← Back to list

ANDAI MUHAMMADIYAH MISKIN, AKANKAH SAYA TETAP BANGGA MENJADI MUHAMMADIYAH?

Banyak berseliweran di pelbagai platform media baik cetak maupun media elektronik yang mewartakan berita-berita tentang kegagahan…

IMMAntasari_blog · 2025-12-19 02:16 · 1 claps · 5.1 min read
#muhammadiyah #banjarmasin #imm #persyarikatan #kebanggaan
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🛠️ · Crafts & DIY 🥊 · Combat Sports

ANDAI MUHAMMADIYAH MISKIN, AKANKAH SAYA TETAP BANGGA MENJADI MUHAMMADIYAH?

Banyak berseliweran di pelbagai platform media baik cetak maupun media elektronik yang mewartakan berita-berita tentang kegagahan Muhammadiyah dan amal-amal usahanya. Bagi sebahagian Muhammadiyun, kebungahan (Banjar: “kebanggaan”) terhadap persyarikatan hanya sebatas perspektif pada keberhasilan dalam tata kelola organisasi dan instrumen-instrumen yang ada di dalam jasad Persyarikatan Muhammadiyah. Tentu keberhasilan tersebut bukan didapat semudah membalik kedua telapak tangan, tetapi merupakan buah dari keistikamahan yang didasari pada semangat al-Ma’un yang menjadi fondasi transendental dalam usaha yang oleh Muhammadiyah menyebutnya sebagai “ibadah sosial”. Adakalanya seorang Muhammadiyah yang menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah, madrasah-madrasah, atau bahkan universitas Muhammadiyah yang masyhur memiliki akreditasi yang baik, atau kala seorang Muhammadiyah yang berobat di rumah sakit PKU yang modern, atau kemudian kala seorang Muhammadiyah shalat di mushalla ataupun masjid Muhammadiyah yang terkenal dengan kesejukan pendingin ruangannya, kemegahan bangunannya, fasilitasnya ala bintang limanya, sampai ambulans alphardnya dan segala macam ke-“Masya’Allah”-annya yang tidak dapat saya cantumkan satu persatu di sini tentu menimbulkan rasa bangga, kebungahan atas segala manfaat praktis dan citra positif dari hal-hal di atas. Aset yang besar, amal usaha yang menyebar, serta solidaritas organik memberikan rasa aman, prestige bagi penikmatnya.

Andai Muhammadiyah ini miskin, dikala AUM-AUM nya bangkrut, sekolah-sekolah dan madrasah-madrasahnya roboh, rumah sakitnya tutup, universitasnya kalah saing, mushalla-mushalla dan masjid-masjidnya rapai (Banjar: “lapuk”), apakah kita akan tetap bangga menjadi Muhammadiyah? Apakah jika sampai pada takdirnya saat segala sumber kebanggaan di atas hilang, akankah terbesit di dalam hati Anda untuk menjadi kader Muhammadiyah? Loyalitas yang berfundamental pada materi tak akan abadi, kebanggaan yang didasari keuntungan-keuntungan praktis lambat laun akan terkikis. Logika sederhana saya sendiri akan memilih organisasi lain yang menawarkan prestige yang lebih besar.

Namun, apabila kita menyelam lebih dalam, sebagai kader Muhammadiyah, ada kebanggaan tersendiri yang jauh lebih membatin dan tak tergoyahkan. Apakah itu? Yakni kebanggaan ushuliyah yang berbasis pada “Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah”, singkatnya pondasi ideologis. Kebanggaan ideologis tidak terikat dengan kemegahan materi, kemasyhuran nama, dan kemuliaan nasab, melainkan pada nafas jihad yang melahirkannya. Barangkali kita ambil satu sisi, dalam skala terkecilnya kader Muhammadiyah memantapkan dirinya untuk berkomitmen menjaga kemurnian agama dan tegaknya kalimat Tauhid. Terhadap yang munkar mereka menjauhi dan kepada yang ma’ruf mereka mengamalkan dan menyebarluaskannya. Tentunya semua pergerakan Islam menyatakan diri berlandaskan pada

syariat dan bernafaskan Tauhid, akan tetapi apa artinya pengakuan tanpa pembuktian? Kita tidak perlu gembar-gembor menyatakan diri cinta kepada Muhammadiyah! Cukup saat Muhammadiyah memerlukan, kita ada dan siap untuk membantu Muhammadiyah. Demikianlah bentuk cinta sejati yang seharusnya dimiliki seorang muslim umumnya, bukan hanya kader Muhammadiyah. Kesungguhan dalam komitmen dan loyalitas merupakan maqom yang seharusnya dimiliki seorang insan muslim Muhammadiyah. Puncak tertinggi maqom tersebut adalah kesungguhan dalam komitmen menjaga tauhid dan menyebarluaskannya. Sebelum menyatakan cinta kepada materi, maka kita harus membenarkan pernyataan cinta kita kepada Allah. Mustahil dikala seseorang berkata cinta kepada sesuatu yang kecil, tetapi cinta kepada yang paling besar (cinta kepada Allah, agama-Nya dan Rasul-Nya) tak ia hiraukan, yang paling penting saja ia sepelekan apalagi yang memang sepele dari awal!

Selain aspek tauhid, kebungahan yang harus kita hayati krembali adalah pada etos kerja “Al-Ma’un” yang ada hidup pada diri Muhammadiyah. Kebanggaan akan tradisi panjang pengabdian sosial terhadap kaum mustadh’afin sebagai seruan iman, bukan sebagai ajang mencari keuntungan. Terlepas konten-konten media yang menyudutkan yang menyatakan bahwa, “sekolah Muhammadiyah mahal”, “Rumah sakit Muhammadiyah mahal!”, “Universitas Muhammadiyah mahal!” dan lain sebagainya adakalanya merupakan buah ketertautan hati kepada hal-hal yang berbau ekonomis (murah) dan kepraktisan. Padahal sejatinya semua produk jasa Muhammadiyah adalah gratis bagi yang benar-benar tidak mampu, sedangkan bagi mereka yang berduit adalah saatnya untuk dipaksa menginfakkan hartanya untuk kepentingan agama Allah.

Aspek ketiga alasan mengapa kita mesti bungah jadi bagian dari Muhammadiyah terletak pada sejarah panjang keterlibatan Muhammadiyah dalam jihad mencerdaskan bangsa. Bermula dari surau kecil di kampung Kauman Yogyakarta, lahirlah ide-ide gagasan pencerahan yang di zaman tersebut terkesan tidak lazim dan antimainstream seperti pembenaran arah kiblat dengan metode astronomi dan kartografi barat, kehadiran madrasah dengan meja dan bangku yang sampai hari ini dijadikan sebagai lambang Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah, kemudian musala khusus wanita milik ‘Aisyiyah, padvinder (pramuka) Hizbul Wathan, kapal haji, panti asuhan, rumah sakit dan lain sebagainya. Suatu hal besar tentu merupakan cicilan dari hal-hal kecil, seperti batu bata yang satu persatu disusun hingga terbentuk menjadi bangunan yang kokoh demikianlah Muhammadiyah didirikan. Kemudian dari aspek nonmaterial, Muhammadiyah dengan kader-kadernya telah lama berkecimpung di dunia pergerakan dan perpolitikan bangsa Indonesia, sebutlah K.H. Ahmad Dahlan yang menjadi penasihat Budi Utomo dan founder Muhammadiyah, Nyai Hj. Siti Walidah pendiri Aisyiyah, K.H. Mas Mansur anggota BPUPKI dan PPKI, Ki Bagus Hadikusumo, Sukarno dan Abdul Kahar Muzakkir dalam perumusan piagam Jakarta, Kasman Singodimejo ketua Komite Indonesia Pusat leluhur DPR RI, H. Agus Salim anggota Panitia Sembilan, Gatot Mangkupraja pelopor PETA dan laskar Hizbullah, Jendral Soedirman Panglima Besar TNI, Otto Iskandardinata pengusung Sukarno-Hatta sebagai presiden dan wakil Presiden Indonesia, Buya HAMKA sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia pertama, H. Muhammad Rasyidi sebagai menteri agama pertama RI, I.R. Juanda perdana menteri RI dan bapak laut Indonesia, H. Adam Malik wakil presiden Indonesia, K.H. Gusti Abdul Muis anggota KNIP dan DPRS, K.H. Hasan Tjorong pada pembentukan Pemerintah Republik Indonesia Borneo (PPPRIB) di Martapura, K.H. Hasbullah Yasin penggerak pasukan pemberontak untuk kemerdekaan RI di

Hulu Sungai dan masih banyak lagi. Tentu ini menjadi tamparan keras bagi kader-kader “apolitis” yang memandang sebelah mata terhadap jihad politik. Penafian kader Muhammadiyah sebagai pemikul amanah prophetik terhadap pentingnya jihad politik akan memberikan jalan bagi anomali-anomali laknatullah mengisi jawatan negara. Sedangkan orang-orang baik yang membiarkan terjadinya kemungkaran di sekitarnya, sejatinya merupakan bagian dari gerombolan penjahat itu sendiri! Hai kalian yang mengaku Muhammadiyah, syahdan! Yang terpenting dalam membangun negara adalah memilih serta menjadi pemimpin-pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik akan membuat orang-orang baik berlomba-lomba berbuat kebaikan, sebaliknya pemimpin yang buruk akan membuat iblis-iblis itu berlomba-lomba menaiki istana (mengisi jabatan negara). Apabila anda memilih menjadi apolitik, segera buang selendang surya itu dan ganti dengan kain kafan! Bohong besar kamu mengatakan menjadi Muhammadiyah karena ingin menjunjung tinggi agama Islam demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya tetapi kamu membiarkan orang-orang berkuasa menzalimi masyarakat Islam yang Muhammadiyah perjuangkan! Sungguh baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur adalah mustahil jika anda seperti itu!

Kembali ke pembahasan. Bagi anggota persyarikatan yang tertanam di sanubarinya pada nilai-nilai fundamental di atas, kemiskinan materi bukan perkara yang besar, melainkan merupakan “kembali kepada pabrik” yang akan memantik kembali semangat etos al-Ma’un persyarikatan. Kemiskinan akan membawa Muhammadiyah kembali ke masa saat semangat gotong royong dan ketulusan niat menjadi “pakem otentik” Muhammadiyah. Ada masa di mana hal tersebut menggemparkan seisi kota Banjarmasin zaman dulu, di kala pendirian Masjid Al-Jihad Muhammadiyah Cempaka, nilai yang setara dengan dua kilogram emas menjadi hanya seperti helaian bulu yang beterbangan di udara oleh semangat al-Ma’un pedatuan (Banjar: “orang tua dari kakek/nenek, generasi pendahulu”) Muhammadiyah Banjarmasin. Ini menjadi refleksi utamanya bagi angkatan muda Muhammadiyah se-Banjarmasin untuk bersatu dalam meneruskan tetes keringat jihad pedatuannya. Solidaritas dan keikhlasan niat adalah pucuk tombak pusaka mustika bahari Muhammadiyah. Tanpa adanya solidaritas dan keikhlasan niat, jangankan sebuah masjid, kandang ayam pun tidak akan selesai dikerjakan!

Menjawab pertanyaan, “Andai Muhammadiyah miskin, akankah saya tetap bangga menjadi Muhammadiyah?

mengingatkan kita kembali pada masa-masa awal Muhammadiyah, di mana K.H. Ahmad Dahlan bersama murid-muridnya merintis gerakan Muhammadiyah dari kesederhanaan. Modal awal kita adalah perjuangan dalam kesederhanaan yang menjadi modal sosial dan ideologis. Kemiskinan dan rasa sakit akan memisahkan mereka yang menjadi Muhammadiyah hanya secara administratif atau karena profit ekonomi dengan kader yang Haqqan Haqqa. Mereka yang tetap bertahan adalah kader sejati yang senantiasa setia berkomitmen pada khitah perjuangan, sebuah kebungahan yang melampaui segalanya.

Banjarmasin, 4 Jumadil Tsani 1447 H — 25 November 2025

Abdullah-Fajriyan Fadillah

(IMM Antasari)


메타데이터
post_id
c2c2c9e47b86
slug
andai-muhammadiyah-miskin-akankah-saya-tetap-bangga-menjadi-muhammadiyah-c2c2c9e47b86
url
https://medium.com/@immantasariblog/andai-muhammadiyah-miskin-akankah-saya-tetap-bangga-menjadi-muhammadiyah-c2c2c9e47b86
canonical_url
https://medium.com/@immantasariblog/andai-muhammadiyah-miskin-akankah-saya-tetap-bangga-menjadi-muhammadiyah-c2c2c9e47b86
author_url
https://medium.com/@immantasariblog
status
ok
fetched_at
2026-07-29 22:12:45