Syarat
Untuk menarik napas saja rasanya begitu sesak.
Syarat
Untuk menarik napas saja rasanya begitu sesak.
Bukan karena aku lemah, tapi karena terlalu banyak mata yang menatapku… dengan harapan yang dititipkan diam-diam. Tatapan yang seolah berkata bahwa aku harus mampu, aku harus kuat, aku harus berhasil.
Dan di tengah tatapan itu, aku tidak punya pilihan selain tetap terlihat tenang. Tetap berpikir jernih. Tetap berjalan seolah semuanya baik-baik saja.
Setiap malam, setiap detak jam berbunyi, ruangan yang sunyi berubah menjadi berisik. Jam itu berdetak tanpa henti, seolah-olah bahkan waktu pun lupa siapa dirinya, lupa mengapa ia harus terus bergerak tanpa memberi jeda.
Tekanan ini bukan sekadar beban. Ia seperti alarm yang terus berbunyi di dalam kepala. Mengingatkanku bahwa setiap langkah yang kuambil bukan lagi tentang diriku sendiri.
Setiap keputusan, sekecil apa pun, bisa menjadi tempat orang lain berharap… atau kecewa.
Dan anehnya, aku tidak sedang takut gagal. Aku hanya takut melihat mereka kecewa.
Amanah ini bukan untuk membuktikan siapa diriku. Bukan tentang seberapa hebat aku. Bahkan untuk mendapat pujian pun rasanya aku tidak layak, apalagi untuk dianggap kuat.
Tapi dari sini aku belajar untuk menguatkan diri, bahkan saat aku sendiri hampir runtuh. Aku belajar menahan semuanya sendiri, memilin beban itu pelan-pelan tanpa pernah benar-benar membaginya kepada siapa pun.
Karena aku harus terlihat seolah semuanya baik-baik saja.
Aku tidak bercerita kepada orang lain bukan karena aku tidak percaya pada mereka. Tapi mungkin ini caraku bertahan. Ini caraku menjadi diriku sendiri, meski terkadang aku merasa semakin jauh dari diriku yang dulu.
Entahlah sampai kapan kebiasaan buruk ini akan bertahan.
Setiap malam aku selalu berpikir, apakah akan ada orang yang bisa membebaskanku dari kebiasaan ini? Ah… mulai lagi. Itulah alasan aku membenci malam.
Itulah keinginan egoisku. Padahal siapa juga yang mau dengan orang yang belum selesai dengan masalah pada dirinya sendiri? Siapa juga yang mau dengan orang yang hidupnya masih penuh luka dan beban?
Dasar manusia bodoh. Jangan terlalu banyak berharap.
Karena ternyata menanggung amanah ini tidak semudah yang kupikirkan. Banyak hal datang tiba-tiba, banyak kabar yang tidak menyenangkan, banyak keadaan yang memaksaku untuk tetap berdiri.
Dan apa pun masalahnya, apa pun beritanya, aku tidak punya ruang untuk menyerah.
메타데이터
- post_id
- c1f0601c58a7
- slug
- syarat-c1f0601c58a7
- url
- https://medium.com/@syahdandwiz/syarat-c1f0601c58a7
- canonical_url
- https://medium.com/@syahdandwiz/syarat-c1f0601c58a7
- author_url
- https://medium.com/@syahdandwiz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16