Rumah yang Kehilangan Fungsi: Studi Kasus Perpisahan Baek Yijin dan Na Heedo (Twenty Five Twenty…
Aku rasa hampir setiap manusia yang hidup di bumi ini pernah mengalami jatuh cinta yang benar benar jatuh cinta dengan cara organik. sebuah…
Rumah yang Kehilangan Fungsi: Studi Kasus Perpisahan Baek Yijin dan Na Heedo (Twenty Five Twenty One K-Drama)
Aku rasa hampir setiap manusia yang hidup di bumi ini pernah mengalami jatuh cinta yang benar benar jatuh cinta dengan cara organik. sebuah rasa yang bukan sekadar suka, tapi diam-diam menciptakan ruang sendiri di hidup kita.
Ruang yang mungkin sekarang sudah tertutup, berdebu, dan jarang dikunjungi, namun entah kenapa tak pernah benar-benar hilang.
Yang bisa aku sebut mungkin ini namanya cinta pertama.
Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara paling tepat untuk menggambarkannya. Namun, yang aku tahu, aku pernah bertemu seseorang yang secara tidak langsung mengajarkan apa itu “rasa”. Rasa yang kadang membuat kita tertawa tanpa sebab, namun di waktu lain mengajarkan arti sedih yang paling sunyi. Dari satu orang itu, aku belajar bahwa perasaan punya banyak wajah, banyak bentuk, dan tidak semuanya nyaman untuk dipeluk.
Mungkin memang begitu takdir cinta pertama. Seberapa lama pun waktu berlalu, seberapa banyak pun orang baru yang datang, ia tidak pernah sepenuhnya dilupakan.
Bukan karena kita gagal melangkah maju (move on), bukan juga karena ingin kembali. Ia hanya tersimpan sebagai saksi bahwa kita pernah tumbuh di sana.
Bahkan ketika penutupan cerita dilakukan dengan penuh pengertian, bekasnya tetap ada. Ia menetap bukan untuk disesali, tapi untuk dikenang sebagai bagian dari pendewasaan.
Sering kali, masalahnya bukan soal kurang cinta, tapi karena hidup terlalu kompleks. Ada yang bilang pertemuan itu seperti koper yang tertukar di bandara tak sengaja, namun membawa takdir. Kita dipertemukan bukan untuk melanjutkan perjalanan bersama sampai akhir, melainkan hanya untuk menyelesaikan satu fase pertumbuhan. Setelah fase itu usai, masing-masing harus melanjutkan perjalanan dengan koper yang sudah kembali ke pemiliknya.
Realita pahit ini tergambar jelas dalam kisah Baek Yijin dan Na Heedo di K-drama 2521.

Source : Pinterest K-drama 2521
Seperti penggalan lagu Tulus — Sepatu :
“Ku senang bila diajak berlari kencang, tapi aku takut kamu kelelahan. Kita sadar ingin bersama tapi tak bisa apa-apa. Cinta memang banyak bentuknya, mungkin tak semua bisa bersatu.”
Dalam sebuah hubungan, wajar jika kita ingin menjadi “tempat pulang”. Cukup dengan kehadiran saja, seharusnya sudah terasa seperti rumah. Namun, masalah muncul ketika salah satu pihak tak lagi merasa aman untuk bersandar. Di titik itulah, rumah perlahan kehilangan fungsinya.
Heedo, pada akhirnya, bukan lagi rumah bagi Yijin. Bukan karena kadar cinta yang berkurang, tapi karena Yijin memilih untuk menanggung seluruh bebannya sendirian. Ia berniat tidak ingin membebani, namun tanpa sadar tindakannya justru melukai. Secara perlahan, Heedo merasa tidak berguna menjadi pasangan yang kehadirannya tak lagi dibutuhkan untuk berbagi beban. Kalimat, “Bahkan permintaan maafmu lebih tulus dibandingkan pernyataan cintamu,” terasa begitu pahit karena di situlah cinta mulai berubah menjadi jarak yang tak tertembus.
Ketidakpercayaan dan kecemasan yang tumbuh terutama soal pekerjaan dan masa depan pelan-pelan berubah menjadi racun. Orang luar mungkin akan berkata, “Kan bisa berkompromi, bisa menunggu.” Tapi mereka yang menjalani tahu bahwa lelah itu nyata. Menunggu terlalu lama dan menahan terlalu banyak perasaan sendirian akan menguras habis sisa-sisa kebahagiaan yang ada.
Kalau dalam bahasa psikologi yang aku tau, Baek Yijin memiliki sifat Avoidant sementara Na Heedo memiliki sifat Secure Anxious, yang mana sangat mengutamakan keterbukaan dalam suatu hubungan.
Baek Yijin Si Avoidant yang Memikul Dunia Sendiri Yijin tumbuh dalam trauma keluarga yang bangkrut, membuatnya merasa harus menjadi “penyelamat” sendirian. Sifat Avoidant muncul saat dia merasa tertekan. Kalau ingat ada scene dia di tugaskan ke New York, Ketika dia hancur melihat tragedi 9/11 di New York, dia memilih menarik diri. Dia tidak ingin Heedo melihat sisi lemahnya.
Logika dari POV Baek Yijin berpikir bahwa dengan tidak bercerita, dia sedang melindungi Heedo dan tidak membuat beban untuk Heedo. Padahal, bagi pasangan, “dilindungi dari kebenaran” justru terasa seperti “diasingkan dari kehidupan”.
Sedangkan POV dari Na Heedo yang mana memiliki sifat Secure yang Berubah Menjadi Anxious. Dia tangguh dan penuh empati. Namun, perilaku Yijin yang menghilang secara emosional memicu kecemasan (Anxious) dalam dirinya.
Mengingat Na Heedo juga tumbuh dengan seorang ibu yang selalu “absen” di momen penting karena pekerjaan. Ketika Yijin mulai sering membatalkan janji dan menghilang di balik pekerjaan, trauma masa kecil Hee-do berdenyut kembali. Bagi Heedo Sikap Baek Yijin ini mirip dengan ibunya. Heedo tidak membenci ibunya hanya saja itu juga membuat luka lama heedo kecil itu kembali terulang.
Dan hal sekarang semakin aku yakini manusia tumbuh mungkin akan berkembang dengan berdamai dengan luka yang pernah ia terima, tapi bukan berarti bekas luka itu akan hilang.
Pada akhirnya, hubungan mereka tentang orang yang tepat di waktu yang salah. Yijin sedang berada di fase hidup di mana dia merasa harus menebus kegagalan keluarganya, sementara Heedo berada di fase di mana dia butuh kepastian kehadiran.
Cinta mereka sangat besar, tapi gaya mereka memproses luka sangat bertolak belakang. Yijin menjauh untuk melindungi, sementara Heedo butuh mendekat untuk mengobati. Karena tidak ada titik temu di antara dua kutub ini, perpisahan menjadi satu-satunya cara agar mereka tidak saling menghancurkan lebih jauh.
Ketika mereka memilih untuk berpisah dengan baik-baik, itu bukanlah sebuah kekalahan. Itu adalah puncak dari kedewasaan. Tidak ada yang benar-benar salah, mereka hanya sudah berada di frekuensi yang berbeda. Menjalani komitmen dengan rasa “tidak enak” atau merasa menjadi beban bagi pasangan adalah beban yang terlalu berat untuk dipikul terus-menerus.

Source : 2521 Kdrama
Cinta tidak selalu harus dimenangkan. Kadang, cinta justru harus dihormati dengan cara melepaskannya sebelum ia berubah menjadi luka yang lebih dalam.
메타데이터
- post_id
- c0fa5075e1d7
- slug
- rumah-yang-kehailangan-fungsi-studi-kasus-perpisahan-baek-yijin-dan-na-heedo-twenty-five-twenty-c0fa5075e1d7
- url
- https://medium.com/@riayunita/rumah-yang-kehailangan-fungsi-studi-kasus-perpisahan-baek-yijin-dan-na-heedo-twenty-five-twenty-c0fa5075e1d7
- canonical_url
- https://medium.com/@riayunita/rumah-yang-kehailangan-fungsi-studi-kasus-perpisahan-baek-yijin-dan-na-heedo-twenty-five-twenty-c0fa5075e1d7
- author_url
- https://medium.com/@riayunita
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13