← Back to list

Mari Hidup, Untuk Satu Hari Lagi — Seterusnya, Satu Hari Lagi.

Segala yang ditulis di sini hanya fiksi. Ditulis dalam sudut pandang orang ketiga. Selamat membaca ❤

hakugin · 2026-05-16 12:47 · 5 claps · 6.8 min read
#fanfiction #versa #vtuber
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✍️ · Writing & Creative

Fiksi penggemar tentang VERSA (vtuber ID) oleh @metafisme on x

Fiksi penggemar tentang VERSA (vtuber ID) oleh @metafisme on x

Mari Hidup, Untuk Satu Hari Lagi — Seterusnya, Satu Hari Lagi.

Segala yang ditulis di sini hanya fiksi. Ditulis dalam sudut pandang orang ketiga. Selamat membaca ❤

Lampu yang sedikit temaram di sebuah petak ruangan cenderung memberikan suasana hangat tengah menyoroti wajah kelima pemuda di bawahnya. Dua orang yang lebih tua tampak menyibukkan diri di depan pantry sembari memasak hidangan yang mulai menguarkan aroma sedap, sedangkan tiga lainnya menunggu dengan suara bising yang menjadi kebiasaan mereka di dalam rumah kayu minimalis— sebuah tempat bernaung yang dibangun penuh cinta oleh Ayah dan Ibu untuk kelima anaknya.

Air yang mulai tumpah membasahi permukaan bumi di luar sana membawa sederet embusan angin malam yang sejuk. Pun suara gemericik air terdengar ketika menyentuh atap dan tanah yang mulai sama-samar tercium aroma hujan tiba. Akan tetapi, keberadaannya seakan lenyap ketika menyentuh kehangatan dari sebuah perkumpulan lima bersaudara yang dalam hidup mereka terus-menerus mengharapkan tenteram tiada akhir untuk tetap utuh, melebur dalam hidup mereka menjadi satu.

“INI CEMILAN GUE, YOTA!”

“Coba sesekali ngalah Cil sama kakaknya.”

“Itu punya lo masih banyak?!”

“Bentar lagi habis.”

“Ini, kalau kurang ambil aja punya gue.”

Keributan yang menemani kelimanya terdengar bersahabat dan selalu dirindukan. Alarich tampak mengerutkan dahi kesal sembari menyembunyikan cemilannya — sebenarnya milik Eray, si kakak pertama — dari keberadaan anak tengah, Ryouta. Bantal sofa di ruang keluarga , yang terhubung langsung dengan dapur, sudah berserakan. Bahkan, ada satu yang dengan amat menyedihkan mendarat pada kepala Rizu — pemuda yang lebih tua setahun dari Alarich itu hanya bisa menghela napas, kemudian abai sambil menatap tayangan televisi di depannya. Dia sudah lelah melerai adik dan kakaknya itu hingga menunggu waktu si sulung atau anak kedua yang bersuara.

“KAK ERAY!”

“Cemilan banyak begitu kenapa sampai berkelahi, hei?”

Cih, tukang ngadu.”

Sesuai harapan Rizu, Eray — si sulung yang tadinya disibukkan memasak nasi berkacak pinggang sambil menatap bungsunya mengadu dengan kondisi sudah berada di bawah ketiak si anak tengah. Agatha menimbrungi dengan tawa renyahnya. Anak kedua itu tetap memilih menggerakkan tangannya untuk mengaduk masakan yang dia dan Eray buat sambil tanpa melirik ke arah adik-adiknya.

Teriakan Eray sudah cukup. Aku tidak perlu turun tangan, batinnya.

“Bercanda aja, Ray. Hehe,” ujar Ryouta sambil mengelus kepala Alarich — ralat, sedikit menjambak rambut adiknya itu sampai lagi-lagi si kuning mengadu sakit.

“Dijambak?!” pekik si bungsu.

“Lebay, ah!”

“Cil, ini sudah malam. Stop teriak-teriak. Yota juga, daripada kalian ribut mending bantu ambil piring sini. Rizu, siapin minuman.”

Kali ini Agatha mengambil alih sebab sedikit kegeraman itu ternyata lebih dominan dibandingkan kesabarannya.

Jika teguran Eray disertai kekesalan yang mudah terbaca terlihat menakutkan, maka teguran Agatha yang jarang terdengar dengan nada tenang dan tersirat tegas lebih menyeramkan dari apapun sehingga dalam satu deret ucapannya dengan mudah menggerakkan ketiga adiknya itu.

Bahkan, Eray terkadang enggan mencari perkara kepadanya. Kakak tertua yang suka menjahili adik-adiknya demi kesenangan pribadi itu selalu berkecil nyali jika Agatha terlihat marah,terutama perkara lelah sehabis paruh waktu setelah jam kuliah. Agatha bersikeras membantu meringankan beban Eray walau keempatnya menempuh pendidikan dengan bantuan beasiswa — sama seperti Eray dulu — dengan janji yang dia buat kepada sang kakak bahwa jika pekerjaannya mengganggu aktivitas kuliahnya, maka dengan tegas Eray menyuruhnya berhenti dan fokus menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai mahasiswa.

Usai ultimatum yang terdengar dari kakak kedua, Alarich membantu Rizu menyiapkan minuman. Ryouta dengan telaten dan hati-hati menyusun piring diiringi tatapan tajam Eray perkara dirinya sudah pernah memecahkan salah satunya. Di sisi lain, Agatha mematikan kompor dan menuang masakan ke dalam mangkok sayur dibantu Eray yang memindahkan lauk-pauk dari alat masak ke sebuah piring.

Kelimanya duduk di sebuah kursi masing-masing yang menyisakan dua kursi kosong di antara mereka. Kursi yang selalu tidak bergerak dari tempatnya — sedari lima tahun terakhir yang selalu mereka harapkan para pemilik mendudukinya. Semua harapan itu mengudara mengisi ruang kosong dan perlahan mendekam lama di setiap sudut rumah mereka.

Harapan yang mustahil terjadi sebab Ayah dan Ibu telah tiada.

Sambil menunggu nasi yang masak, mereka mulai berbicara satu sama lain untuk memenuhi rumah itu dengan tawa. Seyogyanya kehidupan yang diberikan Ibu dan Ayah mengajarkan kelima anaknya saling peduli satu sama lain, mereka berbagi kisah sekecil apapun yang telah terjadi — berusaha merangkul satu sama lain karena mereka hanya punya mereka, tidak ada lagi yang lain sebagai pelindung terkuat — sebagai penyangga kehidupan kelimanya yang kini mungkin menjadi tanggungjawab si sulung sebagaimana yang tertua.

Oleh sebab itu, kelimanya selalu enggan untuk renggang ketika perselisihan yang tidak mengenakkan hati mampir ingin menghancurkan kehangatan yang sudah lama tercipta. Terutama detik kepergian Ayah dan Ibu menjadi palu godam yang meruntuhkan kekuatan kelimanya untuk saling mengasihi. Seperti gelas kaca bersih yang tidak sengaja terbentur benda keras, retak itu tampak dan mengusik ketenangan yang berada di dalamnya.

Sebab saat kepergian Ayah dan Ibu, Eray menjadi lebih keras kepada dirinya sendiri karena menjadi yang tertua — sebagai anak pertama yang dihakimi keadaan untuk bisa segalanya, untuk mengalah demi adiknya. Agatha menjadi lebih pendiam dan menyimpan banyak keluh serta rasa bersalah saat melihat bayang-bayang dirinya juga menjadi beban untuk si sulung, karena dia hanya membantu sepersekian persen untuk meringankan beban Eray demi kehidupan tiga adik mereka.

Pun Ryouta — sebagai anak tengah yang selama hidup terbiasa bersahabat dengan yang namanya perantara dan penenang, mulai kehilangan kendali walaupun masih sekuat tenaga mempertahankan keceriaan di rumah itu tetap ada. Sedangkan, Rizu dan Alarich memilih hidup yang kendalinya lepas tak terarah, mengikuti apapun asal mengurangi beban kakak mereka untuk menyanggupi hidup yang bukan hanya untuk mereka saja, tetapi demi adik-adiknya juga.

Masa-masa asing yang hampir menciptakan keretakan hubungan itu pernah tercipta. Mereka dipeluk oleh kehangatan Ayah dan Ibu, namun ketika pelukan yang selalu dinantikan itu lenyap, sandaran kuat mereka menjadi abu-abu yang memperkeruh keadaan kelimanya. Hingga puncaknya ketika Ryouta — sebagai anak tengah yang gagal beradaptasi atas kondisi yang asing di hidupnya, ketika kakak dan adiknya bahkan sudah jarang berbicara — dia mengutarakan isi pikirannya disertai air mata.

Suara parau yang tersirat kesedihan begitu rapuh terdengar di hadapan Eray yang mematung di depan adiknya. Ryouta menunduk sambil mengepalkan tangan. Kejadiannya saat Eray masih kuliah sambil mengambil paruh waktu untuk kelimanya hidup di tengah sisa uang yang memang disiapkan kedua orang tua mereka untuk anak-anaknya pada kondisi darurat seperti sekarang.

Alarich yang mengira kakak-kakaknya bertengkar saat itu juga menangis di dalam dekapan Rizu yang sekuat tenaga menahan kesedihan yang mulai mencapai puncaknya. Sedangkan, Agatha berusaha melerai — berhati-hati jika Eray atau Ryouta lepas kendali dan saling menyakiti hingga mereka jatuh lebih dalam ke jurang yang jauh dari kondisi semula.

“Kak … sekarang kami cuma punya lo.” Suara Ryouta yang bergetar mengiringi keheningan yang terjadi ditemani isak tangis yang menyelimuti kelimanya. “Kalau lo membebankan semuanya ke diri lo sendiri dan juga pergi, terus kami gimana? Apakah memang harus jadi seasing ini di bawah atap yang sama?” tanya Ryouta — yang menjadi bom waktu untuk Eray mengilas balik tentang hal-hal yang seharusnya tidak terjadi ketika kepergian Ayah dan Ibu menghampiri.

Yang seharusnya mereka saling berbagi lelah dan menciptakan ruang komunikasi dengan baik satu sama lain — sesuai yang diajarkan Ayah dan Ibu bagaimana mereka harus mengasihi sesama saudaranya tanpa merasa terbebani.

Pun, ketika kata maaf terucap dari bibir Eray yang disertai bulir air mata itu bergema, kelimanya perlahan memperbaiki retak yang dimulai dari dekapan penuh tangis, saling meminta maaf satu sama lain serta mengucapkan buah pikiran yang sudah lama terpendam — kini diutarakan penuh harap atas secercah kelegaan.

“Kami dilahirkan bukan untuk menjadi beban lo. Gue tahu lo berpikir hidup lo bukan cuma untuk lo sendiri, tapi untuk kami juga. Tapi, Kak … seenggaknya tolong, tolong jangan bawa beban itu sendirian sebab lo masih punya kami untuk pulang, begitu juga kami yang berharap lo selalu sehat dan kami jadikan tempat pulang.” Agatha berujar dengan suara yang bergetar disertai tangannya yang menggenggam baju Eray dengan erat.

“Al memang nakal tapi kalau disuruh-suruh tetap mau, kok. Kalau sambil ngomel ‘kan manusiawi, ya. Jadi, jangan diem-dieman lagi padahal kita serumah. Al nggak suka …,” sahut si bungsu yang sedikit terbata-bata sebab tangisannya yang terdengar paling kentara.

Eray berusaha memeluk keempat adiknya itu menjadi satu sembari mengukir senyum di tengah hatinya mulai terenyuh. “Iya … maaf, ya. Mari tetap hidup dan kalian semua harus sukses, ya ….,” tuturnya.

Semua mengangguk — semakin mempererat pelukan satu sama lain hingga anak keempat dari lima bersaudara itu berucap, “Gue juga selalu berdoa kalian semua tetap hidup, tetap utuh. Tapi tolong … ini … Rizunya kejepit.”

Kehangatan itu mulai lepas dari belenggu yang mengikatnya ketika Rizu menjadi pemecah tangis yang berganti tawa di antara mereka. Pria yang memiliki tubuh seukuran Alarich lebih tinggi sedikit itu mengambil napas banyak ketika pelukan mereka terlepas — yang mana menjadi penyebab tawa pertama di rumah itu terjadi setelah menghilang hampir setengah tahun keberadaannya.

Segala suasana yang dirindukan kembali ke sang empu untuk menyertai kelimanya dengan kebahagiaan. Sebagaimana sukacita yang diharapkan abadi dalam doa yang mereka panjatkan untuk menjadi penguat satu sama lain demi hidup satu hari lagi — seterusnya satu hari lagi untuk mereka yang saling mengasihi.

“Nasinya udah masak tuh,” celetuk Alarich yang sudah menyodorkan piring di hadapan Eray.

Kembali ke masa sekarang dimana mereka berkumpul untuk makan malam bersama.

“Sabar, Cil. Masih panas juga,” sambung Ryouta — berbanding terbalik dengan ucapannya, anak tengah itu menyengir sembari menyodorkan piringnya juga kepada si sulung.

“Rizu, gelas lo mana?” ujar Agatha yang mulai menuangkan minuman ke gelas adik-adiknya dan melihat hanya gelas Rizu yang tidak terlihat di meja.

“Hah? Oh, iya. Lupa ambil, hitungnya tadi kurang berarti.”

“Jangan lupa hari ini jadwalnya Alacil sama Rizu cuci piring. Awas pecah lagi,” tegas Eray — memberi peringatan sambil menuang nasi yang dihadiahi anggukan oleh yang bersangkutan.

Kelimanya mulai menyantap hidangan. Terkadang melanjutkan pembicaraan mereka yang sebelumnya tertunda atau menciptakan obrolan baru yang mengiringi setiap deru napas mereka.

Detik per detik waktu yang berharga diciptakan oleh mereka sebagai ruang untuk berkabar, bercerita, dan berkeluh kesah di tengah dinamisnya seluk-beluk kehidupan.

Diam-diam mereka saling mengharapkan andai saja keabadian bisa menyertai — andai saja mereka bisa bersama selamanya tanpa akhir yang menjadi penentu batas hidup kelimanya.

Mari hidup, untuk satu hari lagi — seterusnya, satu hari lagi menjadi doa yang begitu apik untuk meniti hidup yang mungkin ke depannya telah disiapkan rencana paling indah dari Yang Maha Esa atas segala hal buruk yang menerpa mereka.

hakugin.

tolong untuk tidak plagiat dan tidak meng-upload tulisanku tanpa izin/tanpa source di media manapun. terima kasih. semoga suka dengan cerita ini :)


메타데이터
post_id
c0eff7ff9116
slug
mari-hidup-untuk-satu-hari-lagi-seterusnya-satu-hari-lagi-c0eff7ff9116
url
https://medium.com/@metafisme/mari-hidup-untuk-satu-hari-lagi-seterusnya-satu-hari-lagi-c0eff7ff9116
canonical_url
https://medium.com/@metafisme/mari-hidup-untuk-satu-hari-lagi-seterusnya-satu-hari-lagi-c0eff7ff9116
author_url
https://medium.com/@metafisme
status
ok
fetched_at
2026-07-10 14:51:46