← Back to list

Panggung Yang Menyusup Ke Penonton: Catatan dari Pentas “Sobrat”

Adegan dibuka dengan beramai-ramai para aktor menarik satu-dua penonton ikut ke dalam panggung di sayap kanan sisi depan dan menampilkan…

Kangud · 2026-04-28 01:57 · 10 claps · 4.4 min read
#essay #theatre #art #performance #reflections
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing CUL · Culture & Media ✍️ · Writing & Creative

Panggung Yang Menyusup Ke Penonton: Catatan dari Pentas “Sobrat”

Adegan dibuka dengan beramai-ramai para aktor menarik satu-dua penonton ikut ke dalam panggung di sayap kanan sisi depan dan menampilkan gambaran tongkrongan perjudian. Para aktor lalu nge-freeze dan di momen inilah Sobrat bermonolog, menceritakan pengalaman hidupnya secara singkat: mulai dari keinginannya untuk mencari kekayaan dengan menjadi kuli tambang di pulau seberang, lalu terjebak dalam siklus perjudian, dan kegelisahannya betapa jauh ia dari ajaran agama yang selama ini dilakoni dan nasihat berulang dari Mimi.

Begitulah pembuka dari pentas keliling “Sobrat” yang dibawakan oleh Teater 28 Universitas Siliwangi pada Minggu, 26 April 2026 di Semarang. Ini adalah kota ketiga dari empat kota tujuan pementasan, setelah di Tasikmalaya sendiri, Garut, Semarang dan selanjutnya, yang terakhir, Madura.

Menonton pementasan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga, setidaknya untuk saya sendiri selaku pegiat teater. Banyak sekali pembelajaran yang bisa diambil, baik dari segi konsep pertunjukan maupun isi pesan yang dibawa dalam pementasan.

Penampilan yang disuguhkan sangat memanjakan mata dan menggetarkan hati. Para aktor berhasil menyampaikan pesan dari naskah “Sobrat” dengan baik. Mulai dari ketubuhan, ekspresi wajah, power vocal, hingga bobot emosional yang terkandung dalam dialog. Secara keseluruhan, mereka semua tampil dengan memesona. Meskipun ada beberapa mistake kecil, seperti tempo dan kejelasan artikulasi pengucapan yang sedikit belibet.

Konsep setting artistik panggung juga tampak sangat sederhana, yaitu bambu yang disusun panggung bertingkat kanan-kiri dengan jembatan di tengah sebagai penghubung. Walaupun sederhana, ia difungsikan dengan begitu fleksibel. Dalam suatu babak, setting panggung menjadi Kampung Lisung, tempat Sobrat berasal. Di adegan lain, ia berubah menjadi arena tarung Dogong, semacam gulat tradisional ala Sunda. Yang paling sering, setting digunakan sebagai latar tempat menambang, karena adegan paling banyak berkisah di area penambangan tempat Sobrat dan kawan-kawan sekampungnya bekerja. Dan, yang paling mengagetkan, juga ikonik, ketika setting panggung ini beralih menjadi kapal laut yang mengangkut Sobrat juga kawan-kawannya dari kampung menuju tempat kerja penambangan di pulau seberang. Jadi, ia diubah fungsinya menjadi bermacam-macam secara simbolis. Tetapi, setiap pergantian fungsi tersebut bisa dibawakan dengan apik dan ngena secara emosional dalam pertunjukan.

Konsep panggung yang dipakai dalam pementasan ini begitu luwes. Adalah pengalaman pertama bagi saya melihat konsep pemanggungan semacam ini. Adegan tidak hanya berkutat di area panggung depan, tetapi sesekali berpindah ke sayap kanan dan juga kiri bagian depan. Para aktor tiba-tiba masuk melalui pintu masuk penonton. Ada juga adegan di mana aktor memang ditempatkan di tengah-tengah penonton, lalu tampil ke panggung dari sana. Kebetulannya adalah saya duduk tepat di samping para aktor tersebut. Ketika lampu menyorot mereka dan tiba-tiba mereka berdiri, saya dibuat begitu terkejut dan langsung menyingkir supaya tidak mengganggu adegan pertunjukan.

Saya sempat menyampaikan apresiasi perihal konsep panggung ini dalam sesi sarasehan setelah pertunjukkan. Sutradara menanggapi dengan baik dan penuh hormat penyampaian saya. Ia menjelaskan bahwa konsep panggung yang dipakai dalam pementasan ini menggunakan konsep “tapal kuda” atau letter U. Konsep panggung selalu diselaraskan dengan gedung pementasan. Pada pementasan di kota-kota sebelumnya, karena konsep gedungnya berbeda maka konsep panggung juga berbeda, yang dipakai adalah konsep panggung Arena.

Dalam suatu pementasan, bukan hanya aktor yang berperan penting dalam menyajikan adegan. Tetapi lighting, atau penata lampu juga sangat berperan. Itulah yang ditunjukkan dalam pementasan “Sobrat” ini. Lighting bermain dengan begitu mewah. Apalagi dengan konsep panggung yang begitu luwes tadi, banyak tempat yang menjadi area panggung, tentu lighting harus bekerja dengan maksimal.

Barangkali yang paling sensasional dari pementasan ini secara subjektif ada di beberapa adegan. Saya mencatat ada tiga. Pertama, ketika bagian mimpi Sobrat. Lampu dibuat biru deep dengan aktor-aktor menampilkan koreografi sederhana: berjalan di panggung depan dan menaiki setting. Sensasi mimpi sedikit mistis berhasil tersampaikan di sini. Kedua, tentu saja adegan Sobrat bercinta dengan Salma. Saya sama sekali tidak menyangka akan mendapati adegan yang bergitu erotis di suatu panggung teater. Dengan lampu merah yang ramah mengiringi, kemudian berganti ungu tepat ketika adegan bercinta itu tiba. Yang ketiga, dan yang paling mewah adalah pada adegan munculnya Nyi Silbi Genderuwi dan momen Sobrat dihidupkan kembali dari dalam sumur tempatnya mati. Apa yang ditampilkan sungguh sangat memukau, bahkan teman saya berkata “seperti menonton di film”. Lampu begitu merah, dan kemunculan Nyi Silbi ditandai dengan koreografi ramai juga mewah. Kain besar terbentang dari kiri ke kanan, bergoyang-goyang seolah tertiup angin. Lampu kemudian berkedip-kedip, merah-gelap begitu seterusnya hingga Nyi Silbi masuk ke dalam panggung. Nuansa horor dan mistis di adegan ini sangat terasa. Lalu Sobrat dihidupkan kembali dari kematiannya, muncul dari dalam sumur dengan menegangkan.

Secara keseluruhan, pementasan ini sangat dan sangatlah memukau, gokil dan spektakuler. Ia langsung menempati urutan pertama pementasan terbaik yang pernah saya tonton sejauh ini. Para aktor, setting, lighting dan juga musik yang ditampilkan sangat baik. Pertunjukan ini berlangsung kurang lebih sekitar 1 jam 45 menit, waktu yang sangat panjang dan bisa jadi membosankan. Tetapi karena dibawakan dengan sangat apik, para penonton tetap betah sampai akhir pertunjukan.

Memang, secara keseluruhan sangatlah bagus. Saya dibuat sangat betah menonton dalam jangka waktu selama itu. Hampir tidak ada kebosanan sepanjang pementasan. Kecuali dalam satu adegan. Saya menyampaikan hal ini dalam sesi sarasehan. Setelah menyampaikan apresiasi secukupnya sebagai perwakilan dari Teater Terjal yang sudah diundang — barangkali malah perwakilan Jogja, karena tak ada lagi sanggar lain dari Jogja yang datang, saya menanyakan mengapa pada adegan “ini” terasa sangat flat dan membosankan. Tepatnya, pada adegan ketika Sobrat berdialog intens dengan Bromocorah. Dialog hanya terjadi antar dua aktor tersebut. Tapi leveling yang dipakai malah level bawah, sehingga penonton bagian belakang — kebetulan saya termasuk — tidak bisa melihat apa-apa yang sedang ditampilkan. Tensi adegan juga sangat menurun, mengingat pada adegan-adegan sebelumnya kita semua dihibur dengan dialog dan detail-detail kecil dari para kuli dan aktor figuran yang bikin ketawa pecah.

Sutradara menanggapi dengan penuh rispek. Ia berkata bahwa dirinya lebih senang dengan tanggapan yang memicu dialog dan diskusi semacam ini dibandingkan apresiasi penuh puja-puji. (Para penanggap dari sanggar-sanggar Semarang sebelumnya memang hanya memberi apresiasi dan pujian saja). Ia lalu memberikan pertanggungjawaban dengan penjelasan: dalam suatu pementasan, ada yang namanya gimmick, suspend, dan spectacle. Setelah dipenuhi dengan gimmick yang membuat penonton pecah ketawa yang fungsinya adalah agar penonton tetap betah, perlu juga diberi suspend di mana suatu adegan berjalan terasa flat, datar dan barangkali tensi menurun. Tak mungkin penonton dibuat terus terhibur. Suspend inilah yang menjadi jembatan untuk spectacle, agar bisa menjadi puncak adegan spektakuler. Analoginya, kita tak mungkin merasa bahagia kalau tak pernah merasa sedih. Jadi, suspend ini dibutuhkan agar spectacle menjadi mewah dan istimewa. Kalau penonton dibuat terhibur terus dan selalu pecah sejak awal sampai akhir, maka nanti bagian spectacle akan terasa menjadi biasa-biasa saja.

Begitulah, pertunjukan Sobrat yang dipentaskan oleh Teater 28 membawa begitu banyak pembelajaran dan literasi. Baik untuk saya pribadi, sanggar-sanggar teater lain, maupun penonton secara umum. Ia menyajikan pengalaman yang begitu tak biasa dan membuatnya tetap terkenang bahkan setelah pementasan usai.

Barangkali benar, bahwa pertunjukan yang baik adalah yang tak pernah selesai bahkan setelah tirai tertutup dan lampu padam.

Yogyakarta, 28 April 2026 / 08.45


메타데이터
post_id
c0a7e0322f8a
slug
panggung-yang-menyusup-ke-penonton-catatan-dari-pentas-sobrat-c0a7e0322f8a
url
https://medium.com/@kangud42/panggung-yang-menyusup-ke-penonton-catatan-dari-pentas-sobrat-c0a7e0322f8a
canonical_url
https://medium.com/@kangud42/panggung-yang-menyusup-ke-penonton-catatan-dari-pentas-sobrat-c0a7e0322f8a
author_url
https://medium.com/@kangud42
status
ok
fetched_at
2026-06-22 05:41:33