Pertemuan singkat
hingga kelulusan tiba pun semesta tidak memberiku kejelasan tentangnya.
Pertemuan singkat
Aku menunggu datangnya kereta yang nantinya akan mengantarku pulang, duduk menunggu sembari memainkan ponsel yang ku genggam di tanganku dengan di sandingi dengan wajahku yang sudah lelah menjalani hari ini.
Itu sudah menjadi rutinitasku, aku tidak bisa menghindari rutinitas ini.
Disaat anak-anak seusiaku umumnya pergi sekolah dengan kendaraan sendiri atau diantar oleh ayah ibunya, aku pergi sendiri dengan kedua kakiku dan transportasi umum yang sudah menjadi sahabatku sejak smp. Ya, itu terdengar seperti merantau. Aku tidak berbohong, lelah sekali.
Di sekolahku, siswa yang pergi sekolah dengan kereta itu hanya aku dan satu teman sekelasku saja. Tapi aku tidak peduli dia sih
Lamanya kereta datang membuatku bosan, seringkali aku menghabiskan 5% baterai ponselku sembari menunggu kereta datang. Walau panas matahari menusuk wajahku, setidaknya kaki ku tidak meninggal menunggu lamanya kereta datang saat itu.
“2 dari arah utara masuk kereta tujuan akhir stasiun Bogor”
terdengar pengumuman datangnya kereta dari pengeras suara stasiun. Aku merapikan tas dan barang-barangku bersiap untuk berdiri, menunggu dibelakang garis peron. Sembari merapikan barangku, seorang laki-laki berseragam sekolah lewat di depanku. Aku tahu dia anak sekolahan karena lihat celananya, umum sekali seperti bawahan seragam yang ku pakai. Tapi, kok batik sekolahnya sama sepertiku ya?

“hah dia siapa? kok gak pernah lihat?” tanyaku heran dalam hatiku.
Segitunya aku bertanya tanya. Karena memang biasanya aku sampai di stasiun hanya seorang diri saja, tidak ada siapapun dan benar-benar diriku saja. Dia juga tidak terlihat seperti teman sekelasku itu?
ku putuskan untuk membiarkan pertanyaanku membara di dalam otak saja. Aku naik menuju gerbong kereta dan duduk di kursi, dari kejauhan terlihat laki laki yang seragamnya sama denganku itu duduk di ujung kursi seberangku juga.
“dia kelas berapa? tinggi banget”, “kok tumben ada anak sekolahku yang naik kereta lagi?”, “sejak kapan ada yang naik kereta selain aku dan teman sekelasku itu?” pertanyaan seputar itu pun mengelilingi kepalaku terus menerus. dan ku putuskan untuk lupakan saja. Ia turun di stasiun tujuannya, dan kami pun berpisah.
Setelah hari itu, aku mulai sering bertemu dengannya di stasiun kereta. Padahal, biasanya aku pulang seorang diri. Kalau bareng pun paling dengan teman sekelasku yang sangat aku tidak pedulikan itu.
“Man, ada yang nanyain lu tuh kemarin” Ujar salah satu temanku di sekolah “siapa?” tanyaku “ada, temen gua pokoknya” jawabnya.
hah? nanyain? dalam rangka apa seseorang menanyakanku? apa wujudku sepenuh pertanyaan itu sampai harus dipertanyakan?
“katanya kemarin xxx ngechat ngirim foto kamu di kereta ke dia, nanyain ini siapa? gitu. Terus dia ngomporin katanya “oh itu temen gua, lu suka ya?” gitu ke si xxx nya” jelas salah satu temanku kepadaku
Sebenarnya aku penasaran, tapi aku malu. Jadi, aku coba mengumpulkan informasi dan mencari tahu sendiri tanpa sepeserpun bantuan temanku.
Semenjak itu juga, aku merasa seseorang memperhatikanku dari ekor mataku. Tubuhnya tinggi, wujudnya sama seperti orang yang ku lihat di kereta waktu itu. Tentu saja dia orangnya, ternyata dia satu angkatan denganku tapi kami tidak saling kenal saja. Dia pemalu, bak mengagumi dari jauh.

hingga kelulusan tiba pun semesta tidak memberikanku kejelasan tentangnya.
Pertemuan singkat, dan berjalan sangat cepat
메타데이터
- post_id
- c06462d64af3
- slug
- pertemuan-singkat-c06462d64af3
- url
- https://medium.com/@5heiima/pertemuan-singkat-c06462d64af3
- canonical_url
- https://medium.com/@5heiima/pertemuan-singkat-c06462d64af3
- author_url
- https://medium.com/@5heiima
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-16 19:09:56