← Back to list

Petugas Penyeberang Jalan Sepanjang Jalur Pergi Pulang Kerja

Kini saya menyewa tempat tinggal(kos) berjarak 10–15 menit motoran dari tempat kerja. Sejak keluar pintu kos, saya melihat ada banyak jenis…

Ahmad Khoiron · 2026-05-02 16:00 · 100 claps · 2.0 min read
#project-300 #daridekat #sehari-hari
Open on Medium ↗

Petugas Penyeberang Jalan Sepanjang Jalur Pergi Pulang Kerja

Photo by Jacob McGowin on Unsplash

Photo by Jacob McGowin on Unsplash

Kini saya menyewa tempat tinggal(kos) berjarak 10–15 menit motoran dari tempat kerja. Sejak keluar pintu kos, saya melihat ada banyak jenis pekerjaan informal yang dilakukan masyarakat untuk menyambung hidup.

Dari keluar gang, ada sebuah rumah dengan halaman cukup luas menjadi penitipan sepeda pancal, sepeda listrik dan sepeda motor anak sekolah dasar. Jarak dari sekolah hanya satu rumah. Pukul 07.00 setiap kali berangkat, halaman itu dipenuhi sepeda. Setiap hari penuh, kecuali hari minggu atau libur sekolah. (anak sekolah SD sekarang sudah bawa motor sendiri gesss)

Kebetulan ada seorang kenalan yang anaknya belajar di sekolah tersebut. Menurutnya, biaya penitipan satu sepeda kayuh 1000 rupiah. Sepeda listrik dan motor 2000 rupiah. Tinggal dikali saja. Sayangnya tidak semua orang bisa membuka jenis bisnis ini. Siapa yang bisa? Kapan-kapan akan cari tahu lebih lanjut.

Di sekitaran pintu SD, ada banyak bapak-ibuk penjual makanan ringan dengan gerobak motor.

Agak kedepan mendekati jalan raya utama, di pertigaan ada minimal 3 orang yang menyeberangkan. Kamu bisa bayangkan betapa padat jalanan itu hingga butuh tiga orang yang mengatur lalu lintas. Ada mobil dump truk untuk mengangkut pasir, ada mobil optimus prime (kontainer), ada anak sekolah, ada pekerja.

Ketiganya memegang bendera kecil yang diikatkan pada kayu sebesar pegangan tangan dengan panjang 1 meteran, pada satu tangan. Satu tangan lain pegang ember cat untuk menampung uang receh dari para pengendara. Rasanya, tugas itu berlaku 3 shift. Saat sore hari pulang kerja, saya melihat orang yang bertugas berbeda. Saat malam sepulang dari ngopi, orangnya beda lagi.

Setelahnya ada penyeberang jalan lagi di perlintasan kereta api. Lalu ketemu lagi di perempatan titik bertemunya mobil yang keluar dari tol dengan para pesepeda motor.

Masih ada banyak jenis lainnya yang bisa ditemui sepanjang jalan menuju pabrik.

Ada banyak bentuk kerja untuk mendapatkan uang. Ada suatu pekerjaan yang tidak membutuhkan skill khusus(tetap butuh skill, tapi hampir semua orang bisa melakukannya dalam waktu relatif singkat), tapi tidak semua orang bisa mengaksesnya. Tukang parkir/ tukang penyeberang jalan misalnya. Ada kerjaan yang butuh skill dan akses; tambal ban. Dan banyak lainnya.

Dari semua jenis pekerjaan itu, adaptif adalah satu kemampuan kunci sebagai bekal membaca keadaan dan memanfaatkannya.

Petugas penyeberang jalan bagi saya cukup unik. Suatu saat ingin sekali meluangkan waktu ngobrol bersama salah satu dari orang-orang penyeberang jalan di atas untuk memastikan asumsi yang terus melayang-layang di kepala. Apakah yang mereka lakukan adalah pekerjaan utama. Asumsiku tidak. Bagaimana mereka dulu mendapatkan peran itu. Saat sakit, siapa yang menggantikan. Pada kondisi seperti apa mereka purna tugas. Seperti apa mekanisme perekrutan. Bagaimana cara memindai, menilai dan memutuskan suatu titik perlu ditempatkan seorang penyeberang jalan. Bagaimana bentuk kerjasama atau “persaingan” dengan bapak-bapak berseragam. Dll.

Walau kerja informal, saya yakin alur rekrutmen juga tidak sembarangan. Bisa jadi persaingannya tak kalah ketat dibanding masuk kerja di sektor formal.

Sidoarjo, 02 Mei 2026.


메타데이터
post_id
c014ef845ce4
slug
petugas-penyeberang-jalan-sepanjang-jalur-pergi-pulang-kerja-c014ef845ce4
url
https://medium.com/@ahmadkhoiron/petugas-penyeberang-jalan-sepanjang-jalur-pergi-pulang-kerja-c014ef845ce4
canonical_url
https://medium.com/@ahmadkhoiron/petugas-penyeberang-jalan-sepanjang-jalur-pergi-pulang-kerja-c014ef845ce4
author_url
https://medium.com/@ahmadkhoiron
status
ok
fetched_at
2026-07-30 16:53:45