← Back to list

Belajar Menjadi Tidak Paling Benar

Sebuah catatan kecil setelah satu semester mempelajari Tauhid/Ilmu Kalam. Dari sekian banyak perdebatan tentang iman, dosa, dan kebenaran…

Anidaaulia · 2026-06-23 14:32 · 0 claps · 1.6 min read
#ilmu-kalam #sejarah-islam #khawarij #fanatisme #teologi-islam
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Belajar Menjadi Tidak Paling Benar

Sebuah catatan kecil setelah satu semester mempelajari Tauhid/Ilmu Kalam. Dari sekian banyak perdebatan tentang iman, dosa, dan kebenaran, saya justru menemukan satu pelajaran sederhana: barangkali yang paling sulit dalam beragama bukanlah menjadi benar, melainkan belajar untuk tidak merasa paling benar.

Oleh: Anida Aulia

Ketika mempelajari sejarah Khawarij dalam kajian ilmu kalam, saya awalnya menganggap pembahasan ini hanya berkaitan dengan konflik politik pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib. Namun, semakin saya memahami latar belakang, ajaran, dan karakteristik kelompok ini, semakin saya menyadari bahwa persoalan yang mereka tinggalkan bukan sekadar sejarah, melainkan juga pelajaran tentang bagaimana manusia memandang kebenaran.

Khawarij muncul setelah peristiwa tahkim dalam Perang Shiffin. Sebagian pengikut Ali bin Abi Thalib menolak hasil arbitrase tersebut dan memilih keluar dari barisan. Mereka mengusung semboyan La hukma illa lillah — tidak ada hukum selain hukum Allah. Dalam perkembangannya, mereka dikenal dengan pemahaman agama yang sangat keras, mudah mengkafirkan pihak yang berbeda, dan meyakini bahwa kelompok merekalah yang paling benar.

Bagi saya, yang menarik dari kisah Khawarij bukan hanya bagaimana kelompok ini muncul, tetapi bagaimana cara mereka memahami agama. Keyakinan yang seharusnya membawa manusia pada kebijaksanaan justru berubah menjadi alat untuk menghakimi orang lain. Pelaku dosa besar dianggap kafir, perbedaan pendapat dipandang sebagai kesesatan, dan kekerasan dianggap sah demi mempertahankan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran.

Dari sini, saya belajar bahwa merasa paling benar adalah hal yang berbahaya. Sebab, ketika seseorang meyakini bahwa hanya dirinya yang berada di jalan yang benar, ruang untuk berdialog dan menghargai perbedaan perlahan akan hilang. Padahal, perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan bermasyarakat.

Pelajaran ini terasa semakin relevan di era sekarang. Meskipun Khawarij telah lama menjadi bagian dari sejarah, pola pikir yang gemar menghakimi dan enggan menerima perbedaan masih dapat ditemukan, bahkan di media sosial. Tidak sedikit orang yang dengan mudah memberi label sesat atau salah kepada orang lain hanya karena perbedaan pemahaman. Menurut saya, fenomena seperti ini menunjukkan bahwa semangat Khawarij tidak selalu hadir dalam bentuk kelompok, tetapi juga dapat muncul dalam cara berpikir.

Karena itu, mempelajari Khawarij membuat saya menyadari bahwa beragama tidak hanya tentang mempertahankan keyakinan, tetapi juga tentang belajar rendah hati. Menjadi yakin terhadap apa yang kita percayai bukan berarti harus meniadakan keberadaan orang lain. Justru, memahami bahwa manusia memiliki keterbatasan membuat kita lebih terbuka terhadap perbedaan dan lebih berhati-hati dalam menilai sesama.

Pada akhirnya, dari sejarah Khawarij saya belajar satu hal sederhana: menjadi benar itu penting, tetapi merasa diri paling benar bisa menjadi awal dari hilangnya kebijaksanaan. Mungkin, salah satu bentuk kedewasaan dalam beragama adalah tetap teguh pada keyakinan, tanpa kehilangan kemampuan untuk menghormati orang lain.


메타데이터
post_id
c2b5d83bbcd5
slug
belajar-menjadi-tidak-paling-benar-c2b5d83bbcd5
url
https://medium.com/@anidaaulia2006/belajar-menjadi-tidak-paling-benar-c2b5d83bbcd5
canonical_url
https://medium.com/@anidaaulia2006/belajar-menjadi-tidak-paling-benar-c2b5d83bbcd5
author_url
https://medium.com/@anidaaulia2006
status
ok
fetched_at
2026-06-24 23:31:39