← Back to list

Kadang Lupa Ya, Bahwa Berbuat Baik Itu Ternyata Tidak Transaksional

Chapter #326 — Menulis Satu Halaman, 27 Juni 2026

Riza Putranto in Ruang Kontemplasi · 2026-06-27 11:02 · 539 claps · 2.4 min read
#ruang-kontemplasi #kontemplasi-diri #refleksi-diri #kebaikan #psikologi
Open on Medium ↗

Kadang Lupa Ya, Bahwa Berbuat Baik Itu Ternyata Tidak Transaksional

Chapter #326 — Menulis Satu Halaman, 27 Juni 2026

Photo by Olia Gozha on Unsplash

Photo by Olia Gozha on Unsplash

Bonus facere non est transactio.

Berbuat baik bukanlah sebuah transaksi.

Well, di usia sudah beberapa dekade ini kok ya sering lupa ya bahwa memaknai berbuat baik itu ya lebih filosofis dan dalam dibanding yang nampak.

Saya mencoba memaknai apa yang saya simak dan alami sendiri mengenai satu ironi dalam hidup. Kita merasa sudah begitu baik kepada seseorang. Kita meluangkan waktu, memberikan perhatian, membantu ketika mereka kesulitan, bahkan mengorbankan kenyamanan kita sendiri.

Namun, ketika suatu hari mereka tidak bersikap seperti yang kita harapkan, rasa kecewa itu datang begitu kuat bahkan terkadang meledakkan amarah kita yang tidak semestinya terjadi.

Saya kemudian berpikir juga, kok kebaikan yang dulu kita lakukan berubah menjadi daftar utang yang diam-diam kita simpan di dalam hati?

Kita juga lupa lagi bahwa berbuat baik (apapun itu) seharusnya tidak pernah menjadi transaksi.

Lagi-lagi ya namanya manusia, tanpa sadar, jangan-jangan kita menjadikan kebaikan sebagai investasi emosional. Kita berharap orang lain yang pernah kita bantu atau kita perlakukan baik atau kita maklumi sikapnya akan mengingat, membalas kebaikan dan memperlakukan kita sebagaimana kita inginkan.

“Setelah kesabaran dan semua yang pernah saya lakukan ke mereka, kenapa mereka seperti ini?”

Unus actus benignitatis te hominem demonstrat.

Satu tindakan kebaikan menunjukkan bahwa engkau adalah manusia.

Setelah semua tenang dan semua emosi lewat, mungkin kita baru bisa duduk dan mencerna. Satu kebaikan atau lebih yang telah kita berikan itu sebetulnya bukan semata-mata untuk membantu orang lain, namun ke dalam diri, untuk menunjukkan bahwa kita adalah manusia.

Ya, harapan memang bukan sesuatu yang salah. Kita sebagai manusia kan ingin untuk dihargai.

Sayangnya, jika nilai sebuah kebaikan bergantung kepada respons orang lain, maka kita sedang menyerahkan kedamaian hati pada sesuatu yang tidak pernah bisa kita kendalikan.

Mereka memiliki cara berpikir, pengalaman hidup, kapasitas emosional, bahkan luka dan trauma yang berbeda dengan kita. Mereka juga tidak selalu mampu membalas perhatian dengan perhatian, pun tidak bisa mengharapkan untuk memahami pengorbanan yang kita lakukan. Bahkan, ada juga yang bahkan tidak menyadari bahwa kita sedang berkorban untuk mereka.

Di sisi lain, jangan-jangan kita sendiri memperlakukan orang lain seperti itu. Oh, dunia, memang manusia tempatnya lupa.

Saya sangat meyakini bahwa kebaikan itu tidak akan pernah sia-sia seberapapun respons mereka yang tidak sesuai harapan kita.

Saya juga yakin bahwa berbuat baik bukan hanya tentang memperbaiki hidup orang lain, namun lebih utama adalah membentuk karakter diri yang melakukannya.

Orang pertama yang menerima manfaat kebaikan detik saat kita mengulurkan tangan itu justru adalah diri sendiri.

Beneficium animam nostram rigat.

Kebaikan menyirami jiwa kita.

Ibarat menyirami tanaman, kita berpikir bahwa air itu menghidupkan bunga yang sedang kita siram. Padahal tangan yang memegang selang juga ikut terkena percikannya. Hati orang yang sedang menyiram juga ikut tenang karenanya.

Ya, setiap kali kita berbuat baik ya kita sedang menyirami jiwa kita sendiri. Jika orang lain bertumbuh karena kebaikan itu ya syukur. Jika tidak, setidaknya kita tahu bahwa hati kita tidak kering hanya karena kita tidak mendapatkan harapan dari manusia.

“Tapi pak ada orang yang senang memanfaatkan orang baik, kan kesal jadinya?”

Benar juga, saya pun kesal. Namun, niat kurang baik mereka biarlah menjadi beban dan tanggung jawab mereka sendiri di dunia maupun nantinya. Kita kelola amarah kita. Kita lepaskan beban yang tidak seharusnya kita pikul.

Bahwa kebaikan itu akan tetap baik, seberapapun disalahgunakan maknanya oleh mereka yang tidak bertanggung jawab.

Saya menyadari manusia jauh dari kata sempurna, walau katanya adalah makhluk yang paling sempurna di muka bumi. Kita belum sempurna bahkan dalam “memanusiakan” manusia yang dekat di sekeliling kita.

Sebuah refleksi.

fin.-


메타데이터
post_id
c0c5bbabbf09
slug
kadang-lupa-ya-bahwa-berbuat-baik-itu-ternyata-tidak-transaksional-c0c5bbabbf09
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/kadang-lupa-ya-bahwa-berbuat-baik-itu-ternyata-tidak-transaksional-c0c5bbabbf09
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/kadang-lupa-ya-bahwa-berbuat-baik-itu-ternyata-tidak-transaksional-c0c5bbabbf09
author_url
https://medium.com/@rizaputranto
status
ok
fetched_at
2026-06-29 22:44:20