Apakah Lukaku Tidak Layak Mendapatkan Tempat?
Beberapa waktu belakangan ini, aku sering merasa seperti sedang hidup di dalam tubuh orang lain.
Apakah Lukaku Tidak Layak Mendapatkan Tempat?
Beberapa waktu belakangan ini, aku sering merasa seperti sedang hidup di dalam tubuh orang lain.
Aku masih bangun di pagi hari dengan wajah yang sama, masih menatap cermin yang sama, masih menjalani hari-hari yang tampak biasa, dan masih menikmati segelas es teh leci kesukaanku. Namun ada sesuatu yang telah berubah. Sesuatu yang diam-diam patah dan tidak pernah benar-benar kembali ke bentuk semula.
Aku mulai bertanya pada diriku sendiri — untuk apa menjadi baik jika pada akhirnya kamu tetap dihukum bersalah atas kebaikan yang kamu berikan?
Pertanyaan itu datang berulang kali, seperti gema yang tak kunjung menemukan dinding terakhir untuk berhenti. Ia mengikutiku kemanapun aku pergi, duduk di sampingku saat malam tiba, dan berbisik pelan ketika dunia sedang sepi.
Sejak saat itu, aku bukan lagi orang yang sama.
Bukan karena aku berubah menjadi seseorang yang penuh kebencian. Bukan pula karena aku kehilangan rasa peduli terhadap sesama. Aku hanya lelah.
Lelah melihat bahwa tangan yang selama ini terulur untuk menolong, pada akhirnya justru ditunjuk sebagai penyebab luka.
Lelah menyadari bahwa setelah semua usaha yang diberikan, yang tersisa hanyalah tuduhan, kutukan, dan kesalahpahaman yang tak pernah diberi kesempatan untuk diluruskan.
Pada akhirnya, seperti biasa, aku sendirilah yang harus merapikan semuanya.
Aku memunguti satu demi satu puing kehancuran yang ditinggalkan orang lain di dalam hidupku. Aku menjahit bagian-bagian diriku yang robek. Aku mengobati luka yang semakin melebar di tempat yang bahkan tidak bisa dilihat oleh siapa pun.

Source from : https://id.pinterest.com/pin/588564245095361506/
Sementara itu, kutukan, makian, dan tuduhan yang pernah dilemparkan kepadaku masih berputar-putar di dalam kepala seperti rekaman kaset rusak yang tidak bisa dihentikan.
Semuanya datang dan pergi tanpa pernah benar-benar hilang.
Aku mencoba untuk melupakannya. Memahami semuanya sekuat yang aku bisa. Bahkan aku mencoba meyakinkan diriku bahwa suatu hari nanti semuanya akan baik-baik saja.
Dan di antara semua suara itu, ada satu pertanyaan yang diam-diam tinggal lebih lama daripada yang lain.
“Apakah lukaku tidak layak mendapatkan tempatnya sendiri?”
Aku pernah berpikir akan ada seseorang yang memberikan ruang bagi kebenaran untuk berdiri. Seseorang yang akan memahami bahwa tidak semua hal sesederhana hitam dan putih.
Namun harapan itu perlahan runtuh.
Orang yang kukira akan memberikan pembelaan justru tidak pernah benar-benar melakukannya. Orang yang kuharap dapat melihat keadaanku memilih diam ketika aku membutuhkan pemahaman. Pada akhirnya aku hanya menemukan kesunyian.
Ironisnya, jangankan pembelaan yang sempat kuharapkan, bahkan sebuah terima kasih yang sederhana pun tak pernah sampai kepadaku.
Saat itulah aku mulai mengerti.
Bahwa tidak semua orang yang meminta pertolongan benar-benar pantas untuk ditolong. Karena ada orang-orang yang datang membawa luka, lalu meninggalkan luka yang lebih besar ketika mereka pergi.
Kalimat itu terdengar pahit, bahkan bagiku sendiri. Namun hidup mengajarkannya dengan cara yang tidak pernah kuinginkan.
Dan kali ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak ingin lagi menjadi orang yang paling keras terhadap diriku sendiri.
Aku ingin belajar menghargai diriku.
Aku ingin mendengarkan suara kecil yang selama ini berusaha memperingatkanku, tetapi selalu kuabaikan demi mengutamakan orang lain.
Aku ingin percaya bahwa tidak semua beban harus kupikul sendirian. Bahwa aku juga berhak didengar. Bahwa luka yang kumiliki tidak lebih kecil hanya karena aku memilih diam.
Karena pada akhirnya, jika dunia tidak memberikan tempat bagi lukaku, maka aku sendiri yang akan memberikannya.
Aku akan merawat bagian-bagian diriku yang pernah terluka.
Aku akan memeluk kesedihan yang selama ini kupaksa pergi.
Mungkin inilah saatnya untuk memilih diriku sendiri.
Bukan karena aku menjadi egois.
Melainkan karena aku akhirnya memahami bahwa diriku juga layak untuk diselamatkan.
Dan untuk yang terakhir kalinya, aku memanjatkan sebuah doa yang tidak lagi disertai amarah, hanya kelelahan yang telah mencapai ujungnya.
Semoga di kehidupan mana pun yang mungkin ada setelah ini, jalan kami tidak pernah lagi dipertemukan.
Sebab beberapa perpisahan memang diciptakan bukan untuk disesali, melainkan untuk memastikan bahwa luka yang sama tidak perlu terulang dua kali.

Seorang Perempuan dengan “Lukanya” Diatas Kapal Kertas. Source from: https://id.pinterest.com/pin/538532067961964897/
메타데이터
- post_id
- c233de2dee75
- slug
- apakah-lukaku-tidak-layak-mendapatkan-tempat-c233de2dee75
- url
- https://medium.com/@hiddenparagraphs/apakah-lukaku-tidak-layak-mendapatkan-tempat-c233de2dee75
- canonical_url
- https://medium.com/@hiddenparagraphs/apakah-lukaku-tidak-layak-mendapatkan-tempat-c233de2dee75
- author_url
- https://medium.com/@hiddenparagraphs
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 16:30:55