Melamar Kerja & Melamar Cerita
#NonFiksi50
Melamar Kerja & Melamar Cerita
NonFiksi50
Photo by Daniel Schludi on Unsplash
Tulisan kali ini datang dari cerita saat melamar kerja. Bagi seorang penulis — melamar kerja bukan hanya sekedar melamar, tapi memberi kisah dan membuktikan naskah. Sudah 6+ bulan aku belum mendapatkan pekerjaan. Ada banyak sekali proses yang menyenangkan sekaligus tidak menyenangkan, diberi harapan dan memberi harapan, mengusahakan dan diusahakan, mencari dan dicari, menemukan dan ditemukan.
Ada masa ketika aku tidak mampu tersenyum bahkan saat aku harus bertanggung jawab untuk bangun. 3 bulan setelah memutuskan untuk mundur dari kantor, aku sempat merasa frustasi. Kehilangan cahaya di mata, kehilangan minat, kehilangan semangat dan kehilangan jati diri. Semua identitas itu diambil alih oleh hidup, sampai aku benar-benar menyerahkan semuanya pada Tuhan.
Suatu hari, rasa kecewa yang muncul pada hidup ini teramat besar. Dan aku tidak bisa menampungnya lagi dengan rasa syukur dan penerimaan. Aku hanya bisa merasakan marah dan kecewa, jantungku terasa nyeri dan sakit.
Apa yang aku hadapi saat itu adalah kumpulan rasa marah yang aku anggap tidak apa-apa selama bertahun-tahun. Takdir yang membolak-balik keinginan dan kebutuhan. Harapan yang bolak-balik di bangun dan kembali putus. Serta rasa percaya diri yang susah payah dibangun namun kembali gugur.
Sebuah fakta menyedihkan tentang nasib para pekerja muda di tengah situasi yang tidak stabil dan penuh konflik. Pada akhirnya, kalimat motivasi yang mengatakan habiskan jatah gagal selagi masih muda tidak perlu dipaksa. Ada banyak generasi muda yang merasa gagal di tengah banyak usaha yang mereka bangun. Entah bekerja di 2–3 tempat, menjadi mahasiswa bingung, menjadi pengusaha dan pedagang bahkan sampai kerja apa saja yang penting baik dan halal. Sektor informal semakin banyak tumbuh ditengah ketidakpastian industri. Bertahan hidup bukan karena kita malas mengusahakan, tapi kita memang diberi sangat sedikit pilihan.
Selayaknya fase di dalam hidup yang naik turun, aku juga tidak ingin diam saja. Meskipun rasanya ingin menyerah, jauh di dalam hati aku selalu berusaha. Menempatkan diriku pada momen dan waktu yang ada untuk kembali memperbaiki diri dan menjalani hidup yang aku pilih.
Lahir dari keluarga pedagang, membuatku benar-benar merasakan kebebasan. Saat ruang kantor dan pekerjaan seringkali membatasi pergerakan, berdagang memberikan kebebasan yang lebih melegakan. Tidak ada politik kantor, tidak ada intrik antar rekan kerja, atau orang-orang yang menghalangi jalan kita.
Menjadi pedagang secara mandiri — keluargaku mengajarkan betapa sederhananya hidup. Menyerahkan segala urusan pada Tuhan, mengusahakannya setiap hari dan menerima hasilnya tanpa memaksakan diri.
Dari sini sudut pandangku soal bekerja sedikit berbeda. Daripada mengejar karir dan jabatan, bagiku bekerja adalah belajar. Jadi kalau hidup memberiku pengalaman pahit saat bekerja, aku cukup mengerti bagaimana alurnya dan bagaimana aku harus menyikapinya.
Sudut pandang ini mengingatkanku pada pengalaman terakhir saat melakukan proses wawancara. Setelah 6+ bulan melewati berbagai proses rekrutmen, dari berbagai kota, dari berbagai industri dan dari berbagai sumber — akhirnya aku mendapatkan kesempatan bekerja.
Tanpa ada kontrak dan hanya bermodalkan perjanjian lisan, aku mulai bekerja. Entah kenapa pada saat wawancara, bibirku tidak bisa menanyakan soal kontrak. Aku pikir, “Ahh dicoba saja dulu. Lagipula bekerja itukan soal kedua belah pihak, kalau aku tidak cocok aku bisa mengundurkan diri.”
Intuisi memang tidak pernah salah. Aku sudah merasakan hal aneh sejak awal. Mulai dari bahasa tubuh yang mencurigakan, tidak ada perjanjian tertulis, sampai karyawan yang terlihat tertekan. Dan pada saat hari pertama bekerja, semakin terlihat jelas bahwa ada yang tidak beres. Mulai dari tingkat turnover yang tinggi, tidak ada jaminan kesehatan, karyawan yang terkena potong gaji dan banyak hal tidak etis lain.
Tidak membutuhkan waktu lama bagiku untuk memutuskan mengundurkan diri. Selain karena aku tidak ingin melanjutkan bekerja tanpa perjanjian, perjalanan menuju kantor juga memakan waktu 1.5 jam dengan kendaraan umum. Rasa frustasi ini semakin tertanam dalam, tapi disisi lain aku menyadari bahwa sangat banyak perusahaan yang menerapkan aturan serupa. Pekerjaan formal tanpa surat formal, tanpa jaminan kesehatan, bahkan tanpa gaji yang bisa disebut layak — terasa bagaikan perbudakan modern yang diselimuti sistem dan aturan. Fakta yang sangat menyakitkan dan miris, menciptakan banyak angka pengangguran sekaligus pekerja informal lainnya.
Lalu saat aku bercerita kepada teman, orang tua dan rekan. Semuanya menyayangkan kenapa aku harus kembali mundur setelah berbulan-bulan tanpa panggilan. Alasannya adalah “memutus rantai”. Sejak awal pertama kali punya pengalaman bekerja sebagai siswa PKL (Praktek Kerja Lapangan), aku sering bertemu dengan atasan yang tidak bisa menghargai dan angkuh. Dalam banyak aspek, aku sudah hampir melakukan improvisasi agar bisa diterima dengan baik — meskipun hasilnya tidak selalu diapresiasi.
Dewasa ini, aku menyadari ada banyak sekali pengalaman buruk yang terkumpul. Dan pengalaman ini yang ingin aku regenerasi — agar hilang dan diganti pengalaman baru.
Mengingat bahwa keluargaku adalah pedagang, aku menyadari bahwa mungkin aku bisa mencoba berdagang. Dan pemikiran ini mengingatkanku pada masa kecil dulu, saat aku menjual gantungan kunci hasil kerajinan tanganku sendiri. Dari sana, seorang teman mengajukan kepada guru supaya membuat gantungan kunci yang sama persis seperti yang aku buat untuk tugas kerajinan tangan. Pun saat masih SMK dulu, hasil karyaku dibeli habis oleh kepala sekolah. Menambah daftar kecil yang menjadi sumber uang dan kebahagiaanku saat itu. Setelah dipikir-pikir kenapa aku tidak kembali ke sana ya?
Dan aku pun teringat akan seseorang kenalan yang lama ingin kutemui namun belum juga terealisasi. Dia seorang pemilik usaha pakaian muslimah yang aku kenal lewat sebuah workshop. Aku mengajukan untuk bertemu dengan niat ingin bercerita keluh kesah sekaligus diskusi.
Namun tidak disangka, jika diskusi itu justru menggiring pada permintaan bantuan dan kerja sama. Doi yang sudah sibuk dengan urusan pekerjaan barunya meminta bantuan untuk mengurus beberapa tugas yang terabaikan. Mendengar bahwa aku sedang belajar kembali menggali bakat gambar yang sudah lama aku tinggalkan, ia juga memintaku untuk riset soal pola-pola unik khas daerah untuk digambarkan secara manual.
Obrolan itu sempat membuatku merasa terharu, setidaknya tawaran tersebut berhasil membuka pintu yang selama ini tidak tahu kuncinya ada dimana. Selagi kembali belajar dan membangun portofolio lagi dan mengubah strategi melamar kerja. Aku berharap energi baik ini bisa menjadi bahan bakar agar aku bisa kembali melihat tujuan dan peluang dengan mata dan hati terbuka.
Sejak dulu aku adalah tipe orang yang tergerak lewat energi dari dalam. Seseorang yang harus memahami pola, arah dan alasan mengapa ia memilih sebuah jalur. Jika energi itu datang dari luar, biasanya aku akan kesulitan menyelaraskan. Tapi jika energi itu bergerak dari dalam, rasanya segala hal menjadi mudah dan ringan.
Jika memang jalur yang aku pilih adalah berdagang hasil karya, Tuhan pasti membuka jalan agar dipermudah. Selagi mengumpulkan modal finansial untuk mulai perlahan, aku masih akan terus melamar pekerjaan. Sekaligus menyisakan waktu untuk kembali konsisten belajar ilustrasi.
Disisi lain aku masih punya harapan untuk kembali melanjutkan studi ke pulau Jawa. Selagi belajar menemukan titik tengahnya, aku ingin terus berkarya agar bisa melanjutkan pendidikan. Tidak tahu jalan mana yang akan Tuhan berikan, tapi seperti lirik Rayuan Perempuan Gila — namun demi Tuhan aku berusaha. Aku yang hampir gila sedikit ini, juga berusaha sebaik yang aku bisa.
Dan untuk teman-teman diluar sana yang juga sedang berjuang. Aku berharap kita tetap berusaha dan berdiri tegak, ya. Tidak perlu dengarkan orang-orang yang berkata kita kurang pintar, kurang berusaha, kurang cerdas, kurang tahan banting, kurang jago dan lain-lain. Fokus pada kelebihanmu saja dan bagaimana caranya agar terus memperbaiki diri.
Aku menulis ini di hari Minggu, saat orang libur bekerja aku masih berkutat dan berusaha dari balik layar laptopku. Aku sedang berusaha memutus rantai dan menggantinya dengan yang baru. Sebagai orang pertama di keluarga yang mengambil jalur kreatif dan seni, sekaligus perempuan pertama yang bercita-cita untuk sekolah tinggi. Tentu apa yang aku usahakan tidak mudah, tapi mari kita pecahkan kodenya. Mari kita buka pintu gerbang yang selama ini belum didekati siapapun. Biarkan kita menjadi anomali, selagi anomali itu tidak merugikan dan membuat kerusakan bagi orang lain.
Biar Tuhan saja yang menjadi pendengar dan saksi baik bagi kita. Supaya kita percaya bahwa meskipun rasanya sunyi tanpa jawaban, tapi suatu hari kesempatan itu akan datang.
Lebih baik mengusahakan jalan hidup yang kita pilih lalu gagal, daripada menyesal karena tidak mengusahakan sama sekali.
Dari aku yang sudah melewati lintas jurusan — farmasi, ekonomi dan pemasaran — untuk kembali ke bakat asli dan keinginan yang menumbuhkan hasrat untuk bergerak, yaitu seni.
Semoga kamu juga menemukan apa yang membuatmu merasa hidup dan tumbuh!
메타데이터
- post_id
- c099fde83837
- slug
- melamar-kerja-melamar-cerita-c099fde83837
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/melamar-kerja-melamar-cerita-c099fde83837
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/melamar-kerja-melamar-cerita-c099fde83837
- author_url
- https://medium.com/@maremiaazani
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 20:10:33