The Sunset Arms
When the Sun God reached out his hand to help the nine
The Sunset Arms

Disclaimer : This story is purely fictional. The alternative universe presented in this story is entirely the author’s creation, blending Greek mythology with Korean folklore.
TW : suicidal thought, attempted suicide, character death (past), heavy grief, internalized homophobia
Tags : M/M, Urban Fantasy AU, Greek Gods, Gumiho, Hurt/Comfort
Hidup segan mati tak mau. Itulah yang lelaki berparas jelita ini rasakan. Ribuan tahun kehidupan ia jalani, jaman silih berganti, wujudnya pun tak sama lagi. Dari yang awalnya adalah rubah liar, kini ia hidup sebagai siluman rubah berekor sembilan atau yang dikenal juga dengan sebutan Gumiho.
Ode, di umurnya yang kini menginjak 1250 tahun, ia masih tak paham dengan tujuan hidupnya. Ia telah hidup sebagai gumiho seperempat milenium. Bagi manusia modern, mungkin inilah yang sering mereka sebut quarter life crisis. Namun bagi Ode, perjalanan hidup sebagai gumiho terlalu panjang nan rumit jika dibandingkan dengan kehidupan fana manusia.
Ia mendamba menjadi manusia. Menua bersama kekasih hingga akhir hayat. Bukankah itu makna kehidupan yang sesungguhnya? Kisah cintanya tak pernah mujur, kebanyakan hanya membuatnya hancur. Seperti yang sedang ia rasakan kini.
Hari ini merupakan peringatan hari ke-100 kematian kekasihnya. Ode menyambangi makam Gunil yang berada di atas bukit. Bukan kali pertama ia kehilangan orang yang dicinta, namun dukanya tak pernah sedalam ini. Mereka telah hidup bersama selama 5 tahun. Saling bertukar rasa dan juga cerita. Bahkan Gunil tahu identitas Ode sebagai eksistensi gumiho terakhir.
Semua Gumiho di generasinya telah memilih melanjutkan hidup sebagai manusia, ketimbang hidup sebagai siluman yang terus diburu oleh Shaman. Ode adalah gumiho terakhir yang masih bertahan. Sempat terlintas di benaknya untuk menyerahkan diri kepada Shaman, agar ia bisa mengakhiri sengsaranya kehidupan. Namun, pesan terakhir sang kekasih bahwa ia harus terus melanjutkan hidup sebagai gumiho terus menghantuinya.
Apakah benar reinkarnasi itu nyata? Akankah Gunil di kehidupan selanjutnya kembali padanya? Mengapa semuanya pergi kecuali dirinya? Mengapa harus dia yang menjadi gumiho terakhir? Apakah ada cara lain menjadi manusia tanpa melibatkan cinta dan kematian? Kenapa dia harus menanggung beban seberat ini?
Terlalu banyak pertanyaan yang dia sendiri tak bisa jawab. Ode memandangi gundukan tanah di depannya, rasa kehilangan memenuhi dadanya yang makin sesak. Air mata tak lagi bisa terbendung walau ia berusaha menahannya. Rangkaian bunga krisan yang sejak tadi digenggam ia lempar ke dekat nisan. Kemudian ia berjalan menjauh meninggalkan tempat cintanya bersemayam.
Ode pergi bukan karena kesal, ia hanya tak ingin memperlihatkan tangisnya di depan Gunil. Tak jauh dari makam, ia melihat pohon pinus besar nan rindang. Tangisnya masih berlanjut, namun langkah kakinya memutuskan untuk berhenti berjalan dan duduk di bawah pohon pinus tersebut. Mungkin inilah tempat yang tepat untuk menuntaskan apa yang dia inginkan.
Wajahnya kini basah oleh air mata dan ingus. Mungkin 10 menit telah berlalu sejak ia duduk dan menumpahkan air matanya di situ. Goresan oranye di langit membuatnya diam sejenak. Ia menyadari sebentar lagi petang tiba, matahari akan segera menyerahkan singgasananya pada sang rembulan.
Langit sore terlihat sangat cantik hari ini. Cakrawala yang berwarna jingga keunguan itu menghangatkan suasana — juga seolah meledeknya. Ia baru saja menangis sesenggukan, putus asa ingin segera menyudahi hidup. Sementara di detik ini ia menikmati secuil indahnya kehidupan yang berwarna.
“Wahai Dewa Matahari apakah kau sedang merayuku dengan keindahanmu? Kuakui kau memang cantik, namun aku terlanjur marah dengan semua dewa yang memberiku jiwa.
Bisakah kau mengambil nyawaku sekarang tanpa rasa sakit? Tanpa rasa bersalah atas ingkarku pada kelanjutan generasi. Bukan aku tak mau, namun aku tak mampu. Engkau sendiri yang membuatku begini.
Mereka bilang rasa cintaku adalah penyakit, tapi saat ku tanya obatnya tak ada satupun dokter yang bisa memberiku obat. Siapapun dewa yang mendengar doaku, bisakah kau angkat hasrat menyimpang ini dan biarkan aku hidup normal?
Aku pun ingin hidup sebagai manusia seutuhnya, namun sepanjang hidupku aku hanya bisa mencinta pria yang bahkan tak bisa kunikahi. Lantas apa untungnya berumur panjang tapi hidup dalam kesepian?”
Tangisnya kembali pecah setelah kalimat terakhir yang diucap. Ode kemudian bersimpuh lutut menghadap ke barat, memandang matahari yang kian tak terlihat. Tangan kanannya merogoh saku untuk mengambil belati yang selama ini ia bawa. Dibuka selongsong kulitnya, kemudian ia arahkan mata pisau itu ke depan dadanya dengan bantuan tangan kiri.
Tangannya gemetaran hebat, maka ia pejamkan matanya untuk sesaat. Meyakinkan diri bahwa inilah keputusan yang tepat. Saat niatnya telah bulat, genggaman ke belatinya makin erat. Ia buka kembali matanya untuk melihat sasaran belatinya sudah akurat.
Tiba-tiba pandangannya gelap. Apakah dia sudah mati? — pikirnya. Ia melihat ke sekeliling dengan ragu. Cahaya lampu kota masih terlihat dari ujung timur laut, artinya dia masih hidup, masih di tempat yang sama. Tapi mengapa langit tiba-tiba gelap gulita bak gerhana menyongsong? Kegelapan merasuk jiwa sang rubah, membuatnya ketakutan setengah mati walau ia tengah berniat mati.
Ketakutan memicu ekor dan kuping rubahnya menyembul. Badannya masih berwujud seperti manusia. Sembilan ekor berwarna jingga kemerahan mencuat dari balik tubuhnya, membuatnya tampak begitu menawan. Konon, manusia takut dengan wujud gumiho. Tapi percayalah, mereka takut bukan karena wujudnya menyeramkan, mereka hanya takut terpesona. Dengan rupa seindah itu, siapa pun akan sukarela menyerahkan hati — bahkan seluruh isi dada mereka, untuk dilahap Gumiho.
Angin yang semula membuat tubuhnya bergidik tak lagi berhembus. Sang surya telah tenggelam sepenuhnya. Cahaya bulan pun seperti terhalang sesuatu. “Ada yang tidak beres. Apakah Dewa Maut datang menjemputku?” pikirnya. Sang rubah mengintai sekelilingnya dengan seksama. Terlihat seekor burung terbang mendekat menuju pohon pinus. Tak terdengar suara kepakan sayap, jadi ia menduga sosok itu adalah burung hantu.
Rembulan perlahan menampakkan diri, seolah dia baru bersembunyi di balik awan atau benda langit lain yang menghalaunya. Energi dari cahaya bulan membuat dirinya lebih tenang. Ekor dan kuping rubahnya berangsur hilang. Ode menghembuskan napas panjang untuk mengatur ritme degup jantungnya. Ia memutuskan untuk merebahkan diri menghadap langit, tangan kanannya masih memegang belati. Rasa penasarannya membuatnya mengamati pohon pinus untuk mencari keberadaan burung hantu tadi.
“Hey” suara yang tiba-tiba muncul itu mengejutkannya. Ode tersentak kaget, mata tajamnya mencari sumber suara sambil terduduk. Sesosok pria berjalan mendekati dirinya dari arah timur. Ode mengarahkan belatinya ke arah pria yang kini berdiri di depannya.
“Hahaha kamu ini sungguh lucu. Bukankah baru saja dirimu berniat mati? Mengapa sekarang matamu berkata sebaliknya?”
Nada suaranya sungguh ketus. Ode masih berusaha mengenali siapa sosok dengan postur tubuh begitu mendominasi di depannya itu. Tampilannya tidak terkesan seperti Dewa Maut, wajahnya sangat berseri, pakaiannya pun terlalu sederhana untuk seorang Shaman. Dia juga tidak mencium bau dupa ataupun minyak aneh yang sering dipakai Shaman.
“Siapa kamu?” tanya Ode gugup.
“Yang baru saja merayumu?” alisnya terangkat satu seperti sedang menggoda si rubah.
“Hah?” Ode berusaha mengingat apakah dia bertemu pria ini di jalan sebelum menuju ke bukit? Rasanya baru pertama kali ia melihat pria menawan yang ada di depannya itu.
“Hey, dengar. Jangan dulu mati. dirimu terlalu berharga untuk sirna dari dunia.”
Pria itu ikut duduk bersila, berusaha mempersempit jarak diantara keduanya. Ia menatap dalam mata tajam gumiho seperti berusaha menyampaikan pesan. Ode tidak tahu harus berbuat apa selain mengamati gerak-geriknya. Belati ia letakkan di tanah setelah mendengar pria itu berkata tak ingin dirinya mati.
“Aku Apollo, Dewa Matahari yang tadi kau bilang merayumu dengan lembayungku. Rintihan doamu terlalu pedih untuk ku abaikan. Maka aku datang untuk memberimu jawaban.”
Mendengar pernyataan sang Dewa Matahari, rasanya seperti mendengar petir Zeus di siang bolong. Peduli apa dia dengan Zeus, anaknya sedang berada di depan matanya. Menghampiri dirinya untuk memberikan jawaban atas doa-doanya. Semua ini terdengar mustahil tapi gumiho itu senang bukan kepalang. Harapan yang telah lama sirna akhirnya kembali datang.
“Ya Dewa tolong bantu aku, sembuhkanlah aku” Ode bersimpuh, medongak pasrah dengan mata bulatnya yang basah. Menyerahkan sisa harga dirinya di bawah kaki sang Dewa.
“Sembuhkan dari apa? Aku tidak melihat dirimu sakit. Apa sebenarnya yang kau inginkan wahai rubah kecil?” Apollo terkekeh kecil. Jemari besar yang hangat menyusup ke sela rambut Ode. Mengusapnya dengan kelembutan, seolah berusaha menjinakkannya.
“Mereka bilang aku sakit karena tak bisa menyukai wanita. Sepanjang hidupku aku hanya menyukai pria. Aku ingin bisa menikah, menjadi manusia seutuhnya dan juga mempunyai keturunan.”
“Kamu tidak sakit. Memang sudah takdirmu hanya tertarik pada pria. Ku yakin Eros juga tidak akan bisa membantumu dengan panah cintanya itu. Aku bisa sembuhkan sakit, bahkan mengutuk bencana wabah adalah hal yang mudah bagiku. Tapi rasa sukamu pada pria bukanlah penyakit. Apa kau tahu aku juga pernah menyukai pria? Jika kemudian aku kembali menyukai wanita bukan berarti aku sembuh. Aku hanya tak membatasi diriku untuk jatuh cinta kepada siapapun, apapun jenisnya.”
Apakah semua makhluk di dunia ini tahu bahwa Dewa juga bisa menyukai sesama? Tentu saja tidak. Atau mungkin hanya Ode yang tidak tahu informasi ini? Tidak semua makhluk pernah bertemu Dewa. Bahkan selama ribuan tahun hidupnya, ini baru pertama kalinya dia menghadap Dewa. Jika saja dia tahu Dewa juga bisa menyukai sesama mungkin doa-doanya tak akan sama. Ode termenung sebentar, mencoba mencerna informasi kompleks yang baru ia dengar.
“Jadi apa kau masih ingin menjadi manusia?” suara Apollo memecah keheningan.
“Memangnya kau bisa mengabulkannya? Kau sendiri yang bilang tak bisa sembuhkan orientasiku ini.” jawab Ode sedikit kesal
“Hmmm mungkin saja aku bisa membantumu, coba beri tahu aku mengapa kamu ingin menjadi manusia?”
Ode menghela napas panjang. Sebenarnya ia malas menjawab pertanyaan itu, karena ia sendiri tak yakin apakah menjadi manusia adalah pilihan terbaik. Namun menjadi gumiho juga bukan hal yang ia syukuri, hidup ribuan tahun terasa seperti kutukan baginya.
“Aku lelah dengan kehidupan yang kujalani. Pada akhirnya, semua pergi meninggalkanku seorang diri. Mungkin memang kehidupan manusia lebih baik daripada gumiho. Setidaknya hidup mereka tidak terlalu lama, karena aku sudah tak sanggup menghabiskan waktu ratusan tahun dalam kesendirian. Puluhan pria telah ku goda untuk kuambil hatinya, namun semua berakhir pupus. Hal itu membuatku semakin haus. Akan cinta dan juga hati manusia untuk ku lahap.”
“Kalau begitu hiduplah bersama denganku”
“Maksudnya?” wajah Ode mengernyit bingung.
Apa maksudnya hidup bersama? Bukankah itu ucapan untuk melamar seseorang? Tapi dia Dewa, apa maksudnya dia mengajak untuk hidup di alam baka? Ode mecoba menafsirkan sendiri apa maksud ucapan Apollo barusan.
“Kau bilang tak mau hidup sendiri. Aku tak bisa mengikatmu dengan pernikahan dan mengubahmu menjadi manusia. Tapi aku bisa memberimu cinta dan hidup bersama denganmu.”
Ucapan Apollo seolah memompa jantungnya untuk berdegup lebih kencang. Ode mencengkaram rambutnya, ia pening mendengar ucapan yang tak masuk diakal. Matanya kemudian menatap Apollo dengan penuh curiga.
“Sebenarnya apa maumu? Mengapa kamu mau bertindak sejauh ini?”
“Aku hanya ingin dirimu bahagia dan berhenti memikirkan kematian.”
Apollo meraih tangan Ode, ibu jarinya mengelus lembut punggung tangan sang rubah. Pandangan mata mereka perlahan bertemu. Kehangatan dari telapak tangan Apollo terasa begitu asing, namun teramat dinantikan oleh tubuh Ode yang dingin berselimut duka. Tanpa aba-aba, sang Dewa menarik pergelangan tangan Ode pelan. Membawa tubuh ramping si rubah ke dalam rengkuhannya.
Ode tersentak, namun ia tidak menolak. Paras cantiknya tenggelam di ceruk leher Apollo, menghirup aroma tubuh sang Dewa yang menenangkan — seperti kayu manis bercampur amber yang pekat, mengingatkannya pada secangkir teh hangat di malam yang dingin. Aroma itu tidak menuntut ataupun menekan, melainkan membungkus tubuhnya bagai selimut tebal yang mengusir seluruh rasa takutnya.
Tangan kokoh Apollo melingkar erat di pinggang Ode, mengurung tubuh submisif itu dalam dekapan yang begitu protektif. Seolah menegaskan bahwa sang Dewa tak akan membiarkan si rubah tergelincir dalam kegelapan lagi.
“Kau boleh menangis sepuasmu. Luapkan semua sedih dan amarah di pundakku” bisik Apollo rendah, mengecup pucuk kepala Ode dengan kelembutan yang mencengkeram.
Pertahanan Ode runtuh total. Ia mencengkeram erat pakaian Apollo, membiarkan sisa air matanya membasahi pundak lebar sang Dewa. Untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun, Ode merasa aman. Terakhir kali ia merasa seperti ini adalah saat kakaknya masih bersamanya. Rasa pasrah yang teramat dalam membuatnya ingin menyerahkan seluruh eksistensinya pada pria yang sedang memeluknya ini.
Merasakan tubuh di dalam dekapannya mulai tenang, Apollo perlahan merenggangkan pelukan. Jemari besarnya menangkup rahang Ode, memaksa wajah elok yang basah itu mendongak untuk kembali menatap sepasang manik emasnya yang mengintimidasi.
Apollo memiringkan kepalanya, mengikis jarak keduanya dengan menautkan bibir. Mata Ode terbelalak saat merasakan bibir tebal Apollo mengecup singkat bibirnya. Tak disangka kecupan singkat membuatnya mabuk, dia ingin lagi. Maka ia condongkan bibirnya untuk membalas mengecup Apollo.
Saat sang Dewa sadar Ode telah memberi sinyal oke, pagutan mereka menjadi semakin dalam. Mereka saling mencoba melumat bibir masing-masing, atas maupun bawah. Ciuman itu tidak tergesa-gesa, namun saling menuntut meminta lebih.
“Buka mulutmu, cantik. Biarkan aku mencicipi rasa sakitmu” perintah Apollo. Suaranya tidak membentak, penuh rayu dengan penekanan dominan.
Ode menatapnya sayu, matanya yang bulat berkedip pasrah sebelum akhirnya ia membuka bibirnya sedikit. Ode melenguh rendah saat lidah hangat Apollo menyusup masuk, mendikte ritme ciuman mereka hingga napas sang rubah memburu kewalahan.
Bersamaan dengan tautan yang kian intens itu, insting gumiho-nya bereaksi. Sesuatu yang hangat dan padat perlahan terdorong naik dari pangkal tenggorokannya. Sebuah kilau cahaya kemerahan samar-samar muncul di antara sela bibir mereka yang menyatu. Kelereng gumiho miliknya — inti dari jiwa dan seluruh kekuatannya — kini mulai bergerak keluar, siap untuk merasuk ke dalam takdir baru bersama sang Dewa Matahari.
메타데이터
- post_id
- c074d558103a
- slug
- the-sunset-arms-c074d558103a
- url
- https://medium.com/@geonbanz/the-sunset-arms-c074d558103a
- canonical_url
- https://medium.com/@geonbanz/the-sunset-arms-c074d558103a
- author_url
- https://medium.com/@geonbanz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13