Bercinta dengan Malaikat Maut
Aku duduk di beranda rumah, menghadap ke timur dan menatap mentari sedang berjalan menuju puncak. Sesekali menyapa mereka yang berlalu di…
Bercinta dengan Malaikat Maut

Foto: Magnific
Aku duduk di beranda rumah, menghadap ke timur dan menatap mentari sedang berjalan menuju puncak. Sesekali menyapa mereka yang berlalu di depan rumahku, sesekali pula menyeruput kopi hitam hangat milikku. Segalanya menyatu lantas menciptakan euforia ketenangan sebelum seorang pemuda mengganggu pagi cerah tersebut.
“Selamat pagi, Kamerad. Bagaimana kabarmu?” tanya pemuda berpenampilan rapi dengan kemeja dan rambut klimis disisir ke belakang. Ia berdiri tepat di depan beranda rumahku.
Namanya Bujang. Aku mengenalnya, ia kawan baikku.
Semenjak aku menyelesaikan kuliah di Kota Pelajar lalu kembali ke desa ini. Bujang dengan setelan rapinya bak orang-orang kota selalu bertamu ke rumahku sesuka hatinya. Mau tidak mau, aku menjalin pertemanan dengan Bujang.
Aku menyeruput kopi, menaruhnya di atas meja bundar. “Seharusnya kau menanyakan hal itu kepada kopi ini, Bujang. Kopi ini akan menjawab bahwa orang sakit meminum obat, bukan meminum kopi. Bukan pula duduk di beranda rumah, tapi terbaring di atas ranjang rumah sakit.”
Bujang tertawa, tetapi aku sebaliknya. Diam membisu dan menatapnya yang tampak seperti orang gila — Dia memang orang gila berpakaian rapi, warga desa menjulukinya seperti itu.
“Apa kau mau kopi hitam? Duduklah di mari, Bujang.” Aku menunjuk kursi kosong di seberang meja bundar.
“Terima kasih atas tawarannya,” sahut Bujang ketika mendudukkan tubuhnya di kursi “Tapi, aku tidak menginginkan kopi untuk hari ini. Aku menginginkan alamat rumah Malaikat Maut, apakah kau punya?”
Aku sudah biasa mendengar permintaan Bujang. Setidaknya sampai aku telah mengenalnya cukup lama. Bagaimana tidak, setiap kali Bujang kemari, pastilah ia menanyakan alamat si Malaikat Maut. Bahkan, aku tidak mengetahui siapa orang yang dijuluki Malaikat Maut — Bujang tidak mau memberitahuku.
Bukan hanya bertanya kepadaku. Bujang pun bertanya kepada hampir seluruh warga desa perihal alamat si Malaikat Maut. Tidak heran mengapa warga desa menjulukinya orang gila berpakaian rapi.
“Maaf, Bujang. Tapi, jawaban dari pertanyaan kau itu sama saja dengan menunggu ayam jantan bertelur. Mustahil ada. Bahkan, tidak mungkin.”
“Jadi, kau masih belum punya?” tanya Bujang sekali lagi. “Aku kira seorang sarjana seperti kau mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan orang desa sepertiku. Rupanya gelar sarjana di nama itu hanya sekadar kiasan yang memperbagus nama, bukan memperbagus pemikiran dan ilmu pengetahuan.”
“Ekspektasi kau berlebihan, Bujang,” jawabku santai. Aku tidak mengambil pusing atas ucapan Bujang. Lagi pula ucapannya adalah sebuah fakta dan kenyataan. “Kau tahu, Bujang. Tidak semua mahasiswa berkuliah untuk menimba ilmu. Melainkan, hanya demi gengsi semata.”
“Sedangkan kau masuk kelompok yang mana?” Bujang bertanya kembali.
“Aku hanya memanfaatkan ilmu sarjanaku demi bertahan hidup sebagai seorang sastrawan dan untuk bertahan hidup dari gempuran gosip tetangga yang mencurigaiku melakukan pesugihan.”
Bujang kembali tertawa dan aku sebaliknya.
Bujang terdiam lalu menatap jam analog di tangannya. “Aku harus pergi. Ada rezeki yang harus aku kejar. Sampai jumpa, Kamerad.”
“Ya, sampai bertemu kembali, hati-hati,” sahutku ketika Bujang beranjak dari kursinya. Kemudian, perlahan hilang ditelan oleh jarak.
Detik berikutnya, sunyi dan sepi mulai mengisi cangkir kopiku yang menyisakan noda hitam di sudut-sudutnya. Tidak ada pilihan, aku masuk ke dalam rumah membawa cangkir ke dapur lalu mematri langkah menuju kamar, ke meja kerjaku untuk bergelut dengan pena, kertas dan diksi.
Kemarin aku baru saja mengucapkan ‘Sampai bertemu kembali’ kepada Bujang. Hari ini, ucapanku dilunaskan. Kemarin, aku bertemu dengannya di beranda rumahku ketika si mentari berjalan menuju puncak. Hari ini, aku bertemu kembali di tempat yang sama ketika si mentari menunduk pulang.
“Selamat sore, Kamerad.” Bujang menghampiriku. Seperti biasa, ia berpakaian rapi seperti kemarin. “Bolehkah aku duduk di sebelah kau?”
“Ya, tentu. Silakan.” Aku memandangi wajahnya yang tidak seperti biasa. “Kau tampak bahagia sekali hari ini, terlihat dari senyuman kau. Apa karena bos kau, sang Juragan, menaikkan bunga pinjaman setinggi langit sehingga gaji kau ikut naik juga?”
Bujang tertawa terbahak-bahak. Ia terdiam sejenak, mengatur ritme nafasnya. “Mimpi apa sang Juragan mau menaikkan gaji karyawan dan buruhnya. Sudah pasti ia lebih memilih menaikkan taruhannya di meja judi atau menaiki seluruh pelacur yang tersedia di rumah bordil Mama Mawar.”
“Turut prihatin kepada kabar yang buruk itu, Bujang.”
“Meskipun sama-sama menjadi tempat bergantungnya kehidupan warga desa untuk bertani dan bekerja. Matahari tidak pernah melakukan hal serupa. Ia tetap seperti biasa, tetap bersinar.”
“Sebab matahari tidak tertarik pada nafsu duniawi.” Aku memandang kembali wajah Bujang setelah berkeluh kesah, masih tampak bahagia, tidak berkurang sedikit pun. “Lantas apa yang membuat kau sangat bahagia hari ini?”
“Aku telah menemukan alamat Malaikat Maut.”
“Sungguh? Di mana ia tinggal?” tanyaku. Aku penasaran, khususnya siapa sosok yang dimaksud Malaikat Maut.
“Aku tidak bisa memberitahu kau, meskipun kau sudah aku anggap sebagai kawan baikku. Sebab hanya aku yang boleh mengetahuinya, termasuk menidurinya.”
“Oh, selamat berbahagia, Bujang.”
Bujang mengangguk dan pergi, sedangkan aku masuk ke dalam rumah untuk beristirahat sebagaimana matahari hampir terlelap pulas.
Hari begitu misterius. Kemarin, aku tidak mengucapkan kalimat perpisahan. Kini, sepekan telah berlalu, Bujang tidak bertamu ke rumahku. Bukan masalah, Bujang memang misterius, ia bertamu sesuka hatinya. Bahkan, Bujang pernah tidak bertamu sepekan penuh dan bertamu di pekan berikutnya.
Hari ini, memasuki pekan kedua tanpa kunjungan Bujang. Aku memulai hari seperti biasa, meminum kopi sebelum menyapa kertas, pena dan diksi. Setidaknya sampai seorang pria gendut berpakaian jas dengan aksesoris emas berkunjung ke rumahku.
Pria paling serakah di desa ini, yaitu sang Juragan berdiri di depan beranda rumahku. Ia bersama dua pria berbadan kekar, hitam, berambut gondrong. Aku tidak mengenal dua pria tersebut, tetapi aku bisa menebak siapa mereka. Tukang pukul dan penagih hutang sang Juragan.
“Apakah kau memiliki ruang tamu yang luas? Aku ingin berbicara di sana,” ucap sang Juragan.
“Tentu, mari masuk.” Aku beranjak masuk ke dalam rumah bersama secangkir kopiku.
Sang Juragan ikut masuk bersama kedua pria kekar. Mereka tidak repot-repot melepas sepatunya. Bahkan, duduk tanpa dipersilakan. Aku tidak peduli, sebab begitulah tabiat sang Juragan.
“Apa kau mau minum kopi?” Aku menyeruput kopi dan menawarkan kepada ketiga tamu di depanku. “Ini enak, meskipun tidak seenak susu dari sumber langsung yang sering kau cicipi.”
“Tidak perlu repot-repot.” Sang Juragan tertawa lalu terdiam untuk berkata, “Kau tahu kabar Bujang? Orang gila berpakaian rapi. Di mana dia sekarang? Sudah sepekan tak masuk kerja di pabrikku.”
“Aku tidak tahu, sang Juragan. Sudah sepekan pula, dia tidak bertamu kemari,” sahutku. “Mungkin saja ia pergi merantau ke kota, mencari pekerjaan yang lebih layak dibanding bekerja di pabrik berasmu dengan gaji yang tergolong kecil.”
Sang Juragan kembali tertawa, kali ini tawanya begitu keras. “Bujang sudah bekerja cukup lama denganku. Dia tidak pernah sedikit pun mengeluh tentang upah, sekali pun aku telat membayar upahnya.”
“Pantas saja kau mencarinya, padahal kau bisa saja memecat Bujang sebagaimana kau memecat pekerja yang tidak menguntungkan perut kau.”
“Itulah yang dinamakan pemburu, Kamerad,” ucap sang Juragan. “Seorang pemburu tidak akan melepaskan mangsanya, apa lagi jika mangsa itu sangat menguntungkan.”
“Maka berhati-hatilah, gerombolan mangsa bisa menjadi berbahaya untuk seorang pemburu seperti kau.”
“Itu bukan masalah. Sebab aku punya kekuatan dan kekuasaan.”
Aku memandangi muka sombong sang Juragan. Kemudian, memandangi kedua pria yang aku analogikan sebagai kekuatan dan memandangi perhiasan di tubuhnya yang aku analogikan pula sebagai kekuasaan.
“Jangan terlalu disombongkan. Aku punya kenalan yang memiliki kekuasaan atas sebuah negara. Tapi, ia rakus dan serakah. Pada akhirnya, ia harus turun dari takhta itu setelah digonggongi oleh mangsanya.”
Sang Juragan diam, kedua jarinya saling meremas. Aku paham, ia tidak nyaman dengan pembahasan ini. Namun, aku menikmatinya seperti menikmati kopi di depanku.
“Perihal Bujang? Kau sungguh tidak tahu? Kau adalah kawan dekatnya, seharusnya kau punya informasi perihal itu” tanya sang Juragan mengubah topik pembahasan. Mukanya marah, tampak kesal.
“Aku berkata jujur. Tidak ada informasi yang aku punya perihal Bujang, kecuali ia tinggal di dekat pemakaman umum sebelah selatan sana,” sahutku. “Kau bisa ke sana, menemuinya langsung.”
“Aku tidak pernah mengunjungi tempat kotor seperti itu. Kenapa bukan kau saja yang ke sana menjenguknya sekalian menyampaikan agar dia kembali ke pabrik.”
“Aku menolak,” jawabku tegas. “Aku sudah punya pekerjaan, kecuali kau mau membayarku sebagai pembawa pesan dengan upah yang lebih banyak dari pekerjaanku saat ini. Aku akan mempertimbangkannya, sang Juragan.”
“Sayang sekali. Aku juga menolak, Kamerad.”
Juragan beranjak dari tempat duduknya, mukanya merah menyala, diikuti oleh dua pria kekar. Bahkan, mereka tidak repot-repot mengucapkan kalimat salam kepadaku. Tidak apa-apa, sebab mereka pergi tanpa membawa seluruh hartaku atau membuatku babak belur sebagaimana yang mereka lakukan terhadap warga desa yang menunggak pembayaran hutang.
Aku lantas beranjak ke dapur, membawa cangkir bekas kopi, menggantinya dengan kunci motor. Selang beberapa menit, aku sudah berada di atas motor, melesat jauh melewati pemakaman umum, tempat orang tuaku ditelan bumi.
Bujang tidak pernah bercerita tentang latar belakangnya, kecuali di mana ia tinggal. Namun, ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki ke rumahnya. Rumah Bujang sederhana, dibangun dari bata merah dan anyaman bambu. Pekarangannya luas dan memiliki beberapa pohon kamboja sebagai dekorasi.
Motorku terparkir sempurna di pekarangan, sedangkan aku berdiri menunggu Bujang membuka pintu rumahnya setelah beberapa kali memanggil namanya. Tidak ada respons, waktuku terkuras sia-sia. Tidak ada pilihan lain, selain menendang pintu. Pintunya terjatuh membuatku leluasa masuk ke dalam.
Aku berdiri di ruang tamu, menyapu pandang sekeliling. Tidak ada hal menarik di dalam rumah Bujang, selain rumah ini terbilang kecil dan tampak kotor, entah sudah berapa lama tidak dijamah. Debu yang menempel di sudut-sudut ruang tamu menyapa, seolah mengatakan tidak ada Bujang di sini, mungkin di ruangan lain.
Aku beranjak ke satu-satunya kamar, pun tidak ada Bujang di sana. Hanya ada debu yang berbaring di kasur dan menghiasi beberapa foto di dinding yang memaku atensiku. Foto-foto itu menampilkan Bujang bersama seorang wanita, mereka tampak romantis. Aku tidak tahu apa hubungan mereka, kecuali si perempuan yang telah menjadi istri ketiga Pak Kepala Desa.
Aku kembali ke ruang tamu. Kemudian, memanggilnya, suaraku bergema, tidak ada balasan. Apakah Bujang tidak ada di rumah? pikirku.
Tersisa satu ruangan yang belum dicek, terletak di belakang. Aku mematri langkah ke sana sembari tidak memedulikan sapaan dari sarang laba-laba yang sesekali mengganggu langkahku. Ruangan tersebut ternyata dapur. Aku baru tahu ketika melihat perabotan dapurnya, pun dipenuhi oleh debu.
“Oh, Bujang!” ucapku dengan lantang ketika melihat Bujang di sisi dapur. Aku kaget bukan main.
“Kau sepertinya bahagia sekali sudah meniduri Malaikat Maut,” ucapku lagi. “Saking bahagianya, kau sampai ketiduran seperti ini.”
Tidak ada jawaban, Bujang masih pulas dalam tidurnya. Aku terdiam sejenak, tidak enak membangunkannya.
Aku mendekati Bujang, mendongak dan berkata lirih, “Sepertinya, Malaikat Maut punya selera rendah, Bujang. Rupanya, Malaikat Maut hanya membutuhkan tali yang melingkar di leher kau sebagai pengikat cinta, bukan cincin yang melingkar di jari manisnya.”
Tamat
Gowa, Mei 2024
메타데이터
- post_id
- c1f0be535d6a
- slug
- bercinta-dengan-malaikat-maut-c1f0be535d6a
- url
- https://medium.com/@jaladarapaksi/bercinta-dengan-malaikat-maut-c1f0be535d6a
- canonical_url
- https://medium.com/@jaladarapaksi/bercinta-dengan-malaikat-maut-c1f0be535d6a
- author_url
- https://medium.com/@jaladarapaksi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 06:45:42