Di Balik Setiap Goresan: Perjalanan Anisha Salsabila Menjadi Ilustrator di Era AI
Anisha Salsabila, seorang ilustrator
Di Balik Setiap Goresan: Perjalanan Anisha Salsabila Menjadi Ilustrator di Era AI

Anisha Salsabila, seorang ilustrator
Bagi sebagian orang, menggambar hanyalah sebuah hobi. Namun, bagi Anisha Salsabila, setiap goresan pensil dan sapuan warna merupakan cerminan dari dedikasi, ketekunan, dan kecintaannya terhadap seni. Di balik setiap ilustrasi yang ia ciptakan, tersimpan perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum ia mengenal dunia ilustrasi digital.
Kecintaan Anisha terhadap seni bermula sejak ia duduk di bangku taman kanak-kanak. Setiap hari Sabtu, pelajaran melukis menjadi momen yang paling ia nantikan. Dari kegiatan sederhana itulah tumbuh ketertarikannya terhadap dunia gambar. Sejak kecil, ia memang selalu menyukai berbagai hal yang berkaitan dengan seni dan kreativitas.
Perjalanannya memasuki dunia ilustrasi digital dimulai ketika ia pertama kali memiliki telepon genggam saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sejak saat itu, ia mulai mengenal berbagai media digital untuk menggambar dan secara perlahan mengembangkan kemampuannya melalui latihan yang dilakukan secara mandiri.
Perjalanan tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah mempelajari proporsi tubuh manusia, anatomi, perspektif, hingga lekukan kain agar terlihat alami. Menurutnya, semua kemampuan tersebut tidak dapat dikuasai dalam waktu singkat, melainkan membutuhkan latihan yang konsisten dan kesabaran.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Anisha terbiasa mencari berbagai referensi, mulai dari ilustrasi dua dimensi, model tiga dimensi, hingga foto asli. Baginya, mempelajari referensi merupakan salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kualitas gambar sekaligus memperluas pemahaman mengenai bentuk dan komposisi.
Selain tantangan teknis, Anisha juga pernah mengalami kesulitan dalam membagi waktu. Saat masih bersekolah, ia sering kali tidak mampu menyeimbangkan antara tugas sekolah dan aktivitas menggambar. Akibatnya, ia kerap begadang hingga pola tidurnya menjadi berantakan. Pengalaman itu kemudian menjadi pelajaran berharga baginya untuk belajar mengatur waktu dengan lebih baik.
Dalam proses berkarya, Anisha banyak memperoleh inspirasi dari ilustrator Jepang seperti Mikapikazo, Ramdayo1122, dan Ekureaa. Karya-karya mereka mendorongnya untuk terus berkembang serta menunjukkan bahwa proses belajar sebagai seniman tidak pernah benar-benar berhenti.
Meski telah menghasilkan banyak ilustrasi, Anisha mengaku setiap karya memiliki kesan yang berbeda. Baginya, setiap gambar bukan hanya hasil akhir, melainkan juga bukti dari proses belajar, pengalaman, dan kreativitas yang terus berkembang.

Gambar karya Anisha Salsabila
Ke depan, Anisha memiliki impian besar. Ia ingin menciptakan webcomic miliknya sendiri, membuka booth di Comic Frontier, membangun nama sebagai ilustrator yang dikenal luas, hingga suatu hari membuka kelas menggambar agar dapat berbagi ilmu kepada para calon seniman.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), Anisha memiliki pandangan yang cukup kritis. Menurutnya, AI dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat apabila digunakan sebagai fitur pendukung dalam aplikasi menggambar. Namun, ia membedakan hal tersebut dengan AI yang menghasilkan ilustrasi hanya melalui perintah berupa teks (prompt).
Menurut Anisha, ilustrasi yang dihasilkan melalui prompt tidak menghadirkan proses kreatif sebagaimana karya seorang seniman. Bagi dirinya, nilai sebuah karya justru terletak pada perjalanan pembuatannya, mulai dari membuat sketsa, memperbaiki kesalahan, bereksperimen, hingga menyelesaikan detail demi detail.
Ia juga menyayangkan semakin meluasnya penggunaan gambar hasil AI oleh berbagai perusahaan maupun organisasi. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mengurangi apresiasi terhadap para seniman berbakat yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengasah kemampuan mereka.
Meski mengakui bahwa AI menjadi tantangan baru bagi profesi ilustrator karena mampu menghasilkan gambar dengan cepat dan biaya yang relatif murah, Anisha tetap optimistis bahwa kreativitas manusia tidak akan kehilangan nilainya.
"Tetaplah semangat di era gempuran AI ini, karena tetap sebuah gambar akan lebih berarti dan bermakna, juga terlihat lebih indah dan hidup jika dilakukan dari sebuah coretan kecil dan kesungguhan," ujarnya.
Bagi Anisha Salsabila, ilustrasi bukan sekadar menghasilkan gambar yang indah. Ilustrasi adalah perjalanan panjang yang dipenuhi proses belajar, ekspresi diri, dan upaya mewujudkan imajinasi menjadi sebuah karya yang bermakna. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, ia percaya bahwa kreativitas, ketulusan, dan sentuhan manusia akan selalu menjadi jiwa dari setiap karya seni yang tak terlupakan.
Ditulis oleh: Aiska Rosyada
메타데이터
- post_id
- c0934f9533d3
- slug
- di-balik-setiap-goresan-perjalanan-anisha-salsabila-menjadi-ilustrator-di-era-ai-c0934f9533d3
- url
- https://medium.com/@rosya1306/di-balik-setiap-goresan-perjalanan-anisha-salsabila-menjadi-ilustrator-di-era-ai-c0934f9533d3
- canonical_url
- https://medium.com/@rosya1306/di-balik-setiap-goresan-perjalanan-anisha-salsabila-menjadi-ilustrator-di-era-ai-c0934f9533d3
- author_url
- https://medium.com/@rosya1306
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-09 02:35:58