← Back to list

Book Review: The Dictionary of Obscure Sorrows by John Koenig

Kosakata baru untuk menjelaskan emosi kompleks manusia.

felinecie in Komunitas Blogger M · 2024-10-18 07:02 · 121 claps · 4.0 min read
#komunitas-blogger-medium #bahasa-indonesia #ulasan-buku #buku #john-koenig
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 📚 · Books & Reading

Ulasan Buku: The Dictionary of Obscure Sorrows by John Koenig

Screenshot dari Libby

Screenshot dari Libby

Apakah kalian pernah merasakan sebuah emosi dari dalam diri atau dari momen kecil di sekitar kalian yang sebenarnya terlihat begitu sederhana, tapi dalam waktu bersamaan sangat sulit untuk dijelaskan lewat kata-kata?

Sebagai contoh, kalian tidak bisa menjelaskan rasa frustasi ketika menyadari bahwa jiwa kalian terjebak di dalam satu tubuh saja, yang hanya bisa berada di satu tempat pada satu waktu. Atau, kalian sulit menjelaskan rasa tak nyaman ketika berhasil sampai di masa depan, mendekap hasil dan mencium gagal dari semua perjuangan, tapi tidak bisa bercerita pada diri kalian di masa lalu tentang pengalaman-pengalaman itu.

Contoh lain lagi, sebuah perasaan ketika kalian mengunjungi tempat yang dulunya selalu ramai dipenuhi dengung manusia, kini sepi melompong tak menyimpan jejak kehidupan.

Dalam buku The Dictionary of Obscure Sorrows yang ditulis oleh John Koenig, penulis menciptakan kosakata baru untuk menggambarkan emosi kompleks manusia, termasuk untuk contoh-contoh emosi yang aku sebutkan di atas, menjadi perbendaharaan kata yang lebih singkat, indah, dan menurutku pribadi … memberi kesan nendang yang hangat.

Secara berurutan, melalui kosakata di dalam buku ini, contoh-contoh emosi di atas bisa kita sebut dengan: onism, énouement, dan kenopsia.

Penulis melakukan penelitiannya sendiri tentang linguistik yang mencakup etimologi konstruksi luas dengan akar kata dan akhiran yang diambil dari ratusan bahasa di dunia, baik yang masih hidup atau yang sudah mati, seperti: Latin, Jerman, Yunani Kuno, bahkan hingga bahasa Cina dan Jepang untuk meniru atau mengikuti pola dalam istilah-istilah yang sudah ada.

Jadi, kosakata dalam buku ini tidak ujug-ujug dikarang bebas, ada dasar-dasar pendahulu yang membuat penulis menciptakannya.

Mengutip dari isi buku, ide dari terlahirnya buku ini adalah sebagai berikut:

Menyadari bahwa ada sebuah kata untuk sesuatu yang telah kalian rasakan sepanjang hidup tetapi tidak tahu bahwa itu juga dirasakan oleh orang lain adalah sesuatu yang menenangkan. Bahkan, hal itu anehnya seolah memberi kalian kekuatan — diingatkan bahwa kalian tidak sendirian, kalian tidak gila, kalian hanyalah manusia biasa yang mencoba melalui serangkaian keadaan hidup yang aneh.

Bab di dalam buku ini terbagi menjadi enam bagian dengan definisi yang dikelompokkan berdasarkan tema: dunia luar, batin manusia, orang yang kita kenal, orang yang tidak kita kenal, perjalanan waktu, dan pencarian makna.

Kosakata yang diciptakan mungkin tidak begitu efisien untuk diaplikasikan dalam percakapan sehari-hari. Namun, mereka sengaja dihadirkan untuk ada dan membantu kekacauan dalam pikiran jadi lebih teratur.

Lewat deskripsi emosi yang dijabarkan, pembaca seakan diberi rasa aman dan tidak khawatir tersesat. Penulis seolah ingin menyampaikan bahwa sejatinya, kita semua tersesat.

Photo by Kellen Riggin on Unsplash

Photo by Kellen Riggin on Unsplash

Aku menemukan buku ini lewat rekomendasi dari salah satu aktor Thailand kesukaanku, Phuwin Tangsakyuen (ภูวินทร์ ตั้งศักดิ์ยืน), di sebuah podcast Youtube bernama KND Featuring yang pada *episode 1211 *mengundangnya sebagai bintang tamu.

Pada segmen terakhir, host bertanya pada Phuwin perihal kata yang paling disukainya dalam setiap bahasa yang ia kuasai. Ketika tiba giliran untuk memberitahu kata yang paling ia sukai dalam bahasa Inggris, Phuwin terlebih dahulu menjelaskan bahwa apa yang akan ia sebutkan selanjutnya bukanlah kata yang terdaftar secara resmi dalam kamus bahasa Inggris, melainkan sebuah ciptaan dari seorang penulis dari buku berjudul The Dictionary of Obscure Sorrows yang tengah aku ulas sekarang.

Antusiasme Phuwin saat menceritakan tentang buku ini membuatku begitu penasaran untuk segera membacanya, meskipun saat itu aku masih dalam fase reading slump. Tak ingin membuang waktu, aku pun segera mengantri di aplikasi Libby menggunakan kartu perpustakaan Harris County Public Library (HCPL) untuk meminjam versi digital dari buku ini dan langsung mendapat giliran pinjam beberapa waktu setelahnya.

Secara keseluruhan, aku sangat mengapresiasi ide dan usaha penulis dalam menyatukan emosi manusia dan bahasa. Buku ini membuatku merasa didengar dan di-pukpuk oleh sesuatu yang selama ini tidak pernah kukira, ternyata kehadirannya cukup membantu.

Sesuai dengan ide terlahirnya, efeknya memang benar begitu menenangkan selama aku menyusuri setiap halaman. Ada beberapa bagian yang langsung membuatku berseru, "Nah, ini!" tapi ada juga yang malah menggali sebuah kenangan dan rasa yang hampir aku lupakan. Mengetahui bahwa pikiran dan emosi random yang sulit untuk kujelaskan ternyata dialami pula oleh orang lain dari seluruh penjuru dunia, membuat perasaanku lebih lega.

Berikut adalah beberapa kata dari sekian kata yang sangat aku sukai di dalam buku ini:

  • sonder: sebuah kesadaran bahwa semua orang punya kisahnya masing-masing, mereka adalah karakter utama dalam ceritanya sendiri, sedangkan kita hanyalah figuran, begitu pun sebaliknya.

Sonder (Bahasa Prancis), artinya menyelami kedalaman. Pengucapannya "sahn-der." Dapat digunakan sebagai kata benda atau kata kerja, seperti halnya saat kita menggunakan kata "wonder" (keheranan atau bertanya-tanya).

  • anthrodynia: rasa lelah akan seberapa kejamnya manusia yang saling menjatuhkan satu sama lain dengan cara yang terkesan sepele dan berlebihan sehingga seringkali membuat kita lebih bersyukur terhadap hal-hal yang baik dan tulus.

Dalam bahasa Yunani Kuno, ἄνθρωπος (ánthrōpos) berarti kemanusiaan + ὀδύνη (odúnē) berarti kesedihan, penderitaan, rasa sakit. Pengucapannya “anthruh-din-ee-uh.”

  • nyctous: perasaan senang karena menjadi satu-satunya orang yang terjaga pada tengah malam, melakukan kegiatan seperti duduk sendirian dengan laptop dan secangkir teh atau menyusuri jalanan yang sepi.

Berasal dari nama Nyctocereus, sebuah genus kaktus yang bunganya hanya mekar di malam hari. Pengucapannya "nik-tuhs."

  • looseleft: perasaan kehilangan setelah kita menyelesaikan sebuah buku yang begitu menarik, merasa sesak saat cover belakang mengunci kehidupan karakter-karakter yang telah kita kenal dengan sangat baik.

Berasal dari kata looseleaf, selembar kertas yang dapat dilepas + left, yang berarti pergi.

Photo by Noam Cohen on Unsplash

Photo by Noam Cohen on Unsplash

Sekian dulu ulasanku tentang buku The Dictionary of Obscure Sorrows yang ditulis oleh John Koenig.

Semoga unggahan ini bisa sedikit membantu teman-teman di luar sana untuk memilih bacaan baru.

It’s such a good book! Please do give it a try! Solid 5/5 from me.

felinecie


메타데이터
post_id
c373faed0f28
slug
book-review-the-dictionary-of-obscure-sorrows-by-john-koenig-c373faed0f28
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/book-review-the-dictionary-of-obscure-sorrows-by-john-koenig-c373faed0f28
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/book-review-the-dictionary-of-obscure-sorrows-by-john-koenig-c373faed0f28
author_url
https://medium.com/@felinecie
status
ok
fetched_at
2026-06-24 23:31:39