisariat. Oleh sebab itulah penulis berpandangan peningkatan kapasitas di lingkungan komisariat harus terus bertumbuh, berinovasi, serta bertransformasi sesuai kebutuhan mahasiswanya.

Integritas yang dibangun dan ditempa di lingkungan komisariat sangatlah dibutuhkan. Pengurus komisariat yang terdiri dari Ketua Umum (Ketum), Sekretaris Umum (Sekum), Bendahara Umum (Bendum) dan turunan ke bawahnya setiap bidang harus saling topang menopang satu sama lain. Penanaman tugas dan tanggung jawab seorang pengurus menurut penulis harus lebih terarah. Agar seorang kader yang sudah masuk di komisariat tidak bisa hilang atau bahasa gaulnya kader ghoib.

Bicara integritas berarti bicara konsistensi seorang kader yang didasarkan pada tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai, etika, dan paham beberapa materi yang telah diajarkan oleh HMI. Semua yang diajarkan di HMI menjadi sebuah keutuhan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Sehingga bisa mencerminkan kejujuran dan tanggung jawab sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam.

Selanjutnya ada loyalitas. Berdasarkan literatur penulis yang bersumber pada tempo.co loyalitas merupakan kondisi di mana seseorang mempunyai sikap positif terhadap suatu hal, komitmen, dan kesetiaan seseorang terhadap sesuatu. Dalam konteks ini, penulis ingin mengajak para kader HMI khususnya HMI Korkom Walisongo untuk membentuk loyalitasnya di atas independensi yang tidak berpijak pada pikiran pragmatis. Sebab, berdasarkan analisis sosial penulis kader HMI sekarang tercemar pikiran pragmatismenya sebelum ia menemukan potensi dan kompetensi dalam dirinya sendiri.

Wabah Olah Mengolah Ala Kader HMI

Sudah tidak bisa dipungkiri HMI terkenal dengan gaya manisnya yang sering disebut “olah mengolah”. Naasnya gaya ini sudah menjadi racun di lingkungan komisariat yang notabenenya komisariat sebagai mata air perkaderan namun dikeruhkan oleh budaya HMI itu sendiri. Beberapa analisis kecil penulis menduga gaya ini masuk karena relasi pergaulan kader yang menelan mentah-mentah gaya bicara seniornya. Selanjutnya tak bisa dipungkiri karena kebanyakan mengkonsumsi pidatonya Kakanda Bahlil Lahadalia.

“Ketika kalian kuliah kampus sehebat apapun tidak bisa menjamin kualitasnya mahasiswanya, yang bisa menjamin kualitas mahasiswanya adalah mahasiswa itu sendiri. Seberapa besar dia mampu dan mampu meningkatkan akselerasi, kreativitas berpikir untuk meningkatkan kualitasnya,” — Bahlil Lahadalia.

Konteks kader hari ini banyak olah mengolahnya namun minim kualitas dirinya sendiri. Penulis menyayangkan akan realitas kader hari ini yang pandai mengolah namun lupa mengolah pikirannya sendiri. Sehingga racun pragmatisme dalam lingkungan mata air perkaderan bisa merambat berjamur seperti orang yang sedang kecanduan alkohol.

Yakin, Usaha, Sampai (YAKUSA)

Sebuah jargon yang diperkenalkan oleh teman-teman pengurus komisariat waktu penulis LK1. Awalnya penulis tidak tau atas jargon tersebut sehingga menimbulkan rasa penasaran lalu penulis mencari dengan sendirinya. Sebuah jargon yang ikonik yang bermakna Yakinkan dengan Iman, Usahakan dengan Ilmu, Sampaikan dengan Amal.

Yakinkan dengan iman memiliki arti berkeyakinan teguh pada idealisme seorang kader HMI atas independisnya secara etis maupun organisatoris. Usahakan dengan Ilmu, memiliki arti bahwa segala sesuatu yang kita usahakan itu ada ilmunya. Arah juang HMI itu sudah harus terkonsolidasikan dengan baik dan benar. Lalu ada sampaikan dengan amal, mewujudkan tujuan atas hasil akhir lewat tindakan nyata seorang kader HMI.

Yakin, Usaha, Sampai bukan hanya sekadar jargon namun sebagai arah kompas perjalanan seorang kader HMI yang sedang berproses di lingkungan mata air perkaderan. Karena sukses tidaknya seorang kader HMI kedepan itu diukur dari seberapa tingkat kesadaran dan konsistensi ia berproses selama di HMI. Kapasitas, integritas, dan loyalitas harus terus ditempa dengan niat yang ikhlas. Pragmatisme di lingkungan komisariat menjadi sebuat penyakit yang perlu dibenahi karena jika seorang kader yang sudah teracunin hal tersebut maka akan susah untuk diajak gerak nantinya. Naasnya jika ada kader yang sudah merasakan pragmatisnya namun ia enggan mengikuti agenda di himpunan. Lekas pulih racun pragmatis yang ada di himpunan ini.


메타데이터
post_id
bf55c577baa6
slug
racun-pragmatisme-di-lingkungan-mata-air-perkaderan-bf55c577baa6
url
https://medium.com/@rahmatsetiawan111219/racun-pragmatisme-di-lingkungan-mata-air-perkaderan-bf55c577baa6
canonical_url
https://medium.com/@rahmatsetiawan111219/racun-pragmatisme-di-lingkungan-mata-air-perkaderan-bf55c577baa6
author_url
https://medium.com/@rahmatsetiawan111219
status
ok
fetched_at
2026-06-11 11:25:07