Maling Adalah Jalan Ninja Kita
Tidak enak didengar, tetapi kok benar adanya — sebuah esai.
Maling Adalah Jalan Ninja Kita
Tidak enak didengar, tetapi kok benar adanya — sebuah esai.
Photo by Jp Valery on Unsplash
Di sebuah podcast, salah satu narasumbernya adalah mantan pejabat negara, ahli hukum, dan undang-undang. Salah satu tema pembicaraannya adalah tentang korupsi uang. Dia dipancing oleh host dengan pertanyaan, “Sebenarnya pejabat pemerintahan itu kalau tidak ngapa-ngapain pun sudah kaya, bukan?” Narasumbernya menjawab: benar. Pejabat itu pendapatannya sudah sangat besar. Secara nalar, sebenarnya pejabat tidak perlu korupsi — uangnya sudah sangat melimpah.
Ia kemudian menjabarkan dengan rinci. Gaji pokok pejabat pemerintah sekitar Rp18 juta. Dengan tunjangan lain, bisa menerima bersih sekitar Rp100 juta. Sedangkan uang operasionalnya bisa mencapai Rp125 juta. Berarti per tahun totalnya sekitar Rp3 miliar. Itu pun belum termasuk biaya rapat dan perjalanan dinas. Beberapa pejabat juga merangkap jabatan sebagai komisaris perusahaan negara, yang bisa menambah penghasilan hingga Rp2 miliar per bulan. Artinya, secara kasar seorang pejabat — belum termasuk berbagai tunjangan dan fasilitas — dapat memperoleh sekitar Rp5 miliar per tahun, dan jika menjabat selama 5 tahun, jumlahnya bisa mencapai Rp25 miliar. Setelah tidak menjabat pun, mereka tetap menerima uang pensiun seumur hidup.
Namun, faktanya rata-rata koruptor di Indonesia adalah pejabat.
Pertanyaannya,
Mengapa pejabat dengan uang sebanyak itu masih mencuri uang yang bukan haknya? Mengapa masih rakus?
Apakah merasa kurang itu naluri manusia? Apakah karena rasa takut miskin? Tapi miskin bagaimana, jika seseorang sudah berpenghasilan Rp5 miliar per tahun? Pejabat bukan orang bodoh. Mereka orang pintar, dengan pendidikan dan kompetensi tinggi.
Khusus untuk pejabat, jika seseorang ingin menjadi pejabat demi memperkaya diri, itu sudah salah sejak niatnya. Uang yang didapat pejabat berasal dari pajak rakyat — amanah yang harus digunakan sebaik mungkin untuk kesejahteraan. Ambillah yang memang diatur undang-undang sebagai gaji, tetapi jangan ambil yang bukan hakmu.
Lalu mengapa keserakahan tetap ada di mana-mana? Mengapa orang miskin bisa serakah karena tidak punya uang, dan orang kaya juga serakah padahal uangnya banyak?
Dalam konteks korupsi di negara, sebelum membenahi sistem besar, ada baiknya kita mulai dari hal sederhana: pendidikan karakter dan pendidikan kewarganegaraan.
Pendidikan karakter menanamkan nilai-nilai etis dan moral — jujur, adil, bertanggung jawab — agar seseorang mampu membuat keputusan dengan integritas. Sedangkan pendidikan kewarganegaraan menumbuhkan kesadaran sosial, partisipasi dalam masyarakat, dan penghormatan terhadap hak orang lain. Keduanya saling melengkapi untuk membentuk warga negara yang berintegritas dan peduli.
Dan semua itu bisa dimulai dari rumah: hal-hal kecil seperti mengenal mana yang hak dan bukan hak, cara mengantre, membuang sampah dengan benar, menaati peraturan lalu lintas meskipun tidak ada polisi atau CCTV. Dari situ, nilai kejujuran dan tanggung jawab dilatih, lalu dikembangkan dalam kehidupan kerja dan berdagang. Contohnya: jika kita menjual barang 10 kg, apakah boleh menimbangnya 9,99 kg? Lebih baik kurang sedikit atau lebih sedikit? Kalau lebih, kita rugi; kalau kurang, kita untung. Tapi apakah itu jujur? Nilainya kecil, tapi di situlah karakter diuji.
Saya berpikir, semua kecurangan di masyarakat kecil — curang saat berdagang, bermain di area abu-abu, menghalalkan segala cara — akan hilang jika rakyat kecil sudah hidup layak dan tidak takut miskin. Namun kenyataannya, tidak juga. Orang kaya pun masih banyak yang curang demi keuntungan lebih. Kalian sudah kaya, tapi masih saja curang.
Kita harus mulai dari kesadaran pribadi dan keluarga untuk hidup dengan integritas — hal yang paling sulit karena harus dilakukan setiap hari. Jika kita punya sedikit kekuasaan, doronglah transparansi dalam sistem. Saya pernah bertanya iseng kepada seorang teman:
“Kalau hanya satu kata yang dibutuhkan untuk memperbaiki negara yang korup, apa itu?” Jawabannya singkat: transparansi.
Dan ketika seseorang sudah menjadi pejabat, seharusnya mendukung lembaga antikorupsi, bukan malah ikut korupsi.
Saya yakin, hidup para koruptor tidak pernah benar-benar tenang meskipun uang mereka banyak. Dalam hati kecilnya, nurani mereka pasti berteriak bahwa apa yang mereka lakukan salah. Teriakan itu mungkin tenggelam oleh kenikmatan yang dibeli dari uang panas itu, tapi tidak akan pernah hilang. Apalagi jika mereka sudah punya anak — nurani itu akan terus berteriak. Semoga semakin banyak yang sadar, dan sistem berjalan dengan baik agar transparansi tumbuh dan kesejahteraan meningkat.
Minggu lalu saya berbincang santai dengan saudara saya. Mereka bekerja sebagai pekerja serabutan di sekolah — tukang kebun, tukang bersih-bersih, tukang bangunan, keamanan, dan sebagainya. Saya tidak berani menanyakan gajinya, tapi dalam obrolan santai itu, mereka bercerita bahwa gajinya hanya Rp500 ribu per bulan. Istrinya juga berjualan di sekolah. Namun setelah program MBG (Makan Bergizi Gratis) masuk, mereka khawatir dagangannya tidak laku, karena anak-anak sudah makan gratis di sekolah dan uang saku mungkin akan dikurangi.
(Sedikit disclaimer: cerita ini bukan data, hanya curahan hati.)
Kemudian pembicaraan berlanjut ke soal bantuan pemerintah. Mereka bercerita banyak penyelewengan terjadi di lapangan. Salah satu saudara saya, yang juga ketua RT, bahkan mengaku sudah 4 bulan tidak menerima honor. Program pembangunan kampung yang seharusnya turun penuh, katanya, hanya sampai sekitar 20% dari anggaran. Sisanya? Wallahu A’lam Bishawab.
Ia lalu berkata,
“Ancen dasarane kene iki maling kabeh. Selama onok kesempatan, yo dadi maling. Lha pejabat ae oleh maling, mosok kene gak oleh maling.” Artinya: “Memang dasar manusia di sini pencuri semua. Selama ada kesempatan, ya mencuri. Pejabat saja boleh mencuri, masa kita tidak boleh?”
Kalimat itu menampar saya. Mungkin benar, korupsi sudah mengakar begitu dalam.
Salah satu akar korupsi adalah Pragmatism, Greed, and Systemic Failures.
Sikap pragmatis — keinginan mempermudah segalanya — lahir dari kegagalan sistemik. Contohnya mudah: mengurus SIM atau surat kendaraan bermotor terasa lama dan rumit. Karena waktu kita terbatas, akhirnya kita berpikir, “lebih baik pakai calo saja, bayar mahal sedikit, yang penting beres.” Saat cara curang dianggap jalan praktis, korupsi berubah jadi bagian dari “biaya hidup”.
Saya pernah bekerja sebagai vendor IT untuk pengadaan perangkat seperti server, router, dan switch. Awalnya saya jarang bersentuhan dengan klien, hanya fokus bekerja dan belajar. Namun saat mulai diminta bertemu klien, saya mulai melihat banyak hal yang aneh: pembicaraan uang di luar kesepakatan, dokumen yang disembunyikan, hingga menjatuhkan pihak lain.
Suatu hari CEO saya berkata,
“Perlu diingat, yang kita lakukan ini bukan hitam, tapi masih zona abu-abu.”
Kalimat itu membuat saya berpikir panjang.
Beberapa bulan kemudian, saat saya duduk di warung kopi dekat lokasi proyek, saya melihat selembar koran bekas tertiup angin. Entah kenapa saya membacanya. Isinya tentang kasus korupsi pengadaan barang — dan semua yang tertulis di situ persis seperti yang saya lakukan di proyek saya. Saya langsung merinding. Sejak hari itu saya memutuskan untuk tidak lagi bekerja di bidang seperti itu.
Beberapa tahun kemudian, saya bekerja di startup pendidikan yang diisi anak-anak muda. Ternyata cara berpikir mereka berbeda. Mereka paham benar batas antara hitam dan putih. Kami bahkan membuat sistem whistleblower, halaman panduan etika, pelatihan, dan ujian agar semua karyawan tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sampai kaus gratis dari vendor pun harus dilaporkan. Dan apa hasilnya? Bisnis kami tumbuh, kepercayaan meningkat, dan kolaborasi makin kuat.
Saya tahu korupsi ada di mana-mana. Ia memang bisa membuat hidup seseorang “makmur” sementara. Tapi saya percaya, sesuatu yang didapat dengan cara curang akan kembali ke pemilik aslinya — dalam bentuk apa pun: uang yang habis, kesehatan yang hilang, keluarga yang berantakan, atau hati yang tidak pernah tenang.

Kami percaya bahwa keluarga adalah pilar utama generasi masa depan.
Kami mengajak setiap keluarga bergerak bersama untuk menguatkan keluarga, melalui pendekatan aktivitas yang penuh semangat, kehangatan dan kebersamaan.
Lewat **Kifaga**, kami ingin mewujudkan apa yang kami percayai.
메타데이터
- post_id
- c1b3eebde91e
- slug
- maling-adalah-jalan-ninja-kita-c1b3eebde91e
- url
- https://medium.com/@donnykrn/maling-adalah-jalan-ninja-kita-c1b3eebde91e
- canonical_url
- https://medium.com/@donnykrn/maling-adalah-jalan-ninja-kita-c1b3eebde91e
- author_url
- https://medium.com/@donnykrn
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 09:39:26