but with you it’s heartache i breathe
but with you it’s heartache i breathe

“Maaf.”
Entah mau seberapa banyak lagi kata maaf yang harus terucap dari bibir tipismu. Kali ini kamu mengucapkannya sembari memeluk tubuhku yang masih harus memilah antara memaafkaan atau meninggalkan.
Tanganmu merangkum erat tubuhku, bertingkah seperti kesalahan yang kamu lakukan barusan adalah yang paling kamu sesalkan seumur hidup. Tapi, aku seperti sudah muak karena polanya selalu sama. Berbuat salah, minta maaf lalu diselingi intonasimu yang melemah untuk mendukung penyesalanmu, dan aku akan berakhir memaafkan karena tidak bisa ada lagi yang aku lakukan.
Aku pernah bilang kalau aku tidak pernah melarangmu melakukan hal yang kamu suka bahkan jika itu harus tanpa aku. Reaksimu saat itu terlampau senang, sampai aku tidak bisa membedakan apakah itu kamu tandanya senang jika aku tidak ada sama sekali di hidupmu?
Nggak… Bukan begitu… Kita kan juga perlu waktu untuk sendiri.
Aku mengerti. Tapi, entah kenapa aku merasa itu seperti pedang yang kamu todongkan dan bisa melukaiku kapan saja. Semakin hari kamu merasa semakin ingin bebas dan tanpaku. Aku tidak pernah merasa dicintai lagi seperti sebelumnya. Semuanya terasa semakin hambar dan aku selalu bertanya kenapa. Kamu bilang itu hanya perasaanku saja dan kamu mengaku dengan lantang kalau perasaanmu masih tetap sama. Kamu selalu berjanji dan berjanji bahwa semuanya akan baik-baik saja, kalau sebuah hubungan dimaklumkan atas pasang surutnya emosi.
Mungkin ini salahku karena seiring berjalannya waktu kita menjalin hubungan, aku semakin bergantung padamu. Aku yang jatuh cinta terlalu cepat. Sehingga aku selalu mentolerir semua kesalahan dan ucapanmu yang sering sekali membuat dadaku perih bahkan saat aku menarik napas.
Pemakluman yang selalu aku usahakan terasa semakin berat. Selanjutnya apa? Apa lagi yang harus aku maklumkan jika kesalahanmu tetap sama dan berulang?
Ketika pelukan itu terlepas, kita saling menatap dengan genangan air mata di masing-masing netra. Kita berdua masih terambang dan kamu masih sempat menggenggam tanganku meminta kesempatan. Aku sudah melihat ujung dari lorong hubungan ini.
Maybe we’ve had enough.
[embed]
메타데이터
- post_id
- c2a52c95cccd
- slug
- but-with-you-its-heartache-i-breathe-c2a52c95cccd
- url
- https://medium.com/@ciiigul/but-with-you-its-heartache-i-breathe-c2a52c95cccd
- canonical_url
- https://medium.com/@ciiigul/but-with-you-its-heartache-i-breathe-c2a52c95cccd
- author_url
- https://medium.com/@ciiigul
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-24 22:13:21