← Back to list

Ketika Titik Terendah Menjadi Puncak Kekuasaan Firdaus

Perempuan di Titik Nol — Buku tipis yang isinya dicekal berbagai pihak karena kebenarannya.

orion in Booknotations · 2026-07-16 09:30 · 114 claps · 2.4 min read
#novel #booknotations #patriarki #book-review #july
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative 📚 · Books & Reading

Ketika Titik Terendah Menjadi Puncak Firdaus

Perempuan di Titik Nol — buku tipis yang isinya bagaikan bom bagi pihak yang mencekal karena kebenarannya mengenai hal yang terjadi terhadap perempuan.

Cover Buku Perempuan di Titik Nol — Nawal El Saadawi

Cover Buku Perempuan di Titik Nol — Nawal El Saadawi

Jika salah satu anak perempuannya akan mati, Ayah akan menyantap makan malamnya, Ibu akan membasuh kakinya, kemudian akan pergi tidur, seperti yang ia lakukan tiap malam. Apabila yang mati itu seorang anak laki-laki, ia akan memukul ibu, kemudian makan malam dan merebahkan diri untuk tidur.

Begitulah kalimat yang blak-blakan Firdaus gambarkan dalam buku ini. Melalui 210 halaman berjudul Perempuan di Titik Nol, yang ditulis oleh Nawal El Saadawi, seorang aktivis feminis berdarah Mesir, buku ini siap menyentuh pembaca dengan goresan tulisannya yang penuh keberanian tentang kebenaran dalam mengungkap realitas hidup perempuan.

Buku ini dimulai dengan kisah Firdaus yang menceritakan kehidupannya dari balik jeruji Qanatir sembari menunggu eksekusi hukuman mati. Hidupnya berada dalam lingkup rumah yang selalu dirampas. Tidak pernah mendapatkan kebebasan. Firdaus tumbuh dengan mengalami berbagai kekerasan dan ketidakadilan dari figur laki-laki berotoritas seperti ayah, paman, dan suami. Satu hal yang berkaitan adalah laki-laki yang mereduksi suara dan hidupnya. Seolah Firdaus sendiri tidak berhak atas kelangsungan hidupnya.

Setelah membaca buku ini, seolah-olah dibuat merenung sepi oleh sang penulis. Bagaimana sebuah tulisan yang dirilis tahun 1983 mengupas sistem patriarki yang ternyata masih memakan korban, di antaranya perempuan yang selalu tidak punya kontrol atas kehidupannya sendiri, hingga kini masih banyak dijumpai di dekat kita.

Justru laki-laki yang memahami agama itulah yang suka memukul istrinya. Aturan agama mengizinkan untuk melakukan hukuman itu. Seorang istri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya adalah kepatuhan yang sempurna.

Penggalan tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupan ini. Tentang bagaimana laki-laki menggunakan “agama” sebagai senjata ampuh untuk membuat perempuan tunduk. Ayat-ayat yang keluar dari mulutnya pada dasarnya hanya untuk menjustifikasi perbuatan yang berlumur dosa. Menganggap bahwa kepatuhan adalah yang sempurna, bagaimana seharusnya perempuan hanya harus diam dengan apa yang mengikatnya. Ketika ada perempuan yang memberontak, suaranya akan direduksi, entah melalui kekerasan ataupun pelecehan.

Saya dapati bahwa undang-undang menghukum perempuan macam saya, tetapi sebaliknya, undang-undang tidak menghukum apa yang dikerjakan lelaki.

Ketika seorang pelacur dihukum dengan segudang dakwaan, penegak hukum dan dunia seakan buta karena adanya profesi tersebut. Di sinilah saya juga memaknai “titik nol” Firdaus, saat ia kehilangan segalanya yang diupayakan sendiri, tetapi justru menjadi paling bebas dan berkuasa. Hukuman mati yang ia jalani dengan senang hati dan tidak mengindahkan bantuan grasi merupakan bentuk keberanian Firdaus yang mutlak.

Walaupun buku ini terjemahan — diterbitkan oleh Pustaka Obor — ia masih bisa dinikmati dan nyaman dibaca. Dapat dipahami bahwa gaya penulisannya sangat lugas dan tidak bertele-tele dengan narasi sudut pandang pertama yang membuat pembaca seolah-olah sedang duduk mendengarkan Firdaus menceritakan kisahnya di sel.

Buku ini sangat sukses memicu empati dan kemarahan pembaca di setiap sudut mengenai ketidakadilan gender yang tersaji. Isu yang diangkat mengenai realitas perempuan seakan dilucuti oleh penulis secara gamblang. Kisah nyata yang diceritakan melalui kacamata Firdaus masih sering terjadi di berbagai tempat, menandakan ketidakadilan itu terus menghantui hingga kini.

Selain itu, buku ini juga ditulis dengan jujur dalam mengupas isu hak-hak perempuan, perlawanan, kemanusiaan, serta kritik sosial. Ketika membacanya, mungkin kamu akan merasa tidak nyaman, tetapi ketidaknyamanan itulah yang justru seharusnya membuat kita sadar akan realitas hidup perempuan yang selalu ditutup-tutupi.

Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!

[embed]Submission Guideline — Booknotations Panduan mengirim tulisan ke Booknotationsmedium.com


메타데이터
post_id
c083f7c41af4
slug
ketika-titik-terendah-menjadi-puncak-kekuasaan-firdaus-c083f7c41af4
url
https://medium.com/booknotations/ketika-titik-terendah-menjadi-puncak-kekuasaan-firdaus-c083f7c41af4
canonical_url
https://medium.com/booknotations/ketika-titik-terendah-menjadi-puncak-kekuasaan-firdaus-c083f7c41af4
author_url
https://medium.com/@artemisu
status
ok
fetched_at
2026-07-18 07:26:19