← Back to list

Menjaga Ritme, Menjaga Diri

Saya pernah dipuji karena satu hal yang terasa janggal, karena saya salat lima waktu. Pujian itu muncul saat saya menjalani KKN, di mana…

Ukky Okka · 2026-03-12 02:03 · 0 claps · 3.2 min read
#religion #sholat #islam
Open on Medium ↗
Wiki topics: HUM · Humanities · General 🕊️ · Religion

Menjaga Ritme, Menjaga Diri

Saya pernah dipuji karena satu hal yang terasa janggal, karena saya salat lima waktu. Pujian itu muncul saat saya menjalani KKN, di mana saya berada di tengah teman-teman dari berbagai fakultas dan latar belakang berbeda yang sebelumnya tidak saya kenal. Saya tersenyum canggung, bukan karena bangga, tetapi karena heran. Label “alim” terdengar terlalu besar untuk sesuatu yang seharusnya menjadi kewajiban dasar. Ada gengsi yang aneh, seolah-olah konsistensi beribadah dapat mengubah cara orang memandang saya. Mereka menganggap kewajiban paling dasar sebagai umat islam seoah-olah menjadi sebuah pencapaian. Saat itu saya mulai bertanya, apakah standar untuk dikatakan sebagai orang “alim” memang telah bergeser, atau justru menjaga hal yang paling dasar memang tidak sesederhana yang selama ini saya kira?

Ada juga momen ketika saya merasa kikuk dengan label “alim” itu. Diam-diam saya ingin terlihat biasa saja, tidak terlalu menonjol dalam urusan ibadah. Kemudian saya melakukan sesuatu yang kini terasa ironis. Saya sengaja tidak salat selama tiga hari, sebuah eksperimen kecil terhadap diri sendiri. Hasilnya bukan rasa bebas, melainkan kelelahan yang sulit dijelaskan. Tubuh terasa berat, pikiran lebih mudah gelisah, dan hari-hari berjalan tanpa jeda yang menenangkan. Kemudian saya teringat satu ayat yang sering saya dengar sejak kecil adalah bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dulu saya memahaminya secara sederhana, mungkin hanya sebatas salat merupakan sebuah pagar yang menjauhkan seseorang dari kesalahan besar. Namun, setelah melewati tiga hari tanpa ritme itu, saya mulai melihatnya dari sisi yang lebih sunyi. Mungkin yang dicegah bukan hanya tindakan besar yang tampak di luar, tetapi juga kegelisahan kecil, kekacauan batin, dan kelelahan yang pelan-pelan menggerus kendali diri.

Selesai KKN saya mendapat kesempatan untuk membantu kuliah fisiologi hewan. Topik dari kuliah tersebut adalah mengenai “mengapa ayam berkokok saat pagi hari?”. Terlihat simple, namun pemahaman bahwa ayam berkokok mengikuti jam biologis membuat saya melihat sesuatu yang lebih luas. Sesuatu tersebut adalah fakta bahwa hidup manusia pun berjalan dalam ritme, bukan sekadar kebiasaan. Dalam fisiologi, saya belajar bahwa tubuh memiliki lonjakan hormon dan perubahan energi yang mengikuti siklus cahaya. Pagi hari ditandai dengan peningkatan kewaspadaan, siang menjadi puncak aktivitas, dan malam membawa tubuh pada fase pemulihan. Dari situ saya mengaitkan terhadap pola Masyarakat muslim yang harus bangun pagi hari untuk sholat shubuh. Saya juga teringat oleh pertanyaan teman saya saat KKN “kenapa orang-orang bisa bangun untuk sholat subuh?”. Semua itu terjawab ketika saya mulai memahami bahwa tubuh manusia bekerja dalam ritme. Ia memiliki jam biologis yang mengatur fase aktif dan istirahat.

Mungkin yang saya rasakan saat itu bukan sekadar rasa bersalah, melainkan tubuh yang kehilangan pola jedanya. Ketika saya mengamati kembali waktu-waktu salat, saya mulai melihat keterkaitan yang sederhana namun masuk akal. Subuh hadir di awal peningkatan kewaspadaan, zuhur di tengah kesibukan, asar ketika energi mulai menurun, dan magrib hingga isya mengiringi transisi menuju istirahat. Menariknya, waktu-waktu salat tersebar mengikuti perubahan cahaya dan fase hari. Waktu-waktu salat tidak ditentukan secara acak. Ia mengikuti fenomena alam yang terus berulang yaitu: terbitnya matahari, pergeseran cahaya siang, tenggelamnya senja dan bergulirnya malam. Semua itu berpijak pada rotasi bumi yang tak pernah berhenti.

Selama bumi tetap berputar, pola itu akan selalu ada. Mungkin karena itulah salat terasa seperti diikat pada ritme semesta, bukan sekadar pada tradisi manusia. Beberapa penelitian dalam psikologi juga menunjukkan bahwa doa dan praktik ritual dapat membantu meredakan stres serta menjadi mekanisme coping dalam menghadapi tekanan hidup. Ia memberi ruang bagi seseorang untuk menafsirkan kembali peristiwa yang dialami dan mengelola emosi secara lebih terkendali. Namun, ada pula penelitian yang menunjukkan bahwa ritual dapat memiliki efek yang kompleks. Efeknya dapat berupa penenang sesaat, ada juga yang berpotensi menimbulkan kecemasan jika dijalankan tanpa pemaknaan yang matang. Saya menyadari bahwa ritual tidak otomatis membawa ketenangan. Ia bisa menjadi kosong, bahkan menimbulkan kegelisahan jika dijalankan tanpa kesadaran. Karena itu, yang saya cari bukan sekadar gerakan, melainkan makna di baliknya.

Kemudian muncul pertanyaan baru dalam pikiran saya “Mengapa saya merasa kehilangan sesuatu ketika tidak salat, sementara orang lain terlihat baik-baik saja?”. Semakin saya renungkan, saya mulai menyadari bahwa pengalaman spiritual tidak bekerja dengan pola yang seragam. Setiap orang memiliki struktur makna dan kebiasaan yang berbeda. Mungkin ada yang menemukan jedanya melalui cara lain. Sekarang saya tidak lagi terlalu sibuk memikirkan apakah lima waktu membuat saya terlihat lebih religius atau tidak. Setiap orang memiliki presepsi “alim” masing-masing. Selama bumi tetap berputar dan hari terus berganti, saya tahu ritme itu akan selalu ada untuk saya jaga, bukan untuk dipamerkan dan bukan untuk merasa canggung dan malu. Saya berpegang teguh bahwa lima waktu itu telah menjadi penanda hari, batas antara sibuk dan hening, antara ambisi dan kesadaran diri. Ketika tidak lagi mengerjakan sholat lima waktu, bukan hanya kewajiban yang hilang, tetapi juga struktur yang selama ini membantu menata ulang pikiran dan tubuh saya setiap hari.

Saya menyadari, dari stigma sosial tentang “alim”, saya diajarkan untuk mengerti bahwa salat bukan soal label. Dari kegelisahan pribadi, saya belajar bahwa salat bukan sekadar kewajiban. Dari ilmu biologi, saya belajar bahwa manusia hidup dalam ritme. Dan dari pengalaman berhenti sejenak, saya belajar bahwa bagi saya, lima waktu adalah simpul yang menjaga ritme tubuh dan makna hidup tetap selaras.


메타데이터
post_id
c25f4ce4f379
slug
menjaga-ritme-menjaga-diri-c25f4ce4f379
url
https://medium.com/@ukky.okka/menjaga-ritme-menjaga-diri-c25f4ce4f379
canonical_url
https://medium.com/@ukky.okka/menjaga-ritme-menjaga-diri-c25f4ce4f379
author_url
https://medium.com/@ukky.okka
status
ok
fetched_at
2026-07-14 02:52:02