Bukannya Sekolah Memang untuk Orang Bodoh?
Sekolah itu tempat anak-anak yang tidak tau diberi tau, tempat anak-anak yang bodoh diberikan ilmu untuk menjadi pintar.
Bukannya Sekolah Memang untuk Orang Bodoh?
Sekolah itu tempat anak-anak yang tidak tau diberi tau, tempat anak-anak yang bodoh diberikan ilmu untuk menjadi pintar.
Selamat Hari Pendidikan, semua.
Tulisan ini akan berisi pengalaman pribadi dan pengalaman teman-teman yang mau saya ceritakan. Tentang bagaimana pendidikan di Indonesia yang saya jalani.
Memangnya Salah Menjadi Orang Bodoh yang Pergi Bersekolah?
Saya buka dengan sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang sering saya keluarkan. Rasanya, sekolah harusnya menjadi rumah bagi orang-orang yang tidak tau, dikumpulkan untuk diberikan ilmu agar menjadi tau.
Sama seperti halnya rumah sakit, tempat di mana orang sakit dibuat menjadi sehat. Rumah makan, tempat di mana orang lapar dibuat menjadi kenyang. Tempat ibadah, di mana para pendosa berkumpul untuk bertobat.
Siapa yang mau menjadi bodoh? Tidak ada. Namun, negara ini sangat senang memelihara kebodohan dan menghakimi orang bodoh. Tidak ada tempat bagi orang bodoh di sekolah atau kampus yang bagus. Kalau mau kampus dan sekolah bagus, nilaimu harus pantas berada di antara para manusia yang mempunyai kemampuan berpikir yang baik.
Fakta yang sangat menyedihkan. Maka dari sini, terbangunlah kelas. Kelas si bodoh dan si pintar. Wajah pendidikan Indonesia masih seperti ini.
Saya pernah merasa putus asa karena mencoba di berbagai macam sekolah bahkan kampus-kampus ternama untuk bisa masuk. Mengapa? karena saya ingin membuat orang tua saya bangga. Namun, saya tidak pernah bisa masuk ke sekolah ternama akibat kemampuan otak saya.
Selain itu, banyak sekolah dan kampus yang membawa anak-anak titipan agar mereka bisa masuk dan menyingkirkan anak lainnya.
Pendidik Yang Baik
Sebagai anak yang tergolong tidak suka diatur, maka saya masuk ke dalam golongan anak nakal di sekolah. Duduk di belakang, bermain, dan melakukan hal-hal yang membuat pendidik tidak menyukai anak-anak seperti saya. Saya memerhatikan, namun terkadang metode belajar satu arah yang saya dapatkan membuat saya bosan dan kurang tertarik. Saya merasa anak-anak yang gampang diatur jauh lebih disukai, maka saya tau diri dengan menempatkan posisi saya sebagai anak yang tetap belajar menggunakan metode yang saya sukai. Belajar dengan memahami konsep dan melatihnya dengan menjelaskan ulang dengan studi kasus, atau di rumah, saya akan menanyakan berbagai macam hal dengan orang tua.
Ternyata, saya suka belajar dengan metode diskusi, bertukar pandangan dengan orang lain.
Hari ini, saya berbincang dengan salah satu pendidik saat menjadi narasumber. Rasa hati saya penuh mendengarkan ia bercerita. Kepala sekolah di salah satu Madrasah di kota ini. Beliau mengkritisi pendidik untuk harus bersikap adil kepada anak didiknya.
“Di kelas yang biasanya terdapat 30 siswa ada beberapa tingkatan. Pertama, siswa dengan high class, middle, dan low. Seharusnya untuk siswa yang low diberi perhatian lebih. Itu yang harus lebih diajarin. Untuk yang high, seharusnya tidak terlalu harus dipoles, begitu juga yang middle. Tapi, saat ini masih banyak pendidik yang malah menjatuhkan mental anak-anaknya. Bukankah anak-anak yang tergolong low itu juga tetap menjadi anaknya? Guru juga harus tetap belajar, kalau masih punya sikap seperti itu, mending jangan jadi pendidik, atau belajar lagi menjadi pendidik yang baik.”
Satu kritikan ini menjadi cahaya yang begitu terang ketika saya dengarkan.
Saya pernah mendengar seorang guru berteriak ke teman saya, bahkan saya juga pernah menerimanya. Perlahan, kalimat ini tertancap dan membekas menjadi luka yang dalam.
“Kalau kamu kaya gini, mau jadi apa nanti? Gak akan jadi apa-apa kamu!”
Dengan nada marah dan menyudutkan karena dia tidak mengerti, atau tidak cocok dengan sistem belajar. Seolah-olah, kami tidak pantas menerima pendidikan. Seolah-olah yang pantas mengemban pendidikan adalah mereka yang memiliki kemampuan intelektual lebih.
Sedangkan di luar itu, banyak dari kami yang punya kemampuan non-akademik. Bidang seni dan olahraga, namun di zaman itu, apa lagi di sekolah yang tidak tergolong sekolah favorit, akses dan fasilitas tidak memadai kami belajar bakat yang kami miliki.
Menjadi Murid yang Baik
Memiliki bekas luka yang dalam membuat saya juga merefleksi diri, apakah kami sebagai murid juga ada salah? Tentu, mungkin cara kami berekspresi menolak ketidaknyamanan salah. Namun, di usia itu, kami tidak diajarkan untuk menyampaikan sesuatu dengan baik dan benar. Usia di mana masih ingin mencari jati diri.
Maka, pesan saya untuk semua yang ada di duni pendidikan, termasuk pendidik dan yang dididik, pentingnya menghargai dan menghormati satu sama lain. Menjadi seorang pendidik tidaklah mudah, karena setiap hari harus menghadapi berbagai macam jenis manusia. Oleh sebab itu, mari saling menghormati untuk menciptakan generasi yang cerdas.
메타데이터
- post_id
- c2de6d29d129
- slug
- bukannya-sekolah-memang-untuk-orang-bodoh-c2de6d29d129
- url
- https://medium.com/@gloriafernandaa/bukannya-sekolah-memang-untuk-orang-bodoh-c2de6d29d129
- canonical_url
- https://medium.com/@gloriafernandaa/bukannya-sekolah-memang-untuk-orang-bodoh-c2de6d29d129
- author_url
- https://medium.com/@gloriafernandaa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-28 08:40:33