← Back to list

iii. wanna know

Keheningan di dalam Benz terasa begitu mencekik selama perjalanan. Arash tahu laki-laki yang bersamanya kini tengah dilingkupi amarah…

binar · 2026-07-07 16:16 · 2 claps · 1.6 min read
Open on Medium ↗

iii. wanna know

Keheningan di dalam Benz terasa begitu mencekik selama perjalanan. Arash tahu laki-laki yang bersamanya kini tengah dilingkupi amarah. Namun, akal sehat Arash menolak untuk disalahkan sepenuhnya. Karena bagaimana mungkin ia bisa memberi kabar kepada Elgio, sedangkan Elgio sendiri yang membuat aturan mutlak dimana Arash tidak bisa menghubungi duluan?

Hubungan rahasia ini benar-benar menguras kewarasannya.

“Belum makan, kan? Take away aja, kita ke kost kamu,” ucap Elgio memecah keheningan, nadanya datar dan dingin.

Arash hanya menatap Elgio dari samping sebagai respons.

“Jawab elah, kayak bisu aja!” Elgio meninggikan suaranya, membuat Arash tersentak ciut.

“Iya…iya, aku ngikut kamu,” cicit Arash cepat, ia tidak ingin memantik api yang lebih besar.

Sesampainya di kost semi apartment yang Arash sewa selama setahun ini, Elgio meletakkan kantong makanan di atas meja, lalu merebahkan tubuh tegapnya ke sofa. Tangan besarnya menepuk ruang kosong di sebelah sebagai perintah untuk Arash mendekat. Begitu Arash duduk, Elgio langsung menarik tubuh yang lebih kecil untuk dipeluk. Ia dekap dengan erat, ia elus lembut kepala Arash.

“Maaf ya kalau aku buat kamu anxious,” bisik Elgio pelan di pucuk kepala Arash. Hati Arash melunak mendengarnya. Ia membalas pelukan Elgio, menepuk-nepuk punggung tegap itu dengan sayang.

“Nggak apa-apa, aku ngerti, kok.”

“Aku mau nginep disini,” ucap Elgio kemudian.

“Nginep tinggal nginep,” sahut Arash, senyum tipis tercetak di bibirnya.

“Kamu seneng aku temenin tidur?”

Arash merenggangkan pelukan mereka hingga ia bisa menatap mata Elgio secara langsung. Arash bawa tangannya untuk mengelus rahang dan pipi tegas Elgio. “I’ve been alone for so long, and you make me feel like i actually have someone who’s glad to have me. Aku sayang sama kamu, Gio.”

“Oh, ya?” Elgio menaikkan sebelah alisnya, ia nampak begitu tenang mendengar pernyataan cinta Arash secara langsung.

Arash mengangguk pasti.

“Kalau kamu gimana?” Arash menjeda kalimatnya, mengumpulkan keberanian menuntut sebuah validasi. “Sayang nggak sama aku?”

Elgio terdiam sejenak, tatapannya mengunci netra Arash. Alih-alih memberikan jawaban konkrit yang Arash butuhkan, Elgio justru melemparkan senyum penuh arti kepadanya.

Laki-laki itu menjawab dengan nada rendah, “Dengan perlakuan aku ke kamu kayak gini, nggak kelihatan, kah?”

Sebuah pertanyaan cerdik. Jawabannya menjadi mengambang. Tapi bagi Arash, Elgio hanya memintanya untuk menyimpulkan sendiri apa yang ingin ia dengar. Arash tersenyum manis. Ditangkupnya wajah Elgio dengan kedua tangan, lalu ia mendaratkan sebuah ciuman ke pipi kanan laki-laki itu.

Arash meyakini bahwa Elgio adalah orang yang tidak pandai merangkai kata dan tidak bisa menyampaikannya emosi secara gamblang. Elgio bukan tipe orang yang dengan mudahnya mengumbar kata cinta, dan Arash sangat maklum akan hal itu. Jawaban itu sudah cukup untuk memvalidasi peraasaannya.


메타데이터
post_id
c19808b599ff
slug
iii-wanna-know-c19808b599ff
url
https://medium.com/@sunblumi/iii-wanna-know-c19808b599ff
canonical_url
https://medium.com/@sunblumi/iii-wanna-know-c19808b599ff
author_url
https://medium.com/@sunblumi
status
ok
fetched_at
2026-07-14 19:29:30