← Back to list

Kritik Kiai itu Biasa: Jangankan Fatwa, Gigi Kyai Wahab Saja Tak Luput Dari Komentar

Mungkin bagi sebagian pembaca saat mengetahui judul ini sontak membuat wajahnya memerah karena marah. Wah masa kiai dikritik, SUUL ADAB…

Himam Awan Afghani · 2025-10-13 08:52 · 0 claps · 3.0 min read
#sejarah #politik #agama #ulama #pesantren
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment CUL · Culture & Media 😂 · Humor & Satire

Kritik Kiai itu Biasa: Jangankan Fatwa, Gigi Kyai Wahab Saja Tak Luput Dari Komentar

Majalah Gema Muslimin yang Terbit pada Tahun 1953

Majalah Gema Muslimin yang Terbit pada Tahun 1953

Mungkin bagi sebagian pembaca saat mengetahui judul ini sontak membuat wajahnya memerah karena marah. Wah masa kiai dikritik, SUUL ADAB!!!, ini mungkin kalimat yang akan keluar darinya. Pasalnya, budaya sami’na waatho’na sangat melekat pada kehidupan masyarakat; dalam artian, segala pendapat yang dikemukakan kyai adalah kebenaran mutlak yang tidak boleh diintervensi . Sehingga, banyak ditemukan fenomena ketika kyai berbicara A maka santrinya juga harus A; ini merupakan bentuk ta’dhim kepada kyai. Hal ini memang dapat dikatakan sebagai budaya yang baik, karena menunjukkan gambaran ikatan emosional antara guru (kyai) dan murid. Akan tetapi, terkadang praktik ini dilakukan hingga melampaui batas yang membuat sosok kyai menjadi ekslusif dan anti kritik. Perlu diketahui, fenomena diluar batas yang dimaksud tidak selalu datang dari sosok kyai, bahkan terkadang berasal dari para pengikutnya, meski sebenarnya sang kyai tidak menghendaki sikap tersebut. Hal ini tentu bukan tanpa alasan, kyai hingga hari ini memang menjadi sosok yang sangat sakral ditengah masyarakat. Tidak hanya itu, pesantren yang lekat dengan sosok kyai juga mendapatkan perlakuan yang sama tingginya di masyarakat.

Pembaca barangkali pernah mendengar statement, “kalau gak pernah mondok ga usah banyak bicara” “kamu siapa? Kok sudah berani kritik kyai”, nah inilah yang menimbulkan polemik dan pertanyaan ditengah masyarakat; sebenarnya boleh nggak si mengkritik kyai dan pesantren?.

Dalam sejarah, persoalan krtik-mengkritik seringkali terjadi bahkan terhadap sosok kyai. Semua itu terekam dalam bukti-bukti sejarah yang valid, salah satunya dalam majalah Gema Muslimin; majalah milik Partai Nahdlatul Ulama’ yang terbit pada tahun 1953. Dalam terbitannya yang ke -9 tepatnya pada bulan November 1953, terdapat sebuah rubrik unik yang ada di akhir halaman, rubrik itu diberi judul “Sambel Goreng: Kritik Diri Sendiri”. Penulis rubrik itu tidak dicantumkan, ia hanya mendefinisikan namanya dengan sebutan “Bergedel”; iya, benar-benar bergedel kayak makanan olahan kentang dan daging yang dibentuk bulat itu, biasanya disajikan bersama dengan sayur sop. Rubrik ini membahas kritik terhadap pimpinan partai NU yang dikemas dalam bentuk anekdot.

Rubrik Sambel Goreng yang dimuat dalam Majalah Gema Muslimin

Rubrik Sambel Goreng yang dimuat dalam Majalah Gema Muslimin

Dalam narasinya, si “Bergedel” ini membahas KH. Masjkur (Ketua Umum NU), Zainul Arifin (Wakil Perdana Mentri II), dan KH. Abdul Wahab Chasbullah (Rais Aam). Wah, bukan hanya satu, Bergedel berhasil melakukan triple kill. Saat membahas KH. Masjkur, si Bergedel ini bahkan menyebutnya pernah menjadi Tarzan di pegunungan Singasari. Lain hal pada saat membahas Zainul Arifin, Bergedel menyebut wakil perdana mentri itu dengan sebutan berikut; “badannja gendut perutnja gedee (satu stel 10 mtr)”, mungkini inilah definisi roasting yang sesungguhnya.

Nah, waktu membahas Kyai Wahab yang dikenal sebagai sosok agung di partai NU itu, tentu semua telah mengakui kiprah kyai tersebut, bahkan tak jarang berbagai media massa menyebutnya dengan sebutan “Jang Mulia” untuk menghormatinya; tapi, Bergedel yang satu ini tetap saja menjadikannya sasaran, ia tak sungkan menyebutnya “Kjahi Tua” dan “Pelupa”, bahkan ia mengatakan;

“ walaupun sudah tua, tetapi masih otot kawat balung biesi. Tjuma giginja sadja jang kini sudah menjerah dan diganti dengan gigi imitasi, kalau pidato suka lonjat keluar”.

Bukan main, si Bergedel ini menggoreng tiga sosok besar Partai NU, tetapi anehnya rubrik ini tetap diterbitkan padahal pimpinan redaksi majalah ini adalah KH. Idham Chalid. Luar biasa bukan? ia melakukan hal yang tidak biasa dilakukan di hari ini. Meskipun demikian, ia tidak hanya melakukan kritik saja, si Bergedel ini juga menyanjung tokoh-tokoh itu seperti menyebut Kyai Masjkur sebagai sosok yang supel, Zainul Arifin sebagai Diplomat yang ulet, dan Kyai Wahab yang ‘alim.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam sejarahnya mengomentari atau mengritik kyai adalah hal yang biasa dan para kyai pun tidak melarangnya; hal ini terbukti dengan terbitnya rubrik yang ditulis Bergedel dalam Gema Muslimin yang berarti kritik tersebut dipersilahkan oleh para kyai. Bagaimana tidak? wong Pimpinan Redaksinya saja KH. Idham Chalid.

Pada akhirnya, hal ini membawa kepada kesimpulan bahwa siapa saja boleh mengkritik dan dikritik termasuk kepada kyai dan pesantren, di lain sisi pihak yang dikritik harus meghadapinya dengan bijak bukan malah mengatakan “kalau ndak pernah mondok, ga usah banyak bicara”. Sikap seperti ini menjadikan kyai dan pesantren memiliki kesan yang eksklusif, padahal seharusnya dua unsur itu harus memiliki kedekatan dengan masyarakat bukan malah menjauhinya. Bukankah itu yang telah dicontohkan oleh para kyai-kyai kita?


메타데이터
post_id
bf9e000c3d8f
slug
kritik-kiai-itu-biasa-jangankan-fatwa-gigi-kyai-wahab-saja-pernah-dikomentari-bf9e000c3d8f
url
https://medium.com/@himamawan26/kritik-kiai-itu-biasa-jangankan-fatwa-gigi-kyai-wahab-saja-pernah-dikomentari-bf9e000c3d8f
canonical_url
https://medium.com/@himamawan26/kritik-kiai-itu-biasa-jangankan-fatwa-gigi-kyai-wahab-saja-pernah-dikomentari-bf9e000c3d8f
author_url
https://medium.com/@himamawan26
status
ok
fetched_at
2026-07-16 21:05:47