← Back to list

Pesta Dosa

cw // 🔞 NSFW Mob x Rafayel, slight Starfish & Crowfish, DD:NE, Dub-con, Degradation, Mindbreak, Read at ur own risk.

Elyne · 2025-07-01 10:08 · 1 claps · 5.8 min read
#fanfic #dead-dove-do-not-eat #love-and-deepspace #nsfw #pwp
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space 💑 · Relationships

Pesta Dosa

cw // 🔞 NSFW Mob x Rafayel, slight Starfish & Crowfish, DD:NE, Dub-con, Degradation, Mindbreak, Read at ur own risk.

.

.

.

Rafayel dulu adalah simbol laut yang tenang namun dalam.

Putra bungsu dari dinasti suci Lemuria. Rambutnya pendek dan rapi, matanya jernih bagai permukaan lautan yang terbias cahaya senja, suaranya lembut tapi tak pernah ragu.

“Dialah yang membawa ombak suci,”

“Yang dikatakan dewa sebagai ‘penjaga kemakmuran lautan,”

“Yang tak boleh disentuh oleh siapa pun kecuali atas restu surgawi.”

Saat dia melangkah di atas lantai kuil laut, para pejabat menunduk.

Mereka bersumpah untuk melindunginya.

Sekarang?

Mereka menidurinya. Bergilir.

.

.

.

Ratusan lentera tergantung dari langit-langit. Musik petik bergema, gemerincing perak dan arak mahal mengalir tak putus.

Malam itu adalah pesta khusus untuk para petinggi militer dan bangsawan kekaisaran. Minum, wanita, dan suguhan eksotis.

Tapi kali ini, suguhan utama mereka adalah tubuh bangsawan itu sendiri Rafayel sosok pangeran agung dari dinasti yang telah runtuh.

Saat nama Rafayel disebut, seluruh ruangan hening.

Lalu muncul dia, berjalan perlahan dengan kaki telanjang, tubuh dibalut kain semi tembus pandang berwarna karemi. Rambutnya kini panjang sampai ke pinggang.

Perhiasan Lemuria menggantung di dada, pinggang dan telinga, tapi sekarang bukan sebagai simbol kehormatan, melainkan kostum hiburan.

Tarian yang ia bawa dulu disebut “Nyala Api Lautan”, sebuah tarian sakral yang hanya dilakukan saat penobatan raja Lemuria.

Kini Rafayel menari dengan sensual, dengan pinggul menggoda, dan tangan yang menyentuh tubuh sendiri.

“Apa itu tarian suci dari Lemuria?” tanya salah satu jenderal sambil tertawa.

“Lucu. Terlihat seperti rayuan pelacur desa.”

Rafayel tetap tersenyum. Langkahnya lembut, tubuhnya melengkung seperti tali sutra yang basah. Jari-jarinya menyusuri leher, lalu turun ke dada, lalu berhenti tepat di bawah pusar. Gemerincing rantai di pahanya membuat para tamu menggigit bibir. Saat musik mencapai klimaks, Rafayel menjatuhkan tubuhnya ke lantai — berlutut, lalu bersujud, pinggul terangkat.

Posisi yang dulu adalah bentuk hormat tertinggi pada dewa Lemuria.

Sekarang?

Posisi paling mengundang bagi para tamu.

“Cantik sekali,” bisik pejabat tua dari Utara.

“Tidak kusangka tarian ini sekarang jadi tontonan pesta”

Setelah tarian usai, Rafayel disuruh berdiri di tengah aula.

“Bukalah bajunya,” kata sang pengatur acara.

“Biar semua orang tahu, betapa lentur dan bergairahnya tubuh pangeran Rafayel yang dulunya begitu agung juga mulia.”

Rafayel membuka sendiri ikatan di pinggang.

Kain karemi itu jatuh ke lantai.

Seluruh ruangan bersorak.

Seorang tamu meminta

“Suruh dia jalan keliling meja, merangkak, dan minum arak sampai mabuk.”

Rafayel pun menuruti, ia merangkak seperti binatang. Rantai di pinggangnya berdering pelan saat tubuhnya bergerak. Mulutnya menyesap arak dari cerek yang dituang salah satu tamu.

Lidahnya basah, arak menetes dari mulut ke dagu hingga belah dadanya.

Matanya kabur karena tubuhnya mulai terangsang lagi.

“Dia suka ini?”

“Lihat tuh, dia udah keras.”

“Yang Mulia ini mesum rupanya.”

Dan Rafayel hanya menutup matanya, mencengkram lantai marmer, menggeliat pelan.

.

.

.

Setelah tarian, setelah arak, setelah lantai lengket oleh sisa pesta,

para petinggi belum puas.

Satu per satu, mereka berkumpul di tengah ruangan — di mana Rafayel berdiri setengah telanjang,rambut panjangnya kusut basah keringat, tubuhnya sensitif.

“Wangi sekali,”

bisik salah satu bangsawan militer, jari telunjuknya mengusap tulang pipi Rafayel.

“Boleh kucium, Pangeran?”

Rafayel tersenyum — senyum paling lembut dan menggoda yang bisa dia munculkan.

“Hmm, cium aku seperti kalian memujaku dulu.”

Ciuman pertama jatuh ke tulang selangkanya.

Panas. Basah. Menggoda.

Ciuman kedua di punggung tangannya.

Penuh kekaguman seperti menyembah dewa.

Ciuman ketiga langsung di mulutnya.

Liar. Menghisap. Sampai bibirnya bengkak.

Dan Rafayel? Ia justru menarik leher orang itu. Membalas ciuman dengan keluhan pelan.

Lidah bertemu lidah. Suara mengecap memenuhi ruangan. Napas bercampur dosa. Ia bahkan membuka mulutnya sedikit lebih lebar, menunggu ciuman berikutnya.

“Bergiliran, ya?” katanya pelan, matanya berkaca-kaca.

“Aku bisa dicium seribu kali malam ini dan tidak akan lelah”

Kemudian, satu per satu mulai mengikuti.

Seorang petinggi menyelipkan tangan ke rambutnya, menariknya pelan hingga Rafayel duduk di atas pangkuannya. Mereka berciuman dalam dan basah. Tak diam, tangan petinggi itu juga mengerayangi dada Rafayel, diremat-remat dan putingnya dicubit. Dan saat Rafayel menarik napas — air liur masih mengalir dari bibirnya — dia menoleh ke tamu lain.

Bibir tua dan muda, penuh parfum dan arak, mulai mengecap kulitnya.

“Manis sekali…”

“Dia bergetar, lihat itu.”

“Kau suka ya, Nak? Ciuman kakek-kakek mabuk begini?” Yang dibalas Rafayel dengan eluhan manja.

Seisi ruangan bersorak kecil, antara geli dan terangsang.

Rafayel dituntun ke atas sebuah permadani merah yang dahulu adalah alas doa untuk ritual air suci.Kini tempat suci itu jadi ranjang liar, tempat ia dipegang, dicium, dihujam oleh banyak pria dalam satu malam.

Dia sudah tidak menghitung kontol siapa masuk duluan. Tidak lagi mengingat wajah-wajah yang kini mencengkram pinggangnya, menarik rambutnya, menggigit putingnya.

Ditengah menikmati tubuhnya yang terhentak genjotan salah satu tamu, sekilas dia membuka mata — Dia kenal wajah itu. Itu.. Mantan tangan kanan ayahnya. Perdana menteri Lemuria yang dulu berlutut di hadapannya bersumpah akan kesetiaan.

“N-Ngh T-Tuan Ilyon…?”

“Panggil aku Ayah, Pangeran kecil. Seperti dulu waktu aku mendongengkan sejarah leluhurmu saat masih kecil hm?”

Dada Rafayel berguncang. Tapi bukan karena sedih.

Karena dia menggeliat. Terangsang.

Tubuhnya menjerit minta lebih.

“K-kontol a-ayah Ilyon nhgh, enak”

Tangan Rafayel ditarik. Kakinya diangkat. Lehernya dicium. Rambut panjangnya dipegang seperti tali. Dan saat satu kontol memasuki lubangnya, yang lain menunggu giliran.

“Tubuhmu… sesuai ekspetasi kami waktu kami hanya bisa melihat dari jauh.”

“Kami dulu bersumpah akan melindungimu. Tapi lihat kau sekarang…”

“Kau malah memohon kami masuk lubangmu.”

“Yang Mulia, jujur saja dari dulu saya sering berfantasi crot di wajah cantik anda.”

“Hiks, ngh iya ah..” Jawabnya susah payah selagi menghisap kontol tamu lainnya.

suara Rafayel nyaris tak terdengar.

“Hhh ah — Karena sumpah kalian palsu. Tapi hasrat kalian nyata.”

Dari begitu banyak yang menyentuh, menciumi, menghujam, Rafayel kehilangan nama.

Kehilangan jumlah.

Kehilangan makna.

Yang tersisa hanyalah kenikmatan.

Gelombang itu, orgasme yang menghempas tubuhnya hingga hilang bentuk.

“Ahh… ya… siapapun… siapapun masuk. ngh a-ahh. aku terima… s-semuanya…”

“Isi aku.. isi aku sampai suaraku hilang, sampai lubangku longgar”

Tangan-tangan terus menyentuh.Ada yang menampar pelan bokongnya, ada yang menjilat pahanya, ada yang mendorong memaksa menggenjot mulutnya dan paling aneh salah satu tamu menggesekkan kontolnya pada ketiak Rafayel yang lucunya dia tetap menikmatinya;

Rafayel sudah tak tahu siapa siapa. Tapi ia menggeliat. Menarik tubuh mereka mendekat. Menuntut lagi.

“Penuhi aku. Rusak aku. Biar Lemuria mati sepenuhnya di tubuh ini.”

Dulu, tubuh Rafayel adalah kapal suci Lemuria.

Kini tubuhnya adalah dermaga tempat semua kapal merapat.

Tempat semua dosa manusia mendarat, tinggal, dan tumpah.

“Airmu bukan lagi air suci,” bisik salah satu petinggi sambil mengocok kemaluan Rafayel.

“Tapi air mani. Dan itu… lebih jujur dari doa.”

Rafayel tertawa.

Kepalanya jatuh ke belakang. Rambutnya membasahi lantai.

Tubuhnya terus bergerak, tergenjot, terus diisi, terus dipakai. Menghangatkan semua kejantanan disana.

Dan saat klimaks kesekian kalinya, ia hanya bisa mengucap

“Kalau ini adalah neraka… biarkan aku jadi apinya.”

.

.

.

Malam telah usai.

Para petinggi sudah pulang. Beberapa tertidur setengah telanjang di lantai marmer, mabuk dan kelelahan. Rafayel sudah dipindahkan oleh pelayan ke kamar pribadinya sendiri. Ia dimandikan, Tubuhnya sangat kotor, bekas tanda nafsu mengering yang bertebaran di tubuhnya sudah dibersihkan oleh pelayan. Rambut panjangnya yang kusut pun dicuci dengan wewangian terbaik kerajaan, dikeringkan dengan lembut. Diperlakukan bak memandikan seorang dewa. Ratusan tangan telah menyentuhnya malam ini, namun dalam matanya yang sayu — hanya dua nama muncul.

Xavier. Sylus.

.

.

.

Xavier, Pangeran dari kerajaan musuh.

Elegan. Tenang. Pintar menyusun kata, pintar menyusun strategi. Ia tak pernah memperkosa Rafayel dengan kasar. Tapi ia memperdaya jiwanya.

Membisikkan kalimat-kalimat manis di telinga lelah Rafayel.

“Kenapa berjuang untuk kerajaan yang membiarkanmu hidup hanya di altar?”

“Di tempatku… kau bisa dicium, dipuji, dipakai. Bukan disembah, lalu dilupakan.”

Xavier mencium tubuh Rafayel seperti membaca kitab suci.

Menjadikannya ajaran baru, kitab baru — agama baru di mana Rafayel adalah dewa nafsu.

Berkebalikan dari Xavier.

Sylus tidak berkata banyak.

Ia mendobrak pintu ke tubuh Rafayel. Mengukirnya dengan rasa sakit, hingga tubuh itu tahu caranya merayu meski dibelenggu.

Tangannya keras, lidahnya kejam, matanya gelap.

Tapi ia mengajari Rafayel bahwa luka pun bisa jadi bentuk kenikmatan.

Dan tiap jeritan Rafayel adalah lagu kemenangan bagi mereka berdua.

“Terus meronta,” katanya sambil menghentak kontolnya dalam tubuh Rafayel.

“Semakin kau benci ini, semakin tubuhmu membentuk kenikmatan baru.”

Rafayel tak bisa lagi ingat versi dirinya yang dulu.

Anak suci Lemuria.Pangeran penerus. Simbol lautan yang damai.

Semua itu kini hanya potongan gambar dalam mimpi, tenggelam dalam ciuman dan orgasme yang tak pernah berhenti.

Sekarang dia milik semua orang.

Tapi dimiliki secara utuh oleh dua orang itu.

“Tubuhku gemetar karena banyak yang menyentuhku.”

“Tapi hatiku gemetar… saat dua tangan itu mengunci pinggangku.”

“Xavier yang merayu jiwaku… Sylus yang menghancurkan tubuhku… dan mereka berdua, yang membuatku bangga jadi pecahan.”

Di malam terakhir pesta, saat semua tamu pulang, hanya dua sosok masuk ke ruangan Rafayel.

Xavier mencium bibirnya. Sylus mencium pahanya.

Rafayel tersenyum, tangannya terbuka.

“Kalian yang menjadikan aku seperti ini,” bisiknya.

Dan saat mereka berdua masuk ke tubuhnya — bersama.

Rafayel hanya menggumam dalam desah


메타데이터
post_id
c30cf1a2b995
slug
pesta-dosa-c30cf1a2b995
url
https://medium.com/@nadilanio7/pesta-dosa-c30cf1a2b995
canonical_url
https://medium.com/@nadilanio7/pesta-dosa-c30cf1a2b995
author_url
https://medium.com/@nadilanio7
status
ok
fetched_at
2026-06-15 20:49:13