Kala itu, di stasiun Yogyakarta.
Photo from Pinterest
Kala itu, di stasiun Yogyakarta.

Photo from Pinterest
Sudah ku kantongi rindu sejak aku beranjak meninggalkan tanah ibu kota. Kau memberi ku kabar singkat, sungguh sangat singkat, namun mampu membuat senyum merekah menghiasi wajah memerah ku. Ah.. melalang buana imajinasiku membayangkan pertemuan kita kembali, Tuan.
Samar ku mendengar roda kereta berdecit lirih — ah, ini dia tujuan akhir ku. Segera ku kemas barang dan rinduku yang sudah bertumpah ruah di lantai kereta. Satu notifikasi darimu, seketika mengacaukan jantungku. “Aku sudah sampai” katamu. Tak sabar ingin menemui mu kembali, segera ku percepat langkahku.
Mulai ku fokuskan indera penglihatan ku — menelusuri dimana keberadaan mu. Logika pun dibuat tak berdaya saat ku melihat senyummu. Lambaian tanggan mu kembali menyerang ku, tenggelam aku dibuatnya. Terombang-ambing terbawa arus pikiranku untuk segera berjalan ke arahmu.
Rindu ku yang telah menggunung raib entah kemana. Ku pandangi berulang kali paras indah dirimu, Tuan. Sontak jiwaku terpaku, mataku memerah, dan saat itu ku sadari bahwa rinduku telah dirampas habis oleh mu. Kau layangkan sentuhan halus di atas kepala ku, seketika pertahanan diriku hancur. Ku hamburkan tubuhku padamu dan akan kubiarkan perlahan melebur menjadi satu — menjadi kita.
메타데이터
- post_id
- c17c979ecc0c
- slug
- kala-itu-di-stasiun-yogyakarta-c17c979ecc0c
- url
- https://medium.com/@asaaaap/kala-itu-di-stasiun-yogyakarta-c17c979ecc0c
- canonical_url
- https://medium.com/@asaaaap/kala-itu-di-stasiun-yogyakarta-c17c979ecc0c
- author_url
- https://medium.com/@asaaaap
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 19:45:18