Bukan Berarti
Edisi Sosial & Politik
Bukan Berarti
Edisi Sosial & Politik

Saya bukan orang yang senang dengan politik kala 10 tahun lalu masih berusia 18. Impian saya menjadi musisi kala itu sangat besar, tapi Alhamdulillah meski belum menjadi sejenius Ahmad Dhani atau se hebat Singgih Sanjaya, tapi nyatanya yang saya kerjakan sekarang sesuai dengan passion.
Di usia yang ke 26 ini entah kenapa saya sedang interest dengan Politik.
Memang dulunya saya lulusan Sosiologi, tapi entah mengapa yang dulu saya cenderung suka hingar bingar suara distorsi dan sound malah di dua tahun terakhir saya suka dengan hingar bingar politisi yang meng-klaim benar dan paling benar. Berkoar koar se-enak mulutnya.
Ya, di politik semua tidak ada kata “salah” yang ada hanya “kurang tepat” dan “pembenaran diri sendiri” apalagi di negara ini, jaman ini, kebenaran belum tentu kebenaran.
Saya mencoba untuk flashback 2014 yang saat itu saya masih sebagai penonton anteng mendukung salah satu paslon militer — sipil harus kecewa saat mereka kalah dari “Raja Citra”
Semakin kesini, semakin hari semakin saya muak dengan “Raja citra” . Dia orang baik yang menurut saya telah diaransemen oleh arranger atau produser dibelakangnya.
Tapi, baiklah saya terima. Sebab itu adalah keputusan atau mungkin juga takdir Tuhan.
Walaupun sebenarnya bisa jadi kemenangan mereka yang berkuasa saat ini menjadi apa yang ditunjukkan oleh-Nya sebagai pelajaran untuk kita kedepan.
Seperti halnya Tuhan menciptakan babi dan hewan sejenisnya.
“Patut disyukuri” .
Tapi, yang namanya tekad bulat dan prinsip hati kuat, entah mengapa perasaan ini kurang ikhlas menerima bahwa “Pemimpin” Bumi pertiwi ini adalah “orang yang kurang ahli dalam urusan Bangsa.
Tidak ahli strategi dan minim pengetahuan.
Ooo.. Jangan — jangan kamu pendukung Prabowo?
(Mereka menuding saya begitu)
Dan alasan itulah saya menjadi malas obyektif menilai kebaikan “Jokowi” .?
“Tidak” dan “Bukan”
Bukan Berarti, dengan saya kritis dengan Pemerintah jadi saya full mendukung “Prabowo — Sandi”
Bukan..
Seandainya pun Prabowo “jadi” Presiden “Indonesia” di 2019, tetap bagi saya “kritik” pada penguasa itu “diharuskan” .
Kritis bisa jadi punya tujuan, karena sayang atau bahkan cinta.
salah fungai lainnya dengan kritis adalah
“Kalau Prabowo Presiden” kritik itu sebagai dokter bagi Prabowo dan Menteri menterinya suatu saat nanti.
Bukan Berarti saya dukung “Prabowo” nantinya kalau salah kita biarkan dia berdalih dengan sejuta alasan dan parahnya kita “membelanya” .
Saya jadi ingat dengan apa yang dinasihatkan Aa Gym pada majelis di bandung bahwa “menang kalah urusan Allah SWT” , semuanya semau mau Allah SWT aja, terlalu mengejar duniawi hasilnya sia sia usia kita.
Artinya, dari nasehat Aa Gym menyadarkan kita supaya manut (nurut) sama Allah saja lebih lebih urusan kecil sekelas Pilpres 2019.
Jadi apa yang perlu kita lakukan untuk mengubah bangsa ini menjadi lebih baik?
Jawabnya dengan “menjadi Penguasa” dengan cara baik dan beradab, bukan full berambisi.
So..
Beginilah hidup, bukan berarti jika anak saya mencuri tetap saya bela,juga bukan berarti pasangan berselingkuh itu kita biarkan dan diamkan.
Begitupula dengan Presiden yang terpilih nantinya, bukan berarti dengan Presiden pilihan kita dan saat itu Ia “salah” kita biarkan dan diamkan.
Jadi menurut saya secara pribadi adalah:
Bukan berarti dengan memilihnya kita terdiam tanpa pula sering mengkritik
Beda dengan yang sebelah, mereka punya esensi menang dengan cara apa saja yang penting “juara” . Efeknya, pendukung — pendukung kubu sebelah menjadi “penjilat kelas kakap kaleng babi” apa yang dia lakukan meskipun baik bagi kami tetap saja mereka adalah “orang yang diframing kakap padahal sarden babi”
Semoga menjadi terbuka pikiran kita atas urusan politik yang sudah tua ini.
메타데이터
- post_id
- c30216ce736f
- slug
- bukan-berarti-c30216ce736f
- url
- https://medium.com/@afdzandevaputra/bukan-berarti-c30216ce736f
- canonical_url
- https://medium.com/@afdzandevaputra/bukan-berarti-c30216ce736f
- author_url
- https://medium.com/@afdzandevaputra
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 12:55:45