← Back to list

Memandang Ilmu dan Peradaban

Peradaban yang maju diawali dari ilmu. Kisah Nabi Muhammad, Rasulullah SAW mendapatkan wahyu pertama berupa perintah membaca menjadi cikal…

Hafizh Noor Esa · 2025-10-23 06:28 · 0 claps · 2.6 min read
#ilmu #peradaban #pendidikan #berilmu #bangsa
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🥊 · Combat Sports

Ilmu dan Peradaban (gambar: gettyimages.com)

Ilmu dan Peradaban (gambar: gettyimages.com)

Memandang Ilmu dan Peradaban

Peradaban yang maju diawali dari ilmu. Kisah Nabi Muhammad, Rasulullah SAW mendapatkan wahyu pertama berupa perintah membaca menjadi cikal bakal ilmu mewarnai jazirah Arab yang diselimuti keterpurukan dan kekacauan akibat kebodohan. Hasilnya, dalam 22 tahun, peradaban yang sangat maju pada abad ke-6 bahkan memberikan pengaruhnya terhadap kemajuan peradaban ke seluruh dunia melalui ajaran Islam hingga abad modern saat ini.

Kisah yang tak kalah masyhur, Kaisar Jepang pasca bom atom meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki, penyebab utama kekalahan Jepang di Perang Dunia II, bertanya yang memberikan makna mendalam tentang ilmu, “ada berapa lagi guru yang tersisa?”. Dan kita lihat kedudukan Jepang hari ini di mata dunia.

Pengaruh Ilmu

Ada sebuah anekdot, sedikit berbagi pengalaman masa kecil. Di masa kecil saya, permainan komputer bertema perang dengan genre Real Time Strategy (RTS) cukup digandrungi. Dan mode permainan multiplayer (bermain melawan pemain lain) menjadi daya tarik untuk beradu strategi perang yang diawali dari pembangunan kerajaan. Strategi saya, prioritas awal adalah ekonomi (mengumpulkan sumber daya alam), kemudian membangun kekuatan militer, lalu menyerang lawan.

Uniknya, lawan saya melakukan strategi yang berbeda. Prioritas awalnya adalah ekonomi, lalu membangun benteng pertahanan yang cukup untuk menahan gempuran serangan, kemudian ia memilih fokus kepada upgrade ilmu di bangunan University sebagai syarat untuk upgrade peradaban kerajaannya (contoh upgrade peradaban: Medieval AgeRenaissance Age).

Rupanya perbedaan ilmu dan peradaban kerajaan saya yang setingkat di bawah lawan, memberikan dampak yang luar biasa. Kekuatan militer saya saat menyerang dengan mudah dipatahkan pertahanan lawan. Ketika sumber daya ekonomi saya habis untuk menyerang, justru lawan saya telah menyiapkan pasukan untuk menyerang balik dengan teknologi yang lebih tinggi karena peradaban yang telah lebih maju. Seketika serangan lawan memporak-porandakan kerajaan saya, dan saya kalah di permainan multiplayer tersebut.

Di kala itu, sebagai seorang anak kecil, tentunya saya hanya menikmati keseruan permainan komputer dari sisi hiburan saja. Beranjak dewasa, ketika kehidupan nyata telah memberikan pandangan dan wawasan yang lebih luas, ternyata disadari, ilmu yang tinggi akan memajukan peradaban dan itulah pembeda antara ketertinggalan dan kemajuan suatu bangsa.

Dimensi Peradaban

Peradaban bisa kita pandang sebagai sebuah akibat dari berbagai sebab yang terjadi. Kemunduran atau kemajuan peradaban disebabkan berbagai faktor, sebut saja beberapa di antaranya yang krusial: ekonomi, politik, sosial, bahkan agama pun turut mempengaruhinya. Maka boleh dikatakan, banyak dimensi yang saling berkorelasi dalam perubahan sebuah peradaban.

Namun dasar dari semua faktor di atas, kembali dilandasi ilmu. Jika ekonomi ingin baik, ilmu ekonomi perlu dikuasai. Jika keadaan politik ingin stabil, ilmu politik dan tata negara perlu dikuasai. Jika kondisi sosial ingin kondusif, ilmu sosial perlu dikuasai. Pun ilmu agama sebagai landasan syariat perlu dikuasai. Artinya, semua aspek ada ilmunya. Kembali kepada ilmu yang akan mempengaruhi peradaban suatu bangsa. Ilmu adalah sesuatu yang tak bisa dinilai, keberadannya mampu mengubah sebuah bangsa dari kejatuhan dan keterbelakangan menjadi kebangkitan dan kemajuan.

Berangkat dari Berilmu, Bersabar Menuju Peradaban

Bicara peradaban, pasti arahnya tentang kebangsaan atau kenegaraan. Sesuatu yang besar dan kompleks. Kita kecilkan ruang lingkupnya menjadi konteks individu. Bahwa peradaban suatu bangsa atau negara maju itu berangkat dari individu-individu yang berilmu dengan berbagai disiplin ilmu berbeda. Menuju berilmu pun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Prosesnya ada di dimensi waktu tahunan bahkan puluhan tahun. Kembali kepada paragraf awal, 22 tahun Rasulullah mengajarkan ilmu, dari satu orang ke orang lainnya, berhimpun menjadi kelompok-kelompok, terus menyebar secara eksponensial.

Berikutnya, himpunan orang-orang berilmu ini membentuk harapan bersama dengan latar belakang keilmuan beragam, bersabar membangun ekosistem keilmuan yang diturunkan antar generasi, kemudian semua bergerak menuju kemajuan peradaban. Kali ini dimensi waktunya puluhan tahun bahkan berabad.

Berawal dari Diri yang Berilmu

Mari kita mulai dari diri, berproses menjadi seorang yang berilmu. Kelak kita akan dipertemukan semesta dengan orang-orang berfrekuensi serupa, berilmu dan bergerak menuju kemajuan peradaban. Tentu kita semua mengharapkan bangsa Indonesia menjadi pusat kekuatan peradaban dunia, entah saat kita masih di hidup dunia, ataupun kelak saat anak cucu kita menjadi generasi penerus kita.


메타데이터
post_id
c0d009f06150
slug
memandang-ilmu-dan-peradaban-c0d009f06150
url
https://medium.com/@hafizh.nooresa/memandang-ilmu-dan-peradaban-c0d009f06150
canonical_url
https://medium.com/@hafizh.nooresa/memandang-ilmu-dan-peradaban-c0d009f06150
author_url
https://medium.com/@hafizh.nooresa
status
ok
fetched_at
2026-07-16 06:21:20