← Back to list

#12 Menari Untukmu: Tentang Sakit

“Aku berpesta pora dengan darah yang mengalir deras dari tubuhmu, sayang.” Aku tersenyum lembut sambil mengajak dirimu berdansa. Dansa…

Fitria Humairoh Hanaan · 2025-07-13 15:07 · 0 claps · 6.8 min read
#sakit #darahmu #menari
Open on Medium ↗

#12 Menari Untukmu: Tentang Sakit

cr pinterest

cr pinterest

“Aku berpesta pora dengan darah yang mengalir deras dari tubuhmu, sayang.” Aku tersenyum lembut sambil mengajak dirimu berdansa. Dansa terakhir kita, dengan kamu yang tidak begitu suka menari. Tapi aku paksa tubuhmu untuk mengikuti alunan musik menenangkan ini. Untuk terakhir kalinya, kamu harus mengikuti mauku.

Ku tatap kamu yang berada di depanku dengan muka datar. Kamu yang sayangnya aku sebut-sebut kekasih. Kekasih atau orang yang aku kasihi, aku sayangi, harusnya dengan sepenuh hati. Kamu mengenakan kaos biru laut kedodoran yang terlihat melar dimataku dan celana lepis dengan warna yang jelas-jelas pudar. Bajunya jelek. Aku jujur saja tidak pernah suka caranya berpakaian. Juga rambutnya yang gondrong seperti tak terurus. Apalagi sepatu converse kw kesayanganmu itu, sampai sudah sobek tak teratur.

Sedangkan aku sudah berpoles manis dengan baju cerah dan rambut tergerai kesukaanmu. Aku tampil dengan keindahan yang kamu suka. Kemeja biru laut garis putih yang kamu suka sekali warnanya. Juga loose pants putih yang membentuk cantik kaki jenjangku. Rambut lurus yang kubuat bergelombang tipis. Aku tampil dengan rapi, sedang kamu? Hah! Pasti hanya pakai kaos yang itu-itu saja.

Sebetulnya aku lebih suka pakaian dengan warna gelap, juga rambut lurus yang terikat rapi. Tapi katamu, itu tidak cocok untukku. Katamu, aku akan jelek. Jadi aku ikuti maumu. Tapi kamu, aku beri masukan dikit tentang penampilanmu, kamu pasti marah besar. Merasa aku paling mengatur hidupmu. Baiklah, aku terima pakaian jelekmu itu.

Tapi bisakah kamu berpakaian lebih niat untuk jalan malam minggu? Harusnya kamu lebih berusaha untuk terlihat rapi, bukan malah berpakaian seperti gembel begini. Aku seperti bersanding dengan gembel dibanding dengan pacar.

“Dimakan, Tri.” Bahkan kamu tidak pernah memanggilku dengan kata sayang. Hanya namaku.

“Oh iya.” Ucapku dengan mengatur wajahku agar lebih ramah dilihat.

“Kamu ngapain ke sini? Jauh lho dari Jogja ke bandung.” Masih haruskah kamu menanyakan alasanku? Ya untuk bertemu denganmu. Aku sampai memindahkan janjiku dengan teman untuk bertemu denganmu hari ini. Karena aku tahu kalau aku membuat janji denganmu, kamu tidak akan mau bertemu denganku. Aku nekat datang ke sini dengan modal aku tahu kamu libur kerja di hari Sabtu malam.

“Ya ketemu kamu,” aku menjawab singkat.

“Kapan-kapan kabarin lah, repot kalau kayak gini. Gimana kalau aku lagi kerja?” Dengan nada resah kamu mengomeliku.

“Ya kamu enggak akan mau aku datang. Setiap aku mau ketemu kamu, pasti banyak alasan untukmu menolak aku datang,” sebenarnya aku mau marah, tapi hanya suara kecil yang bisa aku keluarkan.

“Ya harusnya kamu ngertiin akulah. Aku kan kerja di sini, cari nafkah. Buat kita nikah nanti. Emang kamu kira aku main-main di sini, hah? Dikira aku enggak capek kayak gini?” kamu marah. Aku tahu kamu akan memulai drama pertengkaran kita. Jadi aku hanya bisa menerima.

“Oke, aku salah. Maaf,”

“Iya, emang harusnya kamu minta maaf. Makanya jangan suka seenaknya gitu. Ah jadi enggak mood makan,” ucapmu sambil membanting kecil sendok bakso yang kamu pegang. Aku jadi berjenggit sedikit, kaget.

“Ya udah kita pulang aja kalau gitu.” Tanpa mau menambah masalah, aku putuskan untuk kita pulang.

Sebetulnya aku ini anaknya aktif. Maksudnya aku anak yang ceria sebenarnya. Aku suka membuat lelucon, bercanda, tertawa lebar, dan ramah. Aku juga lebih suka pakaian berwarna gelap, apalagi warna merah maroon yang membuatku merasa lebih indah. Juga rambut lurusku ini, sebetulnya aku lebih suka kalau panjangnya di atas pundak dan tidak digerai, aku merasa diriku lebih cantik seperti itu. Tapi semua yang aku rasa cantik untuk diriku, ternyata tidak denganmu. Kamu tidak suka aku berpakaian gelap, kamu tidak suka aku terlalu ramah, kamu tidak suka aku berambut pendek dan tidak terurai. Kamu tidak suka semua yang aku suka.

“Kamu kayak anak kecil tau gak. Tertawa besar dengan mulut menganga. Kamu ingin tertawamu terdengar sampai mana?” Ini omelmu kala aku tertawa terlalu lebar akan leluconmu.

“Yang anggun jadi cewek. Ketawa biasa aja. Jangan kayak anak kecil bisa? Kamu udah gede.” Dan ya aku hanya bisa mengangguk. Dan sejak itu aku hanya bisa tertawa dengan lemah, seadanya, dan terkesan dipaksa.

“Ganti gak itu dress maroon. Dari awal pacaran, baju gelap ajaa yang kamu pake. Baju yang cerah gitu dong, biru muda, pink, violet. Apa aja asal cerah, bosen tau liat kamu pake baju kayak gitu terus.” Ini saat kita mau jalan ke mall untuk jalan-jalan malam minggu. Dan ya kamu tidak suka cara berpakaianku. Aku hanya bisa mengangguk lagi. Dan sejak itu dress maroon kesayanganku hanya bisa teronggok bisu di ujung lemariku.

“Aku liat-liat selama kita pacaran rambut kamu enggak pernah lebih dari pundak kamu ya. Panjangin dong rambutnya, jelek kalau pendek. Tipe cewek aku tuh rambutnya harus panjang, jangan dipotong lagi itu rambutnya. Sama jangan sering diiket dong, digerai coba, lebih cantik,” Ini katamu saat mengkritik gaya rambutku. Dan aku hanya bisa mengangguk. Dan sejak itu aku hanya bisa memotong rambutku sampai punggung saja. Sebetulnya aku lebih suka diikat, karena merasa panas bila tidak diikat. Tapi untukmu, semuanya akan kulakukan.

Tapi kalau aku mengkritik caramu hidup, kamu akan marah sebesar-besarnya.

“Yan, enggak mau coba potong rambut? Rambut kamu udah gondrong gini. Enggak nutupin mata kah?” Aku bertanya baik-baik kala itu, mencoba menawarkan kemudahan untukmu. Tapi jawabmu…

“Apadeh, ngatur-ngatur aja. Rambut-rambut aku, terserah akulah. Kalaupun nutupin mata ya udah masalah aku. Rese banget,” kamu merasa kesal betul karena pertanyaanku.

Karena hal itu aku membiarkan semua hal yang menurutku bisa diperbaiki. Karena, ya kamu akan marah. Dan aku memilih untuk diam saja. Terserah padamu sayang, maumu apa. Aku ikut.

Sebenarnya aku dan kamu ini banyak tidak sama ya, kita terlalu bertolak belakang. Dan aku sadar betul, hanya saja aku mencoba menerima, sedang kamu tidak. Jadi, hanya aku yang berusaha di sini, hanya aku yang menerima kondisi hubungan kita seperti ini.

Sebenarnya aku pernah membicarakan hubunganku ini dengan temanku. Dan mereka bilang ini keterlaluan. Mereka bilang putuskan saja orang seperti kamu. Tapi aku merasa tidak bisa. Aku masih merasa sayang? Atau hanya terbiasa dengan adanya dirimu di hidupku ya? Pokoknya aku merasa tidak bisa melepaskanmu. Jadi aku memilih untuk tampil sempurna di depanmu, walau sepertinya aku tidak pernah terlihat sempurna di depanmu.

Tapi tepat hari ini, tadi pagi, semua yang bisa aku terima untukmu, tidak bisa lagi aku terima. Aku muak. Aku sudah tidak bisa dengan semua siksaan yang kamu berikan untukmu. Aku tidak mau menerima lagi.

Sebuah foto aku dapatkan dari temanku yang tinggal di Bandung. Foto yang menampakkan dirimu menggaet mesra pinggang wanita. Akhirnya aku paham semua alasan remehmu itu. Ternyata ini alasan sebetulnya. Jadi aku memutuskan untuk mengemas barangku dan memesan tiket kereta terpagi yang ada untuk bisa cepat datang padamu. Sekilas aku melihat dress maroon kesayanganku di pojok lemari. Aku putuskan membawa baju kesayanganku.

Dan inilah saatnya, aku akan membuatmu merasakan semua rasa sakitku selama ini, sayang. Kamu harus merasakan rasa sakitku, rasa muakku, rasa hancurku. Kamu harus rasakan semua itu, ya.

Sampai di kosanmu. Aku langsung pamit berganti pakaian di kamar mandi. Langsung saja aku bawa dress maroon kesayanganku dan membawa gunting untuk memotong rambutku menjadi lebih pendek. Aku memoleskan riasan untuk menjadi lebih cantik. Aku harus selalu tampil cantik dan sempurna kan di depanmu? Dengan begitu aku bsai menyenangkan hati busukmu itu.

“Yan. Gimana menurut kamu?” langsung saja aku bertanya tentang penampilan sempurnaku. Kamu yang sedang berbaring di kasur langsung menatapku dari atas sampai bawah. Dan tentu kamu mengernyitkan dahimu dalam.

“Apadeh pake baju itu lagi. Terus rambut kamu! kenapa dipotong?!” Kamu langsung berteriak marah. Padahal aku cuma seperti ini. Bagaimana kalau lebih ya.

“Sesekali Yan. Janji ini yang terakhir. Aku setelin lagu ya,” aku memilih menghiraukan teriakan marahmu. Dan berjalan menuju tas untuk menggambil handphone sekali menyalakan lagu slow mengisi keheningan kita.

“Yan. Mau nari bareng aku enggak?”

“Apa deh. Gak jelas,”

“Ayo dong. Terakhir Yan. Kita gak pernah melakukan hal yang mesra-mesra kan. Ayo dong.” Aku paksa dirimu berdiri. Menarik tubuhmu untuk berdiri dan menuntun tubuhmu untuk mengikuti alunan musik yang diputar.

“Yan. Aku tadi dikirim fotomu yang sedang jalan dengan Clariss.” Sambil berdansa aku memulai percakapan kita. Kamu langsung mengernyit.

“Oh, si Clariss. Cuma temen itu,” kamu membalas ringan.

“Tapi aku lihat kamu memeluk mesra pinggangnya dan kamu sedang berjalan menuju motel?” Aku bertanya pelan, tapi terkesan sarkastik. Sambil tetap tersenyum, aku mengajakmu terus berdansa. Aku merasakan tubuhmu menegang. Kamu panik. Wajahmu langsung keras, dan mulutmu gagap hendak menyampaikan sesuatu.

“Eum, aku gapapa. Kalau kamu ternyata punya cewek lain kamu bisa putusin akunya,”

“Ngomong apa deh kamu. Aku tuh sayang kamu tau. Aku sama Clariss cuma temen, itu aku ada urusan doang sama dia,” Kamu mencoba melepas tautan tangan kita. Hendak marah lagi. Aku mencoba menahan tubuhmu untuk terus menari denganku.

“Urusan di motel?” Kataku mengangkat sebelah alisku. Kamu memilih diam.

“Yan. Aku punya permintaan terakhir. Tolong indahi permintaanku ya. Untuk terakhir kalinya, Yan. Aku minta untuk bilang aku cantik dengan penampilanku yang ini. Dan jangan berhenti menari bersamaku ya?” Sepertinya kamu tersihir. Dengan mudah kamu menganggukan kepalamu. Aku tersenyum lembut.

“Aku mau jujur Yan. Aku merasa sakit dengan hubungan kita. Aku merasa tersiksa dengan semua batasan yang kamu kasih. Aku kehilangan semua kesenanganku setelah ada kamu di hidupku. Aku merasa sakit Yan,” aku jujur. Aku memutuskan untuk mengumbar semua rasa sakitku selama ini.

“Dan aku rasa, kamu harus merasakan sedikitnya rasa sakitku. Gimana menurut kamu?”

“Kamu cantik Tri,” kamu terlihat ketakutan. Kamu takut denganku? Apa aku mulai menyeramkan? Kalau kamu bisa merasa takut sampai sebegininya, harusnya sudah dari dulu aku begini saja ya. Dari pada harus menerima semua rasa sakit darimu itu. Harusnya aku melawan sejak dulu.

“Haha, terima kasih. Tapi aku tetap ingin kamu merasakan sakitku,” aku mulai mengeluarkan gunting yang tadi kupakai untuk memotong rambutku. Dan mulai menghunus ujung gunting pada pinggangmu. Kamu berteriak. Tapi kubungkam paksa mulutmu. Kulihat mukamu memerah pekat, menahan rasa sakit. Matamu yang terbiasa ditutup dengan rambut gondrongmu terbelalak, sampai-sampai rasanya matamu hampir keluar. Aku tersenyum senang, dan mulai tertawa gila. Geraman rendahmu membuatku bersemangat untuk memperdalam tusukan guntingku. Aku mulai mengoyak-ngoyak dagingmu. Darah segar mengalir dengan deras. Aku mencabut dan menusuk tubuhmu bagian lain. Membuat darahmu mengalir banyak di lantai kosmu. Harus amis menyeruak harum memenuhi seluruh rongga pernafasanku. Nafasmu mulai terengah-engah, terasa berat dirimu mengais nafas. Aku membiarkan tubuhmu terjatuh terhempas ke lantai.

Darahmu aku ambil dan meluluri seluruh tubuhku dengan darah segarmu. Dan melanjutkan tarian yang mengalun lembut di seluruh sudut ruangan kosanmu. Kamu mulai mengerang kecil. Aku melihat sekilas dirimu yang mulai kehilangan semua kesadaranmu. Aku berjongkok.

“Makasih ya udah mau nurutin mauku untuk yang terakhir,” Tubuhku sudah berlumurkan darahmu, sambil tersenyum lembut aku menepuk pelan pipimu.

“Aku menari dengan seluruh darahmu yang melumuri tubuhku,” -Fitri, 2025.


메타데이터
post_id
bfacb151b132
slug
12-menari-untukmu-tentang-sakit-bfacb151b132
url
https://medium.com/@fitriaja/12-menari-untukmu-tentang-sakit-bfacb151b132
canonical_url
https://medium.com/@fitriaja/12-menari-untukmu-tentang-sakit-bfacb151b132
author_url
https://medium.com/@fitriaja
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01