← Back to list

Kucing, Luka, dan Tangan yang Menyelamatkan

Helgasann · 2026-06-03 01:02 · 14 claps · 3.8 min read
#writing #kucing #cerpen #luka
Open on Medium ↗

Kucing, Luka, dan Tangan yang Menyelamatkan

Nebula mengusap bulir keringat didahi, sebab dia berjalan ke arah yang jauh dari rumah, karena jalanan yang biasa dilewati tersebut tutup. Dia menghela nafas kasar dan mengumpati orang-orang tersebut yang seenaknya menggunakan jalan umum sebagai area untuk pesta pribadi. Mereka bahkan tidak peduli bahwa beberapa orang merasa keberatan dengan keputusan mereka untuk menutup jalan. Sangat menyulitkan bagi dirinya yang pergi ke mana-mana tanpa kendaraan pribadi.

Nebula terhenyak sejenak saat tak sengaja retina matanya menangkap seekor kucing berjalan terseok menghampiri dirinya. Kakinya terlihat pincang dan bagian atas kepala sebelah kiri kucing tersebut terdapat bekas luka yang masih basah.

Nebula lantas mengambil dan menggendongnya, namun tak lama kemudian teriakan wanita setengah umur berjalan dengan membawa sapu lidi mengalihkan pandangannya, "dasar kucing sialan!"

“Ibu.., berhenti.. berhenti, tolong jangan begini.” Nebula berusaha membawa kucing berwarna oren itu menjauh dari jangkauan Ibu tersebut. Membiarkan punggung Nebula terkena sebatan sapu lidi yang dipukulkan sembarangan.

“Bawa ke sini kucing itu, bisa-bisanya ambil makanan punya orang.” Ucap Ibu itu dengan nafas naik turun, setelah menghentikan gerakan tangan yang mengenai Nebula.

Nebula merasa nyeri dengan punggungnya, sepertinya setelah ini dia harus pergi ke dokter untuk periksa.

“Bu, mohon maaf sekali sebelumnya. Saya tau kucing ini salah karena mengambil makanan Ibu, tapi saya mohon jangan menyiksanya, dia makhluk hidup dan berhak mendapatkan kehidupannya.” Nebula memberi pengertian dengan kalimat sesopan mungkin, takut-takut bila dia terkena sebatan lagi, bisa patah punggungnya nanti.

“Kucing bisanya hanya nyusahin aja, mending mati aja sana!” Tidak berhenti begitu saja, ternyata ibu itu masih saja mengumpat sebelum pergi meninggalkannya.

Nebula mengelus dada setelah mendengarnya. Tidak habis fikir mengapa beberapa orang tidak menyukai mahkluk lucu satu ini, meskipun terkadang sedikit menyebalkan tetapi kucing bisa menjadi terapi mini untuk orang-orang yang memeliharanya.

Bukan maksud tidak menghargai kesukaan orang lain, tetapi harusnya meski tidak suka bukan malah menyiksanya. Kucing hanya makhluk yang membutuhkan makanan sama seperti hewan lain, yaa meski dia salah mengambil makanan seperti itu, namun siapa lagi yang akan memberinya makan selain orang-orang yang memiliki kebesaran hati?

Nebula mengelus pelan kepala kucing itu sembari berjalan melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti.

“Kasihan banget kamu. Pasti lapar yaa, tahan sebentar habis ini makan. Kenapa nggak pilih makanan di rumah orang lain yang baik hati sih? Kenapa di rumah ibu itu kan jadi luka begini.” Nebula mendumel sendiri, sedang kucing oren itu menatapnya dan menjawab dengan suara lirih, seakan mengerti apa yang dikatakan Nebula.

“Tenang, nanti kamu di rumah ketemu sama temen-temen yang lain. Jadi, kamu nggak sendirian lagi. Emm, mulai sekarang namamu Simon yaa.” Kali ini, Nebula terlihat sangat bersemangat, bahkan dia melupakan bahwa sebelumnya sempat uring-uringan perihal jalanan. Mungkin memang takdir Allah yang membawanya untuk bertemu dan menyelamatkan Simon.

Setelah kurang lebih 15 menit menempuh perjalanan, akhirnya Nebula tiba di rumah. Rumah Nebula seperti gang yang masuk ke dalam, sehingga rumahnya terlihat sedikit jauh dengan para tetangga, namun begitu pekarangan rumahnya sangat luas. Bersyukur orangtuanya mendapat warisan tanah ini oleh kakek buyutnya, sehingga Nebula berinisiatif membangun tempat untuk para kucing yang butuh tempat tinggal tepat di samping pekarangan kosong rumahnya.

Nebula membiarkan kucing-kucing itu pergi dan masuk ke tempat tersebut, dia menyediakan makan dan minuman, pintarnya kucing-kucing itu memilih membuang kotorannya diluar. Orangtuanya atau lebih tepatnya sang Ibu dulu sempat melarang, namun dengan bujukan sang Ayah yang sama menyukai hewan imut itu, sehingga Ibunya menjadi luluh.

“Aduh, Bula, itu kucingnya kenapa?” Tanya sang Ibu yang kebetulan berada di luar dengan panik menghampiri Nebula dan Simon.

Nebula tersenyum melihat Ibunya, “tadi habis kena pukul orang karena ambil makanannya.” Nebula memberikan Simon pada Ibunya yang tentu diterima baik oleh Dayana.

“Nebula ambil kotak obat dulu, Bu.” Pamit Nebula, sementara Dayana mengelus kepala Simon yang tidak terluka sembari membawanya untuk duduk di bangku kayu dekat pohon.

“Kamu lapar yaa sampai ambil makanan itu, lain kali jangan gitu yaa, mungkin orang itu marah karena makanannya cuman tinggal sedikit buat keluarganya, tapi salah juga kalau sampai pukul gini.” Ujar Dayana kasihan, dia tidak sepenuhnya menyalahkan, tapi tidak membenarkan bila sampai melukainya, dulu meskipun Dayana tidak suka kucing tidak sampai sebegitunya apalagi menyakitinya.

Tidak berselang lama Nebula datang membawa kotak obat beserta wadah berisi makanan kucing. Nebula duduk di samping sang Ibu, meraih tubuh Simon untuk mendekat padanya dan menyodorkan wadah makanan sementara dia mengobati luka Simon di kepala dan selanjutnya kaki.

“Tumben pulangnya agak lama dari biasanya sampai keringetan gini.” Tanya Dayana sembari menatap Nebula yang fokus mengobati Simon.

“Putar arah Bu, depan gang sebelah jalannya ditutup jadi Bula keliling dulu.” Sahut Nebula tanpa menatap Dayana.

“Yaudah, habis ini kamu makan terus istirahat yaa.”

Nebula sebetulnya bukan tak punya kendaraan pribadi, namun memang dia lebih suka menggunakan kendaraan umum, selain itu dia lebih suka jalan kaki, karena gang dengan jalan besar tidak begitu jauh, setelah melewati dua gang rumahnya dia menaiki bus kota.

Nebula sangat menyukai kucing, mungkin sejak dia menduduki Sekolah Menengah Pertama, saat itu dia ingin menyebrang jalan namun dia masih fokus memegang handphone, beruntung Riko -kucing berwarna abu yang sudah tiada sebab tertabrak motor- menghampirinya dengan mendusel ke kaki Nebula sehingga dia tidak sempat menyebrang, padahal saat itu jalanan cukup ramai.

Bagi Nebula kucing menjadi anugrah terindah yang diciptakan oleh Allah untuknya, entah sebagai obat dikala dia sendiri saat ingin bercerita ataupun sebagai penyelamatnya. Karena hal itu, Nebula ingin sekali mendalami mengenai hewan, sehingga dia mengambil jurusan Kedokteran Hewan dan saat ini dia bekerja di salah satu Klinik Hewan di Surabaya.

Perjalanan yang tidak mudah untuk Nebula, beberapa kegagalan telah dia rasakan, namun Nebula tidak menyerah dia berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan keinginannya. Nebula ingin menyelamatkan hewan-hewan yang bisa dia selamatkan, meskipun rasa bersalahnya kian menguat ketika tidak dapat menyelamatkan Riko.

Membahas mengenai Riko membuat Nebula menjadi sedih, setelah kepergian Riko mungkin selama satu bulan Nebula mengurung diri di kamar dan menangis. Kehilangan Riko memang berdampak untuk Nebula, namun karena Ibu dan Ayahnya tidak sanggup melihatnya, sehingga dengan banyak nasihat yang diberi mampu membuat sadar Nebula dan mengatarnya ke takdir seperti ini. Membuka jalan Nebula untuk terus merawat kucing-kucing yang kehilangan rumahnya atau yang sedang butuh perawatan di tempatnya bekerja.


메타데이터
post_id
c19151a515b7
slug
kucing-luka-dan-tangan-yang-menyelamatkan-c19151a515b7
url
https://medium.com/@helgasann/kucing-luka-dan-tangan-yang-menyelamatkan-c19151a515b7
canonical_url
https://medium.com/@helgasann/kucing-luka-dan-tangan-yang-menyelamatkan-c19151a515b7
author_url
https://medium.com/@helgasann
status
ok
fetched_at
2026-07-11 01:31:46