Solvitur Ambulando
Ketika langkah kakimu menjadi rahim sebuah tulisan
Jalan Kaki
Solvitur Ambulando
Ketika langkah kakimu menjadi rahim sebuah tulisan
“Keluarlah, pergilah jalan. Setidaknya kamu menginjak tai di jalanan.” — Elizabeth, nenek saya.
Setiap langkah adalah percakapan. Kadang dengan pasangan hidup, kadang dengan diri sendiri. Photo by Leon Seibert on Unsplash
Kemarin pagi, saya membaca esai Bung Ringgo tentang berjalan kaki. Terus terang, saya senang sekali menemukan sesama Mediumer Indonesia yang gemar berjalan kaki. Tidak banyak, rasanya, teman-teman di komunitas ini yang menjadikan berjalan kaki sebagai bagian dari rutinitas mereka. Karena itu, saya membaca esainya dengan antusias.
Di antara baris-baris tulisannya, saya temukan satu frasa Latin yang terasa akrab. Saya memberi highlight dan mengomentari. Frasa itu adalah:
Solvitur ambulando — Masalah diselesaikan dengan berjalan.
Saya tersenyum seketika. Karena frasa itu membawa saya pulang ke masa lalu. Masa tinggal di asrama. Saya ingat frasa itu ditulis dalam buku pelajaran bahasa Latin kami. Dan pada waktu itu, saban akhir pekan kami mempunyai kegiatan yang ditunggu-tunggu semua orang, yang kami sebut ambulansi — berjalan-jalan keluar kompleks asrama.
Seingat saya, di kelas bahasa Latin, guru kami tidak menjabarkan makna ungkapan itu. Karena memang,meskipun disertakan sebagai pengisi halaman-halaman kosong, frasa-frasa seperti ini menjadi semacam bumbu dalam pelajaran bahasa yang struktur kalimatnya sungguh memusingkan kepala itu. Ya, dan memang salah satu kesenggangan kami waktu itu adalah menghafal ungkapan-ungkapan bahasa Latin semacam ini.
Saat itu, sebagai remaja, kami menganggap ambulansi sekadar ritual menghirup udara bebas di luar tembok asrama.
Tentu saja, belum terbayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, berjalan kaki di atas trotoar La Prairie — kota kecil yang tenang di pinggiran Montreal — saya menemukan cara ambulansi, dengan makna baru.
Saya mengakui bahwa banyak frasa Latin yang sampai sekarang saya jadikan semacam pengingat. Namun, tidak pernah menyangka bahwa puluhan tahun kemudian, saya akan mengalami sendiri makna yang tersembunyi di balik frasa semacam itu. Ya, termasuk “solvitur ambulando” ini.
Esai Bung Ringgo bukan hanya mengingatkan saya akan romantisme masa tinggal di asrama. Esai itu juga mengingatkan saya akan draf lama yang sudah berbulan-bulan mengendap di folder laptop saya.
Memang sejak bergabung di Medium, saya menulis semacam serial tentang jalan kaki, kegemaran saya sendiri, yang tiba-tiba mendapat tempat cukup terhormat di Montreal ini.
Sebetulnya, tujuan saya ingin mengetuk hati teman-teman Mediumers Indonesia untuk kembali menyukai ritme berjalan kaki. Bukan semata-mata sebagai urusan membakar kalori, melainkan sebagai bagian dari kebudayaan hidup modern. Saya tidak ingin ikut mempromosikan laku berjalan kaki dalam konteks itu. Saya lebih ingin mengingatkan bahwa dalam budaya kita sendiri, berjalan kaki ada dan dikenal dengan berbagai istilah. Di Toraja, misalnya, kami mengenal istilah “sumalong”, berkelana tanpa tujuan tertentu.
Budaya yang saya kira akan membantu kita tetap manusiawi karena jalan kaki memberi kita jeda dan ruang untuk menyapa tetangga, menikmati arsitektur kota, dan berdamai dengan gemuruh di dalam diri kita sendiri.
La Prairie, kota di mana kami tinggal, sangat kental budaya francisnya. Bahasa resminya pun, bahasa Francis. Tentu saja konsep flâneur dari tradisi Prancis sangat kuat di sini. Ini adalah tradisi pejalan kaki yang mengapresiasi kota tanpa diburu waktu.
Saya menikmati pemandangan sepasang lansia yang berjalan lambat sambil bergandengan tangan, keriangan anak-anak yang mengayuh sepeda sepulang sekolah, seseorang yang berbicara dengan anjingnya seolah sedang mendiskusikan perkara penting, atau seorang ayah yang mendorong stroller bayi sambil meresapi angin sore.
Barangkali, naluri mengamati ini memang jenis keterampilan saya yang menolak untuk ikut pensiun.
Jadi, tidak mengherankan jika dalam tulisan-tulisan terdahulu, saya lebih sering menempatkan jalan kaki sebagai sebuah pengalaman budaya di tanah baru ini.
Di masa lalu, setiap kali kepala saya mendadak bising oleh kerumitan persoalan, atau ketika saya harus menimbang sebuah keputusan yang tidak mudah, saya hampir selalu memilih untuk memakai sepatu dan berjalan kaki.
Saya tidak menganggapnya sebagai teknik manajemen stres yang canggih. Saya hanya tahu, setelah beberapa lama melangkah, entah bagaimana caranya, isi kepala terasa jauh lebih ringan. Persoalannya mungkin belum menguap, tetapi saya tidak lagi melihatnya dengan sudut pandang yang sama keruhnya.
Lalu, tibalah babak baru itu dalam hidup saya: masa pensiun, dan keputusan untuk menulis secara rutin di Medium. Kebiasaan lama saya berjalan kaki perlahan berganti fungsi.
Saya tidak lagi berjalan sekedar untuk menjernihkan pikiran. Saya menjadikannya rutinitas.
Terbiasa dengan “sumalong” dan kemuduan “ambulansi”, setiap kali melangkah keluar rumah dan menyusuri sudut-sudut La Prairie, mata saya lebih banyak menangkap momen ketimbang menghitung jumlah langkah. Rutinitas menulis saya di Medium, belakangan mengganti suasana kebathinan saya saat berjalan kaki. Kadang-kadang saya memikirkan artikel yang baru saya baca, dan kadang-kadang tetiba ide muncul. Ide itu kemudian saya catat di note dan simpan.
Jika momentum itu datang, saya harus segera menepi. Saya rogoh telepon genggam, lalu dengan cepat mengetik beberapa kalimat di aplikasi catatan sebelum gagasan itu menguap ditiup angin Kanada yang tidak kenal sepoi-sepoi seperti di Indonesia.
Istri saya sudah sangat hafal dengan tabiat ini. Kalau dia melihat saya mendadak berhenti di pinggir jalan sambil menunduk menatap layar ponsel, dia tahu saya bukan sedang sibuk membalas pesan penting. Sambil tersenyum maklum, sang “pemeriksa fakta” hidup saya itu tahu bahwa suaminya sedang sibuk menangkap ekor sebuah ide cerita.
Begitu pemicunya muncul, barulah saya memolesnya. Persis yang saya lakukan sekarang pada esai yang kamu baca ini.
Membaca tulisan Bung Ringgo menjawab pertanyaan yang saya coba jawab dalam draf saya. Apakah semua pengalaman personal ini hanyalah sebuah kebetulan yang romantis? Jawabannya, saya kira ada pada semboyan “solvitur ambulando” ini.
Kebiasaan berjalan kaki yang sangat populer dan digemari warga di La Prairie ini ternyata memiliki silsilah intelektual yang sangat panjang.
Konon, menurut Wikipedia, frasa ini berakar dari Diogenes. Ketika para filsuf di zamannya terjebak dalam perdebatan pelik tentang apakah “gerak” itu benar-benar ada atau sekadar ilusi optik, Diogenes tidak membalasnya dengan rentetan teori yang rumit. Ia hanya berdiri dari duduknya, lalu berjalan beberapa langkah di depan mereka.
Jawabannya bukan sebuah argumen verbal, tapi tindakan nyata.
Tetapi frasa yang tertulis dalam buku pelajaran bahasa Latin kami, tampaknya berasal dari St. Agustinus, seorang filsuf dan teolog berpengaruh dalam Gereja Katolik. Ia mengadopsi ungkapan yang sama untuk merangkum sebuah kebijaksanaan bahwa ada masalah-masalah tertentu yang tidak akan pernah selesai jika hanya dipikirkan atau diperdebatkan di balik meja. Ada hal-hal yang baru bisa diurai dan dipahami ketika kita berani melangkah dan menjalaninya.
Lalu laku berjalan sambil berpikir saya temui dalam kumpulan esai Michel de Montaigne. Bapak esai modern ini dikenal sebagai seorang pejalan kaki. Ia sering kali berjalan-jalan di area perkebunan dan pedesaan Prancis. Ia sengaja membiarkan pikirannya berkelana sebebas irama langkah kakinya. Tidak heran jika membaca esai-esai Montaigne, kita akan merasa seperti sedang mengobrol santai di sepanjang jalan. Bukan seperti mendengarkan ceramah seorang guru yang tergesa-gesa mengejar kesimpulan.
Itulah mengapa, kebanyakan bentuk dan struktur esai modern itu sendiri lebih santui daripada tulisan ilmiah.
Para pembaca tentu sudah kenal Friedrich Nietzsche. Tetapi mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa beliau adalah filsuf yang kerap didera migrain hebat. Dan karena itu, beliau sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk berjalan mendaki di pegunungan Swiss demi mencari kesembuhan seraya berfilsafat.
Friedrich Nietzsche bahkan lebih radikal lagi. Ia menaruh curiga pada pemikiran yang terlalu lama dikurung di balik meja kerja. Dalam Twilight of the Idols, ia menulis:
“Sit as little as possible; give no credence to any thought that was not born outdoors and in free movement — in which the muscles are not also celebrating a feast.” — Duduklah sesedikit mungkin. Jangan terlalu percaya pada gagasan yang tidak lahir di alam terbuka dan dalam gerak yang bebas — ketika otot-otot tubuh pun ikut berpesta.
Sulit membuktikan apakah semua gagasan besar memang lahir di jalan setapak. Namun, saya mulai memahami maksud Nietzsche. Banyak tulisan saya justru menemukan kalimat pertamanya bukan ketika duduk di depan komputer, melainkan ketika kaki sedang melangkah di trotoar La Prairie.
Kadang ide muncul berupa sebaris judul yang menggelitik. Kadang berupa kalimat pembuka yang pas. Atau yang paling sering, sebuah garis merah yang tiba-tiba menghubungkan dua atau lebih, momen acak yang tadinya sama sekali tidak berkaitan.
Jauh sebelum semua ini, nenek saya selalu berkata padaku, “Keluarlah, pergilah jalan. Setidaknya kau menginjak tai di jalanan” Nenek saya hanya dua hari duduk di bangku sekolah. Saya yakin beliau tidak sedang berfilsafat seperti Nietzsche dan para pendahulunya. Sejauh saya pahami, nenek hanya tak ingin saya bermalas-malasan dengan duduk, rebahan tanpa melakukan gerak apa-apa di rumah.
Di sini, saya tentu tidak berani mengklaim bahwa tulisan-tulisan saya di Medium ini adalah sebuah pemikiran besar. Jauh dari itu! Sebenarnya, lebih tepat disebut bualan warung kopi yang saya pindahkan ke dalam bentuk tertulis.
Saya rasa harus berterima kasih, karena berkat esai Bung Ringgo dan obrolan imajiner dengan para pemikir masa lalu, saya menyadari satu kekeliruan saya selama ini.
Ya, saya harus berterima kasih dan mengaku:
Meskipun telah terpapar sedemikian, saya justru mempersempit makna dari aktivitas berjalan kaki.
Saya mengira berjalan kaki hanya membantu mata saya untuk mengamati dunia luar. Ternyata, berjalan kaki juga membantu mengatur ulang pikiran, mendapatkan jawaban, dan sekarang membantu jemari saya menata kembali isi kepala yang berantakan dan menuangkannya ke dalam bentuk tulisan.
Benar kata Bung Ringgo bahwa berjalan tidak selalu menyodorkan jawaban instan, melainkan mengubah cara kita memandang pertanyaan itu sendiri. Langkah kaki tidak otomatis melenyapkan masalah. Namun, ia membuka sebuah ruang di dalam pikiran kita untuk kembali bernapas.
Dan di dalam ruang yang lebih lapang itulah, kadang-kadang terbesit sebuah ide yang baru, sebuah solusi yang dicari, atau seperti kata nenek saya kita menginjak tai.
Terima kasih sudah membaca.
Kenangan
Juni tahun lalu saya menulis “Jalan Kaki: Kembali ke Trotoar La Prairie”, tentang pengalaman kembali menikmati trotoar-trotoar di Montreal setelah pulang dari Indonesia. Dalam tulisan itu saya juga berbagi kegembiraan membaca kisah-kisah jalan kaki teman-teman Mediumers Indonesia Belen Amanda, Jesica Caroline, Phillocaliste, Ivan Lanin — mulai dari kebiasaan berjalan kaki, berkelana, hingga menemukan cerita di sepanjang perjalanan.
Saya berharap saat ini mereka masih setia melangkah, dan tentu saja masih terus menulis.
[embed]Kembali ke Trotoar La Prairie Setelah sebulan tak jalan kaki di Indonesiamedium.com
Semoga semakin banyak di antara kita yang menemukan bahwa trotoar, jalan setapak di taman kota, atau gang-gang kecil di sekitar kediaman kita, bisa menjadi rahim tempat lahirnya gagasan-gagasan baik dan mencerahkan.
Siapa tahu, esai mengagumkan berikutnya yang akan kamu bagikan di Medium lahirnya beberapa ratus meter sebelum kamu memutar kenop pintu rumah, sepulang dari berjalan kaki sore ini.
Semoga. Salama’
메타데이터
- post_id
- c31b366d3191
- slug
- solvitur-ambulando-c31b366d3191
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/solvitur-ambulando-c31b366d3191
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/solvitur-ambulando-c31b366d3191
- author_url
- https://medium.com/@stepanuskapoda
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13