Jati Diri Romanggwandi
LAUT DAN LANGIT DI ALAM SUKU BYAK
Jati Diri Romanggwandi
LAUT DAN LANGIT DI ALAM SUKU BYAK
Pengolahan alam sepantasnya tidak dilakukan semena-mena sesuai kehendak manusia semata. Alam diharmonisasikan dengan pertanda alam untuk bertemu dalam siklus sejatinya. Di dalam diri manusia-manusia adat, sinkronisasi antara dirinya dengan alam bukan lagi sekadar sebuah aktivitas ekonomi, melainkan juga aktivitas ekologis, menyatu dalam ruang kesadaran ekosofi, yang memadukan pengetahuan dari hasil observasi yang tak sebentar, spiritualitas dan rahsa (sense) yang bergelora dalam diri manusia sebagai wujud penyatuan dirinya dengan alam semesta.

Pengenalan atas konsep waktu telah mengiringi sejarah peradaban manusia. Sejak lampau, peristiwa di langit menjadi penanda bagi manusia di bumi untuk memindai pergantian waktu. Manusia modern hari ini leluasa dengan segala perlengkapan digital untuk mengetahui waktu. Sementara di dalam ruang-ruang masyarakat adat masih melestarikan penanda alam sebagai bahasa waktu.
Sulit untuk mencari tahu sejak kapan persisnya masyarakat adat mulai mengaplikasikan pengetahuan tradisional dalam memindai langit. Panjangnya rentang waktu, tumpukan demi tumpukan interaksi yang melahirkan peradaban demi peradaban, hadirnya elemen-elemen baru dalam kebudayaan itu, membuat jalan menuju akar pengetahuan banyak terpotong. Terlebih lagi, tradisi lisan dan pendokumentasian secara materi bukan pilihan utama para manusia kuno dalam mewariskan pengetahuan.
Di banyak suku Nusantara, transformasi pengetahuan hanya bisa dijalankan melalui proses laku guna yang berdaya guna. Alih-alih sejumput literasi yang bisa diunduh secara bebas, manusia adat menjalin pengetahuan yang nyawiji dengan laku, menandakan tingginya akal pekerti dan daya nalar manusia era itu. Laku proses mensyaratkan keutuhan raga, jiwa dan sukma pemegang pengetahuan. Dengan begitu, pengetahuan manjing menyublim dalam vesel penerimanya.
Di langit yang dulu yang sangat minim polusi cahaya, tanpa terhijab emisi karbon, tabur bintang dan planet yang melintas sesuai waktu orbitnya menjadi pemandangan yang menakjubkan di bawah langit. Bintang yang berkelip, ada yang berwarna biru, ada semburat oranye atau putih, galaksi Bima Sakti bak semburat susu melukisi langit, fenomena -fenomena tak terduga seperti hujan meteor, gerhana, tiba dengan mengagetkan.
Tanpa kuasa menggerakkan, manusia-pengamat langit kuno menjadi penonton setia atas warna-warni langit yang berubah dengan terbit dan tenggelamnya matahari, bintang-bintang yang membentuk kelompok bergerak bersama sekaligus bergantian, cahaya perak bulan berpendar dari fase-fase penampakan yang berbeda. Langit kita yang luas, selayak bentang layar berbentuk kubah, menempatkan benda-benda langit sebagai lakon-lakonnnya. Layar itu jadi panggung yang dipenuhi gerak tari kosmis dalam koreografi yang patuh pada derigensi birama sambung daya semesta.
Gema sambung daya semesta merambat hingga ke bumi, kibasan gerakan para lakon itu menjalar dan berkelindan di antara tempat duduk para penonton, menciptakan perubahan demi perubahan di bangku penontonnya. Penikmat di bumi memindai semua dalam hikmat atas ketetapan gerak para lakon. Langit menyajikan gerak yang konstan, sementara di bumi mengalami terang dan gelap, panas dan hujan, pasang dan surut. Perubahan lansekap di bumi tak lagi bisa dijadikan pertanda, maka tarian langit lah yang menjadi tengara.
Melewati pergantian peristiwa di ruang bumi akibat fenomena langit, di masa itu, maka manusia belajar tentang jalannya waktu dan musim. Pola yang sama, ditandai dengan seksama. Terlebih ketika mereka sudah melakukan budaya pertanian dan perkebunan untuk daerah pedalaman dan melaut bagi mereka yang di kepulauan, mereka mempelajari interaksi kosmos yang saling memengaruhi.
Benda langit yang bergerak sepanjang hari, dengan terang dan redupnya, dengan terbit dan tenggelamnya, dengan fase yang berubah menurut pengamatan mereka, mereka melihat dan merasai pergerakan ini menimbulkan perubahan musim, pergantian waktu, pasang dan surut air, yang juga memberikan pengaruh pada pola budaya pangan mereka. Dari pengamatan langsung di langit yang luas, mereka mulai melakukan perhitungan untuk bisa menemukan pola. Kebutuhan pengamatan dan perhitungan ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas pangan mereka.
Dari berbagai penanggalan suku di Nusantara, semuanya didasarkan pada benda-benda langit dalam melaksanakan tata agraria, tata pelayaran dan tata ritual, menandaskan jumbuhnya manusia-manusia kuno itu pada penanda di langit dan pranata bumi.
Matahari, dimana bumi mengorbit padanya, jelas menawarkan interaksi pengaruh, mulai dari gravitasi hingga gerak edarnya.
Bulan, sebagai satelit bumi, paling dekat dalam posisi menyumbangkan gravitasi, pasang surut air, jalin menjalin dalam agenda ritual dan tradisi, pun penanda aktivitas di darat dan laut.
Bintang, letaknya sangat jauh dari bumi namun secara universal, almanak tradisi di seluruh dunia menyertakan bintang sebagai salah satu elemen pengamatan. Dengan bintang-bintang, armada-armada melayari laut. Pelayaran-pelayaran yang mendunia dari satu benua ke benua lain dan menciptakan sejarah peradaban menjadikan bintang sebagai penunjuk waktu dan arah ketika matahari sedang bersembunyi di belahan lain. Pertanda kedatangan musim dikaitkan pada bintang, sebagai catatan manusia yang paling abadi, di langit.
Bintang-bintang, selain menjadi pelakon di akasa, juga hidup dan dipersonikasi dalam mite dan cerita-cerita legenda dalam ruang-ruang kebudayaan di Nusantara. Sejak pengamatan langit dilakukan, bersamaan dengan itu pula manusia-manusia kuno itu menyalin bentuk dan pemunculan bintang, menjalinnya menjadi cerita melalui daya imaji. Nama-nama konstelasi dan kelompok bintang yang mereka ciptakan adalah ciptaan imaji mata dan data budaya dalam menghubungkan noktah demi noktah bintang menjadi makna simbol.
Dari Mitologi Menjadi Jati Diri
Suku Byak yang tinggal di Pulau Biak, bagian Timur Indonesia memiliki tradisi melihat langit sebagai penanda waktu dan navigasi pelayaran. Pengenalan Suku Byak pada bintang menasbihkan identitas Suku Byak sebagai masyarakat bahari. Dikenal sebagai pelaut tangguh, Suku Byak mendapat sebutan The Viking dari Teluk Cenderawasih. Jelajah laut Suku Byak ditengarai telah menguasai perairan Indonesia bagian timur, Jawa Timur hingga Malaka. Dengan perahu tradisional Wairon dan Waimansusu, bercadik tunggal atau ganda dengan layar terkembang, dan bintang sebagai penunjuk arah dan musim, mereka mengarungi laut dengan latar belakang ekonomi, politik dan identitas diri.
Dalam daftar yang dikumpulkan dari sumber-sumber antropolog Belanda, Suku Byak telah bersahabat dengan 21 benda langit, mulai dari planet, gugus bintang, konstelasi hingga galaksi.
Bukti persahabatan ini dikekalkan dengan pemberian nama benda langit itu dengan bahasa Byak. Pengetahuan yang mengagumkan ini bukan hanya dalam bentuk pengenalan bahasa dan ingatan pada pola-pola langit. Suku Byak memiliki agenda kerja bumi yang selaras dengan gerakan tarian kosmik di angkasa. Pengenalan pada bentuk pun gerak, terbit dan tenggelamnya bintang ditandai dan terkoneksi dengan aktivitas sosial, ekonomi dan keagamaan suku. Kegiatan berlayar ditentukan waktunya oleh musim yang hadir dan pergi dengan pertanda bintang.
Harapan akan kemakmuran yang dinyalakan oleh agama adat Koreri di Biak menempatkan Bintang Sampari (Planet Venus dalam bahasa Byak) sebagai tokoh sentral yang memberikan rahasia dan pengetahuan kehidupan, meneguhkan personifikasi Suku Byak pada benda langit menempati ruang dimensi yang melampaui bentuk material, namun juga hadir pada denyut sakral keilahian.
Konstelasi bintang utama Suku Byak yang telah dikenali dan diamati selama ratusan tahun adalah Romanggwandi. Di dalam konversi standard konstelasi International Astronimical Union (IAU), konstelasi ini merujuk pada Scorpio yang digambarkan sebagai kalajengking, dengan referensi astronomi Yunani.
Pemaknaan Romanggwandi bagi orang Byak tidak dilihat sebagai kalajengking, melainkan berbentuk naga. Secara arti bahasa, kata Romanggwandi bukan merujuk pada kalajengking, melainkan naga.
Merujuk pula pada mite dualitas dalam kepercayaan adat Suku Byak, tentang naga langit dan naga bumi (laut dalam konteks Suku Byak), maka pola pengamatan Scorpio sebagai naga adalah sebuah simbol yang mengiringi perjalanan kehidupan masyarakat Suku Byak. Konstelasi Romanggwandi yang diketahui dan dipahami oleh masyarakat Suku Biak berkaitan dengan keberadaannya di langit mengiringi aktivitas utama mereka, yaitu melaut.
Dalam hal ini Romanggwandi yang berbentuk naga adalah sebuah simbol bagi Suku Byak. Melihat Romanggwandi bukan hanya sebagai sebuah konstelasi bintang yang memiliki siklus namun juga diletakkan dalam ruang kebudayaan Suku Byak yang hidup dalam mite-mitenya. Naga termaktub dalam alam kosmologi Suku Byak yang terceritakan melalui mite dualitas langit dan bumi. Dalam mite Suku Byak, Romanggwandi, adalah simbolisasi kekuatan dari dunia atas dan di bumi ada Naga Laut bernama Korben.
Ukiran-ukiran Suku Biak menggambarkan pula dualitas ini. Pada perahu tradisional, ukiran naga diletakkan di badan perahu yang menyentuh laut. Mengukuhkan kesatuan Suku Byak dengan pandangan kosmologi suku, Romanggwandi di atas sana menjadi pemandu. Jadwal musim melaut adalah pada saat Romanggwandi telah terbit di langit Tenggara pada malam hari. Ketika hidung Romanggwandi menyentuh ufuk barat di senja hari, menghilang dari langit Biak, maka jadwal melaut terutama pelayaran jarak jauh dihentikan. Di dalam konteks musim, pertanda ini jatuh pada datanganya angin muson barat yang menciptakan angin kencang di lautan dan membahayakan perjalanan laut. Romanggwandi bertahta di angkasa bersama dengan musim teduh (angin muson timur dalam pengenalan Suku Byak). Romanggwandi adalah jati diri, hadir sebagai identitas dan gerak manusia Suku Byak yang setimbang dengan gerak alam.
“Keseluruhan elemen budaya Suku Biak, mulai dari sejarah pelayaran, perahu, mitos dan bintang-bintang yang diyakininya adalah sebuah jati diri maritim Suku Biak.” (Dennes Koibur-Budayawan Tradisi Suku Byak)
Tradisi dan Lestari
Di langit, tarian kosmis rampak dalam gerak, di bumi tak kalah riuhnya dalam menaksir, memaknai dan memproduksi kibasan tarian ini dalam ragam budaya, melahirkan pengetahuan-pengetahuan menakjubkan, menciptakan narasi-narasi cerita, mulai dari fabel hingga kadewatan dunia kahyangan.
Betapa sibuknya masyarakat di era lampau itu dalam menelisik langit. Mengamati dan mencatat, menunggui dengan sabar penampakan benda langit, mengakurkannya dengan peristiwa di bumi. Seorang manusia adat di Biak yang utuh menjalankan ritual tradisi bumi beriringan dengan gerak langit memiliki 44 rangkaian ritual diri dan 22 ritual yang dijalankan sesuai bahasa alam sekala dan niskala. Tradisi dikembangkan sebagai respon pengenalan dan kesadaran diri manusia yang tak pernah hidup tunggal tanpa elemen lainnya. Kesadaran hubungan kekal mikrokosmos dan makrokosmos menjadi basis dalam pelaksanaan ritual.
Pandangan kosmologi ini menabahkan totalitas manusia kuno dalam kesibukan mereka. Aktivitas pengamatan dan perhitungan fenomena langit dinyalakan oleh suluh keimanan yang mengaliri sel-sel tubuh manusia-manusia adat dan menjadi gerak budaya dalam berbagai obyeknya: pertanian, kelautan, ritual, tata lansekap dan pendirian bangunan, dalam lingkaran hidup mereka untuk memelihara alam agar tetap ada di equilibrium. Dalam terminologi kekinian, gerak harmonisasi dengan alam yang dilakukan oleh masyarakat adat ini kita dapati sebagai Traditional Ecological Knowledge, dimana masyarakat adat melahirkan pengetahuan-pengetahuan dalam merawat alam.
Alam semesta melakukan evolusinya secara periodik dan menjalani serangkaian proses yang memiliki basis konsep yang sama, baik di bumi maupun di langit. Saling bertukar energi, bahkan berbagi bahan material dan tarik menarik dalam sekala maupun niskala. Terkait dan terikat oleh Golden Ratio dalam deret Fibonacci yang mengalir dalam gerak spiral prasawiya. Kesatuan: Bumi Langit, yang melahirkan ekosofi endemik dalam lokalitasnya. Di titik inilah kita bisa memahami pandangan masyarakat adat atas ruang dan waktu yang selaras alam.
Pepatah “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, secara literal justru memperlihatkan adanya sebuah kesadaran atas ruang hidup kebumian yang tidak pernah terlepas dari pengaruh pergerakan benda langit yang membingkai segala gerak manusia dalam waktu dan musim.
Bagi masyarakat adat, termasuk Suku Byak, rumah bukan sekedar sebuah bangunan tempat tinggal. Rumah merupakan Ruang-Amanah, sebuah Ruang yang berlantaikan tanah dan beratapkan langit dimana peradaban terlahir.
Sebuah ruang peri kehidupan yang menuhankan Tuhan, memanusiakan manusia dan mengalamkan alam.***
Artikel ini disusun berdasarkan kajian Astronomi Tradisional Sebagai Pengetahuan Ekologi Nusantara, Studi Kasus Suku Biak yang difasilitasi oleh Kemendikbudristek, Dana Indonesia dan LPDP untuk kategori Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan tahun 2022
메타데이터
- post_id
- c0bdf83d72bc
- slug
- jati-diri-romanggwandi-c0bdf83d72bc
- url
- https://medium.com/@lisafebriyanti/jati-diri-romanggwandi-c0bdf83d72bc
- canonical_url
- https://medium.com/@lisafebriyanti/jati-diri-romanggwandi-c0bdf83d72bc
- author_url
- https://medium.com/@lisafebriyanti
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 23:56:40