← Back to list

Luka, Cinta dan Tulang yang Patah: Pesona Brutal Film “The Furious”

Sebuah film tidak selalu butuh dialog yang sempurna untuk membuat kita tercekat. Kadang yang kita butuhkan hanyalah seorang ayah, sebuah…

Amril Taufik Gobel in Maratonton · 2026-07-01 07:58 · 21 claps · 3.5 min read paywalled
#resensi #film #movie-review #ulasan-film #maratonton
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 🎬 · Film & Television

Luka, Cinta dan Tulang yang Patah: Pesona Brutal Film “The Furious”

Sumber foto : variety.com

Sumber foto : variety.com

Sebuah film tidak selalu butuh dialog yang sempurna untuk membuat kita tercekat. Kadang yang kita butuhkan hanyalah seorang ayah, sebuah luka, dan dunia yang menolak untuk peduli.

The Furious karya sutradara Kenji Tanigaki hadir dengan kesederhanaan yang nyaris primitif, namun di balik kesederhanaan itu tersimpan denyut emosi yang begitu manusiawi sehingga sulit untuk tidak ikut tergetar.

Film aksi laga Hong Kong yang dirilis tahun 2025 ini, dan menggebrak panggung dunia lewat pemutaran perdananya di Toronto International Film Festival pada 6 September 2025, bukan sekadar tontonan baku hantam. Ia adalah surat cinta yang ditulis dengan keringat, memar, dan tulang yang nyaris patah.

Kisahnya berpijak pada premis yang akrab di telinga kita. Wang Wei, diperankan dengan ketenangan yang menyayat oleh Xie Miao, adalah seorang tukang serabutan bisu yang dulu meninggalkan tanah kelahirannya di Tiongkok demi memulai hidup baru.

Ia hanya ingin hidup tenang, tak terlihat, tak menyusahkan siapa pun. Sebuah keinginan yang justru menjadi sumber perselisihan dengan putri remajanya. Lalu datanglah malam yang menghancurkan segalanya.

Sang putri, diperankan oleh aktris muda Yang Enyou, diculik oleh jaringan perdagangan manusia. Polisi yang seharusnya melindungi malah berpaling karena korupsi yang membusuk. Dan di titik itulah, seorang ayah yang selama ini memilih diam, akhirnya memutuskan untuk berteriak dengan tinjunya.

Yang membuat film ini terasa hidup adalah bagaimana ia menolak menjadikan Wang Wei sebagai pahlawan tunggal yang sempurna. Ia ditemani Navin, seorang jurnalis gigih yang istrinya juga raib entah ke mana, dihidupkan oleh aktor kebanggaan Indonesia, Joe Taslim.

Dua pria asing dengan luka yang sama, dipertemukan oleh kehilangan, lalu berjalan beriringan menuju perut dunia kejahatan yang gelap. Persahabatan tak terduga inilah yang menjadi jantung emosional film.

Mereka tidak banyak bicara, tetapi setiap gerakan, setiap pukulan yang mereka layangkan, seakan berbisik tentang betapa berharganya orang-orang yang ingin mereka selamatkan.

Kenji Tanigaki bukan nama sembarangan. Ia adalah koreografer laga legendaris di balik gemerlap film seperti Raging Fire dan Enter the Fat Dragon, dan kini ia melangkah ke kursi sutradara dengan penuh percaya diri.

Hasilnya, sebagaimana dicatat oleh Wikipedia, film ini meraih sambutan kritis yang luar biasa, dengan 98 persen dari 123 ulasan kritikus di Rotten Tomatoes memberikan penilaian positif disertai rata-rata 8,4 dari 10. Angka itu bukan sekadar statistik.

Ia adalah cerminan bagaimana sebuah karya bisa menyatukan penonton dalam decak kagum yang sama. Di Rotten Tomatoes, para kritikus menyebut film ini sebagai sebuah kelas master dalam koreografi yang menyajikan sinema bela diri pada puncaknya.

Mari kita jujur tentang satu hal. The Furious bukanlah film tentang dialog yang puitis. Beberapa kritikus, termasuk dari RogerEbert.com, mengakui bahwa naskahnya terkadang kaku dan alurnya sederhana.

Namun di situlah keajaibannya. Film ini tidak pernah berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Ia tahu betul kekuatannya terletak pada tubuh yang bergerak, pada koreografi yang ditata bersama maestro seperti Kensuke Sonomura dan Naohiro Kawamoto.

Seperti yang ditulis dengan begitu indah oleh kritikus Flickering Myth, film ini adalah pengalaman luar tubuh yang menjadikannya salah satu film laga terbaik dalam lima belas tahun terakhir.

Adegan demi adegan dirancang sedemikian rupa sehingga ketika salah satu tokoh tertabrak mobil pun, ia bangkit dan terus melaju, seakan mengingatkan kita bahwa cinta seorang ayah tak mengenal kata menyerah.

Kekuatan film ini juga berdiri di atas bahu para aktor pendukungnya yang merupakan barisan legenda bela diri dunia. Ada Yayan Ruhian, sosok yang sudah kita kenal lewat The Raid, yang pertarungan terakhirnya melawan karakter Navin menjadi salah satu momen paling menggetarkan.

Ada pula Jeeja Yanin, mutiara laga asal Thailand yang melejit lewat Chocolate, serta Brian Le yang sempat mencuri perhatian di Everything Everywhere All at Once, dan Joey Iwanaga dari Baby Assassins 2.

Sebagaimana dirinci oleh cityonfire.com, butuh lima seniman bela diri di puncak kemampuan mereka, dengan lima gaya bertarung yang berbeda, untuk menghidupkan pertarungan-pertarungan yang nyaris mustahil ini. Setiap benturan terasa nyata, setiap gerakan dilakukan dengan dedikasi yang menuntut rasa hormat.

Sinematografer Meteor Cheung menangkap semua kekacauan indah itu dengan lensa yang nyaris sempurna. Pertarungan di gudang pendingin, misalnya, menjadi penghormatan yang manis kepada adegan ikonik dalam film Bruce Lee, The Big Boss, sebagaimana diamati dengan jeli oleh Asian Movie Pulse.

Tanigaki dengan sengaja merangkul tradisi sinema laga Asia Timur, mengandalkan aksi nyata alih-alih kemegahan efek komputer yang kerap terasa hampa. Dan justru karena itu, film ini terasa begitu membumi, begitu jujur, begitu menyentuh.

Yang paling membekas dari The Furious bukanlah betapa brutalnya ia, melainkan betapa tulusnya alasan di balik setiap kebrutalan itu. Ini bukan amarah yang lahir dari kebencian.

Ini adalah amarah yang lahir dari cinta yang begitu dalam hingga seorang manusia rela menghancurkan dirinya sendiri demi orang yang ia sayangi. Ketika layar akhirnya gelap, kita tidak hanya merasa lelah seakan baru menempuh maraton, kita juga merasa dipeluk oleh sebuah kebenaran sederhana bahwa cinta, dalam bentuknya yang paling liar sekalipun, selalu layak diperjuangkan.

Setelah perjalanan panjang dari festival ke festival, film ini akhirnya tayang di bioskop Hong Kong pada 12 Juni 2026, dengan Lionsgate menangani perilisannya di Amerika Serikat.

Bagi siapa pun yang mencari tontonan yang tak hanya memacu adrenalin tetapi juga menghangatkan hati, The Furious adalah jawaban yang telah lama dinantikan.

Ia bukan film John Wick berikutnya. Ia bukan The Raid berikutnya. Ia adalah The Furious yang pertama, dan barangkali, satu-satunya.

[embed]


메타데이터
post_id
c2b2978dd845
slug
luka-cinta-dan-tulang-yang-patah-pesona-brutal-film-the-furious-c2b2978dd845
url
https://medium.com/maratonton/luka-cinta-dan-tulang-yang-patah-pesona-brutal-film-the-furious-c2b2978dd845
canonical_url
https://medium.com/maratonton/luka-cinta-dan-tulang-yang-patah-pesona-brutal-film-the-furious-c2b2978dd845
author_url
https://medium.com/@amriltaufikgobel
status
ok
fetched_at
2026-07-09 09:01:30