← Back to list

Bagaimana Ketika Punya Pekerjaan, tapi Belum Punya Tujuan Karier?

Memiliki profesi di bidang komunikasi ternyata tidak otomatis membuatku tahu mau jadi apa. Aku bekerja sebagai Public Relations (PR), tapi…

Gebriepriagan · 2026-05-24 09:18 · 0 claps · 2.4 min read
#public-relations #tujuan-karier #karier
Open on Medium ↗

Bagaimana Ketika Punya Pekerjaan, tapi Belum Punya Tujuan Karier?

Photo by Brendan Church on Unsplash

Photo by Brendan Church on Unsplash

Memiliki profesi di bidang komunikasi ternyata tidak otomatis membuatku tahu mau jadi apa. Aku bekerja sebagai Public Relations (PR), tapi sering bertanya-tanya “apa aku akan berkarir sebagai PR, pindah ke marcomm, atau justru jadi freelancer saja?”

Keraguan akan “mau jadi apa” muncul semenjak tahun pertamaku menjadi seorang PR. Saat itu aku tidak memiliki basic atau skill PR sama sekali. Bagaimana tidak, aku adalah lulusan Manajemen Bisnis yang sebagian besar mempelajari alur proses bisnis dari hulu ke hilir.

Selama kuliah, fokus pembelajaran lebih banyak mengarah ke pemasaran — bagaimana produk dikemas, dipromosikan, dan dijual. Memang ada irisan dengan komunikasi, tetapi tujuannya jelas — mendorong penjualan — bukan membangun persepsi dan mengelola reputasi. Kaidah jurnalistik? Jujur saja, saat itu aku benar-benar blank.

Namun, di tengah ketidaksiapan itu, ada satu hal yang sejak kecil sudah cukup akrab denganku, yaitu menulis. Entah itu puisi, cerpen, atau sekadar menuliskan isi kepala, aku selalu merasa lebih nyaman menuangkan pikiran lewat tulisan dibanding mengungkapkannya secara lisan. Bahkan, nilai Bahasa Indonesiaku sering kali lebih baik dibanding nilai IPA — sebuah fakta kecil yang dulu terasa sepele, tapi belakangan terasa cukup make sense.

Masuk ke dunia kerja sebagai PR dengan latar belakang seperti itu membuat proses adaptasiku terasa tidak sederhana. Banyak hal yang harus kupelajari sambil berjalan, seperti bagaimana menyusun pesan yang tepat dalam sebuah tulisan, memahami sudut pandang media, mempelajari protokoler, hingga bagaimana membuat press conference — semuanya menjadi ilmu baru yang, jujur saja, cukup menarik bagiku.

Setelah hampir empat tahun berkutat di dunia ini, ditambah bimbingan dari senior yang memang latar belakang pendidikan dan pekerjaannya sejalan, aku mulai merasa nyaman. Bahkan, muncul rasa ingin tahu lebih dalam tentang profesi ini.

Keinginan itu membawaku pindah ke industri yang sama sekali berbeda — dari retail dan publishing, ke industri healthcare. Tantangannya terasa sangat segar. Apalagi ekspektasiku cukup tinggi — bekerja sebagai PR di sebuah unit rumah sakit swasta ternama yang sedang berada di fase transformasi nama akibat akuisisi oleh salah satu hospital group besar di Indonesia.

Namun, realita di lapangan tidak sepenuhnya sejalan dengan harapan. Alih-alih fokus pada kerja-kerja PR seperti media relations dan publikasi transformasi brand, peranku justru lebih banyak berkutat pada membangun dan maintenance komunitas. Bahkan tak jarang ikut turun langsung menawarkan promo paket kesehatan — ibaratnya, ikut “jualan”.

Di titik ini, pertanyaan lama itu muncul kembali “sebenarnya aku mau jadi apa?”

Aku ingin memperdalam ilmu PR, tapi interaksiku dengan media justru sangat minim. Pekerjaanku lebih banyak berkaitan dengan partnership, komunitas, dan marketing activation. Memang sesekali aku menulis press release atau newsletter, tapi perannya terasa lebih dekat ke marketing communication, atau mungkin community and partnership— bukan PR dalam arti yang selama ini aku pahami.

Hanya 11 bulan aku bekerja disana, aku mulai merasa PR-ku semakin tumpul. Tidak ada cukup ruang untuk engage dengan media, padahal sebagai PR, seharusnya aku berada di garis depan memperkenalkan transformasi besar ini ke publik. Dari situ, muncul lagi keinginan untuk menggeser arah dan mulai jujur pada diriku sendiri — mengakui bahwa profesi sebagai PR mungkin bukan jalan karierku.

Saat ini, aku belum tahu pasti akan berakhir di mana. Apakah tetap di PR, beralih ke marketing communication, atau menulis sebagai freelancer. Tapi satu hal yang mulai aku pahami — memiliki pekerjaan memang tidak selalu harus dibarengi dengan tujuan karier yang langsung jelas. Ada fase di mana kita bekerja sambil mencari, belajar sambil ragu, dan bertumbuh sambil mempertanyakan pilihan diri sendiri. Mungkin kebingungan ini bukan tanda tersesat, melainkan bagian dari proses menemukan arah.


메타데이터
post_id
bf919cb6ee6f
slug
bagaimana-ketika-punya-pekerjaan-tapi-belum-punya-tujuan-karier-bf919cb6ee6f
url
https://medium.com/@gebriepriagan/bagaimana-ketika-punya-pekerjaan-tapi-belum-punya-tujuan-karier-bf919cb6ee6f
canonical_url
https://medium.com/@gebriepriagan/bagaimana-ketika-punya-pekerjaan-tapi-belum-punya-tujuan-karier-bf919cb6ee6f
author_url
https://medium.com/@gebriepriagan
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30