← Back to list

Unspoken Hunger

Narumi Gen x Fem! Reader

sora · 2025-07-15 19:05 · 59 claps · 16.7 min read
#narumi-gen #kaiju-no-8 #nsfw
Open on Medium ↗

Unspoken Hunger

Narumi Gen x Fem! Reader

The characters belong to Naoya Matsumoto. NSFW, car sex, slightly angry sex, MINOR DNI, read by your own risk!

Malam itu, kamu dan Narumi menghadiri reuni angkatan yang biasanya berlangsung dua tahun sekali. Dan kali ini, kamu hadir berbeda dari sebelumnya. Menjadi seorang business owner benar-benar membuat aura independent woman kamu menguar.

Narumi berdiri di sebelahmu yang sedang mengobrol asik dengan teman-teman seangkatanmu. Ia merengkuh posesif pinggangmu, menandakan bahwa kamu hanya miliknya. Kamu hanya tersenyum cerah dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan padamu dengan ramah.

Narumi tidak berkata apa-apa, tapi kamu tau dari seluruh tubuhnya memancarkan gelombang ketidakrelaan. Terlebih kala bahumu yang disentuh oleh salah satu teman pria kalian, manik mata Narumi seketika menggelap. Namun Narumi tetap diam, bagaimana tawa yang terdengar telalu akrab, pandangan mereka yang menilai lebih dari sekadar ramah. Ia mencatat semuanya, dalam diam.

Tapi semua itu terlalu jelas bagimu untuk mengetahui apa yang Narumi inginkan. Kamu tau akan keinginannya untuk menarikmu menjauh, untuk mencipatakan jarak antara kamu dan dunia. Tapi Narumi tau kamu tak suka bila dikekang, tak suka bila semua pergerakan kamu dibatasi, terlebih kamu adalah sosok yang ceria di mata publik. Mana mungkin Narumi membiarkan kamu dikekang seperti burung di dalam sangkar, Narumi sendiri lebih suka untuk kamu bebas terbang.

Namun inilah balasan yang harus ia terima. Jadi, Narumi memilih untuk diam, akan tetapi genggamannya mengencang sejenak, cukup untuk membuat kamu sadar bahwa ia sedang menahan badai kecil di dalam dadanya, dan sebuah hasrat yang tak tersebutkan di dalam dirinya. Narumi sedang melawan dirinya sendiri dalam diam.

Ia selalu begitu. Narumi memang tidak banyak bicara dan tidak banyak menuntut kamu dalam segala hal. Akan tetapi dalam diamnya tersimpan banyak tuntutan. Bagaimana ia ingin memilikimu seutuhnya, bukan sekadar menjadi pasangan di keramaian, tapi jadi satu-satunya tempat kamu berpulang, menjadi satu-satunya miliknya. Narumi haus, haus akan perhatianmu yang kini terbagi, haus akan senyummu yang bukan untuknya saat ini. Dan kamu tau, rasa haus itu tidak akan pernah terucap sama sekali.

Tapi lagi-lagi, kamu suka bagaimana cara Narumi itu. Kamu sangat suka caranya membungkus cemburu dalam bahasa tubuh yang posesif secara diam, kamu suka bagaimana cara ia memperlihatkan cinta tanpa suara dan juga suka bahwa kamu bersinar untuk semua orang malam ini. Meski begitu, kalian berdua tau hal yang pasti, bahwa kalian berdua hanya milik satu sama lain.

Narumi yang hanya berdiri diam dan tenang seperti biasa, menjadikan hal itu cukup baginya untuk memberitahu semua orang bahwa kamu hanya miliknya. Tapi entah mengapa, kamu malah merasa sebaliknya. Seolah-olah, kamulah yang saat ini sedang bertarung dan menggenggam erat sosok yang bahkan tidak menyadari betapa banyaknya mata yang memuja sosok Narumi dalam diam malam itu.

Narumi Gen yang sejak dulu menjadi pilihan teratas bagi para wanita di angkatan kalian — bahkan di seluruh angkatan — malam ini hadir dengan ketampanan yang di luar nalar, bagaimana jas hitam itu membalut tubuhnya sempurna, bagaimana rambutnya ditata dengan sempurna menampilkan keningnya yang berhasil membuat setiap pasang mata menitikkan fokus padanya.

Kamu bisa merasakannya, bagaimana pandangan yang mengikuti setiap pergerakan Narumi. Tatapan penuh puja dari mereka yang mungkin saja berharap bisa berdiri di posisimu saat ini. Mereka tersenyum ramah kepadamu, tapi sorot mata mereka kerap kali turun ke atas dan ke bawah tubuhmu, dan meluncur ke Narumi dengan ketertarikannya yang tak bisa disembunyikan.

Sementara Narumi? Ia sama sekali tidak sadar dan tidak akan pernah sadar karena titik fokusnya hanya tertuju pada kamu seorang.

Acara reuni berakhir begitu saja meninggalkan sesuatu yang bergemuruh di dalam hati kalian, namun lagi-lagi tidak ada yang mau mengungkapkan perasaan janggal itu. Di antara kesunyian malam hari — tengah malam — hanya ada suara mesin mobil beserta alunan musik pelan yang mengisi kejanggalan yang kalian rasakan. Kamu hanya duduk diam, menatap lurus ke depan. Tapi perasaanmu terganggu, menjadi akhirnya terfokus pada satu titik.

Kepada tangan Narumi yang menggenggam setir erat-erat yang menyebabkan buku jarinya menegang, hingga pandanganmu naik dan menemukan rahangnya mengeras dalam diam. Dan lagi, tidak ada yang bicara. Tapi udara di antara kalian serasa begitu mendesak seolah ada dinding kaca yang siap pecah dengan satu sentuhan kecil.

Kamu tau kalau Narumi pasti sadar dengan apa yang kamu lakukan, bahkan meski tidak bertatapan langsung, dari sudut matamu, kamu jelas bisa merasakannya bagaimana tatapan curiga yang ditutupi oleh kontrol dirinya yang luar biasa tenang itu. Karena kamu tau, bagaimana Narumi ingin menguliti teman lamamu — teman lama kalian yang terlalu akrab, terlalu nyaman dengan gesturenya kepadamu dan terlalu nyaman menyebut namamu itu.

Tapi, dibalik itu semua kamu juga merasakan hal yang sama. Kamu juga tak kalah gelisah. Melihat bagaimana beberapa teman lawan jenis Narumi — yang bahkan tidak kamu kenali tadi mendekati kekasihmu itu. Mendekatinya dengan tawa lembut dan bahkan bersentuhan dengan “tak sengaja” di lengan jasnya. Dan lagi, Narumi yang meski ia tampak tidak peduli, ia tidak menghindar. Karena fokusnya hanya satu, secara penuh tertuju kepadamu.

Narumi mengusak surai dwi warnanya dengan gusar. Ia mendengus keras cukup untuk membuat kamu terusik. Sudah sekitar 30 menit diperjalanan — jarak tempat pertemuan itu cukup jauh dari tempat kalian tinggal saat ini.

“Kenapa? Kok kamu yang kesannya gak suka sama reuni malem ini sih?” sudah tidak tahan, akhirnya kamu melayangkan protes juga.

Narumi menarik napas panjang, seolah akan melontarkan kalimat, namun tidak jadi. Ia hanya menggertakkan giginya dan menatap jalan yang kosong itu. Sebelum akhirnya ia berhenti untuk menaati lampu merah.

Narumi menoleh, akhirnya. Kini ia menatapmu intens, bukan marah, tapi ada kesan ‘lapar’ di manik itu.

“Kamu gak mungkin gak sadar gimana ramahnya mereka dan gimana mereka terus natap kamu gitu.” lagi, kamu yang mulai bicara karena Narumi tidak kunjung mengeluarkan suaranya.

“Kamu juga diem aja waktu mereka akrab banget nyentuh pundak kamu.” tatapan kalian bertaut, tidak ada yang berpaling saat Narumi melontarkan protesnya.

Manik Narumi gelap. Penuh kepemilikan yang tak tersampaikan, seolah dunia akan runtuh kalau ia tidak menyentuhmu sekarang.

“Aku — ” ucapan itu terpotong kala sinar merah yang tadi memancar berubah menjadi hijau. Lagi-lagi Narumi mendengus dan ia kembali melajukan mobilnya.

Narumi lagi-lagi menggenggam erat stir mobil itu, membuat kamu mengigit bibir bawahmu khawatir. Namun tiba-tiba mobil mendadak berbelok ke kiri, meninggalkan jalan utama. Membuat kamu terkejut, dan tubuhmu sedikit terdorong oleh gerakan mendadak itu.

“Gen?” suaramu terdengar ragu.

Tapi kekasihmu itu tidak menjawab. Hanya terus membawa mobil menyusuri jalan yang entah menuju kemana. Hanya ada jalanan lurus seolah tanpa ada akhir dengan remang lampu jalanan. Akhirnya mobil berhenti, di tempat kosong yang kamu atau bahkan Narumi juga tidak tau ada di mana.

Narumi menoleh, sorot mata tajamnya itu mengisyaratkan hasrat dan kecemburuan yang sudah ia pendam sejak tadi. Dan entah sejak kapan, tidak ada lagi suara lagu yang menemani kalian membuat kamu bisa mendengar detak jantungmu sendiri karena kamu juga merasakan hal yang sama seperti yang Narumi rasakan.

“Kamu tau apa yang paling ganggu aku malem ini?” suaranya rendah, berat, seolah ditahan di ujung tenggorokkan.

Narumi mendekat, gerakan pelannya membuat kamu lebih tersiksa. Ia tidak menyentuhmu, hanya berbisik pelan “Mereka… ngeliat kamu seolah kamu bisa dimilikin sama siapa aja. Padahal, kamu cuma punya aku.”

Dan ketika jarak di antara kalian sudah tidak berarti lagi, Narumi berhenti. Matanya menatap bibirmu, lalu kembali ke matamu.

“Aku nggak tahan, ngeliat orang lain nyentuh kamu, bahkan cuma ditatap orang lain. Aku gak rela.”

Kemudian kamu merasakan bibirnya menyentuh bibirmu.

Itu bukan ciuman tergesa-gesa, meski napasnya begitu memburu. Ia memilih untuk menciummu dalam, namun terasa menyakitkan. Seolah Narumi sedang menumpahkan seluruh rasa sakit, marah, cemburu dan keinginannya dalam satu sentuhan bibir yang bisa mengguncang seluruh duniamu.

Narumi menarik dirinya, hanya sejengkal. Keningnya menyentuh keningmu, napasnya kasar, berat dan kamu bisa merasakannya. Merasakan bagaimana ciuman tadi yang terasa begitu dalam, namun penuh dengan kata-kata yang tidak terucapkan. Narumi memejamkan matanya, namun rahangnya masih mengencang. Ia terlihat seperti menahan sesuatu, seperti menahan badai emosi yang tak tau harus dialirkan ke mana.

Tanganmu bergerak, menyentuh rahangnya. Lembut namun tegas, kamu menatap lurus ke matanya seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia terkejut dengan sentuhan mendadak itu, membuat bibirnya bergetar dan maniknya goyah. Ia genggam tanganmu, erat — tapi ia gemetar.

“Aku benci diri aku, benci gimana rasanya mau marah setiap mereka ngedeket. Tapi aku juga takut, kalau aku terlalu posesif kamu bakal ngejauh.”

Kamu ingin berkata bahwa itu tidak benar, kamu tidak akan pergi. Tapi tenggorokanmu tercekat. Kamu pun menahan air mata yang tiba-tiba saja menggenang. Karena sesungguhnya, kamu juga takut. Takut akan perasaanmu terlalu dalam, takut akan hasratmu padanya terlalu besar hingga suatu hari akan menyakitimu sendiri.

Dan akhirnya kalian terjebak di sana. Terjebak di antara keinginan untuk saling memiliki dan ketakutann untuk kehilangan kendali.

“Aku cemburu, dan aku benci rasanya. Tapi aku lebih benci kalau bukan aku yang kamu liat malem ini.” suaranya lirih, terdengar begitu putus asa.

“Terus kenapa selalu kamu tahan? Kalau kamu mau aku, kenapa kamu nggak pernah bener-bener bilang?”

Dan di sana, dalam remang mobil yang sunyi dan mencekik, kalian saling terjebak oleh kata-kata yang tak pernah selesai dan perasaan yang tak pernah benar-benar diizinkan untuk meledak.

Narumi Gen bergerak, meraih tangamu yang sejak tadi mengusap pipinya. Ia mencium punggung tanganmu. Tapi lagi, bukan ciuman yang ringan, melainkan ciuman putus asa. Ia seolah ingin mengendalikan sesuatu yang mulai lepas, tapi kamu tau bahwa kendali itu sudah lama hilang.

“Karena kalau aku bilang, aku takut kehilangan kamu — ” desisnya, suaranya nyaris pecah karena menahan sesuatu “ — takut kamu sadar, kalau kamu bisa dapet orang yang lebih baik. Lebih tenang, dan lebih masuk akal.”

Kamu menatap Narumi tak percaya. Hati yang tadinya sesak kini terasa seperti diremas.

“Kamu pikir aku butuh masuk akal?” suaramu bergetar. “Aku butuh kamu.”

“Aku mau kamu. Setiap hari, setiap detik. Tapi aku juga takut….” hening, Narumi menarik napasnya dalam sebelum melanjutkan, “Aku takut kalau aku menunjukkannya terlalu keras dan tegas, kamu bakal pergi!”

“Aku tetep di sini, Gen!” serumu, akhirnya. “Sementara kamu, terus nahan aku di pinggir, seolah aku cuma bakal lari. Kamu nggak liat aku? Aku juga takut, aku juga cemburu, aku juga — ”

Ucapanmu terhenti ketika ia menarik tengkukmu mendekat, begitu cepat hingga tak sempat menarik napas. Ia kembali menarikmu dalam ciuman, dan kali ini, bukan ciuman ragu. Bukan ciuman terkendali. Tapi ledakan.

Ciuman yang dalam, nyaris menyakitkan tapi kali ini kalian benar-benar menyampaikan hasrat cemburu itu. Tangannya beralih, merengkuh pinggangmu dengan posesif lagi dan dengan mudah berhasil membuat tubuh kecilmu terangkat, beralih pada pangkuannya. Narumi sudah mengatur sedemikian rupa kursi mengemudinya agar tidak berdesakan di sana.

Ia memelukmu dengan gelisah, seolah dunia bisa runtuh kapan saja, dan kamu adalah satu-satunya hal yang bisa ia genggam agar tetap waras.

Kamu membalasnya dengan napas yang tertahan, tubuhmu bergeming tapi hatimu meledak. Tak ada lagi jarak. Tak ada lagi ketakutan. Hanya ada kamu dan dia — dua orang yang saling menginginkan, saling menyakiti dengan diam, dan akhirnya saling menyembuhkan dengan sentuhan.

Jari-jarinya menyusuri wajahmu, rahangmu, lehermu, dengan lembut yang membuatmu ingin menangis. Seolah ia meminta maaf karena terlalu lama menahan. Karena terlalu lama tidak menyentuhmu seperti ini.

Ciuman itu terhenti, kamu menarik napas di sela ciuman, bersandar ke pundaknya, tubuh kalian kini saling bersandar dengan intensitas yang menggetarkan udara.

“Jangan tahan lagi,” bisikmu. “Aku milikmu seutuhnya Gen.”

Narumi tak mengucapkan apapun, namun pergerakannya begitu tiba-tiba saat ia mencengkram pinggangmu keras. Kamu terkesiap, dan belum sempat mengucapkan apapun, dia mengangkat dagumu dengan jarinya.

Look at me.” itu perintah dan saat kamu menatapnya, matanya seperti hewan buas yang dikurung terlalu lama. Terlalu banyak hasrat. Terlalu banyak amarah.

“Aku masih bisa liat bayangan tangan mereka di lengan kamu,” bisiknya rendah, seperti geraman halus yang tertahan.

“Dan aku benci itu.” tubuh Narumi sedikit gemetar saat tangannya bergerak lagi, menyentuh garis rahangmu dengan ujung jemari.

Kamu hanya diam, menatapnya dengan tatapan teduh sementara napasmu sangat tidak teratur.

“Aku mau ngebuang semua tangan mereka dari hal yang mereka anggap bisa jadi milik semua orang itu, dari tubuh kamu.”

“Lalu kenapa kamu nggak lakuin dari tadi?” oh, kamu harus tau kalau kalimat itu merupakan sebuah tantangan untuk Narumi.

Matanya menyipit, lalu tanpa adanya sebuah peringatan, ia menarik tengkukmu dan menciummu dengan keras. Bukan lembut. Bukan manis.

Marah.

Lidahnya menerobos masuk, menuntut. Napasnya kasar. Ciumannya tidak teratur, seolah ia tak tau harus mulai dari mana dulu — karena ia ingin semuanya, sekaligus. Kamu membalas dengan rasa frustasi yang sama. Menarik rambutnya, menahan agar Narumi tidak pergi. Kamu ingin membalas. Menyakitinya sedikit, untuk memastikan bahwa Narumi tau betapa kamu juga muak melihat perempuan lain menyentuhnya.

Ciuman kalian berantakan, penuh tabrakan gigi, lidah saling tarik. Bibir memar.

Tangannya mulai naik, mengusap punggungmu dengan sensual membuat tubuh kecil di pangkuannya itu membusur. Ciumannya berpindah, mengeksplor wajahmu, bergerak ke pipi, ke bawah telinga, ke rahang. Tapi kali ini berbeda, meski kesannya ia mencium seolah setiap inci kulitmu adalah milik orang lain yang ingin ia rebut kembali, seperti sentuhan menyiratkan klaim. Entah mengapa saat bibir itu berpindah, rasanya seperti ia ingin kamu merasakan setiap gerakan yang ia lakukan kini bukan sekadar bahwa kamu sedang dicium oleh seseorang yang hanya menginginkan tubuhmu.

Kamu melenguh pelan, namun saat bibirnya sampai pada leher — titik sensitifmu — semua kembali berubah. Kamu mengigit bibir bawahmu berusaha menahan suara yang ingin pecah begitu saja dari tenggorokanmu karena Narumi dengan sengaja menekan bibirnya lebih dalam di lehermu. Ia tertawa pelan, tau bahwa lehermu adalah titik paling sensitifmu.

Tapi Narumi tau kalau kamu sengaja menahannya.

Ia berhenti sejenak di sana, membiarkan napasnya menggelitik kulitmu sebelum menekan bibirnya lagi, kali ini bahkan lebih dalam. Ia mencium lehermu, pelan, lalu mengigit ringan, kemudian ia jilat, seolah ingin meninggalkan jejak yang tak akan hilang besok pagi.

“Di sini ya,” bisiknya rendah di kulit lehermu, suaranya terdengar sangat puas. “Tempat di mana kamu mulai kehilangan kontrol.”

Kamu mencengkram bahunya, tubuhmu bergetar. Tapi Narumi belum selesai — tidak akan selesai dalam waktu dekat — ia menahanmu dalam kontrolnya agar kamu tidak bisa menjauh saat ia mengecup titik itu lagi, dan lagi — masuk lebih dalam sampai tubuhmu benar-benar melepas di atasnya.

“Jangan tahan suara kamu, aku mau denger sayang.” katanya penuh tuntutan. “Mereka sudah puas terlalu akrab sama kamu malem ini. And now, cuma aku yang boleh liat dan denger kamu begini.”

Kamu terpaksa menarik napas dalam-dalam, tapi begitu ia mencium lehermu, lebih basah, lebih kuat, suaramu meluncur juga. Meski lirih.

Mmmhh — G-Gen…”

Ia mengangkat wajahnya, matanya terlalu gelap untuk seseorang yang masih berusaha mengontrol dirinya. Namun, senyuman miring tercetak jelas di wajah tampan itu.

“B-berhenti main-main… I want you.”

Narumi menggertakkan rahangnya, seolah kewarasan dan batas dirinya terbang entah kemana. Tangannya kini bergerak masuk ke balik kemeja yang kamu kenakan, dengan mudah melepaskan pengait bra yang menjadi penghalang kegiatan itu.

No warning here, aku bakal sentuh kamu di mana pun aku mau. Sebanyak yang aku mau. Sampai kamu nggak bisa nyebut apapun selain nama aku.”

Dan kamu memang mau itu.

Kamu ingin dicium di leher lagi. Kamu ingin Narumi menandai setiap bagian yang pernah disentuh tatapan orang lain malam itu. Kamu mau Narumi membuat tubuhmu mengingat bahwa hanya Narumi yang bisa membuatmu tidak berpikir jernih dan hanya menyebut namanya.

Tangannya bergerak naik, tanpa peringatan mencekik lehermu — menjaga kamu tetap di posisi yang sama — seraya tangan lainnya membuka satu persatu kancing kemejamu. Napasmu tersangkut di tenggorokkan, tapi bukan takut tapi ternyata tubuhmu menyukainya. Reaksi tubuhmu membuat Narumi menyadari sesuatu.

Narumi memperhatikan setiap gerakan kecilmu, cara matamu setengah tertutup, dada yang naik turun tak teratur, bagaimana pahamu makin menekan pinggulnya. Narumi menyeringai. Tangannya sengaja bergerak pelan, seolah ingin menikmati rasa tak berdayamu dalam genggamannya.

“Oh? You like it rough? Aku gak pernah kepikiran sebelumnya, tapi I think I found something.”

Suaranya rendah, berbahaya dengan sedikit nada remeh di sana. Kamu menelan ludah saat ia mengecup tulang selangkamu.

Maybe I do,” bisikmu. “So? What are you gonna do about it?”

Senyumnya berubah. Gelap. Liar.

Tangannya yang mencengkram lehermu dengan mudah mendorongmu ke belakang, menyebabkan punggung telanjangmu membentur stir mobil. Bahkan kamu tidak ingat kapan tubuh bagian atasmu telah telanjang sempurna. Tubuhmu gemetar, bukan karena dingin, tapi karena tatapan mata Narumi yang menelusuri tubuhmu seolah kamu adalah mangsa empuk baginya kala itu.

“Kamu nggak boleh ngelempar tantangan begitu ke aku.” gumamnya. “Aku bisa buat kamu nggak inget sama apapun selain namaku selama berjam-jam di sini juga.”

Ia menunduk lagi, mulai menjelajah di tubuh bagian depanmu. Lidah panasnya terasa begitu nikmat saat ia menjilati puncak dadamu sementara tangannya tetap di lehermu, menjagamu tetap pada tempatnya agar tidak bisa lari dari setiap sensasi. Kamu melenguh lebih keras saat ia mengigit puncak dadamu sementara tangannya yang lain mulai meremas dengan kasar salah satu dari tonjolan di dadamu.

Look at you now…” bisiknya di kulitmu. “Gemeter. Padahal aku baru pemanasan.”

Narumi menarik dirinya, supaya bisa menatapmu yang begitu lemas saat ini.

“Sekarang, masih perlu aku perjelas siapa yang pegang kendali malem ini?”

Kamu tak menjawab. Lebih tepatnya tidak bisa. Tapi tubuhmu bicara lebih dahulu. Kamu menggoyangkan pinggulmu, menggesek tubuh bawahnya yang sudah terlampau tegang. Meminta lebih, bibirmu terbuka tanpa suara.

“Aku bisa gila karena kamu.”

Kekasihmu menduduk, bibirnya kembali bekerja. Menyusuri dada kirimu dengan tak sabar, lidah panas itu benar-benar hal kesukaanmu saat ini. Punggungmu melengkuh, membuat dadamu semakin membusung seraya menarik surai Narumi seraya mendesah. Bukan hanya desahan, akan tetapi itu pengakuan. Dan Narumi menangkapnya dengan jelas.

Kamu bisa merasakan senyuman tipis sebelum akhirnya menghisap pusat dadamu dengan rakus membuat kamu kelabakan. Kamu mencengkram rambutnya seraya mendorong kepalanya untuk semakin mendekat. Tubuhmu seperti terbakar dari dalam dan Narumi menikmatinya — menikmati melihatmu kehilangan kendali di bawahnya.

“Gen… a-ahhh!”

Rakus, bibirnya sibuk menghisap puncak dadamu secara bergantian dengan meremasnya kuat sukses membuat kamu merengek dengan pinggulmu yang bergerak meminta lebih membuat Narumi semakin kasar pada dadamu. Lalu tanpa ia duga, kamu mulai bergerak, mengeliminasi kancing kemejanya dari tempat seharusnya. Begitu sulit sampai Narumi menyudahi kegiatannya.

Ia sedikit menjauh, meski kamu sedikit tidak rela tapi ia membiarkan kamu membuka kancing kemejanya dengan jari-jari mungil yang gemetar.

Good girl.” Ucapnya saat kamu berhasil melepaskan semua kancing kemejanya. Narumi melempar asal kemejanya, sebelum akhirnya tangannya kini menyusuri bagian bawahmu, tangannya menyusup ke balik rokmu. Apapun yang masih menutupi tubuh bagian bawahmu kini terasa seperti penghalang yang sangat mengganggu. Ia mengusap kain itu dengan telapak tangan besarnya, merasakan betapa panasnya kamu yang kini hanya terhalang satu helai dalamanmu.

“Kamu udah basah dari tadi ya?” tanyanya, hampir tertawa. “Dari kapan? Dari ciuman pertama? Atau sejak aku nyium leher kamu?”

Kamu hanya bisa melenguh kasar, “Jawab aku sayang.”

Kamu ingin menjawab, tapi saat satu jarinya mengusap kewanitaanmu dari luar kamu jelas kehilangan kemampuan bicaramu. Kepalamu bersandar pada bahu telanjangnya, dengan dada yang naik turun, napasmu terlalu cepat.

Tubuhmu bergetar hebat. “Ini baru awal sayang..” bisiknya didekat telingamu. “Aku belum setengah jalan, tapi kamu udah keliatan mau runtuh.”

Lalu, saat akhirnya kain terakhir pada tubuhmu disingkirkan, dan satu jari Narumi masuk menerobos seviksmu, seluruh tubuhmu meledak dari dalam. Jari-jarinya menyapu pelan, lalu menekan titik paling peka dengan tempo tak terbaca. Dua, jarinya bertambah menjadi dua. Gerakannya melingkar, lalu berhenti. Berubah menjadi cepat, lalu perlahan lagi. Narumi dengan sengaja mengacak-ngacak sistem sarafmu dengan presisi dan irama yang nyaris menyiksa.

Kamu menggeliat di pangkuannya. Tapi Narumi dengan mudah menahanmu dengan tangannya yang lain. Mencengkram pinggangmu lebih kuat agar kamu tidak pergi — ia tidak mengizinkan kamu pergi sampai ia puas.

“Kamu gak boleh keluar sampai aku izinin sayang. Begging for me if you want to.”

Kamu mencoba, kamu mengigit bahunya, sedikit lebih kuat dari yang ia kira sampai Narumi meringis, namun ia sama sekali tidak memelankan gerakannya karena hal tersebut membuatnya senang karena kamu jelas berantakan karenanya saat ini.

“Gen…” kamu hampir menangis karena frustasi. “Please…”

Narumi menatapmu, tapi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Namun di dalam hatinya ia sangat ingin melesakkan miliknya, ingin menghancurkan kamu sepenuhnya sampai hanya terdengar lirihan putus asa dan namanya dari bibir cantik itu.

“Minta yang jelas.” katanya.

Kamu lagi-lagi mendesah, mengigit bibir bawah dengan frustasi seraya menatap Narumi dengan matamu yang menumpuk air mata di sana. Kamu mencengkram pundaknya, pinggulmu ikut bergerak mencari kenikmatan tanpa sadar. Narumi meringis, saat ia merasakan bahwa dirinya menyentuh titik paling nikmat kamu di sana membuatnya menerima balasan gigitan bahu darimu. Kali ini gigitanmu terasa lebih kuat tapi Narumi tak berhenti. Bahkan tangannya justru mencengkram pinggangmu lebih erat, seolah menyambut gigitanmu sebagai pengakuan diam-diam kalau kamu memang sudah sangat tidak tahan.

That’s it,” desisnya. “Kamu keliatan paling jujur waktu kamu udah gak bisa nahan.”

Kamu berusaha menahan isakan yang muncul dari tenggorokanmu saat dua jarinya kembali menyentuh titik manismu di bawah sana. Kali ini lebih dalam, lebih tepat. Narumi jelas sudah hafal di luar kepala di mana letaknya, dan ia sengaja menekannya. Hal tersebut membuat tubuhmu menggeliat di atas pangkuannya. Kamu tau, walaupun ia belum masuk dengan inti tubuhnya, tapi kalau ini terus berlanjut, kamu akan pecah hanya karena dua jarinya.

“Gen… P-please…” matamu basah, air mata sudah mengalir, bibirmu terbuka — namun tidak ada suara — karena tak tau harus menarik napas atau merintih deluan.

“Masukin…” rengekmu saat jarinya semakin cepat dan dalam di bawah sana.

Matanya menyala. Dan tanpa menunggu lagi, ia sedikit menggeser posisi tubuhmu — satu tangannya menahanmu agar tetap di atasnya dan satu lagi menarik bagian bawahnya terbuka. Semua gerakan itu kamu rekam dengan baik diingatanmu, tak mau melewatkan satupun momen bagaimana kekasihmu terlihat begitu sexy melakukan segala hal kala itu.

Dan bahkan, ketika ia masuk, secara perlahan, dalam dan penuh tekanan, kamu mendesah panjang. Tubuhmu menegang saat Narumi menuntunmu untuk perlahan duduk sempurna di atas pangkuannya dengan dirinya yang mengisimu di dalam sana.

Kamu mencengkram kedua tangan Narumi yang berada di pinggang kecilmu, kamu mendesah lagi, memanggil nama Narumi karena overwhelming. Saat ia mulai bergerak, kamu bisa merasakan urat-uratnya di dalam sana menggesek bagian dalammu yang terasa begitu gatal. Narumi memelukmu, membuat kamu mencakar punggungnya dengan dagu yang bersandar pada pundaknya.

“Kamu… beneran gila.” Narumi menggeram layaknya binatang buas seraya menghisap rakus lehermu yang benar-benar membuat kamu kelabakan.

Ahhh! HMMPP — ”

“Inget ini selalu — hhh” Narumi menghentakkan kuat, “Inget rasanya. Inget gimana tubuhmu nerima aku, seolah kamu memang dilahirin buat ini.”

Narumi menutup matanya sejenak, kepalanya terasa pusing karena kenikmatan yang ia rasakan. Sementara kamu? Kamu nyaris menangis saat tubuhmu bergetar di atasnya. Tubuh kalian bergerak dalam satu irama, Narumi semakin dalam, semakin mempercepat ritmenya. Seluruh sarafmu meledak karena tempo yang Narumi sengaja atur untuk mengejar kenikmatan. Tapi dia belum selesai. Bahkan saat kamu mencapai puncakmu dan menggeliat keras, ia tidak memperlambat gerakannya.

Justru, ia tertawa pendek, dingin, rendah dan penuh dominasi.

“Belum,” desisnya. “Aku belum selesai sama kamu.”

Kamu ingin menjawab, tapi tak ada suara keluar dari mulutmu. Hanya napas patah-patah dan suara tubuh kalian yang masih saling membentur. Pinggulmu sudah nyaris lemas, tapi Narumi menahanmu — mencengkram pinggangmu kuat-kuat, lalu menghentakmu dengan tenaga yang kuat dan kasar.

“Kamu suka dipaksa nerima aku ya?” tanya tajam, nadanya mengancam.

“Liat, kamu gemeter… tapi makin minta dimasukin lebih dalam meski sudah klimaks tanpa aku izinin.”

Satu gerakan kuat darinya membuatmu menjerit tertahan, punggungmu melengkung. Ia menarik tubuhmu ke bawah bersamaan dengan dorongannya dari bawah. Gerakan itu menghantam seluruh isi tubuhmu, membuatmu lepas kendali lagi.

“Cantik. Berantakan buat aku.” Tangan kanan Narumi naik ke tengkukmu dan menarik rambutmu ke belakang, membuat wajahmu terbuka penuh padanya. Napasmu cepat. Matamu basah. Tapi kamu tidak menolak. Kamu menyambutnya — dalam kepasrahan yang penuh gairah.

“Kamu keliatan paling jujur waktu dipaksa begini,” katanya sambil menyentakkan pinggulnya lagi, lebih kuat dan lebih dalam.

“Geeennn…. mmhhh!” kamu merengek tanpa jeda. Kamu mencengkram lengannya, jari-jarimu meninggalkan bekas merah. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus masuk, ritmenya makin brutal, makin intens. Tubuhmu seperti dimakan mentah-mentah. Tak ada waktu untuk bernapas penuh, karena ia terus menghantammu setiap kali kamu mencoba lari dari klimaks yang makin menyiksa. Narumi malam ini, benar-benar tidak tau caranya bersikap pelan-pelan terhadap kamu. Gerakannya penuh dengan penekanan, seolah menyalurkan amarahnya dengan cara memenuhimu saat ini.

Ngghh — nggak ada orang lain yang bisa sentuh kamu begini.” Narumi melenguh saat ia merasakan kamu kembali mengetat di bawah sana. “Nggak ada yang tau kamu bisa teriak kayak gini. Cuma aku.”

“Iyaaaa,” kamu nyaris menjerit. “Cuma kamu…”

Dan Narumi benar-benar masuk sepenuhnya, satu dorongan yang menghantam paling dalam. Tubuhmu lepas kendali lagi — lebih kuat dari sebelumnya. Kamu gemetar, hampir terisak, tubuhmu menegang hebat.

Come with me.” ujarnya pelan dan kamu menurutinya.

Beberapa hentakan terakhir terasa seperti ledakan. Ia menggenggam pinggangmu erat, menggeram rendah di telingamu saat ia pecah bersamamu. Napasnya panas, dalam, nyaris seperti raungan hewan liar yang akhirnya melepaskan diri setelah dikekang terlalu lama.

Dan saat kalian diam, tubuhmu lunglai total di atasnya, masih berkeringat, masih bergetar. Tangannya akhirnya melonggar, tapi tetap memelukmu.

Satu kecupan singkat jatuh di tengkukmu. Tidak lembut. Tapi dalam.

“Kamu… ternyata cemburunya sedalem itu ya?” tanyamu dengan suara serak. Narumi benar-benar berhasil membuatmu hanya mengingat namanya.

Narumi tertawa rendah, lalu merengkuh tubuhmu lebih erat, membuatmu merasa seperti miliknya sepenuhnya — bukan hanya malam ini. Tapi setiap malam.

“Sini, liat aku.” mintanya lembut.

Kamu mengangkat wajahmu, pelan. Matamu bertemu dengan matanya, dan kali ini, tak ada yang ditahan. Ia mengusap lembut pipimu.

“Aku bukan cemburu cuma karena mereka mandang kamu kayak kamu bukan punyaku,” katanya. “Aku cemburu karena kamu memang punyaku.”

Kamu menahan napas.

“Aku, udah terlalu dalam sama kamu. Dan tadi, aku bener-bener gatau gimana caranya pelan-pelan sama kamu. Apalagi kalau udah kemakan api cemburu.”

Tatapannya tajam, tapi bukan dingin. Matanya menelanjangi kamu dalam cara yang paling jujur — tanpa nafsu, hanya rasa. Dan di sana, kamu lihat semuanya. Ketakutan. Rasa ingin memiliki. Rasa sakit yang tak pernah diucap. Dan cinta yang terlalu keras untuk disebut manis.

Tanganmu bergerak ke wajahnya, menyentuh garis rahangnya yang masih basah oleh keringat. Kamu tersenyum, lelah, tapi tulus.

“Aku juga gak mau pelan-pelan,” jawabmu. “Aku maunya kamu. Sepenuhnya. Gak perlu pakai alasan, gak perlu pakai jeda.”

Ia menarikmu lagi ke pelukannya, dan kali ini bukan untuk menundukkanmu. Tapi untuk memeluk. “I love you.”

Kamu memejamkan mata, dada terasa penuh. Dan kamu tahu, kalimat itu — setelah semua yang terjadi malam ini — adalah satu-satunya hal yang bisa membuatmu merasa utuh kembali.

I love you too.”

Dan di sana, di dalam mobil yang sudah kembali sunyi, kalian hanya duduk. Dalam pelukan yang tidak ingin dilepas. Dengan ciuman kecil yang jatuh di dahi, di pelipis, di bibir. Dengan senyum tipis yang hanya dimengerti dua orang yang akhirnya tidak lagi saling menahan.

“Kita pulang begini aja ya? Biarin aku tetep di dalem kamu sampai kita sampe rumah.”

“Hah?!”

Kamu kadang lupa, kalau Narumi itu suka sekali sama yang namanya tantangan.


메타데이터
post_id
bfd3e01e8aa1
slug
unspoken-hunger-bfd3e01e8aa1
url
https://medium.com/@sorasites/unspoken-hunger-bfd3e01e8aa1
canonical_url
https://medium.com/@sorasites/unspoken-hunger-bfd3e01e8aa1
author_url
https://medium.com/@sorasites
status
ok
fetched_at
2026-06-27 18:20:27