← Back to list

Hardcore Is For Everyone

It’s not just a statement, it’s a call for war.

Arfan Wiantara · 2025-07-18 22:17 · 0 claps · 5.9 min read
#hardcore #skena #punk
Open on Medium ↗

Hardcore Is For Everyone

Terkadang di malam hari, pikiran gua membawa gua kembali ke 2021; tahun dimana gua mulai terjun ke dunia “skena”. Jelas gua nggak langsung dateng dengan celana gombrong, sepatu Samba, rambut cepak bondol dan kaos band dengan pendengar yang bahkan belom nyentuh 1000 di Spotify. Gua orang awam, dan gua datang untuk belajar.

Gua masih ingat dengan jelas bagaimana temen kost-an gua ngenalin Turnstile. Band yang baru ngerilis album “Glow On” saat itu jadi band yang membawa gua main ke skena-skenaan. Gua mulai ngikutin musiknya, gua ngikutin fashion-nya, gua ngikutin pergerakan culture-nya.

Tapi yang paling penting: gua mempelajari ideologinya.

Skena musik di bawah payung aliran Punk akan selalu menjadi rumah gua untuk menemukan sesuatu yang baru. Nggak cuma ngikutin Turnstile dan Knocked Loose yang berhasil menembus arus utama, ada banyak banget band yang akhirnya ngebikin gua semakin jatuh cinta sama sub-culture ini.

Pikiran gua kemudian kembali ke 2023: tahun dimana gua fully commited untuk mengulik skena hardcore/punk. Kerasnya “Zeitgeist” karya Incendiary yang keputer dari smart-shuffle gua masih bisa gua rasain. Teriakan “Vivo Para Mi, Y Nadie Mas” oleh Sebastian Paba pas Regulate main sama No Pressure di Jakarta masih terngiang-ngiang di kepala gua. Bahkan gua masih suka merinding ketika dengerin “My Rules” karya Buggin yang menyuarakan kebebasan berekspresi.

Incendiary, Regulate, dan Buggin.

Ketiga band itu ternyata juga punya impact besar dalam gimana gua memandang hidup. Incendiary terkenal dengan liriknya yang membahas isu sosio-politikal. Regulate juga sangat vokal dalam menyuarakan hak untuk kaum Indian yang tertindas di Amerika. Buggin dipimpin oleh perempuan bernama Bryanna Bennett di lini sebagai representasi kalau perempuan juga bisa menjadi bagian dari hardcore-punk.

Eh, ada yang ketinggalan: One Step Closer.

Pertama kali gua ngulik genre melodic hardcore, One Step Closer adalah band yang membawa gua into ke skena musik itu, berbarengan sama Counterparts.

What a band”, pikir gua saat pertama kali nemuin mereka.

Tapi nggak cuma karena lagunya. Gua amazed dengan bagaimana mereka menggunakan simbol X untuk menunjukkan kalau mereka itu Straight Edge. Mereka adalah bagian dari sub-culture yang berusaha untuk mempromosikan hidup sehat tanpa alkohol, rokok, dan narkoba. That’s so fucking cool.

(P.S. Gua tau bukan mereka yang pertama kali menyuarakan ini, oke?)

Tapi selain itu, ada satu hal yang juga menarik perhatian gua. Ketika gua mencari merchandise dari band ini, gua menemukan satu artikel yang memperkuat pandangan gua. Bukan karena desain yang over the top, bukan karena tulisan yang menggugah, tapi simbol pelangi.

Yap, One Step Closer menempatkan diri sebagai ally dari kaum LGBTQ+.

Perlahan gua terus mempelajari hardcore-punk secara ideologinya. Kita pasti tau kalau skena punk berangkat dari kegelisahan sekelompok orang terhadap banyaknya penindasan dan ketidakadilan yang terjadi. Mereka hadir untuk melawan itu semua.

Punk juga bukan skena yang eksklusif. Mereka akan selalu merangkul orang-orang yang ingin menjadi bagian dari pergerakan mereka. Nggak peduli siapa mereka, dari mana mereka berasal, atau latar belakang yang mereka miliki.

Hardcore-punk kemudian hadir sebagai bentuk evolusi dari skena punk yang ternilai mulai kehilangan maknanya. Mereka tetap melawan. Namun, kali ini banyak juga yang bergerak untuk memperkenalkan hidup sehat melawan stigma punk yang ternilai kotor.

Memang keduanya punya perbedaan. Akan tetapi, mereka tetap bergerak dengan satu pesan:

Punk atau Hardcore-Punk adalah skena yang inklusif.

Semakin gua menyelam ke dalam skena ini, ada banyak hal yang udah gua discover. Hardcore-punk bukan sekedar keren-kerenan, mereka juga membawa pesan. Hardcore-punk bukan cuma tentang moshing, tapi juga tentang ruang aman untuk semua orang.

Hardcore-punk bukan cuma tentang musik. Mereka adalah pandangan hidup dan cara lu menilai kehidupan itu sendiri.

….Or so I thought.

Tahun 2024 kemarin, gua diberi kesempatan untuk kerja menggantikan pacar gua di acara gigs kampus. Ada satu band Hardcore yang main di acara itu, dan perhatian gua langsung tertuju ke mereka. They’re maybe not the best on playing, but hey, this is Hardcore.

Gua ikutan nyanyi pas mereka bawain lagu dari Straight Answer. Gua pengen turun ke pit ketika ngeliat banyaknya orang yang moshing disana. I want to be a part of the energy.

But then, they did the stupidest thing I could ever imagine.

“Lagu terakhir ini karya kita sendiri, dan lagu ini berisikan tentang kebencian kami terhadap kaum LGBT” ucap sang vokalis.

“Kita menerima semua bentuk perbedaan, tapi bukan yang ini.” sambung personil lainnya.

Wait, what the fuck?

Bukannya Hardcore — or even skena in general harusnya jadi ruang untuk menampung segala perbedaan?

Gua memilih untuk mendekatkan diri ke skena Hardcore-punk bukan karena musiknya doang. Mungkin gua bisa dibilang poser karena katalog band di playlist gua juga nggak sebanyak itu. Gua dateng ke skena ini karena gua akhirnya menemukan ruang lingkup untuk menyuarakan keadilan sosial untuk sesama lewat aliran musik yang gua suka.

Tapi ngeliat mereka mainin lagunya setelah statement itu, pandangan gua berubah dari “This is Hardcore” ke “This is fucking shit”.

Posisi gua sebagai ally dari LGBTQ+ juga nggak hadir dari pertama kali gua terlahir ke dunia. Mungkin dulu gua ignorant banget, gak pernah mempedulikan keberagaman seksualitas. Satu-satunya kepercayaan yang gua pegang adalah ‘siapapun elu dan background apapun yang lu punya, kalian nggak pantas untuk ditindas.’

(Well, except the zionists. Fuck them.)

Gua bukan bagian dari LGBTQ+. Pengetahuan gua tentang LGBTQ+ juga cetek, cetek banget. Tapi pengetahuan gua yang dangkal nggak mendorong gua untuk ikut merendahkan mereka. Semua orang punya hak untuk hidup tanpa penindasan dan diskriminasi.

This is what I think Hardcore-Punk is all about. This is the value that I’m holding onto even before making moves in this scene.

Hardcore-Punk adalah pandangan hidup yang membawa kita melawan ketidakadilan. Hardcore-Punk tidak akan menilai latar belakang dari siapapun. Semua orang punya hak untuk melawan penindasan dan memiliki ruang aman di dalam lingkup ini.

Tapi liat sekarang. Apakah banyak anak-anak Hardcore yang vokal dengan hal ini? Apakah masih banyak anak-anak Hardcore yang menjunjung nilai ini?

Atau simpelnya: apakah mereka peduli?

Asas nilai utama Hardcore-Punk sekarang makin terlihat abu-abu di mata gua. Terlalu banyak orang yang ngikutin kultur ini untuk keren-kerenan. Terlalu banyak orang yang dateng ke gigs cuma untuk moshing dan nyakitin orang lain.

Skena Hardcore Indonesia sekarang yang gua liat udah jadi ruang untuk nunjukkin kalo lu adalah orang paling macho dan membawa pesan yang gak punya makna. Ketika Hardcore-Punk lahir untuk melawan penindasan, sekarang malah ada banyak yang menindas balik orang lain di sub-culture ini.

Apa sekarang acara Hardcore itu cuma tentang moshing dan ajang untuk nyiksa orang? Apa sekarang Hardcore itu cuma tentang pakaian gombrong-nyentrik dan sepatu Nike TN yang nyala-nyala? Apa sekarang Hardcore cuma punya makna sebagai gaya hidup, bukan pandangan hidup?

Ini emang gua yang salah kajian, atau eranya sekarang udah berubah?

Bukan kejadian diskriminasi terhadap LGBTQ+ di gigs itu doang yang ngebuka pandangan gua. Kejadian di Ambarawa saat personil Jupz HC memulai pengeroyokan ke salah satu penonton adalah bukti nyata yang terekspos ke ranah skena nasional. Kejadian Cimeng, candy girl dari band Defective, yang seenak jidat nendangin penonton yang ada di depan panggung juga memperlihatkan bahwa salah satu front-runner di skena musik Hardcore Indonesia juga berperan dalam pergeseran moral.

Mosh pit bukan ruang untuk kita saling baku hantam. Mosh pit bukan tempat untuk pukul-pukulan. Esensi utama dari mosh pit adalah pelepasan energi dan amarah yang dipendam selagi kita menikmati lagu yang dimainkan. Sekalipun kita kepukul dan ketendang, badan orang melayang di atas kepala kita, kita semua tetap harus membangun ruang aman dan ruang itu ada untuk kita semua yang hadir dalam keberagaman.

Simpelnya: Moshing itu bukan tentang nyakitin orang lain, tapi gimana kita bisa menemukan kesenangan meski itu bisa nyakitin diri kita sendiri.

Ada yang jatoh, ya tolongin. Ada yang nggak suka kena crowd kill, ya minta maaf. Ada yang kenapa-napa, langsung amanin.

Udah terlalu banyak anomali yang moshing cuma untuk direkam dan kemudian di-upload ke TikTok pake sound jedag-jedug, hoping for an FYP. Udah terlalu banyak kejadian orang moshing tapi tiba-tiba ngajak ribut orang pas dia nggak sengaja kena pukul. Udah terlalu banyak crowd-killer yang ngelayangin tangan dan kakinya sesuka hati ke orang lain, tapi malah ngambek ketika dipukul balik atau balik ngatain “najis, HC kok baperan?”.

Udah terlalu banyak kejadian yang menunjukkan hilangnya keragaman dan pembentukan ruang aman untuk sesama.

Yang paling penting: udah terlalu banyak penyimpangan dari nilai dan makna utama yang dijunjung oleh skena hardcore-punk.

Fuck all that. Fuck y’all homophobic bastards. Fuck y’all sexist scums. Fuck y’all attention seeking motherfuckers who think you’re the fucking G’s.

If you think that hardcore is all about being the toughest of the lot, fuck you.

“Hardcore is for everyone.”

It’s not just a slogan, it’s a message. It’s not just a title, it’s a depiction of a belief. It’s not just a statement, It’s a call for war.

Udah waktunya buat orang-orang yang masih menjunjung nilai-nilai ini untuk memulai langkah menuju perubahan. Udah waktunya kita kembali membawa kesetaraan di dalam keberagaman serta ruang aman untuk sesama.

So are you going to join the fight for it, or are you going to keep being silent about it?


메타데이터
post_id
c09e4b42b504
slug
hardcore-is-for-everyone-c09e4b42b504
url
https://medium.com/@arfanw/hardcore-is-for-everyone-c09e4b42b504
canonical_url
https://medium.com/@arfanw/hardcore-is-for-everyone-c09e4b42b504
author_url
https://medium.com/@arfanw
status
ok
fetched_at
2026-07-18 21:36:33