← Back to list

Rancangan Antar Kota Antar Perspektif

Jurnal Perancangan Compass® Divercity™

Azmi Robby · 2025-07-26 07:08 · 0 claps · 7.5 min read
#design #footwear-design #product-design #sepatu #indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: PRD · Product Design DSN · Design · General

Rancangan Antar Kota Antar Perspektif

Jurnal perancangan Compass® Divercity™

Koleksi 5 Kota Compass® Divercity™. Kredit : Sepatu Compass®

Koleksi 5 Kota Compass® Divercity™. Kredit : Sepatu Compass®

Semua detail sepatu Divercity™ bisa dilihat di akun Instagram @sepatucompass

Di negara yang luas dan beragam seperti Indonesia, Kami merasa tidak bisa merancang sebuah produk hanya dengan kerangka berpikir rekayasa teknik, atau teknik perancangan produk semata. Kami rasanya harus merancangnya dengan imajinasi, karena lanskap geografi Indonesia menuntut itu. Indonesia memang negara kepulauan, tapi tidak berhenti di batas geografis saja tapi juga dalam ruang imajinasi. Masyarakat kita dibentuk tidak hanya dengan logika linier, namun juga dengan budaya, ritual, struktur moral, dan kepulauan memori. Maka dari itu desain produk untuk konteks Indonesia tidak bisa mengikuti satu metode atau satu pendekatan yang saklek. Ia harus cukup rendah hati untuk mendengar, namun tetap punya kekuatan untuk bisa mengekspresikan.

Dari semangat itu, nama proyek Divercity berasal. Sepatu Compass® mencoba merangkum keberagaman yang menjadikan tiap kota Indonesia itu unik lewat penceritaan ulang dalam bentuk rancangan sepatu. Sebuah bentuk penghargaan dan pemahaman akan berbagai bentuk keberagaman Indonesia

Indonesia tidak dibentuk dari satu daratan besar, Indonesia dengan kota-kotanya adalah sebuah konstelasi dari kepulauan, cerita, dan ritme kehidupan, yang pada setiap kota memiliki tempo, dan pandangannya sendiri-sendiri. Kota di tepian pantai akan bergaya berbeda dengan kota yang dikelilingi gunung. Pasar di Jakarta punya ciri khas unik yang tidak akan sama dengan pasar yang berada di Makassar. Dengan pemahaman tersebut nampaknya, untuk bisa memulai merancang produk ini, harusnya berasal dari dalam bukan dari luar, bukan disetir oleh kami, orang-orang luar. Karena dalam konteks tersebut, kami akan selalu bisa membuat produk yang “keren”, hanya saja produk itu tidak akan “berjiwa”.

Desain-desain dari koleksi Divercity ini adalah buah pikir, dan inisiasi ide yang dipercikkan dari dalam. Lewat tangan-tangan kontributor, gagasan desain mulai dibangun dan didiskusikan. Tugas kami, memastikan semua gagasan-gagasan tersebut bisa diterjemahkan ke bahasa manufaktur dan tetap berada dalam koridor utama arahan perancangan Compass®.

Rasanya, akan sangat menyenangkan untuk menceritakan ulang dimensi-dimensi keragaman itu disini. Satu persatu, kami coba untuk ceritakan.

Untuk memulai proyek ini, kami menyodorkan sebuah template rancangan sepatu Tribune®, yang di dalamnya terdapat komponen-komponen yang oleh kontributor tiap kota bisa dieksplorasi. Sebagai bentuk pengenalan awal siluet sepatu Tribune®.

Template rancangan untuk Tribune® Divercity™. Sumber : Design Compass®

Template rancangan untuk Tribune® Divercity™. Sumber : Design Compass®

Dari tahap ini, gagasan tiap kota mulai terkuak satu per satu, seolah kami sedang membongkar harta karun berupa buku-buku cerita. Pertemuan desain kami tak ubahnya seperti sesi cerita di penghujung hari yang baru akan usai saat rembulan tinggi. Kami benar-benar tenggelam dalam lautan ide, saling beradu argumen, bertukar pikiran, diselingi canda tawa, hingga akhirnya menemukan bentuk awal yang ideal untuk desain sepatu dari tiap kota. Setiap diskusi adalah langkah maju, anyaman inspirasi kota ke dalam siluet hening Tribune®.

Mari kita mulai perjalanan mengasyikkan ini dari kota Bandung.

Bandung : Kota Lautan Api dan Bunga-Bunga

Selalu ada cerita romantis berbalut pandangan retrospektif dalam setiap cerita yang melatari pertunjukkan wajah kota Bandung. Kutipan “bumi pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”- M.A.W Brouwer sangat mewakili bentuk akhir dari rancangan sepatu ini. Sepatu putih bermaterialkan kulit sederhana, dengan aksen warna biru sebagai pelengkap yang manis. Detail embossed EX UNDI SOL pada bagian tumit, tidak hanya pernah jadi slogan kota Bandung zaman dahulu. Namun juga merepresentasikan nilai sejarah yang sentimental bagi warga Bandung, tentang kondisi geografisnya, dan harapan-harapan yang diusung.

Detail komponen belakang Tribune® Bandung. Kredit : Sepatu Compass®

Detail komponen belakang Tribune® Bandung. Kredit : Sepatu Compass®

Tiga garis jahitan pada lidah berwarna hijau, kuning, biru, menjadi penghormatan pada warna bendera kota Bandung. Ditemani simbol api sebagai memoar Bandung lautan api dan simbol kecantikan dari bunga Patrakomala, yang ditempatkan secara bersilangan di komponen lidah dan ankle belakang. Detail sentimental lain, berada pada insole yang berisikan gambaran lokasi geografis Stadion Siliwangi, museum dari segala bentuk artefak sedih-senang, gemuruh-heningnya cinta untuk tim kesayangan, titik mula kultur teras di kota ini. Sekali lagi, Bandung mengajak kami lebih jauh untuk merasa, mendengar, dan mengaroma, dari dasar pengenalan soal cantik yang cukup namun tetap manis. Bandung hadir sebagai perwakilannya.

Jakarta : Dari Inklusivitas Metromini Semua Bermula

Perjalanan selanjutnya adalah menuju ibu kota. Satu arah, satu tujuan, di dalam, di atas Metromini sepaket besar nyanyian semangat dengan lantang berbunyi mengitari kota Jakarta. Warna jingga Metromini yang secara ajaib berkesinambungan dengan warna khas Jakarta, jadi dasar perancangan sepatu ini. Keras hitam aspal jalanan, dinukil jadi warna sole-nya. Font yang menjadi identitas branding kota ini coba kami pakai untuk tulisan pada woven label. Tulisan nama JAKARTA ditampilkan dengan font Jakarta Sans.

Jakarta adalah kota tempat di mana berbagai budaya dan perspektif bersenyawa, ambisi dibakar, dan mimpi-mimpi teraih. Setiap langkah di jalanannya menyimpan kisah perjuangan dan kerja keras yang sering kali ditutupi bising kotanya.

Mengenal kota ini adalah proses akselerasi pendewasaan dan pengenalan diri. Tempaan keras yang membentuk diri ini kami coba cerminkan lewat rancangan insole yang terinspirasi dari lantai besi metromini, yang seiring tempaan pemakaiannya, insole ini akan “berkarat” dan jati diri akan terbentuk berupa bentuk kaki yang akan berbeda di setiap orangnya. Jakarta adalah tempat tinggal dari banyaknya keindahan ambisi, dan mimpi-mimpi. Mengenalkan kami tentang kerja keras, dan konsistensi juang di setiap hari. Seperti yang bisa dimaknai dari Metromini, medium transportasi juang dan mimpi-mimpi.

Detail grafis plat besi di insole dan warna jingga Tribune® Jakarta. Kredit : Sepatu Compass®

Detail grafis plat besi di insole dan warna jingga Tribune® Jakarta. Kredit : Sepatu Compass®

Makassar : Sebaik-baiknya Penutur Epos

Menukil ketakjuban penceritaan dalam epos La Galigo yang lebih tebal dari Mahabarata dan Ramayana itu, sejatinya masyarakat Makassar adalah kumpulan dari penutur cerita yang alami. Jauh melancong ke bagian timur Indonesia, desain sepatu Tribune® Makassar dibekali dengan semangat Siri’ Na Pace, membuat semua cerita-cerita tentang kehidupan masyarakatnya terdengar begitu syarat makna, manusiawi, juga tetap berisi pengingat soal aturan untuk menjaga kesucian. Dalam sepatu ini ada salah satu cerita heroik soal bagaimana perasaan kebangaan itu terbentuk. Tertulis dalam aksara lontara, cerita itu tersembunyi di punggung kaki, cerita tentang Andi Ramang. Untuk bisa membacanya, seperti membaca kehidupan sehari-hari. Dekat, tapi membutuhkan gestur lebih untuk bisa membacanya.

Menerjemahkan ulang bentuk Pinisi, tambang-tambang kapal diinterpretasi melalui tali sepatu serta kait yang mengingatkan detail tambang tertambat ketika sebuah Pinisi berlabuh. Pengalaman menapakkan kaki di kapal Pinisi, bisa dirasakan telapak kaki dari tekstur kayu pada insole. Warna merah seperti pada Baju Bella Dada menjadi warna utama yang melambangkan semangat dari masyarakat Bugis. Disempurnakan dengan sahutan Ewako! yang dituliskan dengan aksara lontara pada label. Dari segala sisi produk ini, kami memahami bahwa cerita-cerita yang dituturkan adalah bentuk penyampaian kehormatan dan harga diri dari masyarakat Makassar yang sederhana nan lugas.

Foto sepatu Tribune® Makassar. Kredit : Sepatu Compass®

Foto sepatu Tribune® Makassar. Kredit : Sepatu Compass®

Sleman : Reinkarnasi Elang Jawa

Memilih hutan dengan lereng curam dan pohon-pohon tinggi sebagai tempat hidup dan bersarang. Di langit Jawa ia sang Garuda, Elang Jawa terbang. Warna bulu-bulu cokelat dengan transisinya yang cantik, menjadi gagasan desain warna produk untuk kota Sleman ini. Sleman yang lahir dari didikan kasar gunung Merapi, tampil tangguh dan gagah lewat penggunaan material anti air pada sepatunya. Tepat fungsi, seperti seharusnya sepatu ini akan digunakan untuk menginvasi tribun-tribun stadion dengan sorakan semangat yang tidak akan berhenti apapun cuacanya.

Seperti Elang Jawa yang gagah berani, material Tribune® Sleman ini dibuat dengan skema warna yang menyerupai bulu Elang Jawa, gradasi cokelat gelap ke cokelat terang. Dengan tambahan detail mata tajam khas Elang Jawa pada eyelet paling atas. Sepatu Tribune® Sleman adalah bentuk intimidasi pada lawan yang paling literal.

Foto sepasang sepatu Tribune® Sleman. Kredit : Sepatu Compass®

Foto sepasang sepatu Tribune® Sleman. Kredit : Sepatu Compass®

Perjalanan di Sleman ini mengasah kami untuk kembali membiasakan diri hidup berdampingan dengan alam. Karena semua ketangguhan, keras pikir pada prinsip, dan loyalitas yang tercerminkan dari desain sepatu ini sejatinya adalah buah dari relasi harmonis manusia dengan alam.

Surabaya : Kebanggaan dan Kehormatan Kota Pahlawan

Ketika perjalanan berlabuh di Surabaya. Bersama rancangan Tribune® Surabaya, kami diajak untuk membayangkan tentang gelegar pekik lantang pidato Bung Tomo, riuh panas semangat masyarakat Surabaya menyerbu Hotel Yamato. Mendorong kami untuk ikut merasakan semangat, hormat, dan keberanian hati dari para pahlawan yang melatari segala sudut cerita kota Surabaya. Konfigurasi perasaan tersebut ditafsirkan sempurna dengan warna hitam, hijau, dan emas.

Cerita-cerita heroik kota ini disimbolkan lewat logo klasik kota Soerabaja. Identitas berani adalah jantung dari kota ini. Semangat perjuangan itu dirawat, diwariskan, sebagai manifestasi keberlangsungan nilai masyarakat kota ini. Seperti siklus tanam, tuai, semangat itu terus hidup tak putus-putus. Jadi harta yang paling berharga dari Surabaya, sama seperti nilai kemewahan emas yang coba ditampilkan lewat tekstur kulit buaya sebagai tanda cinta yang ikonik dari Surabaya.

Detail warna dan material Tribune® Surabaya. Kredit : Sepatu Compass®

Detail warna dan material Tribune® Surabaya. Kredit : Sepatu Compass®

Penutup perjalanan di Surabaya adalah sebuah menifesto tentang mewahnya semangat yang diwariskan. Warisan semangat yang dirawat tetap hidup, jadi landasan perjuangan hari ini, yang akan jadi warisan semangat di hari esok. Siklus perjuangan hidup yang dibuat tidak akan putus, tidak akan pernah padam.

Packaging Set Compass® Divercity™

Kami sadar sekali cerita-cerita yang kami bawa dari tiap kota-nya adalah kumpulan cerita sakral nan magis. Dari pemahaman itu, kami mencoba untuk menghimpun 5 cerita tersebut dalam seperangkat packaging set yang kohesif dengan inti semangat proyek ini. Setelah melalui serangkaian diskusi dan uji coba, kami menemukan satu kata kunci yang menjadi landasan rancangan packaging ini : jejak.

Seperti jejak yang telah diberikan 5 kota kontributor kepada kami. Kami juga ingin mempersembahkan sebuah jejak yang senantiasa diingat oleh 5 kota itu. Sebuah tanda, dari proyek ini ada bentuk memori manis tak lekang oleh zaman yang sedang dipahat di inti memori tiap kota. Dari gagasan ini, teknik stamping muncul dalam alam ide yang coba kami aplikasikan ke realita.

Hasil dari stamping sole Tribune® di atas kertas pada proses eksplorasi grafis. Kredit : Design Compass®

Hasil dari stamping sole Tribune® di atas kertas pada proses eksplorasi grafis. Kredit : Design Compass®

Dari hasil proses stamping ini kami buat sebuah grafis box sepatu yang merepresentasikan jejak-jejak sepatu Tribune® di atas beton. Agar bisa dimaknai seperti ribuan jejak kaki sungguhan yang memenuhi jalanan dan tribune-tribun medan laga. Packaging set ini adalah usaha kami untuk menjaga pengalaman konsumen dalam perjalanan pembeliannya. Sebuah perjalanan magis yang beruntun, dan kohesif, yang bisa dinikmati setiap penggunanya.

Hasil akhir dari rancangan packaging set Divercity™. Kredit : Sepatu Compass®

Hasil akhir dari rancangan packaging set Divercity™. Kredit : Sepatu Compass®

Dalam perjalanan ini, kami serasa dibawa ke ruang multidimensi. Ruang yang menggambarkan variasi rasa, preferensi, budaya yang membentuk nilai Bhineka Tunggal Ika. Kami diperdengarkan lantunan narasi suka cita yang menjadikan kita Indonesia. Sebuah bentuk pemahaman yang hanya timbul untuk mereka yang cinta di Indonesia. Pemahaman yang tidak bisa digambarkan lewat kata, namun yang bisa dinikmati lewat rasa. Segala sesuatu yang rasanya jauh untuk kami, tiba-tiba terasa amat dekat. Lewat tutur cerita dan gagasan teman-teman kontributor, koleksi desain Tribune® dari proyek Divercity ini terasa amat hidup. Bukan sekedar rancangan sepatu, koleksi ini adalah wahana untuk memahami keberagaman, antar kota antar perspektif.


메타데이터
post_id
c30d9abd3f2f
slug
rancangan-antar-kota-antar-perspektif-c30d9abd3f2f
url
https://medium.com/@azmirobby/rancangan-antar-kota-antar-perspektif-c30d9abd3f2f
canonical_url
https://medium.com/@azmirobby/rancangan-antar-kota-antar-perspektif-c30d9abd3f2f
author_url
https://medium.com/@azmirobby
status
ok
fetched_at
2026-07-18 17:30:23