Pertemuan.
Setelah sekian lama aku tak memandang tatapannya yang penuh sejuta sinar bahagia yang terlalu luas tuk diterjemahkan,
Pertemuan.
Setelah sekian lama aku tak memandang tatapannya yang penuh sejuta sinar bahagia yang terlalu luas tuk diterjemahkan,
Dipertemuan itu, aku menemukannya,
Aku juga menatapnya penuh rindu, cinta, bahagia, dan sejuta maaf yang entah tuk kesekian kalinya tergantung di dinding-dinding rahang,
Aku ingin rasanya menghentikan waktu,
Membekukan rotasi bumi,
Agar biarlah, pertemuan ini dapat ku nikmati tanpa ada resah perihal waktu
Seperti punduk merindukan bulan, semua berakhir pada rasa ingin,
Waktu terus berjalan dan pertemuan itu juga terhenti tanpa aku minta,
Dia seperti biasa tak pamit,
Tiba-tiba ketika aku kembali ke ruangan itu lagi,
Dia sudah pergi,
Tanpa salam, terlebih sepucuk surat,
Aku, hanya mampu menatap kosong dan menangis, menangis, dan terus menangis,
Mengapa tak pamit, papah?
Sini, kembali, aku ingin mengungkapkan semua yang menggantung dikepala juga hal-hal yang membelenggukan hati,
Papah, dari kejauhan tidak terhitung ini, biarkan ruh ku datang dan memelukmu,
Dan biarkan aku yang kau larang tuk menangis ini, menumpahkan seluruh tangisan ini dipangkuanmu, dan biarlah ku bisikkan, “aku tak sanggup membendung air mata ini, maaf, semua terasa begitu…”
메타데이터
- post_id
- bf7ef7a1fff2
- slug
- pertemuan-bf7ef7a1fff2
- url
- https://medium.com/@ceritarasadanlogika/pertemuan-bf7ef7a1fff2
- canonical_url
- https://medium.com/@ceritarasadanlogika/pertemuan-bf7ef7a1fff2
- author_url
- https://medium.com/@ceritarasadanlogika
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-27 18:56:04